Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Buta Nada

Sumber: www.freepik.com


Oleh: Hidayatun Na


Menurutmu, bolehkah seorang wanita mengungkapkan perasaannya? 

24 jam dalam kurun waktu lebih dari sepuluh tahun, aku selalu mempertanyakan hal yang sama. Meskipun, aku sendiri sudah pernah mengungkapkan cinta kepada seseorang yang terus membuaku merangkai nada dari setiap tuts piano, bahkan sampai ia menghilang setelah hari perpisahan sekolah, hingga kini, jawabannya bagiku masih tanda tanya. Terkadang aku benci menanyakannya, entah karena aku tidak menemukan jawaban yang melegakan, atau karena ada rasa sakit yang coba kusembunyikan. Parahnya, setiap kali aku bermusik, kenangan tentang hal itu selalu tenang mengusik.

Di awal bulan Juni sepuluh tahun yang lalu, dimana musim panas bak membakar seisi bumi, dan rumah-rumah terasa seperti neraka, aku memutuskan untuk mencari sisa kesejukan di sela-sela kepadatan kota bersama keempat teman laki-lakiku. Kami hendak bermain bola di Gang Dua seberang jalan yang perumahannya belum terlalu ramai serta masih banyak kebun rindang, termasuk kebun di halaman rumah Pak Haji yang seolah menjadi markas bermain favorit kami. Setelah penat setengah hari sekolah, rumah rupanya bukan tempat yang tepat untuk bersantai dengan suasana sejuk nan damai. Kami lebih suka bermain di kebun rumah Pak Haji karena di Gang Dua tidak ada anak kecil seusia kami di sana, sedang lahan bermain di Gang Satu sudah tiada tersisa. Terlebih, Bu Haji tidak pelit dan menyukai anak kecil. Kata ayahku, ketiga anak dan cucu-cucu beliau tinggal di kota, hampir tidak pernah pulang untuk sambang. Sehingga, kehadiran kami seakan menjadi pelipur lara. 

Di Gang Satu, hanya aku anak perempuan yang berani bermain bola bersama laki-laki. Rupanya, aku telah didukung oleh lingkunganku untuk menjadi tomboy sejak dini. Bukan karena aku suka bermain dengan laki-laki, tetapi karena tidak ada anak perempuan seusiaku di kelurahan kami. 

Langkahku terhenti di teras rumah Pak Haji ketika kudapati seorang anak laki-laki seusiaku sedang duduk terpaku di tangga terbawah selasar, menatap ke atas dahan-dahan pohon mangga, seakan ada air mata yang coba ia seka. Aku baru ingat, sepertinya ini adalah cucu Pak Haji dari Jakarta yang sudah dibicarakan oleh teman-temanku saban hari  sejak lima hari yang lalu. Bukan tanpa alasan, mereka bilang, anak laki-laki bernama ini, tidak pernah bergeming ketika teman-temanku mengajaknya bermain. Ia akan tetap diam dan duduk meskipun Bu Haji dan Pak Haji sudah ikut membujuk. Mereka bilang, ayahnya sudah meninggal sedangkan ibunya harus bekerja menjadi TKW di luar negeri, sehingga ia harus tinggal bersama kakek-neneknya. 

Ini kali pertamaku melihat anak laki-laki ini. Kemarin-kemarin, aku tidak sempat bermain karena sibuk menghafal not lagu baru. Aku sempat ingin melontarkan sapaan, namun akhirnya kucoba tahan. Tubuhnya kurus, raut mukanya tajam dengan kulit yang putih bersih, cenderung pucat. Jari-jari tangan yang ia jadikan penompa kepala terlihat lentik dan bersahaja. 

Aku terpana.

“Hoy Kintan! cepat lempar bolanya!” keempat temanku sudah meneriakiku dari seberang halaman, membuat perasaan ingin tahuku buyar. Aku berlari mengejar bola yang kulempar. 

Selama kurang lebih dua puluh menit kami bermain, berteriak-teriak dan saling menyumpahi satu sama lain, aku tak bisa menahan ekor mataku dari memperhatikannya, sambil bertanya-tanya bagaimana cara menyapanya? Kenapa dia tidak mau bermain? kenapa dia bisa sampai ke kota kecil ini? Apakah di Jakarta lebih sesak dan lebih panas dari kota kecil ini?

Ketika sepupuku melemparkan bolanya dengan keras ke arahku, Aku sengaja menendang bola ke arah anak itu. Seperti telah diberi mantra, bola itu menggelinding hingga sampai tepat di depannya, seolah tahu bahwa selain itu, aku tidak punya cara lain lagi untuk menyapa. 

“Tendang atau bawa bola itu kemari Boy!” Teriakku kepadanya. Ia melihat bola di kakinya, lalu melihat kami satu persatu di lapangan. 

“Tendang!” Aku menaikkan volume suara. “Ayo, tendang yang kuat!” 

Anak itu perlahan berdiri, mengambil bola dan membawanya ke arah kami, lalu melemparkan sekuat tenaga dengan kedua tangan lentiknya. Teman laki-lakiku terpesona oleh caraku membujuknya, sedang aku terpesona oleh raut mukanya yang berubah bahagia. Ia tersenyum ke arahku dan bergabung mengejar bola. Aku membalas senyumnya ketika ia berlari mendahuluiku.

Barangkali, pertemuanku dengan anak laki-laki bernama Krisna, pada kelas 4 SD itu merupakan pertemuan cinta pertama. Meski dia sudah memperkenalkan nama aslinya, aku terus memanggilnya dengan sebutan “Boy” karena bagiku panggilan itu terdengar keren. 

Kehadirannya seumpama kehadiran musik dalam diriku yang membuatku mampu untuk mengungkapkan bahasa cinta maupun bahasa rindu lewat nada dan irama. Tetapi, selayaknya musik, bahasa-bahasa yang kucipta, sepertinya tak mungkin bisa dipahami oleh mereka yang buta nada. 

Maka sejak hari bergabungnya ia pada geng kami itu, setiap pagi, sebelum berbelok ke jalan besar, dia sudah siap sedia menungguku dan keempat kawan yang lain. Apabila aku sudah memberi isyarat dengan mengangguk setelah melihat jeda kendaraan yang lewat, barulah kami akan menyebrangi jalan dan berangkat bersama. Hal itu terus berulang, selama bertahun-tahun masa Sekolah Dasar. 

Di akhir tahun Sekolah Dasar, seperti tradisi pada umumnya, sekolahan kami mengadakan acara perpisahan yang diisi dengan berbagai macam pertunjukkan panggung seperti bernyanyi, menari, dan musikalisasi puisi. Aku dipilih menjadi pemain musik pengiring puisi karena bakatku di dunia musik sudah terkenal sampai penjuru sekolah. Ya, sebab di sekolah, hanya aku satu-satunya yang mampu bermain piano dengan baik, meskipun sebatas menguasai not angka. Hal itu, terlepas dari belajar keras sejak kecil, pasti akan sangat membanggakan bagi semua kalangan di civitas akademia, termasuk guru kesenian, wali kelas, dan panitia acara perpisahan karena mereka mampu menghadirkan pianis kecil, anak murid mereka sendiri dalam acara perpisahan sekolah tahunan. Meskipun tak dipungkiri, itu juga pasti sangat membahagiakan untukku, dan untuk orang tuaku. 

Untuk pembaca puisi, guru Bahasa Indonesiaku memilih Krisna sekaligus sebagai penulisnya. Puisi tentang guru yang ia tulis untuk memenuhi tugas Bahasa Indonesia ternyata sangat membekas di hati Wali Kelas kami. Awalnya para guru ragu, tidak semua orang yang pandai membuat puisi, juga pandai membaca puisi. Maka dari itu, Krisna diminta untuk berlatih denganku setiap minggu. Hasilnya luar biasa! kolaborasi antara nadaku dengan puisinya menciptakan rasa yang mempesona dan menyihir siapapun yang menyimaknya. Perpaduan yang luar biasa. Hingga acara utama pada hari H, penampilan kami berdua berhasil menuai tepuk tangan paling meriah sekaligus haru yang paling membiru sejagad raya. 

“Gila! tak kusangka kau pandai berpuisi, Boy!” Saat kupuji begitu, ia hanya tersenyum dan memperlihatkan gigi-gigi serinya yang rata. 

Pertemanan kami semakin dekat seiring dengan lebih banyak not lagu yang kuhafal dan bait-bait puisi yang ia ciptakan. Jika dahulu sewaktu SD kami berjalan bersisian menuju ke sekolah, kini saat pergi ke SMP yang sama, kami menaiki sepeda bersisian, atau jika klakson kendaraan tiba-tiba mengagetkan, ia akan melambatkan sepedanya agar bisa berada di posisi belakang. Anehnya, ia tidak pernah meninggalkanku. Meski ke empat teman segeng dan segangku sudah berangkat terlebih dahulu, ia tidak akan mengayuh sepedanya, sebelum melihat siluetku di ujung perempatan. 

Padahal sesampainya di sekolah, ia akan bergabung dengan teman-teman sefrekuensinya, dan aku juga akan bergabung dengan teman-teman perempuanku. Kami hanya bersama ketika berangkat dan pulang sekolah, serta bermain. Selebihnya, ia punya teman sendiri, aku juga sama. Ia masih pendiam dan tidak banyak bicara. Jika ditanya hanya dijawab seadanya, jika bertanya hanya menanyakan kepentingannya. Mungkin karena hal itulah, apa  yang keluar dari mulutnya terasa berharga. Karena kharismyanya itu pula, di sekolah ia menjelma menjadi idola. Tapi aku yakin, kepalanya dipenuhi kata-kata yang tak terhingga jumlahnya dan menjelma menjadi puisi, sarana ia mengungkapkan apa yang dirasa. 

Di masa perpisahan SMP, kami berdua ditunjuk untuk menjadi pianis dan pembaca puisi lagi. Untungnya, permainan pianoku semakin membaik, bisa dilihat dari banyaknya not balok yang kuhafal. Kuakui, puisinya di SMP ini pun jauh lebih baik daripada puisinya sewaktu SD. Aku bertanya-tanya, pernahkah ia membuat puisi cinta? Kalau pernah, untuk siapa? 

Kami masuk di SMA yang sama. Setiap kali masa sekolah akan berakhir, ia pasti menanyakan hal yang sama. “Kau hendak masuk SMP mana?” “Kau hendak masuk SMA mana?”

Dan seperti biasa, sebelum aku selesai memikirkan jawabannya, ia akan mantap berucap “Aku ikut!”

Persahabatan kami – entah apakah itu pantas disebut sebagai persahabatan-, telah menghadirkan derai-derai cinta dalam lubuk hatiku yang terdalam. Aku selalu ingat, bagaimana raut wajahnya berubah menjadi bahagia tatkala aku menyuruhnya untuk melempar bola saat pertemuan pertama kita. Aku selalu bersemangat setiap pagi demi melihat ia menungguku dengan senyuman kecil tatkala mendapati aku muncul di ujug gang, atau saat ia rela terlambat demi menungguku yang bangun kesiangan. Aku selalu terpana, tatkala ia dengan penuh penghayatan membaca setiap bait puisi yang ia ciptakan. Meski kita berdua tak banyak bicara, tak saling mengulik isi hati satu sama lain, tapi bagiku itu sudah lebih dari cukup. Sangat cukup untuk membuatku bahagia. Namun, dunia berputar kawan, siap atau tidak, ia punya pilihan untuk merenggut kebahagiaan atau memudarkan kesedihan. Dan ia memilih hal pertama untuk hidupku. 

Waktu itu, masa liburan semester pertama kelas 3 SMA, ketika aku sedang memainkan pianoku mengikuti alunan lagu milik Lee Seung Gi yang berjudul Return, samar-samar kudengar Krisna memanggil namaku dari luar, disusul dengan suara ibuku yang menyuruhnya untuk masuk. Aku terkejut bukan kepalang ketika melihatnya sudah berdiri di  depan meja tempatku memainkan keyboardku, sebab selama bertahun-tahun berteman, baru kali ini Krisna tidak menolak ketika dipersilahkan masuk. Ia tersenyum bahagia dengan membawa buku tulis yang ia dekap di dadanya, membuatku terpaksa menghentikan permainanku. 

“Lanjutkan, aku suka!” katanya begitu duduk di sampingku. Aku menggeleng, tersipu malu. 

“Lekas katakan ada perlu apa kemari, Boy! tumben sekali.”

Ia menyeret kursi dari dekat meja agar bisa duduk berhadapan denganku. Sangat antusias. “Kemarin aku membuat lagu, bisa tolong buatkan nada piano atau gitarnya untukku?” 

Aku tersentak untuk kedua kalinya. “Seumur-umur aku main musik, belum pernah aku membuat lagu sendiri, Kris. Kamu tak tau apa-apa tentang musik tapi sudah bisa menciptakan lagu?! Seriuskah dirimu?” tanyaku tak percaya.

“Aku hanya membuatnya asal-asalan saja, tetapi kukira hasilnya tak buruk, kok. Coba dengarkan dulu.” Katanya dengan bersemangat membuka buku tulis yang ia bawa. “Aku tak bisa bermain musik. Aku tak begitu menyukai musik. Tadi aku hanya mencoba merangkai nada darinya. Sungguh.” Aku tertawa karena mengira Krisna sedang becanda. Tetapi raut wajahnya terlihat sangat serius.

Aku menelisik matanya, tak percaya sembari menodong buku tulis yang ada di dekapannya. “Sini, kuliihat dulu puisinya!”

Ia membuka lembaran yang kumaksud. 

Di hembusan nafas yang kuhirup

Engkau hidup

Pada cahaya mentari yang meredup

Aku Takjub

Di detak jantung yang berdegup

Namamu termaktub


Wahai hujan di langit biru

Padamu, rasaku mengadu

Wahai rinai yang bersuara merdu

Temukanlah puisiku yang syahdu


“Coba nyanyikan!” Pintaku. 

Krisna malu-malu membuka mulut dan mengeluarkan suaranya yang parau. Tak kusangka nada-nada yang ia ciptakan terasa sumbang di gendang telinga. Naik turunnya tak beraturan, temponya berantakan. Bahkan, nada minor bercampur dengan mayor pada bait-bait pertama. Aku ragu untuk bisa memenuhi harapannya agar lagunya tercipta. Tetapi, aku sanggup menunggunya hingga ia menyelesaikan nyanyiannya. Bukan, bukan karena nada sumbangnya terdengar indah di telingaku, tetapi karena konsentrasiku dibuyarkan oleh rasa cemburu. 

Aku menatap matanya dalam setelah ia selesai menyanyikan lagu sumbangnya. Ada semacam gairah membara yang meletup-letup di sana. Bagiku, ia telah melakukan hal gila dengan memaksakan diri untuk menciptakan lagu meski suaranya sumbang. Tetapi aku mengerti bahwa tak ada orang gila yang mau melakukan hal nekat semacam itu kecuali karena dia sedang jatuh cinta. 

“Bagaimana? Kau bisa kan membuatkan nadanya untukku?” ia bertanya dengan antusias yang tak bisa kujelaskan.

Aku mengangguk. “Tapi, sebelum kubuatkan nadanya, aku ingin tahu. Coba kau jujur padaku, sebenarnya kepada siapa puisi dan lagu ini kau tujukan?” Tanyaku gemetar, berharap jawaban yang membahagiakan, meski ku tahu puisi ini terlalu indah untukku. Aku cemburu pada sosok kau yang ia tulis dalam puisinya. Ingin sekali memastikan siapa dia. Apakah dia adalah aku? atau orang lain yang telah membuatku cemburu.

Ia tak menjawab, hanya tersenyum sipu. “Bukan untuk siapa-siapa, kok. Hanya iseng saja.” 

“Tak mungkin iseng! Puisi sebagus ini pastilah terinspirasi dari seseorang. Kita sudah berteman lama, Boy. Aku tahu puisi apa saja yang kau tulis. Dan baru kali ini kau menuliskan puisi cinta. Mendadak ingin dibuatkan lagu, pula.” Aku terus menggali informasi dari lubuk hatinya.

Dia terdiam sejenak. “Aku tak bisa  mengatakannya padamu, Tan. Memang benar puisi ini kutujukan untuk seseorang. Tetapi tak bisa kuceritakan padamu. Aku malu, sungguh.” 

Aku terkejut bukan kepalang melihat wajahnya memerah karena cinta. Bukanya ikut bahagia, dadak umalah terasa sesak seolah tak terima jika ia membagi hatinya dengan yang lain. Aku bisa apa? Kami hanya berteman, bukan? Tak lebih dari itu. Lalu mengapa hatiku bak tertusuk sembilu mendengar ia mengungkapkan rasanya lewat puisi indah untuk orang lain, bukan untukku?

 Tetapi di hadapannya, aku tetap memaksakan bibirku untuk menyunggingkan senyuman yang sama, agar luka yang kurasa bisa tertutupi olehnya. 

“Jadi kau sedang jatuh cinta?!” Aku pura-pura tertawa. “Oh, tidak! Baru kali ini kulihat seorang Krisna jatuh cinta! Hahaha.” 

Ia ikut tertawa, lalu tersipu-sipu. “Jadi, bisakah kau membuatkanku lagu?” Tak ada jawaban yang bisa kuberikan selain unjuk gigi. “Kalau tidak bisa, tidak apa-apa Tan. Aku hanya main-main saja, padahal aku tahu kalau suaraku sumbang. Kukira akan sangat romantis jika aku bisa membuatkan lagu diiringi musik piano darimu.”

“Maafkan aku, Boy.” Ujarku sambil menutup halaman buku yang tadi ia tunjukkan.

“Tidak apa-apa, jangan meminta maaf begitu. Aku yang seharusnya minta maaf karena mengganggu waktu latihanmu. Aku sungguh berharap bisa seperti engkau. Senang sekali rasanya bisa bermain musik sepuasnya.” Ia menekuri tulisan tangan di bukunya. Jelas sekali itu merupakan syair yang indah, namun untuk diresapi maknanya melalui pembacaan mendalam, bukan untuk dinyanyikan oleh seseorang yang buta nada. 

“Tidak! semuanya perlu latihan keras. Aku juga ingin bisa berpuisi sepertimu. Bisa menuliskan sajak yang indah untuk orang yang dicintai. Yang aku bisa hanya menekan-nekan nada dan memainkannya sesuai dengan kondisi hatiku. Lagipula jadi aku tidak enak, Boy... apalagi aku perempuan. Sungguh. Karena dengna menjadi perempuan, aku tak bisa mengungkapkan rasa semauku.” Tunggu! Kenapa aku tiba-tiba berbicara tentang perasaan? Apakah ini akibat dari kecemburuan yang ditimbulkan setelah membaca ungkapan perasaan yang entah ditujukan kepada siapa. 

“Memangnya kau pikir aku bisa? Tidak. Aku pun hanya bisa mengungkapkan perasaanku lewat puisi.” Jawabnya membelaku, atau membela dirinya sendiri. 

“Maksudku, kata Mamaku, perempuan tidak boleh mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu. Sebab perempuan yang berani berbuat demikian, berarti tidak punya harga diri.” 

“ Tidak, itu hanya kata penganut patriarki. Mengungkapkan perasaan tidak ada hubungannya dengan jenis kelamin. Siapapun boleh mengungkapkan perasaan, Tan. Laki-laki dan perempuan mempunyai hak yang sama, bukan? Aku mendukung kesetaraan, bukan siapa yang lebih dulu, tetapi tentang siapa yang lebih membutuhkan.” Ia menatapku syahdu, seolah menegaskan bahwa aku harus berani mengungkapkan perasaanku kepadanya. Ini adalah pertama kalinya kita bicara mengenai perasaan seintens itu. Sebelumnya tidak pernah.  

“Kalau begitu, bagaimana jika kukatakan aku mencintaimu?” Tanyaku dengan suara bergetar setelah menatap wajahnya dengan perasaan berdebar. Seolah jiwa beranjak meninggalkan raga. Aku tertunduk kuyu, menghadap tuts pianoku yang ikut terdiam, meresapi keheningan yang barangkali memiliki makna. Sepertinya aku telah salah bicara.

Krisna terdiam lama dan aku tak berani menatap wajahnya untuk menafsirkan perasaan apa yang sedang ia rasakan. “Aku hanya mengungkapkan, tenang saja, kau tidak perlu memberi jawaban apapun. Aku harap kita bisa terus berteman baik.” Aku memberanikan diri menatap wajahnya, mencoba menjelaskan ihwal ungkapan perasaan yang baru saja kulakukan. 

Suasana di antara kami menjadi canggung. Ia tampak gelisah di atas kursinya. Tak tahu apa yang harus dikata.

“Ya, tentu saja.” Ujarnya sambil memaksakan diri untuk tersenyum.

Hanya itu jawabannya. Aku senang bisa mengungkapkannya meskipun sebenarnya aku ingin bertanya lebih. Sebenarnya, aku pun tak begitu mengharapkan jawaban. Mungkin karena aku sudah tahu respon apa akan diberikan. Ia menggaruk tengkuknya, merapikan buku yang tadi terbuka, gesturnya seolah mengatakan bahwa ia harus segera pergi dari situasi yang kurang nyaman ini. 

“Aku ingin memainkan sebuah lagu untukmu. Boleh?” Setidaknya, aku ingin mencegahnya sebentar lagi. Ia menjawab dengan anggukan pelan yang diliputi kegelisahan. 

Maka, sore itu, aku mengalunkan nada-nada lagu cinta pertama milik Nikka Costa. Jemari kananku terampil menggubah melodi, sedang jemari kiri mengiringi melodi dengan memainkan chord. Bagiku, musik mendorong kata kata menjadi lebih bermakna dan dipahami melalui nada melodis yang kemudian menciptakan suasana tertentu. Iya, benar. Suasana hatiku digambarkan melalui lagu. Misalnya ketika aku merasa tidak baik baik saja atau sedih mungkin aku akan memainkan lagu yang maknanya sedih, atau ketika aku sedang jatuh cinta, patah hati, dan sebagainya. Itu alasan mengapa aku tidak bisa memainkan sembarang lagu, terutama lagu request dari teman-temanku yang sering memintaku memainkan lagu tertentu. Sebab aku harus menyesuaikan emosiku dengan lagu tersebut. Pada dasarnya ketika memainkan sesuatu kita perlu turut merasakan perasaan suka atau duka dari lagu yang dibawa.

Seperti adegan dalam film romansa, musik yang kumainkan seolah menampilkan setiap momen kebersamaan kita sejak pertama kali berjumpa. Aku tak pernah merasa lebih bahagia dan lebih lega dari ini. Meski ungkapan perasaanku tidak mendapatkan jawaban, tidak apa-apa. Aku tidak butuh jawaban. Yang aku butuhkan, kisah ini akan berjalan untuk selamanya. Lagipula, mana mungkin ia menyukaiku? Aku hanya seorang gadis tomboy bertubuh sintal yang hanya bisa bermain musik. 

Krisna memberi tepuk tangan kecil ketika aku selesai memainkan chorus My First Love disusul dengan pujian bertubi-tubi sebelum akhirnya tergesa-gesa dan pamit undur diri. 

--- 

Esoknya ketika aku sudah sampai ujung gang, sudah tak kudapati ia menungguku seperti sebelumnya, padahal waktu masuk sekolah kurang dari 5 menit lagi, tak mungkin ia belum siap. Pun, jika berniat untuk pergi lebih awal atau bersama kawan yang lain, ia akan mengkonfirmasi terlebih dahulu. Sewaktu di sekolah, tak seperti biasanya, ia pindah tempat duduk yang tadinya berada di belakang bangkuku, menjadi ke tempat duduk di ujung barisan paling belakang. Ia pun tak menyapa, atau sengaja tak menyapa? Aku biarkan saja, mungkin memang ia sedang butuh waktu sendiri. Harusnya aku sudah siap dengan situasi seperti ini yang pasti akan terjadi. Sepulang sekolah, ketika kusapa, ia hanya menyuruhku untuk pulang dahulu saja, ada yang harus diselesaikan, katanya. 

Barangkali aku tak akan curiga jika kejadian ini hanya terjadi hari itu saja. Namun keesokan harinya, ia tetap tidak lagi menungguku. Hatiku kacau, bak diluluhlantahkan oleh angin lindu. Mengapa ia menjauhiku? Apakah ini karena ungkapan cinta di hari yang lalu? 

“Hai Boy, kemarin kau berangkat dahulu? kenapa tak memberitahuku? Dua hari ini kau seperti lari dariku, ada apa sebenarnya? Aku jadi tak enak hati padamu. Apa karena aku telah mengungkapkan rasa?” Aku diam-diam mengikutinya hingga ke parkiran sepeda, mendapati ia sedang sibuk sendiri, segera kuhajar dengan pertanyaan bertubi-tubi. 

“Tidak, tidak. Maafkan aku, mulai hari ini sepertinya aku tidak bisa berangkat bersama denganmu lagi.” Dan tanpa memberitahu alasan yang pasti, Krisna beranjak pergi. Aku berdiri sendiri, seperti mayat yang hidup kembali. 

Sejak peristiwa itu, di semester terakhir, kami tidak pernah bersama lagi. Pun pada saat perpisahan sekolah, Krisna menolak ketika guru kami meminta untuk duet musikalisasi puisi. Ia beralasan sudah tidak aktif berpuisi, “Ada yang puisinya lebih bagus dari saya, Bu.” Demikian alasan  yang samar-samar kudengar dari ujung kelas. Aku mencoba untuk berbesar hati dengan mengalihkan perhatianku pada sesuatu yang lain. Namun tetap saja, semuanya terasa ganjil. Hanya berjeda sebuah senja, ia tiba-tiba membuat jarak sejauh langit dan bumi. Apa yang sebenarnya terjadi?

Di perpisahan sekolah kali ini semuanya terasa berbeda, aku tak bersemangat. Namun, orang-orang tak begitu menyadarinnya. Mereka tetap memberikan standing applause paling meriah sejagad raya. Sayangnya, itu bukan suasana perpisahan sekolah yang kuharapkan. Tak ada lagi tanya “Kau hendak kuliah di mana?”

Secara tiba-tiba kau beranjak pergi dari kota kecil ini menuju Jakarta. Samar kudengar kabar bahwa kau akan tinggal kembali bersama ibumu di sana. Menyakitkan sekali jika kisah kita diawali dengan pertemuan yang mengesankan, namun berakhir dengan perpisahan tanpa sapaan.

Aku ingin menangis, tapi tak bisa. Aku ingin bertanya, tetapi bagaimana? Aku harap kau akau datang ke rumahku, mengetuk pintu dan berkata: “Maafkan aku, ya... Aku hanya tidak tahu bagaimana caranya mengucapkan selamat tinggal.”

Tetapi hingga tahun-tahun berlalu, tak ada titik temu. Kau masih mendiamkanku dan kisah ini sudah tidak seperti yang dulu. 



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar