Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

KEMI 1: Cinta Kebebasan yang Tersesat (Bukan Novel Biasa)

Sumber: Dokumentasi Pribadi


Oleh: Moh. Rizal

      Menimba ilmu di kota Besar mengandung banyak resiko, apalagi kalau memperoleh beasiswa dari lembaga-lembaga yang belum jelas asal dan latarbelakangnya. Terlebih jika semula berasal dari pelosok desa yang jelas-jelas sangat jauh berbeda degan kondisi yang ada di kota, baik itu dari segi lingkungan ataupun dalam hal pergaulan. Itulah yang dialami Kemi atau nama lengkapnya Ahmad Sukaimi, seorang pemuda dan santri cerdas yang memutuskan untuk meninggalkan pesantren untuk merantau ke Jakarta demi melanjutkan kuliah dan menjadi aktivis liberal.

      Berlatarbelakang dari Pesantren Minhajul Abidin yang berletak di Madiun, Jawa Timur. Pesantren asuhan Kyai Aminuddin Rais ini adalah tempat Kemi semula menimba ilmu dengan sahabatnya sedari kecil, yakni Rahmat. Keduanya sebenarnya dikenal sebagai pentolan santri, yang digadang-gadang akan meneruskan perjuangan mengelola pesantren. Akan tetapi, suatu hari Kemi memilih jalan yang berbeda, ia memutuskan untuk mengikuti jejak seniornya di pesantren. Farsan, adalah seniornya yang telah lama keluar dari pesantren, dengan kabar angin yang berhembus di lingkungan Pesantren bahwa ia adalah salah satu aktivis gerakan liberalisme-pluraisme di Jakarta. Sebenarnya berat untuk Kyai Rais melepas kepergian Kemi dari pesantren, apalagi dengan kenyataan bahwa Kemi pergi mengikuti jejak Farsan. 

      Dengan keterlibatan Kemi dalam aktivitas gerakan tersebut lambat laun memengaruhi pemikirannya dalam beragama, yang ternyata sedari awal sudah ia rasakan sesaat sebelum meninggalkan pesantren. Baginya ibadah shalat itu tidak perlu dilakukan secara formal atau ritual seperti umumnya, tetapi yang terpenting adalah esensi dari sholat tersebut apakah berdampak kepada kehidupan atau mudahnya adalah shalat secara sosial. Bersama Kemi ada Siti, seorang anak kyai terkenal di Jawa Barat yang juga menimba ilmu di kampus yang sama dengan Kemi. Siti adalah santriwati cerdas yang sebenanya sudah mempunyai dasar agama yang kuat seperti halnya Kemi, tetapi Ia juga mengalami pergolakan yang sama terkait pemahaman agamnya. Mereka menimba ilmu di Universitas Damai Sentosa Jakarta, yang ternyata masyhur sebagai sarang gerakan paham-paham Liberalisme, Pluralisme, multikulturalisme, kesetaraan Gender yang diikuti Kemi dan Siti. Mereka berdua inilah yang dijadikan corong dari gerakan ini untuk memperluas paham dan pengaruh, karena mereka dianggap sangat dekat dan berlatar belakang sama dengan sasaran utama, yakni para orang-orang pedesaan serta linggungan pesantren tradisional. 

      Rahmat sahabat Kemi, merasakan keanehan saat kepergian Kemi meninggalkan pesantren. Ia merasa ada hal yang tidak beres kepada Kemi semenjak kepergiannya, sepertinya ada masalah serius yang dialami sahabatnya. Didorong rasa ingin tau dan kangen serta pesan dari mimpi yang dialaminya tentang kondisi sahabatnya itu, membuat Rahmat ingin pergi menjenguk Kemi.

      Sesuai firasatnya, banyak yang berubah dari Kemi sesampai Rahmat bertemu dan berbincang dengangan sahabat karibnya itu. Rahmat melihat banyak keganjilan dengan aktivitas yang selama ini Kemi jalani, sedari awal Rahmat juga tahu apa yang merubah sahabatnya itu. Dalam sebuah obrolan, merekapun sempat di pertemukan dalam suasana debat yang cukup memanas tentang dua pandangan yang saling bertolak belakang, keduanya teguh dengan pendiriannya masing-masing sampai-sampai tak terasa perdebatan tersebut memakan waktu hingga larut malam. Mendengar argumentassi Kemi, Rahmat kian teguh dengan keyakinannya, begitupun Kemi yang juga teguh dengan keyakinan barunya, bahwa semua agama dinggapnya itu sama benar, Tuhan semua agama itu sama, hanya saja manusia berbeda-beda cara untuk menyembah serta meyakininya. 

      Perdebatan tersebut berakhir dengan Kemi yang menantang Rahmat meninggalkan pesantrean untuk mengikuti jejak Kemi berkuliah di Universitas Damai Sentosa, apakah nantinya Rahmat akan tetap dengan prinsipnya atau berubah seperti Kemi. Rahmatpun menerima tantangan Kemi, setelah Ia mendapat izin dan restu dari Kyai Rois, disisi lain Rahmat juga memperoleh tugas dari Kyai Rois untuk menyadarkan serta membawa Kemi untuk kembali ke pesantren. Begitupun Kemi, Ia mendapat tugas yang serupa dari Roman, atasan Kemi dikomunitasnya untuk membuat Rahmat bergabung bersama mereka. Rahmat dianggap mereka cukup berbehaya, karena pada suatu hari saat Rektor Universitas Damai Sentosa yakni Prof Malikan mengisi mata kuliah, pernah dibuat mati kutu oleh Rahmat dalam sebuah perdebatan. 

      Kejadian tersebut sontak membuat Rahmat menjadi terkenal di lingkungan kampus, tetapi itu adalah langkah awal untuknya dalam membongkar sindikat jaringan Islam liberal ini. Perjalanan dan perjuangan Rahmat terus berlanjut, Ia juga pernah membuat gempar secara nasional, saat Ia mematikan pemikiran liberal seorang Kyai yang telah terpapar pengaruh dari komunuas Kemi dalam sebuah seminar yang secara langsung disiarkan oleh Tv nasional. Kyai tersebut seketika bertaubat setelah kalah berdebat dengan Rahmat dan akhirnya meninggal dunia setelahnya.

      Dan bagaimakah akhir ceritanya?, apakah Kemi bisa mempengaruhi Rahmat, atau bahkan sebaliknya?, banyak kejadian yang menarik dan seru untuk dibaca di Novel ini. Kelebihan dari novel ini adalah jalan cerita yang disajikan runtut dan enak untuk dibaca, masalah yang disajikan juga sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari umat beragama, yakni terkait pergolakan iman hamba/umat yang sedikit banyak pasti pernah dirasakan, terutama umat islam. Selain itu juga, didalamnya juga disajikan dialog-dialog dalam perdebatan dua pemikiran yang sama kokohnya, bukan sekedar dialog tanpa arti atau omong kosong, tatapi didalamnya kita juga bisa melihat dua pendapat yang saling bertolak belakang dengan berdasar dalil serta pemikiran yang populer di masyarakat, sehigga kita sebagai pembaca bisa melihat dan memahami secara jernih sudut pandang kedua sisi. 

      Kekurangannya adalah kurang cocok bagi pembaca yang mencari novel untuk bisa dibaca santai, karena pembahasannya cukup serius.

Silahkan kalau mau membacanya, tersedia di perpustakaan Pondok Pesantren Darun Nun Blok J.

Judul Buku            : KEMI:Cinta Kebebasan yang Tersesat (Bukan Novel Biasa) 
Pengarang             : Adian Husaini
Banyak Halaman : 316 Hlm.
Penerbit                 : Gema Insani
Tahun Terbit         : 2010

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar