Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Yang Kurang dan Yang Hilang

Sumber foto: https://padraig.ca/comfort-zone/

Oleh: Hidayatun Na

Oleh: Hidayatun Na
        
      Tak ada pagi yang lebih menyedihkan dari pagi ku hari ini. Rasa kecewa yang tiada tara membuatku lemah dan lesu. Aku tengkurap, menyandarkan kepalaku di bantal kamar sambil terus menatap layar handphone yang menampilkan sebuah daftar mahasiswa yang diterima di Organisasi Jurusan. Ya, namaku tak ada di daftar itu, sedangkan nama-nama kawan baikku ada disana, mereka berempat diterima! Aku ingin sekali menangis, rasanya ini tak adil! aku sudah berusaha keras dan telah mempersiapkan segalanya dengan baik dan bersusah payah, tapi aku malah tidak diterima.

      Murka dengan kenyataan, aku mulai menyalahkan kawan-kawanku, terutama sahabatku, Lena. Tapi tentu saja, aku tak menyalahkannya langsung di depan si empunya nama, aku menyalahkannya di dalam hatiku. ‘Jelas lah dia diterima, dia loh cantik, dekat sama kakak panitia, pintar, percaya diri, disukai banyak orang, aktif di organisasai mana pun, cerdas, bapaknya PNS, anak orang kaya, lha aku? Aku mah apah atuh, si dekil kumal yang pemalu! Wajar aja kalo aku nggak diterima.’ Begitulah riuh hatiku, memaki-maki, mencari pembelaan diri.

      Memang, apa yang dikatakan hatiku benar. Di tahun pertama saja, Lena sudah aktif sekali di organisasi, ikut kegiatan ini, ikut kegiatan itu, jadi duta ini jadi duta itu. Rasa-rasanya berkas untuk memperkaya CV miliknya sudah banyak. Kenapa dia begitu serakah dengan tidak memberi aku kesempatan untuk masuk di organisasi sepertinya?

     Ini semester ke limaku di bangku kuliah dan aku belum ikut organisasi apapun. Padahal aku punya cita cita untuk bisa berkuliah di Luar Negeri, sedangkan salah satu syarat utama beasiswa adalah surat keterangan aktif di organisasi. Hal itu membuatku gelisah! Aku harus ikut organisasi! Tapi masalahnya, berorganisasi di tingkat universitas lebih sulit daripada organisasi di tingkat sekolah. Absolutely.
Aku menarik nafas panjang dan melepaskannya dengan berat diiringi airmata. ‘Kenapa aku bisa sebodoh dan se dungu ini sekarang?’ kataku dalam hati. Ku benamkan wajahku didalam bantal, biar saja airmata tumpah disana, sebanyak-banyaknya!

      Untung saja ini hari minggu, sehingga aku punya lebih banyak waktu untuk menyesali dan meratapi hidupku. Kehabisan nafas karena membenamkan wajahku di bantal, aku berbalik telentang. Pelafon kost yang berwarna putih itu tiba tiba seperti berubah menjadi layar yang menampilkan sebuah film tentang hidupku di masa lalu sebelum aku masuk ke dunia perkuliahan.

      Dulu, aku menghabiskan masa SMA di sebuah Pondok Pesantren di kotaku. Aku terbilang aktif disana, berulangkali aku mendapatkan gelar juara, baik secara akademis maupun non akademis, tingkat sekolah maupun tingkat kota. Hampir semua prestasi kudapatkan dengan mudah dan hampir semua guru mengenal dan mengandalkanku. Di tahun ke tiga aku juga mendapatkan amanah untuk menjabat sebagai ketua OSIS. Aku pun  menjadi siswi idola banyak orang, terutama adik adik kelasku. Kurang apa coba aku saat itu? Sempurna!

      Tapi sekarang, mendapatkan prestasi semacam itu terasa sangat-sangat sulit. Jangankan prestasi, mendaftar jadi anggota organisasi kecil saja, aku sudah tidak diterima. Aku mengalami shock dengan kehidupan perkuliahan. Huh... padahal rasanya aku sudah berjuang mati matian. Kurang apa lagi coba?

      Sedang asyik menonton masa lalu di pelafon kamar kost, handphone ku berbunyi. Satu pesan WhatsApp muncul dari Lena. “Aighh kenapa  lagi orang ini?!” aneh ya, bisa-bisanya aku se munafik ini, merasa iri kepada sahabatku sendiri. Tapi sungguh,aku iri dengan Lena, rasanya semua hal bisa ia dapatkan dengan mudah, aku seperti melihat diriku di masa lalu pada Lena. Tapi kenapa aku tak bisa seperti itu lagi? Kenapaa? Aku kurang apaaa?

      “Meg, pengumumannya udah keluar, kamu keterima nggak?” Tanyanya di pesan.

      “Iya udah ku liat, aku nggak keterima Len” balasku.

      “Gapapa Len, mungkin itu belum rezekiku” lantas ku lempar handphone ku dengan kesal.

      Memang benar jika hidup ini adalah persaingan, hal itu tak bisa dipungkiri lagi. Mau seberapa banyak pun kamu  berkata pada diri sendiri mu bahwa kamu harus fokus dengan jalanmu, pasti kamu punya perasaan ingin menjadi seperti orang ini atau orang itu, ingin lebih hebat dari orang ini atau orang itu. Iya, kan? Karena hal itulah yang juga aku rasakan. Aku sangat iri dengan keberhasilan Lena dalam berbagai bidang, aku ingin menjadi sepertinya.

      Aku sering berkata pada diriku atau pada status di sosial mediaku “Fokus pada jalanmu”. Padahal sebenarnya aku sendiri lah orang yang belum bisa fokus pada jalanku dan sedang belajar untuk fokus pada jalan itu. Aku juga sering berkata pada diriku “Cintai dirimu sendiri, jangan bandingkan hidupmu dengan orang lain.” Padahal aku sendiri yang sedang membandingnkan hidupku dengan orang lain. Bagiku, frasa sejenis itu itu adalah kata-kata yang mengharapkan  pembelaan dari orang lain untuk membenarkan apa yang dikatakan oleh diriku sendiri.

      Aku melipat tanganku di dada dan menyandarkan diri pada dinding kamar. Air mataku sudah tak bisa ku bendung. Aku kurang apa? Aku kurang pintar kah? Kurang cantik? Kurang menarik? Kenapa kegagalan malah sering kutemui di titik ini? Titik dimana aku sedang membutuhkan banyak prestasi untuk bekal apply beasiswa Luar Negeri.

      Handphoneku berbunyi lagi. Enggan aku mengambilnya, karena itu pasti dari Lena. Tapi keengganan itu tak berlangsung lama, sebab aku penasaran.

      “Ntar siang makan bareng yok! Aku yang traktir deh, mumpung weekend.” Belum kubalas.

      “Kamu nggak ada janji sama siapa siapa kan?”

      Masih belum kubalas.

      “Di tempat biasa ya, jam 2-an gimana? Ntar aku jemput ke kost-an mu deh...”

      Aku menghela nafas. Batinku semakin bergemuruh ‘Kenapa dia malah ngajak makan?!’

      “Hmm oke oke, aku free kok, siap... ntar kabarin lagi aja ya...” Balasku. Kali ini tak kulempar ponselku, kutimang-timang ia dalam genggamanku.

      Kebaikan Lena semakin  membuatku iri kepadanya. Kenapa dia masih menganggapku teman? aku merasa aku adalah teman yang payah dan teman yang buruk untuknya. Seorang pesimis yang hanya akan membuat langkahnya tersendat karenaku. Tapi mungkin ini bukan tentang aku yang mengubahnya atau dia yang akan mengubahku. Ini tentang bagaimana kami saling melengkapi dan saling menginspirasi.

*** *** ***

      Mau seberapapun iri aku kepada Lena, aku tak bisa menolak permintaannya. Sungguh, dia adalah sahabat yang baik, dan kebaikannya itu tulus. Aku semakin iri padanya! 

      Damn! she looks so perfect!

      Siang itu setelah makan Mie Setan traktiran Lena di kedai favorit kami, Lena menunjukkanku sesuatu di dalam handphonenya.

      “Nih Meg, aku tuh kemaren ada nemu info Oprec Volunteer pendidikan gitu, nah syaratnya nggak terlalu berat, kok. Apalagi kan kamu pernah punya pengalaman mengajar di pondokmu dulu? Nah ini cocok banget, kali aja kamu tertarik, terus peluang keterimamu juga besar!” kata Lena bersemangat sambil menyodorkan handphonenya kepadaku.

      Aku membaca poster itu dengan seksama. Benar kata Lena, syaratnya tidak terlalu sulit untukku. Tapi kemudian aku teringat kegagalanku yang lalu, kegagalan itu masih menyisakan rasa sakit dan trauma yang membuatku takut untuk melangkah lagi. Bibirku berkerut dan bergerak ke kanan dan ke kiri. Lena masih memperhatikanku, menunggu jawaban.

      “Ikutan ya?” tanya Lena.

      Aku masih memperhatikan poster itu.

      “Ini juga bisa nambah sertifikat buat memperkaya CV besok. Lumayan loh.” Lena meyakinkanku lagi.

      “Kamu juga ikutan?” tanyaku kepada Lena, penasaran.

      “Enggak, aku sama organisasi dalam kampus yang sekarang aja udah sibuk.” Kenapa Lena tak ikut? Tapi kalau dia tak ikut, itu lebih baik buatku sebab peluang diterimanya aku akan lebih besar. Unless jika orang orang yang  mendaftar program volunteering ini sama hebatnya dengan Lena. Huh, aku kembali ragu. 

       “Tapi itu kerjanya hari sabtu kok. Jadi nggak ganggu kuliah.” tambah Lena.

      “Apa? Sabtuu?!” sejujurnya aku tak suka berfikir keras atau bekerja keras di akhir pekan. Bagiku weekend adalah hari istirahat dari tugas tugas kuliah yang mematikan.
 
      “Iya... sambil weekend-an juga kan...” 

       Haduuh orang pinter sama orang goblog mah beda mindset dalam menyikapi weekend.

      Aku menggaruk kepalaku  menyodorkan handphone itu kepada pemiliknya.

      “Gimana? Ikutan yaaa” Lena menggenggam tanganku. Aku curiga ia memaksaku ikut program ini karena ia merasa tak enak begitu mengetahui aku tidak di terima di Organisasi Jurusan.

       “Hmm, ehe... insyaallah deh!” kataku dengan ragu. Sungguh aku ragu sebab aku tak tau bisakah aku menjadi mahasiswa produktif di hari sabtu?

      “Ayo dong ikutan! Ayok... tau kaan... zona nyaman itu tidak pantas untuk kita yang mendambakan cita-cita yang agung!” Entah mengapa, mendengar perkataannya malah membuat hatiku  merasa geram ‘ih, apaan sih, aku kesal dia bilang begitu. Gak usah sok ngatur aku, aku tau  mana jalan yang baik untukku dan mana yang tidak. Aku nggak suka di ceramahin!’

      Aku hanya menjawab permintaannya dengan senyuman. “Iya ya.. oke deh, ntar aku daftar...” dan mengatakannya dengan enggan.

      “Nahh gitu dong... ntar aku kirimin posternya ke kamu! Uhuu semangat Megaaaa” ia mencoba menghiburku dengan mengepalkan tangan dan mengangkatnya ke udara.

     “....Tahu kaan... zona nyaman itu tidak pantas untuk kita yang mendambakan cita cita yang agung!” Aku membenci kata kata ini ketia mereka keluar dari mulut Lena beberapa detik yang lalu. Tapi kemudian, kalimat itu justru  terpantul pantul di dinding hatiku. Menggema di sebuah ruangan di dalam jiwa yang tak kasat mata. Gendang telingaku pun ikut mendendangkan kalimat itu berkali kali hingga sampai ke hati.

      “Yaudah yok, pulang! Udah sore, ntar kesorean!” Lena melihat jam di pergelangan tangannya, lalu bangkit dari kursi.

*** *** ***


      Lena mengantarkanku pulang sampai kost-ku. Sesampainya di sana, Lena menumpang sholat ashar. Aku mempersilahkannya menggunakan kamar mandi dan sholat terlebih dahulu.

       “....Tahu kaan... zona nyaman itu tidak pantas untuk kita yang mendambakan cita cita yang agung!” Rupanya sepanjang perjalan pulang, kata-kata itu terus bergema, beriring bersahutan. Ya, hingga akhirnya kalimat itu menyentuh hatiku dan menyadarkanku perlahan. Tapi aku tak mau disadarkan oleh Lena, rivalku! Aku tak mau disadarkan oleh kalimatnya! Karena tentu saja itu akan membuatku semakin iri padanya. Aku menggelengkan kepala untuk menampik semua kenyataan. Tapi itu tak bertahan lama, semakin keras aku mencoba untuk menampiknya, kata kata itu semakin jelas menggema di kepala.

       Hingga akhirnya, aku kalah, Lena benar. Setelah aku pikir-pikir lagi, ternyata selama ini aku terlalu asyik berada di zona nyaman. Rebahan di kasur setiap sabtu dan minggu, tanpa mengetahui bahwa orang lain sedang berlari mengejar mimpi di hari dan saat yang sama. Karena terlalu nyaman di zona bebas hambatan, aku jadi tak tahu kalau diluar hal itu, masih ada hambatan-hambatan besar yang belum aku taklukkan.

      Aku terduduk di kasurku, memperhatikan Lena sholat. Aku jadi merasa bersalah kepadanya. Lena selalu berterus terang padaku tentang apapun yang ia hadapi di bangku perkuliahan. Sedang aku, yang merasa gengsi dan iri padanya seringkali menyembunyikan sesuatu agar aku tak dinilai lebih rendah darinya. Padahal itulah saat dimana aku  menjadi orang yang rendah. Dan Lena tetap tinggi bersinar di jalannya tanpa sedikitpun ada penyakit dalam hati.

      Kau tahu? Kau tak akan pernah bisa berdamai dengan segala perasangka dalam hatimu sebelum kau berterus terang dengan orang yang bersangkutan. Apa yang hatimu perdebatkan hanyalah prasangka tak bertuan, dan prasangka-prasangka itulah yang akan menyakiti dirimu sendiri.
Lena telah selesai sholat, melepas mukenaku dan melipatnya. 

      “Eh... anu... Len... aku kenapa ya kemaren nggak masuk Organisasi Jurusan. Padahal aku udah nyiapin syarat-syaratnya sampe lembur. Kok susah banget rasanya mau masuk Organisasi Jurusan aja. Emang aku kurang apa sih? Aku kurang cantik ya Len? Kurang pinter ya?”

      “Eh, kok ngomong gitu... nggak boleh Meg...”

      “Ya habisnya semakin dewasa aku ngerasa semakin susah hidupku... liat aja, daftar organisasi tingkat jurusan aja aku nggak keterima!” Aku menggenggam bantal kuat kuat. “Aku kurang apaaa leen?!”

Lena melepas rok mukena sambil tersenyum geli melihat tingkahku yang kekanakan. 

      “Enggak kok, Meg... Kamu nggak boleh bilang gitu, kamu nggak kurang cantik kok Meg.... mungkin kamu cuman kurang bersyukur, kurang istipar! hahaha” (Lena menirukan gaya Keanu Angelo ketika mengatakan “Istipar”)

DEG!!!!

      “...Kamu cuman kurang bersyukur, kurang istipar!”

      Satu kalimat lagi yang membuat hatiku merasa panas sore itu. kaliamat berbeda tetapi memiliki sensasi yang sama dan diucapkan oleh orang yang sama. Kali ini kalimat itu tak bisa tertampik oleh diriku karena ia langsung menembus hatiku.
“Aku kurang bersyukur, kurang istighfar”
Sekali lagi, Lena benar.

*** *** ***

       Aku yakin kau juga pernah merasakan seperti yang aku rasakan. Merasa iri kepada seseorang tetapi justru orang itulah yang memberimu banyak kemajuan, dan kata-kata sederhananya, yang bahkan mungkin terucap tanpa ia niatkan mampu menyadarkan mu dari khayalan dan tidur panjang. Seketika itu, aku merasa mimpi-mimpiku  kini semakin terasa jauh tuk ku gapai. Selama ini aku terus mencari pembelaan agar aku tak mengambil langkah. Padahal, sebenarnya aku tahu suatu saat nanti aku akan menyesal. Selama ini aku juga hanya terlalu fokus menilai hidup orang lain, sehingga aku lupa akan kubawa kemana hidupku nantinya.

       Sore itu di ambang pintu selepas mengiringi kepulangan Lena dari kost-ku, aku menyadari bahwa lena benar. Zona nyaman bukanlah tempat yang cocok untuk para pejuang. Aku seperti ditampar dengan keras. Seberapapun aku iri pada keberhasilannya, hatiku takkan bisa menolak fakta bahwa dia telah memberi banyak manfaat dalam hidupku, dalam diam maupun geraknya.

      Dan ternyata selama ini masalahku hanya berakar dari satu hal. Buruknya komunikasi antara aku dan Tuhan yang akhirnya berdampak pada buruknya komunikasi antara aku dengan manusia yang lain. Aku baru ingat kenapa hidupku terasa sangat mudah dan sempurna sewaktu aku di SMA dulu, karena disana hari hari sibukku ya kuhabiskan untuk sibuk dengan Tuhan. Sedangkan di bangku kuliah aku menyibukkan diriku untuk mencari pembelaan agar aku tidak mengakui kesalahan yang telah aku perbuat pada diriku sendiri.

  Aku yakin, meski orang-orang berkata dia siap menerima kritikan, sejatinya dia tak siap. Kebanyakan orang tak terima jika di kritik, termasuk aku. Tapi kita takkan pernah tahu, kritikan itu sebenarnya merupakan titah Tuhan, petuah Tuhan yang dititipkan lewat makhlukNya. Tuhan ingin mengingatkan kita bahwa kita sudah tersesat, Dia memberi petunjuk lewat cara yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya, bahkan lewat orang yang paling tak kita segani sekalipun.

      Sore itu pula, hatiku kembali  mempertanyakan hal yang sama.

      "Aku kurang apa?”

      “...Kamu cuman kurang bersyukur, kurang istipar!” terdengar kalimat Lena menggema lagi, aku yakin itu adalah kalimat surga untukku, datang dari Tuhan melalui hambaNya, sahabat terbaikku.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar