Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

KISAH BAHLUL: WALIYULLAH YANG DIANGGAP GILA

Sumber : https://ibtimes.id/wejangan-bahlul-al-majnun-kepada-harun-ar-rasyid/


Oleh: Siti Laila ‘Ainur Rohmah


Bahlul nama sebenarnya adalah Wahab bin Amar, dilahirkan di Kuffah dan merupakan sepupu khalifah Harun al Rasyid. Ketika hayatnya dikenal sebagai ilmuwan Islam dan pernah menjabat sebagai Hakim Kerajaan Bani Abbasiyah. Namun, dia meninggalkan kemewahan hidupnya untuk hidup sederhana dan bergaya nyeleneh. Disebabkan itu dia dijuluki bahlul oleh penduduk sekitar. Bahlul sebenernya tidak gila, tapi berkelakuan seperti itu untuk menyembunyikan kebijaksanaan yang dimiliki daripada diketahui orang lain. 

Pada zaman pemerintahan kerajaan Bani Abbasiyah, terdapat seorang ulama sufi bernama Syekh Junaid Al-Baghdadi yang tersohor dengan kealimannya. Selain menjadi rujukan kepada ilmu tasawuf , beliau juga cukup dikenali sebagai seorang pedagang yang berjaya di jazirah Arab. Suatu ketika, Syekh Junaid telah berangkat ke kota Baghdad bersama pengikutnya atas urusan perniagaan. Setelah urusannya selesai, Syekh Junaid berjumpa muridnya dan bertanya tentang seorang lelaki. 

"Kenalkah kalian lelaki yang bernama Bahlul di kota ini?", tanya Syekh Junaid kepada anak muridnya. 

Mereka menjawab, "Ya, dia seorang yang gila. Apakah yang tuan perlukan daripadanya?". "Cari lelaki itu karena ada sesuatu yang aku perlukan daripadanya", kata Syeikh Junaid. 

Tanpa banyak berkata, murid-murid Syekh Junaid segera mencari lelaki bernama Bahlul itu di segenap pelosok kota Baghdad. Setelah puas menjejaki, akhirnya mereka menemui lelaki itu di sebuah pondok di gurun yang agak terpencil. Keadaan Bahlul terlihat tidak terurus. Pakaiannya compang-camping dan rambut kusut masai. Memang benar, itulah lelaki yang dicari mereka. Murid-murid Syekh Junaid segera kembali ke kota dan membawa guru mereka untuk bertemu dengan lelaki tersebut. 

Ketika Syekh Junaid mendekati Bahlul, dia melihat Bahlul sedang gelisah sambil menyandarkan kepalanya ke dinding. Syekh Junaid kemudian memberi salam dan menyapanya.

Bahlul menjawab dan bertanya, "Siapakah engkau?" 

"Aku adalah Junaid Al-Baghdadi", jawab ulama sufi itu.

“Apakah engkau Abu al-Qasim yang sering mengajak manusia ke arah kebaikan dan mencintai akhirat? “, tanya Bahlul. 

“Ya” , Jawab Syekh Junaid. 

“Adakah engkau tahu bagaimana cara makan?” tanya Bahlul sekali lagi. 

Lalu Syekh Junaid menjawab, ”Aku mengucapkan bismillah, memakan yg di hadapanku dan mengigit sedikit, meletakkan di sisi kanan dalam mulutku dan perlahan mengunyahnya. Aku tidak menatap suapan berikutnya, aku mengingati Allah sambil makan. Apapun yang ku makan, aku mengucapkan Alhamdulillah. Aku cuci tanganku sebelum dan sesudah makan.”

Bahlul berdiri dan berkata, “Engkau ingin menjadi guru rohani di dunia, tapi  engkau bahkan tidak tahu bagaimana cara makan. Sambil berkata demikian, Bahlul pun berlalu. 

Salah seorang murid Junaid berkata. “Wahai tuan, dia adalah seorang gila.”

“Ya, dia adalah orang gila yang bijak dan cerdas. Dengarkan kebenaran daripadanya,”  jelas Syekh Junaid. 

Syekh Junaid mendekati Bahlul sekali lagi. “Siapakah engkau?” tanya Bahlul. 

“Syekh Baghdadi yang tidak tahu cara makan,“ Jawab Syekh Junaid. 

“Engkau tidak tahu cara makan, tapi adakah engkau tahu bagaimana cara berbicara?” tanya Bahlul. 

“Ya, jawabnya. Aku berbicara tidak kurang dan tidak lebih, aku tidak terlalu banyak berbicara. aku berbicara supaya pendengar mudah memahami. Aku tidak terlalu banyak berbicara supaya orang lain tidak mudah bosan. Aku mengajak manusia ke jalan Allah dan Rasul.” Kata syekh Junaid. 

“Lupakan saja tentang makan, karena engkau tidak tahu bagaimana caranya berbicara.” Kata Bahlul. Ia berdiri dan berlalu pergi. 

Seorang murid Junaid berkata. “Wahai tuan guru, anda melihat sendiri dia seorang gila. Apa yang diharapkan dari orang gila sepertinya?”

“Ada sesuatu yang aku perlukan darinya dan kalian tidak tahu.” jawab Syekh Junaid. 

Dia kemudian bangun dan berjalan mendekati Bahlul sekali lagi. 

“Apa yang engkau mau dariku? Engkau yg tidak tahu cara makan dan berbicara. Adakah engkau tahu bagaimana cara tidur?” tanya Bahlul kepada Syekh Junaid. 

“Ya, setelah isya’ aku memakai pakaian tidur, aku berwudhu, berdo’a,” jawab Syekh Junaid. 

“Ternyata engkau juga tidak tahu cara tidur.” Bahlul seraya bangkit dari duduknya, tapi ditahan oleh Syekh Junaid dan berkata, 

“Wahai Bahlul, aku tidak tahu. Demi Allah ajarkan aku.” 

Bahlul pun berkata,”Sebelumnya engkau mengaku bahwa dirimu berpengetahuan dan berkata bahwa engkau mengetahuinya, sehingga aku menghindarimu. Sekarang setelah engkau mengetahui bahwa dirimu kurang berpengetahuan, maka aku akan mengajarkan kepadamu. Ketahuilah, apa pun yang telah engkau gambarkan itu adalah bukan permasalahan yang utama. Seharusnya engkau menjawab bahwa engkau memakan makanan yang halal. Jika engkau memakan makanan yang haram dengan cara seperti yang engkau gambarkan maka tidak akan bermanfaat bagimu, melainkan akan menjadikan titik hitam di hatimu.” 

“Semoga Allah memberimu pahala yang besar,” kata Syekh Junaid. 

Lalu Bahlul melanjutkan. “Apapun yang engkau ucapkan tentang cara berbicara, hati harus bersih dan mengandung niat baik sebelum memulai berbicara. Percakapanmu haruslah menyenangkan Allah SWT. Jika itu untuk duniawi dan pekerjaan yang sia-sia, maka apapun yang engkau katakan akan menjadi malapetaka bagimu. Itulah mengapa diam adalah yang terbaik. Begitu juga yang engkau katakan tentang tidur itu tidak mempunyai nilai yang utama, karena kebenaran darinya adalah hatimu harus terbebas dari permusuhan, kecemburuan, dan kebencian. Hatimu tidak boleh tamak terhadap dunia atau kekayaan di dalamnya, serta ingatlah Allah SWT ketika engkau akan tidur.” Syekh Junaid kemudian mencium tangan Bahlul dan berdo’a untuknya. 

Dari kisah di atas dapat diambil pelajaran bahwa, janganlah kita memandang hina kepada siapapun bahkan ke orang gila sekalipun, serta janganlah menganggap diri kita lebih baik dan hebat dari orang lain karena siapa tahu orang lain itu lebih baik dan mulia derajatnya daripada kita. Wa allahu a'lam..


Sumber: video dari channel Jubah Islam (Kisah Waliyullah Wahab Bin Amar Yang Digelar Bahlul) dan Niqash Islam (Kisah wali Allah yang berguru pada orang gila - Syaikh Junaid al-baghdadi).


Pondok Pesantren Darun Nun Malang




Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar