Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Sambadri

Dok. Pribadi


Oleh: Hidayatun Na


                Sudah hal umum jika di setiap daerah terdapat orang gila atau orang yang sakit jiwa, termasuk di daerahku. Sambadri yang memiliki nama asli San-Baderi adalah ikon orang gila paling nyentrik dan unik di desa kami. Tubuhnya kurus, rambutnya ikal sebahu dan berwarna coklat kekuningan karena terbakar matahari. Usianya sekitar 60-an tahun waktu itu sehingga kumis dan jenggot tipis di wajahnya sudah mulai memutih. Sambadri selalu memakai setelan baju berkancing yang kancingnya hilang beberapa serta celana jeans cutbray yang sobek di salah satu bagian lututnya. Sejak kecil, aku dan teman-temanku selalu menjadikan Sambadri sebagai bahan lelucon dengan menjahilinya dan memberikan bungkus jajan yang berisi batu kerikil atau tanah liat. Baru jika ia mulai mengamuk, kami akan lari terbirit-birit dan bersembunyi di atas pohon jambu biji. Kami memang terkenal sebagai bocah laki-laki ingusan yang tak bisa diam dan berhenti kalau belum kena batunya. 

Setiap hari, Sambadri berjalan mondar-mandir dengan membawa karung besar di pundaknya dan mengelilingi seisi desa. Malam harinya, ia tidur di posko-posko yang biasanya didirikan di perempatan jalan. Sudah hampir 20 tahun Sambadri menjadi gila begitu, sejak ayahku masih muda. Kata Ayahku, sambadri tak punya rumah. Namun Ia tinggal bersama adik iparnya di desa Kabupaten sebelah dan hanya kembali ke sana sewaktu-waktu. 

Kawan, coba tebak apa isi karung besar yang selalu ia bawa itu? Sampah plastik! Jika kau berfikir bahwa sampah plastik itu adalah jenis sampah seperti botol minuman, kaleng bekas atau kardus yang bisa dijual ke pengepul, kalian salah. Itu benar-benar sampah plastik dari mulai bungkus permen, bungkus makanan ringan, segel botol, sampai bungkus bumbu penyedap masakan! Jika kau membuang sampah plastik sembarangan dan ketahuan Sambadri, tidak main-main, kau akan dikejar dan dipukul dengan tongkat besi kecil panjang yang biasa ia bawa.

 Sambadri mencintai sampah plastik hingga ia tak akan membiarkan siapapun membuangnya sembarangan. Ia sering mengomel di belakang rumah kami ketika menemukan kami mencampur sampah plastik dan sampah organik bekas sayuran atau daun-daun. Maka, dengan sukarela ia akan memisahkan dan membakarnya. Banyak dari kami yang memanfaatkan Sambadri sebagai tukang bersih pawoan atau TPA rumah tangga yang biasanya dibuang di belakang rumah dekat pohon pisang atau di dekat lubang bekas galian kolam kecil. Dan karena pekerjaannya inilah warga desa biasanya memberikan tanda terima kasih kepadanya berupa makanan, uang, atau pakaian. Tak ada yang tahu kemana ia membuang sampah-sampah plastik yang telah ia kumpulkan selama seharian itu. Sungguh, Sambadri sangat cinta kebersihan. Namun, orang-orang termasuk kami, malah menganggapnya gila.

Pernah suatu waktu, saat aku masih kelas 3 SMP, sepupuku yang nakal bernama Helmi yang saat itu masih duduk di bangku kelas 5 SD, muak dengan kelakuan Sambadri dan nekad untuk mengambil paksa karung yang ia bawa lalu berlari dan melemparkan isinya ke sungai. Jujur saja, senakal-nakalnya aku dan gengku, kami tidak pernah  berani menyentuh karung bawaan Sambadri sebab membuang sampah plastik di dekatnya saja sudah diomeli dan dikejar-kejar sambil mengangkat tongkat besinya. 

Sampah-sampah plastik itu berhamburan ke sungai dan ikut terbawa arus sungai. Sepupuku santai saja, ia malah menantang sambadri dengan ejekan yang sok pahlawan, tanpa tahu jika lelaki separuh baya itu sedang murka. Seperti kecepatan harimau menerkam rusa, Sambadri menarik tangan sepupuku dan menyeretnya ke dalam sungai. Lalu dengan gerakan agresif seperti orang kesetanan, ia mencengkram rambut sepupuku dan menenggelamkan wajahnya berkali-kali ke sungai sambil menggumamkan amarah. 

Pemandangan itu sangat menyeramkan kawan, sampai-sampai teman-teman sepermainan Helmi mengira anak kecil itu akan mati kehabisan nafas. Helmi terus meronta dalam genggaman pria tua itu. tapi sambadri tidak memberi ampun. Anak-anak yang menyaksikan berlari tunggang langgang buru-buru memanggil para orang tua. 

“Sambadri ngamuk!! Helmi mau dibunuh!”

Untungnya, ayahku yang sedang mengurus tanaman cabai di pematang sawah, buru-buru menyelamatkan Helmi dari tangan Sambadri. Penduduk lain yang terprovokasi dengan kawan-kawan Helmi segera berlari sambil meneriaki pria tua itu. Mereka juga semakin membabi buta kepada Sambadri dan jika saja ayahku tidak ada di tempat, Sambadri bisa mati dipukuli dan Helmi mati kehabisan nafas. Karena masih meronta meski dalam genggaman ayahku, pamanku dan para tetangga memutuskan untuk mengikat Sambadri kuat-kuat. Semua orang menyalahkan dan mencaci maki Sambadri, kecuali Ayahku yang memang menyaksikan kronologi kejadian. 

Kawan, aku dilema menyaksikan pemandangan memilukan itu. di satu sisi, aku kasihan dengan Helmi yang pingsan digendong oleh ibunya. Namun disisi lain, aku juga kasihan dengan Sambadri yang selalu saja dijahili orang-orang. Aku tidak pernah melihat sambadri mengamuk sedemikian dahsyat bahkan kepada anak kecil. Dulu, sewaktu mengamuk, ia hanya sebatas pura-pura berlari dan mengayunkan tongkatnya ke udara, pura-pura memukuli kami. Ayahku juga bercerita bahwa meski gila, Sambadri tidak pernah menyakiti orang lain. Yang menjadi pertanyaanku setelah kejadian itu adalah, kenapa Sambadri begitu mencintai sampah? Kenapa ia sampai mengamuk sedemikian ganas ketika ada orang yang mengganggu “Sampah” nya? Apa yang spesial dari sampah plastik yang ia kumpulkan? 

Sayang seribu sayang, Sambadri yang kerap mengomeli anak-anak jorok kurang ajar, tidak peduli pada masa depan bumi dan masa depan mereka sendiri, kini dikurung di dalam rumah adik iparnya karena takut peristiwa ia akan membahayakan nyawa terulang untuk kedua kalinya. Pengurungan itu terjadi tepat sehari setelah Helmi hampir mati. 

Sejak saat itulah, kami tak pernah menyaksikan kembali kehadiran Sambadri. 

Aneh, kampung kami jadi sunyi. Aku merasakan kesunyian yang mendalam. Tak ada lagi suara sapaan orang-orang menggoda Sambadri saban siang. Tak ada anak-anak yang saling bersahutan memanggil Sambadri sebagai bahan hiburan. Tak ada orang yang membakar sampah rumah tangga di dekat got dan selokan.  Sejak hari itu, aku sudah tak pernah tahu kabarnya lagi, karena di saat bersamaan aku juga harus pergi ke Pondok Pesantren nun jauh di pulau jawa untuk melanjutkan studiku.

                Setelah merantau dan sekolah di kota, pertanyaan-pertanyaanku yang kusimpan selama tujuh tahun itu perlahan mulai terjawab. Kini, aku mulai paham, bahwa sambadri tidak gila, ia justru adalah penyelamat masa depan dunia!

                Isu lingkungan seperti perubahan iklim yang diakibatkan oleh sampah dan pencemaran lingkunagn semakin parah di muka bumi ini. Sehingga mau tidak mau memaksa para pecinta lingkungan, terutama dari kalangan pemuda untuk menggencarkan aksi menyelamatkan bumi. Setelah mengikuti seminar dan kegiatan lingkungan, aku bertanya-tanya, bagaimana mungkin seorang gila paham mengenai sampah dan dampaknya di masa depan? Ditambah lagi, ia selalu melakukan trash walk –sesuatu yang kini sedang menjadi tren sosial- padahal orang gila kampung kami sudah melakukannya jauh-jauh hari sebelum istilah itu populer di kalangan aktivis lingkungan. Jadi, siapa sebenarnya Sambadri? 

Maka kawan, dengarkan kisah ini

Saat kuliah, aku mengambil jurusan sosiologi. Aku juga bersyukur karena keaktifan di organisasi kampus, aku bisa mengenal salah satu dosen hebat bernama Prof. Hamid. Beliau merupakan dosen senior yang cinta mengajar sehingga meninggalkan masa pensiunnya demi bisa mengajar kembali. Aku sering datang ke kantor bahkan ke rumah beliau untuk berkonsultasi mengenai keilmuan dan juga mendatangi beliau untuk bimbingan. Prof. Hamid adalah dosen yang sangat baik dan ramah, tapi disiplinnya bukan main. Namun, sekali kita mengambil hatinya, beliau akan menganggap kita seperti anaknya sendiri. Beliau adalah lelaki berumur 75-an tahun dengan tubuh tinggi besar dan kulit kuning langsat. Hidung dan matanya sama-sama tajam, memberi kesan ketegasan dalam sekali lihat.

Suatu hari, ketika aku mengirim pesan via whatsapp kepada beliau untuk bimbingan, Prof. Hamid menyarankanku untuk datang ke rumahnya karena beliau baru pulang dari luar kota. Selesai bimbingan, Prof. Hamid memintaku untuk membuatkan kopi untuknya, karena sang istri belum kembali dari rumah mertuanya. Aku segera membuatkannya kopi meski ini pertama kalinya aku masuk ke dalam rumah Prof. Hamid selain di ruang tamu. Saat aku melewati ruang tengah, kulihat ada sebuah bingkai foto yang dipajang di dinding dekat pintu pembatas dengan ruang tamu. Itu adalah foto lama yang menampilkan sepasang pengantin dengan pakaian adat jawanya dengan Prof. Hamid di sisi pengantin pria dan seorang lelaki di sisi pengantin wanita. Foto itu sangat menarik perhatianku sehingga setelah menyajikan kopi di meja Prof. Hamid, aku kembali ke ruang tengah untuk mengamati foto itu lamat-lamat. Seperti ada sesuatu yang sangat familiar di otakku, namun sulit diuraikan. 

Bingo! 

Aku terperanjat dan segera berlari menghampiri Prof. Hamid. Beliau bertanya padaku mengapa aku sampai kaget seperti itu.

“Prof... mohon maaf, kalau saya boleh tahu, siapa orang di foto ini? karena sepertinya saya sangat familiar...” 

Tanpa menjawab, Prof. Hamid bangkit dan mencondongkan kepala untuk ikut melihat foto yang kumaksud. 

“Oh, Foto ini...” kata Prof. Hamid dengan air muka yang bersemangat.

“Ini foto kawan saya sewaktu kuliah dulu, namanya Sam, kenapa? kamu kenal?” 

“Sam... Sam.... Sambadri?” Aku terbata mengucapkan namanya. Meski Sambadri di kampungku sudah tua, dan Sambadri si mempelai pria ini masih muda, tapi aku yakin mereka adalah orang yang sama. 

Prof. Hamid terkejut dan segera menghujaniku dengan berbagai macam pertanyaan. “Kamu kenal orang ini? Iya betul, namanya Sambadri! Tapi bagi saya itu adalah nama yang cukup langka, tidak semua orang tahu. Tapi bagaimana kamu bisa tahu, Bud? Apa kamu sekampung dengan dia? Bagaimana keadaan Sam sekarang? Ah.. Kenapa kamu tidak bilang dari dulu kalau kamu kenal Sam?”

Aku hanya mengangguk kagum. Namun sebelum aku sempat menjawab, Prof. Hamid mengusap wajahnya dengan kedua tangannya “Oalah gusti... bertahun-tahun lamanya saya cari kabar tentang Sam dan baru kali ini saya mendapatkan petunjuk.” 

Prof. Hamid lalu mengajakku untuk duduk kembali di ruang tamu. Ia berkali-kali menepuk bahuku dengan bersemangat. 

“Sambadri dulu kawan saya di kampus, kawan dekat. Namun setelah menikah dan pindah, saya tidak mendengar kabarnya lagi. Dia aktivis kampus yang paling semangat diantara kami. Bagaimana keadaan dia sekarang, Bud?”

Aku terdiam sebab tak tahu bagaimana cara menjelaskan bahwa Sambadri adalah orang gila. Tak tahukah Prof. Hamid bahwa sambadri gila? Batinku dalam hati.

“Eh... anu Prof...  Saya terakhir ketemu sambadri sewaktu mau lulus SMP itu, setelahnya saya mondok di sini sampai kuliah, jadi saya sudah tidak banyak dengar kabar tentang dia lagi, tapi...”

“Tunggu, jadi dia tetanggamu atau bagaimana Bud?” tanya Prof. Hamid memotong pembicaraanku.

“Anu.. maaf sebelumnya Prof... sambadri itu.. eh.. sambadri itu orang gila kampung kami, Prof.” terbata aku mengatakannya sebab takut Prof. Hamid akan terkejut. Tapi ternyata dia hanya terdiam dan raut mukanya berubah menjadi sendu. 

“Jadi benar yang dikatakan orang-orang. Sambadri menjadi orang gila...” 

Aku mengangguk. Tapi Prof. Hamid mulai bercerita.

“Saya ingat sekali dulu... di awal tahun 80-an, saya bertemu Sambadri di kampus. Kami berada di jurusan dan kelas yang sama. Dia adalah anak yang pintar dan baik, tapi nakal, berandal, banyak bicara, jorok, dan tidak rapi. Tapi, tipe orang seperti itu yang biasanya menjadi aktivis kampus, kan Bud?” aku mengangguk saja menanggapi pertanyaan Prof. Hamid.

“Kami berkawan baik sekali meskipun kepribadianku dengan Sam sama sekali berbeda. Tahukah kamu, Bud?  Saya sudah lama mendengar kabar bahwa sambadri gila. Tapi, saya selalu menolak keras kabar tersebut karena saya mengerti Sambadri tidak gila. Sam memang begitu perangainya. Sam tidak mungkin menjadi gila tanpa ada penyebabnya.

Tahun 81, masa penerimaan mahasiswa baru di kampus kami, Sam mengenal seorang gadis yang sangat pintar dan berani, sampai Sam sendiri di-skaknya mati-matian. Ia adalah gadis Melayu yang cantik,  matanya kecil tapi wawasan yang di gambarkan di sorot mata tersebut seluas samudera.  Rambutnya hitam panjang sebahu yang dikuncir kuda dan terkadang ditutupi selendang halus transparan. Waktu itu kami duduk di kantin -yang saat itu menjadi tempat diskusi favorit kami- membicarakan masalah penggunaan plastik yang baru-baru itu diterapkan di beberapa daerah di Indonesia. Sam tentu saja, mendukung rencana itu dengan alasan keefisienan dan kemudahan yang akan didapatkan oleh umat manusia dengan plastik. 

‘Penjual makanan tidak perlu lagi susah-susah mencari daun pisang atau daun waru, dengan bungkus plastik yang murah, para pedagang akan sangat terbantu. Para konsumen juga akan dimudahkan karena makananya bisa awet dan aman dibawa kemana-mana. Pokoknya, akan lebih efisien.’ Kata asm berapi-api di meja kami.

Aku, dan 4 orang lain dalam geng kami, setuju dengan gagasan Sam. ‘Yang lebih baik lagi, plastik bisa mencegah penebangan pohon di hutan. Bagaimana bisa? Yaitu dengan mengganti penggunaan kayu sebagai furniture rumah tangga dengan plastik. Seperti kursi, meja yang terbuat dari plastik dengan harga yang jauh lebih murah, sehingga kesejahteraan warga Indonesia juga bisa merata.’

Saya lihat, di meja sebelah kami, tepat di belakang Sam, juga terdapat segerombolan gadis yang sedang berbincang, sedang menggosip sepertinya. Begitu mendengar pidato Sam, yang sebenarnya juga tidak terlalu keras, salah  satu gadis itu membalikkan badan dan menatap geng kami dengan penuh selidik dan saya rasa juga menampakkan kebencian. 

Selesai berdiskusi dan ketika kami hendak bubar, gadis yang kulihat tadi menghentikan langkah Sam. ‘Halo kak, bisa bicara sebentar?’ Sam tersenyum dan setuju. Ia mengira kepopulerannya telah membuat gadis ini terpesona olehnya. 

‘Bolehkah saya ikut?’ Tanya saya. 

‘Maaf kak, saya ingin bicara berdua saja dengan kakak ini.’ Kata si gadis. Aku pun tertawa dan menggoda Sam lalu berlalu meninggalkan mereka berdua di meja yang tadi kami tempati. Saya kira, gadis itu dan Sam akan membincang tentang asmara cinta pada pandangan pertama. Namun, saya salah. Sepulang dari kantin, di kosan kami, aku mendengar Sam masuk dan membanting pintu dengan keras. 

‘Sialan! Baru kali ini pendapatku ditentang oleh seorang perempuan!’ katanya berapi-api ‘Pendapat yang mana Sam?’ Tanya saya. Rupanya pendapat mengenai plastik tadi yang ditentang oleh si gadis. Kata Gadis Melayu itu: ‘Saya tidak setuju dengan pendapat anda yang mengemukakan bahwasanya plastik akan memudahkan hidup banyak orang. Iya, pada awalnya plastik akan terlihat seperti itu, dan semua orang akan beralih menggunakan plastik. Tapi, coba anda pikirkan kembali apa yang akan terjadi di masa depan jika plastik terus diproduksi besar-besaran. Anda salah jika mengatakan bahwa jika ada plastik, penebangan pohon di hutan akan berkurang. Karena, persentase penggunaan plastik sebagai pengganti furniture rumah tangga hanya sekian persen. Selebihnya pohon akan tetap ditebang untuk memenuhi kebutuhan manusia yang lainnya. Kakak, jika anda menyetujui penggunaan plastik saat ini dan untuk masa depan, kakak harus bersiap-siap menemui kiamat bahkan kurang dari seratus tahun dari sekarang.’ Gadis itu berkata dengan nada yang tegas dan tenang. Seolah-olah seratus persen yakin bahwa prediksinya paling benar.

Saat itu saya tercengang sekaligus kagum dengan pemikiran Gadis ini. Bagaimana mungkin ia bisa memprediksi akibat penggunaan suatu produk hingga 50 tahun ke depan? Apa yang dilontarkan gadis itu sungguh terdengar mustahil di telinga kami, para brandal tahun 80-an. Dan sekarang? Terbukti bahwa sampah plastik telah menguasai dunia kita, Bud. Prediksi gadis itu benar. 

Setelah bercerita demikian, saya tidak bisa menafsirkan apa yang Sam pikirkan, sebab ia sepertinya sedang gelisah dalam tidurnya. Hanya karena perdebatan masalah plastik, suasana hatinya jadi semakin berantakan. Esoknya, Sam kembali ke kampus dan mengajak Gadis itu berdiskusi kembali sekaligus ingin mengatakan bahwa teori gadis itu tidak mungkin benar. Sayup-sayup saya dengar Sam berkata begini: ‘Kamu tidak bisa memakai ilmu mimpimu untuk memprediksikan masa depan, Dik... itu keliru. Lagi pula, bagaimana mungkin plastik bisa menyebabkan kiamat bagi manusia sedang kita saja masih dalam proses memproduksi plastik itu sendiri?’ 

Gadis itu terdiam. Lalu bangkit dari duduknya dan berkata pelan ‘Terlepas dari benar atau tidaknya masa depan yang saya perkirakan, ada baiknya jika Kakak mempersiapkan diri untuk menyelamatkan masa depan Kakak sendiri.’ Lalu berlalu meninggalkan Sam. 

Kami menghampiri Sam dan menggodanya karena mengira ia telah ditelak dan ditolak cintanya. Tapi aku tahu, senyum Sam saat itu adalah senyum yang penuh beban. 

‘Aku masih penasaran dengan anak itu, Ham.’ Kata Sam kepada saya sewaktu kami di kosan. Setelah itu, kulihat Sam terkadang murung dan seringkali kegirangan sendiri membaca sebuah surat yang saya sendiri tidak tahu apa isinya. Sampai dua tahun setelah kami lulus, Sam mengabarkan kepadaku bahwa ia akan menikahi Gadis itu setelah bersumpah sedia kepada orang tua Si Gadis untuk  tidak memboyong anaknya ke Jawa setelah mereka menikah. Tentu saja itu bukan syarat yang berat buat Sam. Saya terkejut bukan main mengingat pertemuan mereka dimulai dari ketidakcocokan pendapat tetapi berujung pada kisah cinta sejati. Saya terkadang tertawa mengenang bahwa bisa jadi jodoh kita adalah orang yang awalnya paling kita benci. 

Gadis itu bernama Rasimah Kasih Aminuddin, tapi Sam lebih senang memanggilnya Kasih. Kasih adalah gadis yang berasal dari pedalaman pulau Sumatera, tapi pernikahan di akhir tahun 80-an itu diadakan di rumah Sam di kota Pekalongan. Setelah menikah, saya dan Sam masih sempat berkirim surat. Sesekali, ia juga meminta saya untuk berkunjung ke sana. 

Lima tahun setelah pernikahan itu, Sam mengirimkan surat kepada saya dan memberitahukan bahwa belahan jiwanya, Kasih telah meninggal dunia karena sakit. Kabar itu sulit untuk saya percaya karena saya yakin, kematian hanya akan bertandang pada orang-orang tua seperti saya ini, bukan pada manusia-manusia muda dengan semanagat menggelora seperti Kasih. 

Setelah surat itu, saya tidak pernah mendapatkan surat lagi dari Sam. Saya sangat terpukul mendengar kabar itu. Apalagi, Kasih meninggal saat masih mengandung buah cinta mereka. Namun, sebelum sempat saya mengunjungi Sam, saya sudah keburu sekolah di Belanda. Ketika saya pulang, surat-surat yang dikirimkan Sam sudah hilang entah kemana, hingga saat ini saya tidak bisa menemukan Sam. Sudah ada beberapa kali niatan untuk mengunjungi daerah yang dimaksud, namun lagi-lagi niat itu batal karena banyaknya kesibukan yang datang silih berganti. Atau mungkin memang usaha saya untuk menemukannya kurang besar. Saya sangat menyesal dan merindukan laki-laki itu.” Prof. hamid terdiam lau menghela nafas dengan berat. Seperti ada sesak yang dalam. 

                Aku kini mulai memahami hal-hal dari  Sambadri yang sebelumnya tidak kupahami. 

Prof. Hamid kemudian memaksaku untuk mengantarkannya ke rumah Sambadri pekan ini juga. Bahkan, ia yang akan membiayai transportasiku. Karena terpana oleh cerita Prof. Hamid, tanpa ba-bi-bu, aku langsung setuju. Sebelum kami berangkat, aku juga meminta Ayahku untuk mencari tahu rumah adik ipar Sambadri. Sore itu, kami berangkat ke bandara. Di sepanjang perjalanan, kulihat mata tajam Prof. Hamid menerawang jauh ke luar jendela, seakan ada sebuah tempat bernama masa lalu di antara bumbungan awan itu. Beliau juga bercerita bahwa topik yang menyebabkan pertarungan antara gagasan Sam dan istrinyalah yang telah menjadi ide brilian dan mengantarkan penelitian Prof. Hamid sampai beliau berhasil menjadi seorang profesor. 

Setelah 6 jam perjalanan lewat darat dan udara, kami sampai di rumahku pada pukul 2 dini hari. Keluargaku menyambut hangat kedatangan Prof. Hamid dan sudah mempersiapkan kamar untuk menginap. Keesokan paginya, setelah subuh, seperti tak kenal lelah akan jauhnya perjalanan, beliau memaksaku untuk segera mengantarkannya ke rumah dimana Sambadri kini berada. Aku, Prof. Hamid, dan ayahku buru-buru ke rumah si keponakan yang ternyata cukup jauh dari desaku, sekitar dua jam perjalanan menggunakan sepeda motor. Besar harapanku dan harapan Prof. Hamid bahwa Sambadri masih hidup dengan sehat. 

Ternyata rumah itu terletak di daerah yang jauh dari keramaian dekat dengan kebun karet dan kebun sawit yang luas. Itu adalah rumah yang cukup besar, menghadap jalan lintas Sumatera dengan tembok di cat putih dan atap yang tinggi. Di samping rumah itu terdapat gubuk kecil berdinding batu kokoh dan memiliki jendela besar dengan jeruji kecil didalamnya. Gubuk kecil itu dipagari bunga aster dan marigold yang tumbuh tinggi warna-warni. Ada juga dua bangku panjang dengan tumpukan karung berisi sampah yang disandarkan pada tempat duduk kayu tersebut. Aku yakin, di sanalah tempat yang ditinggali Sambadri. 

Seorang laki-laki muda berumur 40-an tahun keluar dari rumah dan menyambut kedatangan kami dengan hangat. Ia tersenyum ramah dan mempersilahkan kami masuk. Ternyata laki-laki ini adalah adik kandung Kasih, istri Sambadri. Namanya Pak Pian. 

Prof. hamid menanyakan banyak hal kepada Pak Pian mengenai Sambadri. 

“Ketika warga desa meminta Kak Sam agar dikurung, saya sebenarnya tidak tega, Pak. Tapi, saya juga takut jika hal-hal buruk akan terjadi. Maka, saya buatkan rumah kecil di samping situ. Karena takut Kak Sam akan tertekan dan mentalnya sakit lebih parah, maka saya sering mengajak kak Sam mengobrol bersama. Dan bersyukur sekali Pak, meski proses itu lama, tapi lambat laun saya bisa kembali melihat cahaya di mata kak Sam, ia bisa kembali menjalani hidup dengan normal, meski kadang-kadang juga sempat linglung.”

Kami bertiga menghela nafas lega. Aku bersyukur karena Pak Pian adalah seorang psikolog yang menamatkan studi masternya di luar negeri, ia bisa mengerti dengan pasti keadaan kakak iparnya dan memperlakukannya dengan baik.

“Sebenarnya, sudah sebulan lalu Kak Sam sakit sampai sulit meninggalkan tempat tidur Pak. Biasanya kalau sehat dia setiap pagi jalan-jalan ke sekitar perumahan mencari sampah, lalu pulang untuk sarapan. Siangnya Kak Sam mengolah sampah-sampah itu atau membakarnya di bak belakang rumah. Kemarin malah Kak Sam sudah sangat panas badannya sampai tidak sadarkan diri. Tapi alhamdulillah sepertinya hari ini beliau sudah baikan lagi Pak, sudah bisa jalan-jalan. Padahal tadi sudah saya suruh istirahat saja. Sudah berkali-kali saya minta Kak Sam dirawat atau tinggal di rumah, tapi selalu menolak dan bersikeras tinggal di gubuk Pak.” 

Kelegaan kembali mengisi rongga dada kami begitu mengetahui Sambadri sudah sehat lagi.

Ketika sedang asyik mengobrol, terdengar suara langkah kaki yang berat di depan pintu. Kami menoleh, dan Sambadri muncul di depan pintu dengan penampilan yang kini rapi. Ia memakai kaos merah berkerah dan celana pendek hitam selutut. Rambut putihnya dipotong cepak dan wajah yang dulu kukenal kusam, kini cerah dan bersih meski kulihat bibirnya agak pucat. Beberapa gigi geraham dan dua gigi taringnya sudah tanggal dan kerutan di wajahnya menegaskan bahwa waktu telah menggerus usianya.

Sambadri benar-benar berbeda!Aku sungguh terpana dengan Sambadri yang ini! Sungguh tidak percaya dengan apa yang sedang kulihat.

“Kok rame, ada tamu ya...” Kata Sambadri dengan suara pelan. Prof. Hamid segera bangkit dari kursinya dengan air mata menggenang di pelupuk matanya. 

                “Sam...” bisik Prof. Hamid pelan. 

Sambadri mengangkat kepalanya, seolah sudah kenal lama dengan suara yang memanggilnya pelan. Prof. Hamid menangis, lalu menghambur ke pelukan Sambadri yang sedang membawa sampah di keranjang yang ia pegang. 

“Kau kah itu Ham?” tanya Sambadri. Keranjang sampahnya lepas dan ia menepuk bahu Prof. Hamid yang lebih tinggi darinya berkali-kali. Di hadapan Prof. Hamid, sambadri terlihat bahagia. Namun, ia di matanya juga terlihat kesedihan dan kepedihan yang mendalam. 

“Kawan se-kakusku sudah jadi profesor ya.” Prof. Hamid tertawa. Sambadri mengajaknya duduk di kursi depan teras gubuknya. Mereka terlihat bahagia melepaskan rindu yang membelenggu selama lebih dari dua dekade tak bertemu. Aku dan ayah kembali melanjutkan obrolan dengan Pak Pian sembari membiarkan kedua sahabat itu bersua. Namun, pandanganku tetap tak bisa teralihkan dari luar jendela menyaksikan dua lelaki baya berbincang dengan penuh sukacita seakan-akan mereka tak punya hari esok lagi. 

Setelah beberapa saat berbincang, Prof. Hamid melambaikan tangannya padaku, memintaku untuk ikut bergabung. Aku menghampiri mereka dengan suka cita yang sama. Prof. Hamid lalu menceritakan kepada Sambadri bahwa karena akulah ia bisa datang kemari dan menemui sahabatnya.

Tanpa kuduga, Prof. Hamid mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan memberikannya pada Sambadri. Itu adalah foto yang kulihat di ruang tengah beliau. Sambadri meraih foto itu dengan gemetar. Ia menangis seperti anak kecil begitu mengetahui bahwa foto pernikahannya dengan Kasih masih ada. Ia meraba wajah Kasih di foto sambil terisak, lalu mendekap foto itu dalam pelukannya. 

Kawan, ini baru pertama kali dalam hidupku melihat sambadri menangis seperti manusia normal. Setelah tangis Sambadri mereda, Ia menatap langit dan bercerita...

“Dari kecil aku tinggal bersama bapakku karena Ibu meninggal kena tipes sewaktu aku masih bayi. Bapak kemudian menyusul ibu tepat setelah aku lulus SD. Sejak saat itu, aku dirawat oleh Bibi dan paman. Aku bersyukur karena Bibi dan paman bisa menyekolahkan aku  sampai kuliah, meskipun sebenarnya aku tidak mau sekolah. Mau jadi kuli bangunan saja. Heh.”

Sambadri terkekeh, aku hampir tak percaya jika Sambadri adalah orang Pekalongan sebab logat Pekalongannya hampir tak tersisa. Bahkan, gaya bicara dan bahasa yang ia gunakan terdengar seperti seorang penyair melayu.

“Tapi aku tak tahu bagaimana nasib akan memperlakukanku kalau saja aku tidak jadi kuliah. Hal terbesar yang kusyukuri dalam hidup adalah pertemuanku dengan Kasih. Tahukah kau Ham? Kasih memiliki firasat mimpi yang tajam, kata orang jawa Jeru batine. Meski pada awalnya logikaku menyangkal hal itu, mata dan hatiku tak dapat menyangkal kenyataan yang kulihat tatkala aku menghabiskan separuh hidup dengan Kasih. Mimpi-mimpi Kasih, semangat dan keceriaannya telah mengubah hidupku yang tadinya hampa dan datar-datar saja. Keunikan gagasan dan obsesi serta kepercayaan diri yang ia miliki membuatku jatuh hati. 

Setelah menikah, dan tinggal bersama di tempat tinggalnya, aku bertekad untuk melakukan apapun demi kebahagiannya. Orang tuanya adalah keluarga terpandang. Mereka juga memberi kami warisan berupa tanah dan rumah di dekat bukit. Hidup kami bahagia dalam kedamaian alam. Setiap pagi, sebelum berangkat mengajar dan aku berangkat kerja di kantor camat, kami berjalan mengelilingi desa untuk mmeunguti sampah-sampah plastik yang berserakan. Kasih punya cita-cita untuk mendirikan kawasan bebas plastik. Maka meski para tetangga terkadang melihat kami sebagai sepasang suami istri yang aneh, Kasih tak peduli. Ia justru dengan keceriaannya, mengajak orang lain untuk ikut bergerak bersama. 

Sudah empat tahun pernikahan, tapi kami belum dikaruniai keturunan. Sampai suatu hari di musim kemarau bulan Juli, Kasih muntah-muntah dan perutnya mual. Aku segera membawanya ke bidan terdekat. Ternyata Kasih hamil. Kami senang bukan kepalang. 

Aku mengerti bahwa wanita hamil suka meminta hal yang aneh-aneh. Keesokan harinya, pada hari minggu, Kasih bersikeras untuk ikut denganku ke kebun singkong dekat sungai di seberang persawahan. Awalnya aku melarang, tapi ia tetap nekat mau ikut. 

Kebun singkong kami dan persawahan dipisah oleh sungai kecil yang mengalir dari muara sungai Komering. Ketika aku sedang asik membersihkan ladang, Kasih duduk dan mengayunkan kedua kakinya diatas sungai yang jernih. Ia sangat menikmati saat-saat itu. 

‘Kak, semalam aku bermimpi indah.’ Katanya dengan bersemangat.

‘Mimpi apo kau Dik?’ Tanyaku memperhatikannya sekilas.

‘Aku bermimpi anak kita sudah lahir, jenis kelaminnya perempuan. Ia cantik niaan. Kulitnya seputih madu dengan bola mata hitam jernih memesona. Lalu ia mengajakku bermain di sebuah taman dengan buah-buahan yang lebat tergantung rendah di pohonnya, sampai aku bisa meraihnya sambil duduk.’ Aku tersenyum dan menyangka bahwa mimpi itu hanyalah akibat yang ditimbulkan dari kebahagiaannya setelah mengetahui ia hamil. Ia lalu bergumam sendiri memikirkan nama yang cocok buat anak kita nanti. Aku menimpalinya dengan tertawa. Hari-hariku bersama Kasih terasa cerah tapi menyejukkan. 

Kasih lalu  melihat sampah plastik yang timbul tenggelam di permukaan sungai dan melompat untuk mengambilnya. Ia tersenyum dan menunjukkan sampah plastik itu kepadaku. Ia lalu menyusuri sugai yang tingginya selutut itu untuk mencari sampah lain. Saat itulah, Kasih merasa sakit dan perih di kakinya. Aku buru-buru meraih tangannya dan membantunya keluar dari sungai. Darah berceceran di rumput. Saat kulihat ternyata kaki asih terluka tertusuk kaleng susu di permukaan sungai ketika ia melompat tadi. 

Ia merintih kesakitan, tapi tetap bersikap ceria seperti biasanya. Kubawa ia pulang dan ku obati lukanya dengan obat merah lalu menutupnya dengan perban. Kukira itu adalah luka biasa, jadi aku ndak terpikirkan untuk membawa Kasih ke bidan atau rumah sakit. Tiga hari setelahnya, Kasih demam dan kakinya membengkak. Ternyata lukanya cukup dalam dan baru kuketahui masih ada serpihan kaleng tertinggal di sana, andai aku tahu hal itu lebih awal... 

Aku lalu memanggil bidan setempat dan ia hanya memberikan obat serta tetes luka. Setelah beberapa hari, Kasih tak kunjung pulih. Denganpanik, aku membawanya ke Puskesmas. Tapi, tetap tidak ada perubahan. Bahkan, badannya mulai kejang-kejang. Maka segera kukabari orang tua Kasih. Mereka lalu berinisiatif membawanya ke rumah sakit di Palembang. ‘Aku baik-baik saja Kak... jangan khawatir.’ Kata Kasih saat aku menggenggam tangannya. Ia masih saja berpura-pura tegar. 

Setelah lima hari dirawat, dokter berkata bahwa Kasih terkena tetanus dan pengobatannya sudah terlambat. Tubuhnya semakin melemah, tapi aku terus berharap. Aku yakin ia pasti bisa pulih seperti semula. 

‘Kak, tolong bantu aku selamatkan masa depan bumi ya... masa depan anak manusia.’ Katanya pada malam yang tenang saat aku duduk disisi ranjangnya. Aku tidak menjawab, hanya tersenyum dan menggenggam tangannya lebih erat lagi. Padahal Ham, saat itu aku ingin menangis, meronta-ronta dalam genggaman jemarinya. Tetapi semua itu kutahan supaya dia tidak ikut sedih.

Rupanya, sakit Kasih terlalu berat untuk dokter-dokter dan peralatan medis pada saat itu. Dan dalam keringnya kemarau, Kasih meninggalkanku untuk selamanya. Hujan ikut mengantarkan kepergian  Kasih seolah enggan taat pada musim dan takdir yang telah ditentukan Sang  Pencipta.”

Sambadri berhenti bercerita, tapi air matanya tak berhenti mengalir. Semua laki-laki di tempat itu menitikkan air mata, meski buru-buru menyekaya sebelum ketahuan laki-laki yang lain. 

“Setiap hari aku merindukan istriku Ham... setiap hari semenjak aku pertama kali melihatnya. Setiap hari aku datang ke pusaranya tapi hal itu semakin terasa menyakitkan. Maka, rasa rindu yang hampa membuatku gila dan murka. Setiap hari setelah kepergiannya, aku membenci sampah! Aku membenci diriku sendiri! Aku membenci orang-orang yang membuang sampah sembarangan! Sampah telah membunuh istriku Ham!...” Sambadri tersedu sedan.

Aku tahu sebenarnya Sambadri berusaha tegar, tapi semakin ia berusaha tegar, aku semakin pilu melihat lelaki tua itu. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan.

“Terimakasih telah sedikit mengobati rinduku, Ham... sudah berkali-kali aku mencari foto istriku yang tersisa, namun semuanya telah rusak.” Katanya sambil menepuk paha Prof. Hamid. 

                Aku tertegun, mengkontemplasikan takdir mantan orang gila yang terdengar aneh ini. Sambadri berkata ia baru menyadari mimpi yang diceritakan istrinya adalah sebuah gambaran dimana Kasih sedang berada di surga bersama anak mereka yang masih berupa segumpal darah. 

Sambadri kemudian memaksakan diri untuk tersenyum lebar, ia lalu mengangkat wajah keriputnya dan berkata: “Hanya kamu sendiri yang bisa menyelamatkan masa depanmu Dik, hidupmu masih dipenuhi gelora semangat dan cinta.” 

Aku menoleh dan mengangguk ketika sambadri mengucapkan kalimat ini dan menatapku. Sambadri menepuk pundakku dengan bangga, seakan berterimakasih karena telah menghadirkan sesuatu yang selalu dan amat ia rindukan. 

 Saat kami berpamitan pulang, Prof. Hamid meminta untuk diizinkan tinggal semalam bersama Sambadri di gubuk mungilnya. Pak Pian setuju, meminta mereka untuk tinggal di dalam rumah, tetapi Sambadri dan Prof. Hamid menolak dengan alasan ingin mendapatkan privasi. Pak Pian tak bisa menghalangi keinginan dua sahabat itu.

                Aku kembali ke rumah bersama ayahku dengan perasaan lega yang tak bisa dilukiskan. Ini adalah momen terindah dan paling penting yang pernah kualami. Aku tersenyum pahit mengingat cinta bisa membuat hidup seseorang menjadi lebih bermakna, namun kehilangannya juga benar-benar membuat seseorang hilang akal dan gila. 

                Pagi harinya, ketika terik matahari musim kemarai sedang bersiap menyapa dunia, Prof. Hamid meneleponku dan menangis tersedu-sedu, mengabarkan bahwa Sambadri telah meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. Berita ini seperti gemuruh petir di hari yang cerah. Sungguh, aku dan ayahku tidak bisa mempercayainya! Baru saja kemarin kami bertemu, Sambadri terlihat sehat dan bahagia! Ada apa sebenarnya dengan perputaran dunia?! Aku limbung, tak sanggup mencerna  berita yang Prof.  Hamid bawa.

Aku dan ayahku segera tancap gas.  Sepanjang perjalanan aku tertegun, dadaku terasa sesak, telingaku berdengung. Baru saja aku mengagumi laki-laki  itu, baru saja aku melihat hal-hal baik darinya, tapi ia sudah keburu dipanggil Yang Mahakuasa. Sesampainya di sana, tubuh tua Sambadri telah dingin dan ia berbaring dengan khidmat menghadap Tuhannya. 

Prof. Hamid bercerita pada jam 4 dini hari, beliau membangunkan Pak Pian karena Sambadri sepertinya sedang mengalami sakaratul maut. Ia berkali kali merintih, memanggil nama Kasih dan memeluk foto pernikahan mereka erat-erat. Tubunya panas dan tak henti mengeluarkan keringat. Sambadri menarik nafas panjang sebelum akhirnya terkulai di atas dipannya dengan wajah yang penuh kelegaan. 

                Kawan, hatiku perih seperti ditikam belati. Sambadri sang penyelamat bumi, tidak punya kuasa untuk menyelamatkan cinta dan masa depannya sendiri. 


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar