Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Melihat ke Bawah

www.google-images.com


Oleh Zahriyatun Nafiah


Waktu telah menunjukkan pukul 12.00. itu menunjukkan bahwa telah tiba waktunya untuk istirahat. Semua orang berhamburan meninggalkan kelas dengan penuh senyum seakan telah lupa dengan semua tugas. 

Helen merupakan mahasiswa yang sangat rajin, pandai, pandai public speaking dan juga aktif dalam organisasi. Siapa sih yang nggak kenal dengan Helen? Meskipun begitu helen juga hanyalah insan ciptaan tuhan yang biasa saja yang juga memiliki kekurangan dalam dirinya. Ia memiliki postur tubuh yang pendek, dan kulit yang hitam. Dan itu kerap sekali membuatnya tidak percaya diri alias insecure.

Suatu hari saat jam istirahat, saat berada di kantin, tiba-tiba layar ponselnya menyala dan terdapat suatu notifikasi pesan yang masuk. Dengan segera ia langsung membaca pesan itu.

“Waah ada pesan apa niih!!!”

Dan setelah dibuka ternyata pesan tersebut berisikan sebuah pamflet yang memberitahukan tentang perekrutan seorang duta berprestasi di departemennya. 

“Iiih bagus tuuh len, daftar gih sana!” saut rani, teman yang selalu ada untuk helen.

“Iya sii bagus, tapi aku nggak pede nih!! lihat deh modelku aja kayak gini mana cocok jadi duta?”

“Emang kenapa dengan model kamu, yang penting kan kamu berprestasi!!”

“Hmmms… bener juga sih, aku coba daftar aja kali ya siapa tau nyantol, kan untung juga dikamu kalo aku jadi duta, jadi makin terkenal deh kamu. Hehehe…”

Akhirnya Helen memutuskan untuk mendaftarkan diri menjadi calon duta berprestasi di departemennya. Segala seleksi telah ia lakukan. Mulai dari pengumpulan berkas, tes, hingga wawancara telah ia lalui. Hingga akhirnya tiba saat pengumuman.

“PENEMANG DUTA BEPRESTASI 2022 ADALAH…..” 

“Pasti kamu deh Len, secara kamu yang paling berprestasi disi,,,” sahut Rani.

“PEMENANGNYA ADALAH….SISKA!!”

Siska merupakan teman satu kelas Helen. Ia memiliki paras yang sangat cantik dan juga putih, namun dia bukanlah termasuk mahasiswa yang berprestasi di kampus, dengan modal paras yang cantik lah dia berhasil banyak dikenal banyak orang.

Hal itu membuat Helen sangat jengkel dan marah. Namun kemarahannya itu hanya bisa ia pendam dengan sendirinya. Ia lebih menyalahkan dirinya sendiri kenapa dia tidak bisa memiliki wajah yang cantik.

Kejadian itu membuat Helen sangat terpuruk, sejak saat itu Helen sudah jarang lagi berorganisasi. Dia menganggap semua orang itu sama saja, pasti yang dipandang pertama kali adalah tentang fisiknya. 

Sebagai sahabat yang selalu ada di kondisi apapun itu, Rani berusaha membujuk Helen untuk aktif lagi. Segala usaha telah dilakukan rani. Namun usaha yang dilakukan rani tidaklah membuahkan hasil.

Suatu sore hari, saat kelas telah usai, seperti biasa Rani langsung Kembali ke kosannya, saat dijalan tidak sengaja ia bertemu dengan seorang mahasiswi yang sedang terlihat kebingungan di seberang jalan. Dengan sigap ia langsung menghampirinya dan bertanya. Namun anehnya saat diajak bicara dia seolah-olah tidak tahu apa yang sedang diucapkan oleh Helen. 

Tiba-tiba mahasiswi itu berbicara dengan Helen dengan menggerakkan tangganya dengan berbagai simbol yang tidak dimengerti oleh Helen. Ternyata mahasiswa itu adalah seorang yang tuna rungu dan tuna wicara. Di situ hati Helen langsung tersentuh dan merasa betapa kurang bersyukurnya dia dengan kondisi sesempurna itu dan masih mengeluh tentang fisiknya.

Semenjak itu Helen mulai berubah lagi menjadi helen yang seperti dahulu kala. Seorang Helen yang cerdas, pintar dan rajin berorganisasi. Dia masuk dalam organisasi yang melindungi dan membantu para mahasiswa disabilitas dan aktif membantu mahasiswa disabilitas untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar