Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Istirahat

www.freepik.com


Oleh: Hidayatun Na

Apa itu weekend? Sesungguhnya aku tak begitu  mengenal arti weekend dalam kehidupan semenjak aku melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren. Sabtu dan minggu justru merupakan puncak kegiatan andalan pondok, yaitu acara pidato dan pramuka. Hari sabtunya pagi sekolah, sabtu siang pramukaan, malam minggu pidato, dan hari minggunya, bersih-bersih masal sampai siang. Siangnya, kita terkantuk dan menghabiskan sisa-sisa waktu luang dengan mengganti jadwal tidur yang kurang. 

Tetapi aku termasuk salah satu anak-anak yang bandel, hehe. Seringkali aku sengaja berlama-lama di dalam kamar mandi ketika waktu maghrib tiba agar bisa punya alasan untuk tidak sholat berjamaah. Atau jika aku sedang malas mengikuti acara pidato dan pramuka, aku akan melemahkan diriku, terbaring di kasur dengan muka dipucat-pucatkan, suara di paraukan, agar terlihat sakit dan membuat para pengurus merasa iba. Sungguh, aku tak sanggup jika harus mengikuti semua kegiatan pondok. Tentu saja, aku tak sendiri. Ada 4 orang temanku yang juga melancarkan aksi yang sama denganku. Siapa lagi kalau bukan teman se-circle

Meski berbeda kamar, kami sepakat untuk melakukan aksi kami bersama-sama. Atau jika pengurus mulai curiga, kami akan membuat jadwal sakit bergiliran. Untuk lebih meyakinkan, kami juga membujuk pengurus dengan kata-kata memelas, untuk menegaskan bahwa sahabat kami memang benar-benar sakit dan perlu beistirahat. 

Nyatanya, trik-trik itu berhasil dilakukan bahkan sampai 3 tahun lamanya. Luar biasa, bukan? 

Tahun ini, ketika berganti kamar dan bertemu dengan orang-orang baru, aku menemukan seseorang yang begitu lurus. Perangainya berbanding terbalik dengan perangaiku. Saking lurusnya, dia sampai tak tahu tips dan trik menghindari hukuman oleh bagian keamanan pondok. 

Sewaktu aku kelas 3 Tsanawiyah, ada santri baru yang juga masuk kelas 1 Aliyah dan menempati kamar yang sama denganku. Nantinya, kami akan dijadikan satu tim sebagai pengurus pusat pondok di tahun yang akan datang. Nah, untuk melatih jiwa kepemimpinan, kami diamanahi menjadi pengurus kamar dalam lingkup yang lebih kecil terlebih dahulu. 

Kukatakan padamu, dia begitu lurus, kawan. Tak pernah sekalipun kudengar dari bibirnya rencana-rencana melarikan diri dari kegiatan pondok yang semakin hari semakin menggila. Aku heran, bagaimana mungkin ia bisa begitu bersemangat berangkat ke masjid, bersemangat bangun pagi untuk sholat shubuh berjamaah, bersemangat sekolah, bersemangat mengaji, pramuka aktif sekali, dipercaya oleh para pengurus pusat, diidolakan para santri baru, sabar menghadapi adik-adik kelas yang kelakuannya seperti penghuni neraka. Tak hanya itu, skill pidatonya juga luar biasa, sampai-sampai pernah diutus menjadi delegasi lomba MTQ. Ya, kau tahulah, karena hal itu dia dijadikan ketua kamar oleh para penghuni kamar kami yang berjumlah 23 anggota adik kelas, dan 4 orang pengurus, termasuk aku.

Ia pun tak bosan mengajakku dan ketiga temanku untuk pergi ke masjid, untuk membimbing adik-adik kelas, dan pokoknya untuk melaksanakan kegiatan pondok. Tapi karena kami adalah preman pondok, kami tak mempan dengan ajakannya yang lembut dan tak menggurui.

Justru yang sering memanggil, menasehati, dan memberi hukuman kepada kami adalah pengurus senior yang merasa kasihan dengannya karena ia bekerja sendiri setiap hari. Oh iya, belum kuberitahu namanya, ya. Jadi, nama orang ini adalah Mira. Tetapi karena kedewasaan sikap dan semangat keibuan yang ia miliki, kami lebih suka memanggilnya dengan julukan “Mama”. Ia juga tak keberatan dengan nama itu. 

Aku pada awalnya tak mengerti mengapa Mama begitu bersemangat mengikuti semua kegiatan di pondok. Ya, mungkin bagi orang nolep sepertiku, aku takkan bisa mengerti jalan pikirannya. Tetapi belakangan kutemui bahwa Mama memiliki buku khusus mimpi yang ia simpan rapi di dalam lemarinya. Setiap malam sebelum tidur, ia juga menekuri buku itu, entah menuliskan sesuatu, mencentang atau membaca ulang. Maka setiap hari buku itu tergeletak di samping bantalnya. 

Ada sesuatu yang membuatku terheran-heran melebihi rasa heranku saat dia begitu bersemangat, yaitu masa ketika dia mengalami rasa malas, meskipun perasaan itu hanya kujumpai sekali itu saja seumur-umur aku hidup dengannya di Pondok. 

Itu terjadi pada minggu-minggu terakhir menjelang ujian pertengahan semester. Kegiatan begitu padat karena tiap pengurus cabang kegiatan ingin menuntaskan kegiatannya agar prokernya bisa diceklis dan bisa dibanggakan saat Laporan Pertanggungjawaban nanti. 

Mama yang aktif di berbagai bidang, tak beristirahat barang sehari. Pagi sekolah, siang sekolah, sore latihan pramuka, malam berpidato, pagi bangun subuh, dan seterusnya. Tetapi malam minggu itu agak berbeda. Mama yang biasanya sudah menenteng sajadah dan bersiap pergi ke masjid saat azdan baru saja sampai lafadz Allahuakbar, kini masih terduduk di depan lemarinya sambil membereskan pakaian, bahkan sampai menjelang iqomah, ia belum memakai mukenah. Aku heran sekali karena saat itu ia tidak sedang menstruasi. Maka, kuberanikan diri bertanya.

“Kenapa, Ma? Kok tumben belum berangkat ke masjid?” tanyaku sembari duduk di sampingnya.

“Aku agak telat aja Sep. Aku hari ini ngantuk banget, kurang tidur.” Jawabnya sambil menguap dan menatapku dengan mata panda yang lesu. 

“Yaallah, Mama.... kamu lho, jadi orang nggak pernah istirahat. Capek sendiri, kan? Jaga kesehatan juga penting, tau!” kataku menghiburnya.

Ia hanya mengangguk pelan. “Ya, mau gimana lagi.” Gerak-gerik tubuhnya sangat lesu, seolah tak ada yang tersisa dari semangatnya di hari-hari yang lalu. “Gimana ya, Sep... nanti ada acara pidato, aku hari ini bener-bener males banget... lemes banget.” Ucapnya pelan. 

Lihatlah kawan, percayalah padaku bahwa hidup seimbang itu HARUS. Jangan terlalu bersemangat agar tidak terlalu bermalas-malasan. Semuanya harus seimbang, mengerti? Kalau sudah begini, aku jadi kasihan dengan Mama. Sudah tubuhnya semakin kurus, tanggungjawabnya semakin besar, pula. 

Aku sudah lama memikirkan sebuah ide untuk Mama jika suatu saat dia berubah pikiran mengubah haluan untuk bergabung dengan geng kami. Mungkin, inilah saatnya trik itu kuterapkan padanya. 

“Ma, udah. Kamu istirahat aja, nggak usah ke masjid, nanti aku izinkan kalau kamu sakit.” Kataku pelan, agar tidak ada anggota lain yang mendengar.

“Ih, nggak mau Sep, nanti aku kena hukuman.” Katanya ngeyel.

“Heh!  Kamu nggak kasihan sama diri kamu apa? Besok masih harus latihan pramuka lagi, nanti kalo sakit beneran gimana, coba? Udah, percaya aja sama aku.” Kumarahi dia karena hatinya terlalu putih. 

Mama mengalami dilema. Aku mengerti ia ingin sekali mengambil tawaranku agar ia bisa sejenak saja mengistirahatkan mata pandanya. Tetapi di sisi lain, reputasinya sebagai seorang idola dan ketua kamar telah membuatnya menjadi orang kepercayaan pengurus pusat, dan kepercayaan itu tak mungkin ia ingkari begitu saja. 

“Dah, jangan khawatir, serahin aja sama aku! Sekarang wudhu dulu, sholat abis itu tidur.” Kataku sedikit menarik lengannya. 

“Bener, ya, tak serahin ke kamu?” tanyanya mencoba meyakinkan diri bahwa rencanaku pasti akan berhasil.

“Iyaaa...” jawabku dengan tegas. 

Akhirnya, Mama lebih memilih untuk mengistirahatkan jiwa dan raganya yang kelelahan. Aku segera mengambil kasur di tumpukan yang terletak di pojokan kamar, meletakkannya di depan lemarinya, dan pergi ke lemariku untuk mengambil satu jimat ajaib, obat parasetamol warna kuning yang selalu diberikan oleh bidan pondok kepada siapapun yang mengeluh sakit di Puskestren (Pusat Kesehatan Pesantren). Tak lupa juga kuambil segelas air putih dan kuletakkan di samping obat kuning tadi. 

Skenario orang sakit telah berhasil dibuat!

Setelah sholat, dengan terburu-buru kupaksa Mama untuk berbaring di atasnya, lalu kuselimuti dengan dua lapis selimut agar suhu tubuhnya naik. Kulihat wajah Mama berseri-seri dengan puas saat punggungnya menyentuh kasur. Sebuah kenikmatan yang amat sangat dirindukan oleh anak ambis itu. 

“Dah, pokoknya tidur aja, aku nanti bilang sama bagian bahasa kalo kamu sakit.” Ucapku meyakinkannya. Mama tersenyum.

“Makasih, ya Septi...” tak lama kemudian, sebelum aku bersiap untuk mengikuti acara pidato, kulihat Mama sudah mengatupkan matanya. Akhirnya ia bisa beristirahat. 

 


Aku dan ketiga temanku mengikuti acara pidato seperti biasa. Hatiku rasanya lega sekali karena dapat membantu orang yang membutuhkan. Meskipun itu juga salah, sih. Tapi kasihan Mama, aku sungguh tak tega melihat dia kelelahan sampai melupakan dirinya sendiri. Kadang, aku bersyukur jadi siswa biasa-biasa saja karena dengan begitu, aku bisa melakukan apapun yang kumau tanpa terikat dengan tanggungjawab yang berat. 

Acara pidato biasanya berlangsung sampai 2 jam lamanya, dan dalam kurun waktu itu, akan ada pengurus pusat yang mondar mandir mengawasi kami sambil mengabsen. Setibanya pengurus pusat bagian bahasa sampai di kelompok pidato kami, aku sudah bersiap-siap untuk menyebutkan bahwa Mama sedang sakit. Seperti dugaanku, Mama menjadi orang yang paling dicari dalam kegiatan pidato, karena dia selalu bisa ditempatkan dimana-mana. 

“Mira mana?” tanya seorang pengurus bagian bahasa padaku dengan nada yang sok ketus.

“Mira sakit, Ukhti.” Jawabku.

“Sakit apa?” aih, apakah dia perlu mengintrogasi seperti ini?

“Demam, Ukhti, tadi badannya panas.” Kataku mantap.

“Sekarang di mana orangnya?” demi apa? Kenapa dia terus bertanya? Oh, Tuhan..,

“Dia di kamar, Ukti.” Kataku jengkel. Pengurus itu berlalu dari ruangan kelompokku menuju kelompok-kelompok lain dengan tugas yang sama. Tetapi memang dasar pengurus, ia tak peduli meski satu pondok jengkel kepadanya, ia akan tetap menjalankan tugas dengan tanpa alasan. Sudah berani menerima resiko terburuk menjadi seorang pengurus. Ada-ada saja. 

Satu setengah jam berlalu, pidato mulai menuju ke bagian akhir. Harusnya aku bahagia karena setelah ini bisa beristirahat dengan lega, tetapi apa yang kulihat membuat bibirku ternganga. Pengurus yang tadi menanyakan perihal Mama, kini memasuki ruangan kelompok pidatoku bersama seseorang. Ya! Bersama Mama! 

Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?! 

Apa yang telah pengurus itu lakukan kepada Mama?!

Mama melipat wajahnya dengan letih dan tak bersemangat. Terlihat jelas sekali bahwa ia masih mengantuk. Tetapi ia memang tak bisa melawan kehendak orang-orang yang lebih tua darinya. Mira lalu dituntun untuk duduk di bangku belakangku. Aku ingin berteriak memaki pengurus itu tetapi norma kesopanan mencegah niatku. 

Kasihan sekali Mama.... kenapa tak bisa orang lain membiarkanmu istirahat sekali saja....

Untungnya pidato sebentar lagi selesai saat Mama datang. Tinggal sesi evaluasi dan kritik saran dari para anggota serta pengurus. Aku menoleh ke belakang hendak bertanya bagaimana keadaan Mira dan bagaimana ia bisa dibawa paksa oleh pengurus itu kemari. Tetapi pengurus ketus itu berdehem, seolah-olah memintaku untuk tak membuat kegaduhan. 

Pidato pun selesai dengan perasaan jengkel yang tak bisa kulerai. 

Tibalah sesi evaluasi

Pengurus ketus maju ke depan dengan gagah berani. Ditatapnya mata kami dengan tajam, seolah-olah kami adalah narapidana yang kabur dari rutan. 

“Jadi, ada peraturan baru mulai hari ini sampai seterusnya.” Katanya sambil terus memperhatikan sekitar agar semua perhatian hanya tertuju kepadanya. “Bagi siapa pun yang sakit saat acara pidato, WAJIB ikut pidato tapi duduknya di belakang. Saya yakin kalau sakit tidak akan jadi masalah ikut pidato. Kan cuman mendengarkan di belakang. Nggak ikut berpidato di depan. Jadi pasti kuat, lah. Inget itu ya! Mulai hari ini, siapapun yang sakit, dan sakitnya nggak harus dibawa ke Puskestren, WAJIB ikut pidato. WAJIB!” ia terus mengulangi kata Wajib seperti Ibu Guru Paud mengajarkan huruf A kepada anaknya. 

Aku semakin jengkel! Kini aku mengerti mengapa Mama harus ikut duduk di sini. Aku menoleh ke belakang. Rasa bersalah karena tak dapat membantu Mama secara maksimal menghujam di hatiku. Tetapi Mama berusaha untuk tersenyum sekuat mungkin, ia menelus pundakku dan berkata pelan.                     “Nggak apa-apa, Sep...”

Kasihan Mama... 


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar