Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Mengapa Harus Menjadi Masalah Tim Bubur Diaduk atau bubur Tidak Diaduk?

Sumber: resepkoki.id


Oleh: Zahriyatun Nafiah

Menurut KBBI Bubur memiliki arti yaitu makanan lembek yang berair yang dibuat dari beras, kacang-kacangan, dan sebagainya yang direbus. Bubur ayam merupakan makanan berbahan dasar nasi yang dimasak dengan air yang banyak sehingga menghasilkan tekstur yang lembut dengan berbagai komponen pelengkap misalnya ayam suir, kuah kuning, kacang, telur setengah matang, cakwe dan kerupuk.
Pada awalnya bubur merupakan makanan yang dikhususkan untuk orang yang sakit, karena teksturmya yang lembut sehingga memudahkan untuk menelannya. Namun tanpa dipungkiri makanan yang satu ini banyak sekali peminatnya, tidak hanya untuk orang yang sakit saja namun juga bisa dinikmati oleh siapapun dan dari berbagai kalangan seperti anak-anak dewasa hingga lansia. 


Tanpa dipungkiri kelezatan bubur tidak serta merta menimbulkan kedamaian. Justru menimbulkan berbagai perbedabatan. Masyarakat Indonesia sering sekali memperdebatkan tentang cara makan bubur yang baik dan benar. Mereka membentuk dua tim yang berbeda yaitu tim bubur diaduk dan tim bubur yang tidak diaduk.   
Tim bubur yang diaduk lebih mementingkan dari segi rasa bubur tersebut dibandingkan segi keestetikannya. Menurut mereka dengan mengaduk bubur dalam setiap suapan bubur tersebut akan merasakan semua komponen yang ada pada bubur tersebut. Namun tim ini memiliki kelemahan yaitu keestetikan bubur tersebut. Ketika diaduk bubur tersebut terlihat seperti muntahan bayi. 


Tim bubur yang tidak diaduk lebih mementingkan keestetikannya dibandingkan dari segi rasanya. Menurut mereka nafsu makan itu bisa dibentuk saat kita melihat tampilan dari suatu makanan itu sendiri. Menurutnya jika kita mengaduk bubur tersebut maka akan menurun selera makan kita. 


Mengapa hal sekecil itu haruslah menjadi perdebatan diantara kita? Apakah kita akan terpecah karena hal sekecil itu? Bukankah dari keduanya juga memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing? 


Hal itu seharusnya bukanlah suatu hal yang harus menjadi perdebataan diantara kita. Cara makan bubur yang diaduk ataupun tidak itu kembali kepada selera masing-masing individu. Mereka memiliki cara sendiri untuk menikmati setiap suapan makanan yang mereka nikmati. Yang terpenting adalah kita bisa hidup sehat dan memiliki tenaga yang berasal dari makanan itu. Jangan sampai dengan masalah sekecil itu kita menjadi pisah.

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar