Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Lelaki Penjual Kain

Sumber: https://moselo.com


Oleh: Hidayatun Na

Aku pertama kali bertemu dengan pemilik sorot mata teduh itu satu tahun lalu saat dipaksa Mamaku ikut ke pasar untuk membeli kain di toko langganannya. Toko itu menjadi tempat favorit Mama karena sudah berdiri jauh sebelum Mama bisa menjahit. Selalu jadi kepercayaan pelanggan meskipun lokasinya terletak di bagian pasar Kota yang agak dalam. Pemiliknya adalah seorang keluarga keturunan Minang yang menjual kain kualitas tinggi dengan harga yang ramah di kantong pembeli.  


Seorang karyawan lelaki bertubuh tinggi dan berseragam batik menyambut Mamaku dengan ramah seolah-olah sudah kenal lama. Aku terpana dengan keramahan yang membuat perhatianku pada handphone teralihkan. Suaranya lembut dan pelan, tetapi terdengar indah di antara riuh rendah pelanggan yang lain. Aku mencuri pandang matanya yang teduh dibingkai oleh segaris alis tebal yang tegas dari balik punggung Mamaku. Jantungku serasa berhenti memompa darah ke otak saat mata hitamnya bertemu dengan mataku. Ketika ia menyunggingkan senyum, rasanya aku mau pingsan. Ia begitu tampan! Sungguh! ini pertama kalinya aku percaya bahwa cinta pada pandangan pertama memang benar adanya. 


Mamaku berkali-kali memintaku untuk belajar menjahit sepertinya. “Menjahit adalah pekerjaan yang menjanjikan” katanya. Tak terlalu kupedulikan karena bagiku menjahit itu ribet. Tetapi opiniku berubah drastis setelah pertemuan itu. Aku ingin menjahit agar bisa membeli kain dan bertemu dengan malaikat ini saban hari. Setelahnya, setiap Mama berkata ingin membeli kain, aku dengan semangat menawarkan diri untuk ikut. Padahal, sebelumnya aku selalu mengeluh. Mama sampai heran, bahkan saat kain yang baru dibeli kemarin lusa belum dijahit, aku sudah menanyakan kapan Mama akan membeli kain lagi. Lama-lama aku diutus pergi ke toko itu sendiri berbekal catatan nama kain dan jumlah meter yang harus dibeli. 


Pertemuan kami semakin intens. Jam sebelas pagi di hari Kamis adalah waktu rutinku mengunjungi toko itu sebelum pergi ke kampus. Secara otomatis, aku akan menuju ke arahnya untuk menerima pelayanan pelanggan meskipun ada beberapa karyawan lain yang sedang menganggur. Setelah mengantongi kain, senyuman dan suarannya yang menawan, aku beranjak pergi dari toko dengan riang gembira. Kusembunyikan senyumpan itu di balik masker agar tak dianggap orang gila. Saat kakiku membawaku keluar dari pasar, sebuah lagu Nyanyian Kasmaran milik Ebiet G. Ade berputar-putar di kepala. 

Sejak engkau bertemu lelaki bermata lembut - ada yang tersentak di dalam dadamu

Kau menyendiri, duduk dalam gelap – bersenandung nyanyian kasmaran

Dan tersenyum entah untuk siapa

Tetapi selama satu tahun yang membahagiakan itu, kami tak pernah saling menanyakan nama. Jadi aku menjulukinya Mas Kain. Aku pun tak tahu apapun tentangnya meski kami hidup di satu kota. Isi percakapan kami pun hanya sebatas kain jenis apa yang mau dibeli, harganya, motif mana yang bagus dan tak pernah membicarakan hal lain di luar itu. Aku tak berani menanayakannya terlebih dahulu karena terlalu malu dan takut dianggap wanita agresif. Walau sebenarnya aku juga ingin tahu, apakah dia juga merasakan rasa suka seperti apa yang aku rasakan. 


Aku bisa seyakin itu karena ia begitu ramah kepadaku. Ketika aku datang, ia akan sigap mengambil alih tugas karyawan lain demi bisa melayaniku. Ketika kami berdiri berjauhan, mata kami akan sama-sama mencuri pandang. Lalu terbitlah senyuman dari bibirnya yang indah. Sesekali kudapati ia salah tingkah, lalu kami saling tersenyum sipu setelah bersitatap untuk sepersekian detik. Hingga setelah beberapa jam kami bertemu, aku masih teringat, aku tersenyum saat mengingatnya, bahkan sampai tertawa terbahak. Hatiku megembang, seperti balon gas yang terangkat kelangit. Rasa bahagia itu akan terus kusimpan, takut kalau aku takkan bertemu dengannya setiap minggu. Betapapun salah tingkahnya aku saat mulai memasuki lorong itu dan mengijakkan teras toko dimana dia bekerja, aku akan tetap membeli bahan jahitan di sana. 


Niat membeli kain minggu ini tertunda lama karena aku bangun kesiangan setelah mengerjakan tugas sepanjang malam. Di perjalanan ke pasar, aku terjebak macet yang panjang karena ada kecelakaan di ujung jalan. Ditambah bensin yang lupa kuisi sehingga motorku berhenti tepat di lampu merah. Untungnya, ada penjual bensin eceran tak jauh dari sana. Saat kembali melaju, hujan deras sekonyong-konyong tumpah dari langit tanpa aba-aba. Sialnya, aku tak membawa jas hujan dan terpaksa harus menepi sampai hujannya reda. Karena terlalu terlambat untuk kuliah, aku terpaksa absen kelas dan tetap hadir ke pasar hanya untuk membeli kain. Bukan. Maksudku, hanya demi bertemu dengannya. 


Kamis pagi yang sial! Tak biasanya seperti ini. Padahal, aku sudah sangat bersemangat ke pasar. Sudah kucatat kebutuhan kain Mama yang harus dibeli. Sudah kupakai dandanan terbaik yang kumiliki. Tetapi luntur terkena siraman hujan. 


Sembari memandang mentari pagi yang bersembunyi di balik awan mendung, tiba-tiba aku memiliki firasat buruk bahwa kesialan ini seolah menjadi pertanda untuk tidak melanjutkan perjalananku ke sana. Tetapi kutampis semua keraguan itu. Pikirku “Kenapa pula aku harus ragu bertemu dengannya? Bukankah ia yang membuat pagiku bahagia?”


Kuteruskan perjalanan ke pasar setelah hampir dua jam terlambat dari waktu yang biasa kujadwalkan. Aneh, hatiku tak sesumringah seperti biasanya sebelum bertemu Mas Kain. Mungkin karena mood baik itu sudah keburu hancur setelah kesialan pagi ini. 


Belum sampai di teras toko, langkahku terhenti. Kulihat seorang wanita muda menggendong balita memberikan sekotak makanan kepada Mas Kain yang sedang bahagia menciumi gadis kecil imut di gendongan. Wajah bayi itu sangat mirip dengan orang yang selama ini kukagumi.
Tubuhku kaku. Telingaku berdengung, mataku berkunang-kunang, nafasku sesak, suaraku tercekat, otakku linglung. Sulit kucerna makna dari peristiwa yang sedang terjadi di depan mata. 

“Aku pulang dulu ya, Mas,” kata wanita berparas cantik itu. 

Ia mencium tangan Mas Kain dengan syahdu. Ciuman tangan itu dibalas dengan ciuman manis olehnya di kening sang wanita berjilbab sebelum ia beranjak pergi dan melewati tempatku berdiri. Mereka saling melambai tangan dengan bahagia setelah mengucapkan salam perpisahan. Wajah keduanya merona, seumpama embun di atas dedaunan dibelai cahaya mentari pagi. Ketika matanya mengantarkan kepergian si wanita, ia bertemu dengan mataku. Lelaki surgawi itu terkejut begitu menyadari kehadiranku, ia lalu tersenyum. 

Tetapi kali ini senyumannya kaku. 

Aku berusaha keras memaksa diriku untuk membalas senyumnya dengan senyum bahagia seperti sedia kala. Tak bisa. Sebab hatiku sudah terlanjur malu dan terluka. Patah.


Mentari pagi mulai meninggi, kuteguhkan hati agar tetap tegap berdiri. 

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar