Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Dibonceng Orang Gila


Facebook: Kartun Muslimah



Oleh: Uzmatul Ulya

Masih teringat betul kejadian itu dalam memoriku. Di bawah teriknya matahari, aku menunggu
angkot yang dapat mengantarkanku menuju tempat sekolah untuk mengikuti ekstrakulikuler
pramuka. Sambil menunggu angkot, aku berbincang-bincang dengan temanku yang sama-sama
mengenakan seragam pramuka dan hendak ke sekolah. Kita berbeda sekolah, namun tempat
sekolah kita searah.
Hampir setengah jam kita menunggu, angkot pun tak kunjung datang. Dengan cemas aku terus
melihat jam tangan hitam kesayanganku. Pukul 13.45, waktu terasa berbutar begitu cepat.
Mengingat jarak menuju sekolah 15 menit dan aku harus tiba di sekolah sebelum pukul 14.00. Dalam
hatiku terus berkata "aku harus segera tiba di sekolah agar tidak telat. Jika tidak, aku akan terkena
hukuman, gimana ini"
Tak lama kemudian, datangalah perempuan cantik dengan rambut terurai mengenakan motor metic
berwarna biru putih menepi menghampiriku.
"Mbak, mau berangkat pramuka ya? Ayo bereng saya saja mbak, kebetulan saya juga mau ke arah
sana".
Karena keadaan mendesak dan waktu sudah mepet, tanpa berpikir panjang, aku segera menerima
tawaran wanita itu. Aku dan temanku segera naik motornya, sehingga kita berbonceng tiga atau
istilah di daerah kami "cenglu" artinya bonceng telu(3).
Selama di perjalanan, kami berbincang-bincang layaknya perkenalan orang yang baru pertamakali
bertemu. Wanita itu menanyakan nama dan tempat sekolah kami. Namun, saat kami menanyakan
nama dan alamat rumahnya, dia tidak menjawab dan mengalihkan pembicaraan. Ketika sedang asik
mengobrol, tiba-tiba wanita itu menceritakan soal mantannya. Dia menceritakan nama mantannya,
ciri-ciri, dan sedikit tentang kisah mereka. Dia selalu menanyakan ";Apakah kalian mengenal
mantanku? Kalau ketemu orangnya kasih tahu aku ya". Tentu saja kami bilang tidak mengenalnya.
Semakin lama, ia terus berbicara tanpa henti dan ngomongnya terdengar ngelantur. Saat itu kami
belum merasa curiga karena kami merasa masih wajar dengan jalan raya yang sangat bising sehingga
kami tidak mendengar dengan jelas apa yang dikatakannya dan jika ditanya kami hanya menjawab
dengan iya iya saja.
Ditengah perjalanan ia menceritakan bahwa motor yang dipakainya itu bukan miliknya, melainkan
milik temannya. Dia berkata" Kalau kalian mengendarai motor itu jangan ngebut, apalagi bukan
motormu sendiri" Wanita itu bilang demikian. Namun, realita berkata sebaliknya. Ia membawa
motor dengan kecepatan tinggi dan semakin tinggi. Dari sini kami mulai merasa takut, saya pun
berkata "Mbak, jangan ngebut-ngebut ya, katanya nggak boleh ngebut" Kemudian ia menjawab "Gapapa, ini seru, pegangan saja" Dengan polosnya kami mengikuti apa yang dikatakannya dan
masih menganggap bahwa itu wajar.
Rasa aneh mulai timbul ketika selama diperjalanan wanita itu menyapa setiap orang yang ada di tepi
jalan. Awalnya kami pun mengira bahwa wanita itu mengenal orang yang sedang disapanya.
"Mbak kok kenal banyak orang sii" tanyaku dengan sopan. "Iya itu temanku" jawabnya. Hampir
setiap orang disapanya dengan panggilan "beb" atau "yang" terutama pada laki-laki.

Tak hanya orang-orang yang ada di tepi jalan, bahkan sopir truk pun ia sapa. "Hallo beb, ini aku mau
nganterin adekku dulu".

Aku dan temanku sudah mulai cemas dan mulai meragukan tentang kondisi jiwa wanita itu. Kami
berbisik-bisik "sepertinya mbak ini stres deh" kataku.
"Bukan stres lagi, sepertinya ini orang gila" jawab temenku.
"Duh gimana dong, kalo kita nggak diberhentikan di sekolah gimana?" Bisikku dengan begitu cemas.
"Udah tenang dulu, ini tempat sekolahku udah mau sampai, nanti aku mau bilang berhenti kalo
sudah di depan sekolah." Ucap temanku yang mencoba untuk menenangkan.

Temanku sekolah di MTs Negeri yang jaraknya kira-kira 1 km dari SMP tempatku bersekolah. Dari
arah rumah kami, MTs letaknya lebih dulu dari SMP, sehingga temanku yang bakal turun terlebih
dahulu. Hatiku berdebar takkaruan,
"Bagaimana jika aku dibawa wanita ini, bagaimana jika aku tidak diturunkan di sekolah, dan
bagaimana jika ia menculikku".
Pikiranku berkeliaran membayangkan hal-hal yang tak mengenakkan.
"Mbak, stop!! Ini sudah sampai di sekolahku" ujar temanku sambil menepuk pundak wanita itu.
Wanita itu pun berhenti dan menepi, "Oh ini sekolahnya, yasudah hati-hati ya, sekolah yang pinter"
ucapnya.
Kini tinggal aku sendiri yang dibonceng, aku semakin takut dan pikiranku terus membayangkan
tentang penculikan. Dalam hati aku terus berdoa dan memohon kepada Allah agar aku bisa selamat
dan tiba di sekolah tepat waktu.

Wanita itu sudah tidak mengendarai motor dengan kencang lagi, mulai pelan, semakin pelan,
kemudian berhenti. Aku semakin cemas. Ternyata lampu lalu lintas menunjukkan warna merah.
Syukurlah.

Di tepi jalan tepat di sampingku ada banyak tukang ojek. Ingin rasanya aku turun dari motor dan
beralih ke tukang ojek karena mumpung lampu lalulintas masih merah. Namun, aku takut jika aku
turun, wanita itu bakal mengejarku, melukaiku dan membuat kegaduhan. Alih-alih wanita itu malah
menyapa para tukang ojek, masih dengan panggilan yang sama, ia menyapa dengan panggilan hallo
beb. Para tukang ojek yang awalnya sedang asik berbincang-bincang kemudiam menengok ke arah
kita. Aku merasa sangat malu dan hanya menundukkan kepala. Ada salah seorang yang
menjawabnya "Hallo, mau kemana neng". goda si tukang ojek.
"Ini nganter adekku, mau pramuka dia". Jawab wanita itu sembari melajukan motor karena lampu
sudah hijau.

Akhirnya tibalah di depan sekolahku. Wanita itu pun menurunkanku. Aku sangat bersyukur bisa tiba
di sekolah dengan selamat. Tak lupa aku mengucapkan terimakasih kepadanya. Meskipun aku
merasa cemas dan malu di sepanjang jalan, namun berkatnya aku bisa datang ke sekolah tepat
waktu. Tepat pukul 13.58 aku tiba di sana. Kurang dua menit lagi kegiatan dimulai. "Untung tidak
telat, ah lega rasanya". ucapku dalam hati sembari lari menuju gerbang sekolah. Sebelum kita
berpisah, wanita itu berkata "Hati-hati ya, ini aku mau nyari anak sekolah yang mau pramuka lagi,
kasian kalau telat". Aku yang sedang berjalan menuju kelas pun tersenyum-senyum sendiri
mengingat ucapan wanita itu.
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar