Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Review Film Pendek Tilik

Sumber: youtube


Oleh: Hilyatus Sa'adah

Film pendek berjudul Tilik merupakan karya yang berasal dari Yogyakarta oleh Racavana Films dan disutradarai oleh Wahyu Agung Prasetyo. Film ini memiliki alur lurus kedepan namun memberikan plot twist didalam kelinieran alur. Cerita itu benar-benar suatu angin segar dalam perfilman indonesia. Sinematografi yang apik serta acting para pemain yang sangat natural dan tidak kaku atau kikuk. Film minimalis tapi berkualitas, berbagai sindiran dari kebudayaan kebanyakan masyarakat Indonesia "Ngegosip, Ghibah, Fitnah" dirangkum menjadi satu dalam "Tilik'an". Tilik adalah salah satu budaya di Jawa yakni menjenguk orang sakit entah saudara atau tetangga di rumah sakit maupun dirumah orang tersebut. Tilik'an seharusnya menambah pahala dengan menjenguk orang yang sakit malah menjadi ladang dosa karena dibuat wadah gibah dan fitnah dan itu sangat relate dengan kehidupan dimasyarakat kita ini, khususnya daerah pedesaan.



Film pendek Tilik ini membuat penonton menjadi bagian dari cerita, kualitas pengambilan video sangat bagus, jernih, dan modern. Isi cerita memberi pandangan luas tentang: produser dan sutradara film ini yang sangat berbakat, mampu menarik penonton untuk menjadi bagian dari cerita, tidak terlalu mendidik tetapi memberikan penonton untuk melihat sisi yang berbeda dari sudut pandang, bahasa asli di jawa membuat film ini sangat alami dengan sentuhan modern, tantangan berat untuk pemirsa yang lebih luas. Film ini sangat menggambarkan realistis kehidupan didaerah-daerah pedesaan di Indonesia khususnya Jawa. Karena sangat ditonjolkan oleh film ini Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Jawa. Menceritakan sekumpulan ibu-ibu yang tak luput dari gosip. Realitasnya, para ibu-ibu memang begitu adanya dan hampir sama logatnya. Sebagian orang memang lebih seperti sosok Bu Tejo, namun banyak juga yang seperti Yu’ Ning. Mungkin sebagian besar penonton, walau nggak semua, kesal dengan tokoh Bu Tejo. Namun, pada akhirnya, penonton diuji dengan scene Dian dan mantan suami Bu Lurah di ujung durasi. Kita hanya disajikan sepotong fakta, lantas tepatkah langsung menyimpulkan kalau Dian adalah wanita yang tidak baik? Padahal, belum tentu juga Dian merebut suami orang. Bisa jadi hubungan tersebut dijalin secara baik-baik dan sah?



Film pendek Tilik ditampilkan dengan sangat luar biasa dan menjadi bermanfaat bagi kalangan pecinta film. Seharusnya yang mencerminkan kehidupan ini lah yang layak di angkat di layar kaca. Tradisi serta budaya yang ada akan menjadi sesuatu yang mencerminkan ini lah Indonesia dengan keunikan masyarakat nya yang beragam. Dari film ini dapat ditarik pesan moral dengan jelas dari segi tradisi gotong royong, kebersamaannya, dan kekerabatan antar tetangga yang masih terjalin dengan erat. Diluar dari Karakter Bu Tejo dan kawan2 Ada Kehangatan yg sudah mulai memudar pada masyarakat Indonesia kini. Tradisi Tilik/menjenguk ini representasi gotong royong masyarakat Indonesia, bentuk kepedulian yg lebih bernilai dari sekedar ghibahan Ibu2.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar