Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

DI BALIK DO’A - DO’A YANG MENYERTAI KITA, MUALLIF RATIB AL-HADDAD & WIRDU AL-LATHIF: SYEKH ABDULLAH BIN ALAWI AL-HADDAD

sumber : republika.co,id


Oleh Ahmad Zahrowii Danyal Abu Barzah


    Siapa yang tak kenal dengan sosok Syekh Abdullah bin Alawi Al-Haddad. Beliau adalah pengarang dari dzikir pagi yang biasa kita istiqomahkan. Tepat sekali dzikir tersebut adalah Wirdu Al-Lathif. Tidak hanya itu juga, beliau juga merupakan pengarang dari Ratib Al-Haddad.


Biografi Syekh Abdullah bin Alawi Al-Haddad

    Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad lahir pada malam senin 5 Shafar 1044 H/ 1624 M di Subair, yang berada di pinggiran kota Tarim, Hadramaut, Yaman. Bernama lengkap Abdullah bin Alawi bin Muhammad bin Ahmad, hingga bersambung nasab kepada Rasulullah SAW pada generasi cucu ke-29. Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad merupakan putra dari Sayyid Alawi bin Muhammad al-Haddad, yang dikenal sebagai seorang yang shaleh. Pada suatu hari Ayah beliau, yakni Sayyid Alawi (sewaktu belum berkeluarga) mendatangi ndalem Syekh Ahmad bin Muhammad Al-Habsyi untuk meminta do’a kepada beliau. Lalu Syekh Ahmad berkata kepada Syekh Alawi “Anakmu adalah Anakku, di antara mereka terdapat keberkahan”, hingga kemudian Syekh Alawi mendapatkan keberkahan tersebut berupa menikah dengan cucu dari Syaikh Ahmad Al-Habsyi, yang bernama Salma bin Idrus bin Ahmad bin Muhammad Al-Habsyi. Dari pernikahan tersebut lahirlah seorang anak laki-laki yang diberi nama Abdullah dan Syekh Alawi berkata “Aku sebelumnya tidak mengerti makna tersirat yang diucapkan Syaikh Ahmad al-Habsyi terdahulu, setelah lahirnya Abdullah, aku baru mengerti, aku melihat pada dirinya tanda-tanda sinar al-Waliyah ( Ke-wali-an )”.


    Pada tanggal 27 Ramadhan 1132 H/ 1712 M, Al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad jatuh sakit sehingga tidak mengikuti sholat berjamaah di masjid dan tidak bisa mengisi taklim. Beliau pun memerintahkan masyarakat untuk tetap melaksanakan pengajian seperti biasa. Namun keesokan harinya, beliau tidak dapat menghadiri sholat jum’at karena penyakit beliau semakin parah. Pada malam selasa bertepatan tanggal 7 Dzulqo’dah 1132 H/ 1712 M, Syekh Abdullah al-Haddad wafat di kota Tarim dalam usia 89 tahun, setelah sakit selama 40 hari lamanya. Syekh Abdullah bin Alawi al-Haddad dimakamkan di pemakaman Zanbal, Tarim, Yaman.


Thufulah (Masa Kecil) Syekh Abdullah bin Alawi Al-Haddad

    Sewaktu kecil sekitar umur 4 tahun, beliau terserang penyakit cacat sehingga terhalang penglihatannya. Namun penyakit tersebut tidak membuat beliau menyerah dalam menuntut ilmu. Beliau tetap gigih hingga berhasil menghafal al-Qur’an dan menguasai berbagai ilmu-ilmu agama. Meskipun dalam keadaan tak dapat melihat, beliau sangat senang sekali melakukan berbagai macam ibadah dan riyadhoh yang merupakan hobinya. Seringkali Nenek dan kedua orang tuanya tidak tega menyaksikannya hingga menasehatinya untuk berhenti menyiksa dirinya. Demi menjaga perasaan keluarganya tersebut, kemudian beliau muda pun mau untuk mengurangi ibadah-ibadah dan riyadhoh yang amat digemarinya.


Penyusunan Ratib Al-Haddad dan Wirdu Al-Lathif

    Suatu ketika beberapa orang (Syi’ah) Zaidiyyah masuk ke Yaman. Para Ulama pun khawatir akan rusaknya akidah masyarakat karena pengaruh ajaran para pendatang syi’ah tersebut. Para Ulama’ kemudian meminta beliau, yakni Syekh Abdullah bin Alawi al-Haddad untuk merumuskan sebuah doa' yang dapat mengkokohkan akidah masyarakat serta menyelamatkan mereka dari faham-faham yang sesat. Syekh Abdullah bin Alawi al-Haddad pun memenuhi permintaan para Ulama dalam menyusun sebuah doa’ yang akhirnya terkenal dengan nama Ratib al-Haddad. Kemudian juga merumuskan Wirdu Al-Lathif. 

    Penyusunan Ratib al-Haddad oleh Syekh Abdullah bin Alawi al-Haddad ini tidak jauh merujuk kepada ratib gurunya, yakni Ratib al-Atthas karya Habib Umar bin Abdurrahman al-Atthas. Suatu ketika seseorang datang kepada Syekh Abdullah al-Haddad dan meminta ijazah atau izin untuk mengamalkan Ratib beliau, kemudian beliau menjawab : “Bacalah Ratib Guruku, kemudian baru Ratibku”. Terlihat bahwa Syekh Abdullah al-Haddad sangat menghormati gurunya meski karya beliau yang lebih dikenal oleh orang lain.


Keteladanan Syekh Abdullah bin Alawi al-Haddad

    Keteladanan Syekh Abdullah bin Alawi al-Haddad terlihat pada keteguhan beliau dalam menjalani kehidupan. Beliau berpegang teguh pada hadits Rasulullah SAW yang berbunyi “Orang beriman yang bergaul dengan masyarakat dan sabar menanggung gangguannya, lebih baik dari pada orang yang tidak bergaul dengan masyarakat dan tidak pula sabar menghadapi gangguannya.” ( HR Ibnu Majah dan Ahmad ). Beliau juga menulis dalam syairnya yang berbunyi : “Bila Allah SWT mengujimu, bersabarlah karena itu haknya atas dirimu. Dan bila ia memberimu nikmat, bersyukurlah”.

    Beliau juga tidak pernah bergantung pada makhluk, beliau selalu mencukupkan diri hanya kepada Allah SWT : “Dalam segala hal aku selalu mencukupkan diri dengan kemurahan dan karunia Allah SWT. Aku selalu menerima nafkah dari khazanah kedermawanannya." “Aku tidak pernah melihat ada yang benar-benar memberi, selain Allah SWT. Jika ada seseorang memberiku sesuatu, kebaikannya itu tidak meninggikan kedudukannya di sisiku, karena aku mrnganggap orang itu hanyalah perantara saja”.

Karya-karya Syekh Abdullah bin Alawi al-Haddad

    Selain Ratib al-Haddad dan Wirdu al-Lathif, Syeikh Abdullah bin Alawi mengarang beberapa kitab. Diantaranya adalah an-Nashoihu ad-Diniyyah, ad-Dawatut Tammah, Risalatul Mu’awanah, Risalatul Mudzakaroh, Risalah Shalawat (salah satunya Shalawat Thibbil Qulub), ad-Durul Mandzum (kumpulan puisi), Diwan al-Haddad (kumpulan puisi), dan masih banyak lagi.



Sumber 

https://www.laduni.id/post/read/39548/biografi-al-habib-abdullah-bin-alwi-al-haddad

https://ihram.republika.co.id/berita/rdekt2313/mengenal-sosok-habib-abdullah-al-haddad


Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar