Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Malam di Gumul


Dok. Pribadi


Oleh: Hidayatun Na

       Kereta Penataran yang kutumpangi baru saja bertengger di stasiun Kediri pada pukul setengah lima sore setelah melalui 4 jam perjalanan. Kukabarkan padanya bahwa aku sudah tiba di pelataran stasiun sambil kebingungan menjawab tawaran para tukang ojek dan becak yang berjajar di sepanjang jalan keluar. Ternyata ia sudah sampai, menungguku di dekat penjaja lontong sayur sambil mengarahkan jalan lewat telepon. Kulambaikan tangan setinggi-tingginya dan senyuman selebar-lebarnya tatkala kulihat siluetnya menangkap balik siluetku. 

          “Maaf ya, kamu lama nunggunya...” kataku sembari menepuk jok belakang motornya. 

          “Santai, santai, aku baru nyampe kok. Selamat datang di Kediri, Nona.” Katanya menggoda. 

           Senyumku semakin melebar, seolah-olah simpulnya sudah melampaui batas wajar. “Tapi aku belum salat. Kita cari masjid dulu boleh?” 

           “Gas...” katanya sembari menyodorkan helm SNI ke arahku. 

             Dengan ransel di punggung yang berisi air minum, baju ganti, buku catatan kecil, sabun, dan bedak, aku bersusah payah menaiki jok di belakangnya. Setelah musala terdekat ditemukan, kami bergegas mengambil air wudhu dan salat berjemaah dengan dia sebagai imam setelah kupaksa berkali-kali. 

              “Aku malu, bacaannya belum sempurna.” Sanggahnya. Padahal ‘kan kalau salat ashar dia tidak perlu mengeraskan suara. 

            Setelah salat dan melipat mukena, aku menghampirinya yang sudah terduduk di teras masjid sambil memakai kembali sepatunya. 

           “Mau pergi ke mana, nih?” tanyanya. 
 
           “Ya mana ku tahu, kan aku belum pernah ke sini.” Jawabku ketus. Ia terkekeh.
 
            “Di Kediri, ada dua tempat indah yang wajib banget dikunjungi kalau ke sini. Ada sungai Brantas sama Simpang Lima Gumul, kamu mau pilih yang mana?” Nah, kalau diberi dua pilihan begini, lebih mudah dari pada tidak memiliki pilihan sama sekali. 
 
            “Hmm, yang paling deket yang mana?”
 
             “Yang paling deket dari sini ya Sungai Brantas.”
 
               “Kalau yang paling bagus yang mana?”
 
               “Nah, kalau yang paling bagus ya di Gumul, apalagi kalau pas sore.” Jawabnya seolah meyakinkanku bahwa sebaiknya aku ke Gumul saja. 
 
           “Okedeh, ke Gumul aja kalau gitu.” 
 
             “Good choice!” katanya sambil mengacungkan jempol ke arahku. 
 
            Kami pun bergegas menuju Gumul. “Nanti pegangan yang kenceng di jaketku, ya.” Katanya setelah ia menghidupkan mesin motor scoopy merah milik teman kostnya itu.

            Perintahnya agar aku berpegangan erat ke jaketnya bukan main-main. Ia mengendarai motor sedikit ugal-ugalan, sehingga aku menyimpulkan bahwa dua setengah tahun di Kediri merupakan wakut yang cukup buatnya untuk memahami medan jalanan kota. 
 
             “Jangan ngebut-ngebut!” teriakku padanya saat ia tancap gas. Sialnya, ia malah tertawa dan menggeber gasnya lebih kencang lagi. Aku semakin kencang berteriak seperti orang gila dan ia baru memelankan laju motor tersebut saat aku memukul pundaknya dengan keras. 
 
              Berkali-kali ia mengedarkan pandangannya ke arah barat pada bayangan pegunungan Willis yang mulai merona jingga. Matahari sedang beranjak untuk bersembunyi di baliknya. “Beruntung banget kamu datengnya pas hari cerah, senjanya juga lagi indah.” Katanya sambil menunjuk objek yang dimaksud. 
 
                 Aku mengikuti arah tunjuknya dan ikut terpana. Benar, itu senja yang indah. Barangkali senja terindah yang pernah kulihat. Bukan, bukan karena senja itu memang indah karena ia bersembunyi di balik gunung yang gagah. Namun tentu saja... “Karena aku menikmatinya bersamamu.” Kataku dalam hati. 

            Sesampainya di Gumul, senja yang membuat kami terpesona masih merona di ufuk barat. Kali ini, bukan gunung lagi yang jadi tempatnya bersembunyi, tetapi monumen Gumul itu sendiri. Sehingga senja telah menciptakan efek seakan-akan Gumul sedang bercahaya. Kami berdiri berdampingan menatap cahaya mentari yang perlahan menghilang ditelan kegelapan. 
Senja dari balik Gumul begitu membuatmu terpukau sehingga sorot matamu begitu terpana melihatnya. Sedangkan aku, terpana melihatmu. 

            Karena waktu maghrib sudah tiba, kami memutuskan untuk melaksanakan salat maghrib terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam monumen lewat pintu masuk bawah tanah. 

             Malam itu bertepatan dengan malam minggu, pintu masuk ke Gumul dipadati oleh para pengunjung dan penjaja berbagai jenis makanan maupun aksesoris. Karena seharian belum makan, aku memutuskan untuk membeli pentol seharga sepuluh ribuan. Arsitektur bangunan yang menyerupai L’acrh D’ Triomphe yang ada di Perancis ini memiliki suasana romantis. Barangkali beginilah suasana di Paris jika malam hari. 

            Setelah mengelilingi monumen sebanyak dua kali, dengan kekagumanku yang tak ada habisnya, kami memutuskan untuk mencari tempat senyaman mungkin untuk mengobrol. Kami duduk berhadapan di salah satu jalan pavin yang menghadap ke persawahan dan perkampungan yang dipisahkan oleh jalanan. Seolah tersembunyi dari keramaian. 

          “Gimana? Udah puas keliling? Atau belum?” tanyanya ketika aku terduduk lelah dengan menyantap pentolku. “Pas pertama kali ke sini, aku juga gitu, maunya keliling terus, soalnya menurutku ini monumen indah banget.” Katanya sembari menunjuk puncak monumen dan tertawa sendiri.
 
           “Udah dulu, ah. Capek ternyata.” Kataku dengan mulut dipenuhi pentol. 
Malam itu, kami mulai mengobrol seputar kuliah, teman-teman, dan hal lainnya yang memang harus dibicarakan berdua saja.
 
            “Ya, jadi sesuai dengan janjiku. Malam ini aku akan menceritakan semua yang aku sembunyikan dari kamu selama ini. Aku sadar aku udah jadi sahabat yang buruk dan aku minta maaf untuk itu. Harusnya aku nggak perlu tertutup masalah ini sama kamu, tapi aku bingung dari mana harus mulai cerita.” Ia menghela nafas, seolah akan mengatakan sesuatu yang amat penting dan menyangkut keberlangsungan hidup semua manusia di alam semesta. 
 
            Oh iya, dari tadi aku selalu menyebut dia, namun engkau belum tahu siapa dia-ku ini. Dia adalah sahabat laki-lakiku yang sudah kukenal semenjak kami SMP dan ia duduk di bangku belakangku. Kedekatan kami mulai tak terbendung tatkala kami memiliki kegemaran akan film dan acara televisi yang sama. Bahkan, kami masih sempat membahasnya ketika guru Matematikaa sedang menjelaskan materi di depan kelas. Sejak saat itu, banyak orang yang menganggap kami sedang berpacaran. Ya, kau tahu sendiri ‘kan? Persahabatan intergender itu tak ada yang murni, selalu saja ada salah satu pihak yang mencintai. Sepertinya dalam kasus ini, akulah sang pencinta. 
 
             Kebersamaan kami baru terpisah pada saat SMA dan masa kuliah. Meski terpisah secara jasmaniah, tetapi secara rohaniah kami selalu bersama, tak pernah kehabisan topik untuk dibicarakan setiap harinya meski lewat ponsel. Bahkan, jarak kota kuliah kami pun tak jauh, bisa ditempuh dengan menaiki kereta seharga lima belas ribu rupiah saja. Saat kukabarkan aku ingin mengunjunginya di Kediri karena sudah bosan menghabiskan akhir pekan di kota dingin Malang, ia begitu bersemangat dan berkali-kali mengatakan bahwa ia ingin mengungkapkan sesuatu padaku. Jantungku melompat-lompat ketika mendengar kabar tersebut. Apa sebenarnya yang ingin ia ungkapkan? Jangan-jangan... 
 

          Maka meski aku menempuh jarak selama 4 jam perjalanan di kereta ekonomi tanpa kursi duduk dan hanya bersandar di jendela bordes kereta, tanpa mengisi perut dengan sarapan sedari pagi, serta menghabiskan uang saku hanya untuk menempuh perjalanan itu, bagiku tak ada artinya ketimbang apa yang akan ia ungkapkan. Pun, jika apa yang ia ungkapkan tidak ada artinya, anggap saja ini adalah perjalanan jalan-jalan antar kota, tak ada yang sia-sia.  
 
          “Oke, aku udah siap ndengerin, kok.” kataku mantap. 
 
          “Tapi janji, ya. Kalau aku udah cerita apa yang aku sembunyikan, nanti giliran kamu. Kita gantian.” Ia meminta syarat yang tak begitu kuanggap serius karena itu hal yang mudah. 

           “Gampang lah.” Kataku. 
 
          Aku mencoba mengaburkan suara detak jantungku yang semakin menjadi-jadi seiring dengan kata-kata yang akan ia keluarkan dari bibirnya yang merona. Apakah ini akhir dari kisah friendzone kita? Apakah akhirnya kini dia menyadari bahwa akulah satu-satunya orang yang selalu ada untuknya? Sahabatnya yang paling setia? 

           “Jadi, aku belum cerita sama kamu kalau dulu sewaktu SMA, aku ketemu sama seseorang yang membuat hariku jadi berwarna.” 

          Tunggu, bukankah kita sudah bertemu dari SMP?

           Meski perlu beberapa detik untuk meyakinkan diriku bahwa aku tak salah dengar, aku tetap mengangguk-angguk dan memberi tanda bahwa aku siap mendengarkan apapun yang akan ia utarakan. 
 
         “Dia adik kelas dua tahun di bawah kita, dia bilang dia kagum sama aku soalnya pas itu ‘kan aku keren ya, jadi ketua OSIS, aktif di pramuka, terus sering lomba kemana-mana. Nah, dari situ, dia - ya sebut aja nge-fans lah sama aku. Terus temennya nyalamin ke aku, padahal dia nggak minta di salamin, biasalah mak comblang. Dari situ kita mulai saling tukeran nomer WA dan deket.” Aku seperti ingin meledak oleh tangis. Jantungku seakan tak sanggup lagi memompa darah dan mengalirkannya ke otak atau akal sehat. 

          “Aku tahu aku nggak pernah ngomongin tentang orang ini ke kamu, makanya aku kepengen cerita sekarang. Soalnya aku ingin tahu gimana sudut pandangmu sebagai perempuan.” Ia segera meluruskan setelah membaca keterkejutan di mataku. 
 
        “Adek kelas dua tahun di bawah kita? Aku kenal nggak?” Tanyaku penasaran. Siapa perempuan yang berani-beraninya membuat hidupnya lebih berwarna selain aku?
 
          “Enggak, kamu nggak kenal, kan kita beda sekolah. Tak kasih tahu namanya pun kamu nggak bakalan kenal.” Katanya ngeles. “Jadi kita sebut saja dia si NU.”
 
          Sialan, “Nama apaan itu?”
 
         “Itu inisial namanya.”
 
          Dengan secepat mungkin, aku berusaha mengingat-ingat kembali tekadku untuk menjadi sahabat terbaik buatnya, sebaik mungkin, bahkan ketika rasa sayangku tidak terbalas. Karena bagiku itu adalah resiko mencintai sahabat sendiri. Bukankah yang menyakitiku adalah ekspektasiku sendiri?  
 
         “Nah, karena bagiku dia juga menarik, pinter, cantik, maka aku pun mencoba untuk memulai hubungan sama dia. Jadilah semenjak kelas tiga sampai sekarang, kami masih berhubungan. Aku suka sama dia karena dia beda dari perempuan-perempuan lain yang pernah aku kenal. Pokoknya dia unik. Hari-hariku rasanya seperti berwarna. Dulu aku nggak percaya sama kata-kata: ‘Jatuh cinta membuat hidupmu lebih berwarna.’ Alah ungkapan apaan itu, receh banget. Alay. Tapi beneran, setelah ketemu dia, rasanya seneng banget. Berbunga-bunga.” Ia tersenyum seolah gadis itu sedang berada di hadapannya. 

          Dari kelas tiga SMA sampai sekarang? Ditambah satu tahun gapyear? Berarti kurang lebih sudah tiga tahun mereka bersama. Dan aku tidak tahu?! 
 
           “Aku sempet diskusi sama Hadi, bahwa tingkatan hati itu ada tiga. Yang pertama suka, terus sayang, yang ketiga baru cinta. Cinta itu berada di tingkat paling tinggi. Dan aku rasa, yang aku rasain ke dia itu baru sampai rasa sayang.”

            “Terus masalahnya dimana?” tanyaku tak sabar. Barangkali aku bukan tak sabar ingin mendengarkan ceritanya, tetapi tak sabar untuk segera berlari dari hadapannya. Karena semakin lama, aku semakin terlihat seperti orang dungu.

             “Nah, di tahun ketiga ini, aku ngerasa ada yang nggak beres sama hubungan kita. Dia selalu cemburu kalau aku foto sama temen-temen cewekku yang lain. Padahal aku udah bilang kalau kita temen baik, kamu tau kan? Aku, Hadi, sama Zizah itu temenan baik dari semester satu?” Tentu saja aku tahu, karena meski aku tak mengenal teman-teman satu circle-nya, dia selalu menceritakan mereka kepadaku. Tunggu, apakah aku lebih berharga dari wanita itu sampai-sampai ia lebih mempercayakan kisah pertemanannya kepadaku daripada kepadanya? Tapi kenapa wanita itu lebih dicintainya ketimbang aku? 
 
            Berbagai pertanyaan seputar eksistensiku sebagai sahabat dan sebagai manusia pun mulai menghujani ruang fikiranku. 
 
           “Menurutmu gimana? Boleh nggak sih kalau seorang laki-laki itu berkenalan dengan banyak perempuan? I mean bukan karena mereka ingin selingkuh atau macam-macam. Tetapi karena aku, sebagai laki-laki ingin mengenal dan mengetahui berbagai macam sifat dan karakter perempuan agar bisa kupelajari. Ya, kamu tahu sendiri, kan? Nature laki-laki itu mencari, sedangkan perempuan itu dicari. Gimana menurutmu? Sebagai perempuan apakah itu sebuah masalah? Karena dia sampai mempermasalahkan itu loh.”
 
            Aku menatap langit berbintang di atas kita sembari berfikir keras. “Ya, menurutku selama kalian belum ada ikatan sakral sama dia, ya nggak pa-pa sih kalau mau kenalan sama orang lain. Tapi pastikan caramu mengenal mereka, sikapmu sama mereka itu jangan sampai menyakiti dua belah pihak. Karena mereka kan kaumku, kalau sampai mereka disakiti sama kamu, aku juga bakalan murka.” Jawabku mantap. 
 
          “Nah kan, cakep. Aku juga mikir gitu. Coba aja kalau semua perempuan berfikiran terbuka dan maju seperti kamu, pasti dunia ini akan damai. Hahaha!” Sial! ketika ia tertawa, rasanya patah hatiku menjadi pulih kembali. Tak perlu lagi kalian pertanyakan kebodohanku. Dan ya, kisah friendzone ini masih terus berlanjut kawan, bahkan sepertinya akan jauh lebih menyakitkan.
 
            “Jadi, cuman itu masalahnya?” tanyaku memastikan apa yang sebenarnya ingin ia sampaikan.
 
            “Iya itu, dia posesif. Terus semenjak dia ngelanjutin kuliah di Pondok aku jadi jarang ngobrol lagi. Palingan seminggu sekali. Tapi ya, nggak apa apa, aku berusaha untuk selalu positif. Barangkali itu adalah caranya mencintaiku.” Aku menimpuknya dengan sebotol air minum lalu ia tertawa keras. “Nah, itu tadi yang mau aku ceritain, sekarang giliran kamu. Pasti kamu juga punya rahasia hati yang belum kamu ceritain ke aku ‘kan?” katanya setelah tawanya mereda. 
 
            Aku terperanjat. “Loh, aku nggak ada masalah hati begituan. Kamu kan tahu aku jomblo dari lahir. Semua kisah romansaku udah ‘tak ceritain kan? Udah nggak ada lagi.” Sanggahku. 
 
            “Nggak mungkin. Pasti ada, ayolah... masa aku sendiri yang cerita.” Meski aku berusaha menolak, ia tetap memaksa. 
 
             “Yahh, okelah.” Kataku terpaksa. 
 
             “Gitu dong.”
 
             “Jadi, aku kan suka sama banyak orang ya, kamu tau lah. Diantara sekian banyaknya orang yang kusuka, atau tiap kali aku suka sama orang, aku selalu tahu akhir dari persaanku. ‘Pasti perasaan ini nggak lama, pasti lama-lama sirna’ gitu kata hatiku, selalu begitu. Kecuali sama satu orang. Mencintai satu orang ini, bagiku seperti nggak ada akhirnya. Aku nggak tau gimana akhirnya, dan meski sekilas aku melupakannya, ujung-ujungnya hatiku tetap kembali lagi sama dia, suka lagi sama dia. Gitu terus... sampai sekarang.” Kataku. 
 
           Dia mengerutkan dahinya, berfikir. “Apa yang membuatmu sampai sebegitu sayangnya sama dia?” Syukurlah dia bertanya demikian, kukira dia akan menanyakan ihwal siapa orang menyebalkan ini. 
 
            “Nah, kalau ditanya ‘kenapa kok suka sama dia?’ itu sama dengan pertanyaan: ‘Kenapa kamu milih ngelanjutin kuliah ke Malang?’ aku nggak tahu jawabannya. Sumpah. Padahal bisa aja aku kuliah di tempat kita, lebih deket, nggak perlu nyebrang pulau, biayanya juga pasti lebih murah. Lagi-lagi, aku ngerasa ini bukan pilihanku, ini pilihan hati. Aku bener-bener nggak tau jawabannya. Tapi ya, aku terus mencari. Barangkali memang ada kebaikan dari apa yang telah menjadi pilihanku, kan?” Aku merasa suaraku memelan, seakan tersamarkan oleh suara keramaian, tetapi juga lebih bersungguh-sungguh dari sebelumnya. Semakin malam, bukannya semakin sepi, Gumul seolah semakin hidup oleh para pengunjung yang didominasi dua sejoli. 
 
            “Berarti kamu udah mau sampai tahap mencintai, sepertinya.” Katanya pelan. 
 
             “Aku juga nggak tahu, yang penting yakin aja gitu. Pasrah udah. Kalau dia yang terbaik kan mau terpisah jauhnya kayak apa, pasti bakalan kembali lagi.” Udara semakin dingin setelah angin malam berembus pelan menyusupi rongga-rongga jilbabku. Seolah mengabarkan bahwa malam sudah mulai larut dan aku harus segera berlindung ke peraduan. Tetapi rasanya enggan, meski sakit telah menghujam hingga hatiku berdarah-darah, remuk redam, dan tadi aku sempat berfikir untuk berlari kabur, aku masih ingin disini membicarakan banyak hal dengannya.
 
              Sial! Sebegitu dalamkah hatiku mencintainya? Dasar hati dungu!

              “Nggak kerasa udah malem ya, mesti kalau ngobrol lama banget kita.” kataku sembari memasukkan kembali air minum ke dalam tas, seperti sedang bersiap-siap untuk beranjak pergi. 
 
              “Loh, ceritanya udah?” tanyanya kebingungan.
 
              “Udah, lah. Cuman itu, ‘kan aku udah bilang nggak punya kisah romansa kayak kamu.”
 
              “Belum, kamu belum ngasih tau nama orangnya.”
 
              “Nama orang siapa?”
 
               “Ya, yang tadi kamu ceritain lah.” Katanya dengan nada yang sedikit meninggi. “Nggak adil dong, kan tadi aku udah cerita gamblang!”
 
              “Ya mana mungkin aku ngasih tau orangnya, Bambang!” bantahku. Aku rasa mukaku memerah diakibatkan oleh amarah dan rasa malu sekaligus. 
 
              “Ah males ah, kan kamu udah janji tadi.” Dia tetap ngotot. 
 
              “Kapan-kapan deh tak kasih tahu, jangan sekarang aku nggak siap anying!” bantahku. 
 
                Ia mengedikkan bahunya, pertanda malas berdebat, atau kalah berdebat tidak ada bedanya, kurasa. Setelah itu ada jeda diam yang cukup lama diantara kita. Aku menyimpulkan bahwa ia sedang ngambek.
 
          Dalam hening itu, aku mencoba mempertanyakan perasaanku sendiri. Apakah benar ikut berbahagia ketika melihat orang yang kita cintai bahagia merupakan derajat tertinggi dari mencintai? Padahal yang terjadi sebenarnya adalah kita yang memaksakan diri untuk merasa bahagia, memaksakan diri untuk tegar dan menjadi kuat sekuat-kuatnya. Benar kiranya bahwa cinta itu suci, yang bodoh adalah cara kita menyikapi cinta itu sendiri. 
 
              “Udah malem, pulang aja yuk. Lanjut besok, ya.” Aku mencoba memecahkan kesunyian di antara kita. Seandainya ia tahu bahwa ialah orang yang sebenarnya kuceritakan, mungkin tak akan ada kemurkaan sebesar ini yang membahayakan persahabatan kita. 
 
              Ia mengangguk dan tanpa sepatah kata kami berjalan bersisian menuju ke parkiran. Ketika ia mengantarkanku ke tempat kost temanku, dengan kecepatan yang sama seperti siang tadi, kali ini aku menahan tanganku sekuat tenaga untuk tidak mencengkram jaket tebalnya meskipun angin seolah ingin melemparkanku dari jok motor. 

             Sepanjang perjalanan pun, tak ada lagi canda atau tanya seperti saat senja menyapa tadi sore. Fikiranku melayang ke segala arah, termasuk ke postingan-postingannya di instagram maupun Whatsapp yang berisi puisi romansa. Kadang tentang rindu, kadang tentang menunggu. Selalu, di bawah kata-kata indah itu, ada tanda pagar dengan sebuah inisial, NU. Aku kira NU adalah inisial yang diperuntukkannya untuk menyebut namaku dan namanya, Niko dan Umi. Sehingga tiap kali ia menuliskan kalimat romansa, aku selalu bahagia, sebab kupikir, itu adalah ungkapannya untuk kisah persahabatan kita yang begitu memesona. 

            Hari ini, aku merasa menjadi orang terbodoh di dunia. Ingin rasanya aku naik ke puncak Gumul lalu menertawakan kebodohanku sendiri. Tapi yang bisa kuekspresikan hanyalah senyum yang mengembang. Seolah-olah bibirku sudah memaklumi dan terbiasa dengan kebodohanku selama bertahun-tahun. Pada langit malam yang kukira mulai kelabu, aku merasa malu. Aku berpegangan erat pada ranselku sembari menyeka air mata yang mengalir tanpa aba-aba. 

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar