Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Sarapan


Sumber: Pinterest

Oleh: Hidayatun Na

       Pagi adalah waktu yang paling tak kusuka. Karena itu berarti aku harus sarapan. Sebenarnya yang jadi masalah adalah bukan waktu sarapannya, tetepi jenis makanan yang hanya itu-itu saja. Tak pernah berganti, bahkan semenjak aku pertama kali bisa mengingat, sudah kuingat bahwa menu sarapan pagiku adalah jagung rebus, terkadang nasi jagung – yang dipetik dari halaman belakang rumah dan dijadikan cadangan sarapan setiap hari – dengan sambal terasi. Atau jika ada beras, maka kami akan makan dengan nasi bubur gula merah. Yang paling mewah adalah nasi liwet dengan lauk tempe goreng. 


      Aku ingin sarapan dengan menu yang lain. Seperti orang-orang yang sering kulihat di televisi. Mereka sarapan pakai roti selai gandum, buah-buahan beraneka jenis, sup miso hangat, dan nasi goreng. Tak hanya menunya yang beragam, mereka sarapan di sebuah meja besar, berhadap-hadapan satu keluarga lalu meminum susu segar setelah makan. 


       Cara memasak sarapannya pun berbeda. Bukan seperti nenekku yang mengunakan kayu bakar dan tungku yang setiap kali berusaha dihidupkan akan mengeluarkan asap tebal, membuatku dan kakek terbatuk-batuk. Mereka memasak sarapannya di atas kompor listrik menggunakan teflon anti lengket dengan api yang menyala selembut sutra. Orang-orang yang kulihat itu memiliki dapur yang besar, bahkan mungkin lebih besar dari rumah gubuk kami. Aku ingin sekali saja memakan salah satu jenis sarapan kelas atas itu. Bagiku, yang paling menggiurkan adalah sup miso dengan mie kenyal dan irisan daging sapi. Sangat cocok untuk memberi tubuhku nutrisi seimbang sekaligus sebagai penghangat di kala dinginnya pagi.  


       Jangan marahi aku kalau aku bukan anak yang pandai bersyukur, kawan. Sebab, aku terlahir yatim piatu dan tinggal bersama kakek-nenekku di rumah yang lebih layak disebut kandang ini. Kakek bekerja sebagai seorang buruh petik kopi di kebun warga sedangkan nenek sering membantu kakek kalau tidak ada cucian pelanggan yang harus dikerjakan. Aku sendiri dipaksa sekolah oleh seorang kepala desa kami meski aku lebih suka bermain di kebun menemani kakek bekerja. Setelah diiming-imingi ‘Nanti di sekolah dapat teman banyak’ dan ‘Sekolah ya, biar pinter. Biar bisa beli sup miso daging’ oleh orang-orang yang iba, aku pun setuju. Tiga tahun lalu, aku sangat mempercayai ucapan itu. 


       Aku sering melewatkan makan siang dengan bermain bersama teman sebayaku, karena tak mau memakan ubi rebus sisa sarapan yang sudah dingin. Kami pergi ke kebun untuk mencari buah-buahan atau umbi-umbian. Itulah hiburan terbaik bagiku. 
Untuk makan malam, menu andalannya adalah nasi, ikan asin, dan sambal terasi lagi. Masih sisa tadi pagi. Kami hanya makan enak kalau ada acara di desa. Oleh karenanya, jika mendapat kabar orang meninggal, bukannya ikut berduka aku malah bersuka cita membayangkan nasi ‘berkat’ dengan lauk lengkap yang akan didapatkan kakek setelah tahlilan. 


       Aku tahu keindahan sop miso daging dari televisi. Semakin penasaran saat teman-temanku membicarakannya di sekolah karena makanan itu cukup tenar. Sama tenarnya dengan ramen Jepang akhir-akhir ini. Terlebih lagi saat ada kios milik orang keturuan China bernama A Kiong di jalan dekat sekolah yang menjual sup miso daging, aku semakin bernafsu melahap kuah lezat itu. Sayangnya, selain warung makan itu hanya buka pada malam hari dan tak bisa dinikmati buat sarapan, harganya juga lumayan mahal. Jika aku sekali saja membeli sup itu, mungkin kakek dan nenek tak bisa makan selama seminggu.  


      Musim hujan di daerah pegunungan menghasilkan udara dingin yang membuat siapapun menggigil di pagi hari. Embun tipis terasa seperti gerimis yang dengan cepat membasahi apapun yang ada di permukaan bumi. Seperti pagi-pagi sebelumnya, hari ini aku menghembuskan nafas panjang ketika membuka panci di atas meja kecil yang oleh kakek-nenekku disebut dengan meja makan. Aku memandang tumpukan jagung rebus itu dengan bosan. Kalau bukan karena jauhnya perjalanan sekolah yang harus kutempuh, sepertinya aku tak sudi memakan makanan itu. 


      Dikecewakan setiap hari dengan hal yang sama selama bertahun-tahun, kubanting tutup panci itu dengan keras. Kakek yang sedang mempersiapkan keranjang kopinya di luar dapur sedikit terkejut lalu menoleh ke arahku. Sambil memakai sepatu, aku menggerutu. 

      “Ah, bagaimana mungkin jagung rebus bisa menghangatkan perutku di musim dingin begini.” 

      Nenek masuk ke dapur dengan membawa beberapa batang kayu kering untuk diletakkan di atas kompor pada sebuah tatakan. “Jangan mengeluh! Kalau tidak mau sakit perut, makanlah saja apa yang ada, Boi!”

      “Aku tak mau sarapan sebelum menunya sop miso daging!” kataku sambil ngeloyor ke luar rumah. 

      “Nanti kalau ada uang kita makan miso! Hey! Sarapan dulu, sini!” teriak Nenek yang mencoba menghentikanku. 

       Tentu saja nenek tak terima dengan omelanku yang tidak menghargai jeri payahnya mengolah jagung sedari biji-bijian hingga bisa direbus dan dihidangkan sebagai sarapan. Ia membalas keluhanku, mengomel dan berusaha mencegahku. Sambil tertatih dengan membawakan dua buah jagung, nenek bersikeras agar aku tetap memakannya. Atau kalau aku tak mau sarapan bersama, setidaknya aku bersedia memakannya dalam perjalanan ke sekolah. Meski galak, nenek sangat menyayangiku, dan meski aku sudah menggoreskan belati di hati lembut Nenek setiap hari, ia tetap mengupayakan apapun untuk kesehatanku. Sedangkan kakek mendengar keluh kesahku tanpa mengatakan apapun. 


      Sebenarnya, di sepanjang perjalanan aku merasa dilema. Merasa menyesal dan benci pada saat bersamaan. Menyesal karena telah menyakiti hati Kakek-nenekku – sebagai satu-satunya keluarga yang kumiliki – demi memenuhi hasratku untuk makan semangkuk miso daging. Aku juga menyesal karena sudah tiga hari ngambek sarapan. Melewatkan waktu pagi bersama nasehat-nasehat kakek sebelum berangkat ke sekolah. Meski jagung, kami selalu meluangkan waktu untuk sarapan bersama di bangku kecil yang melintang di luar pintu dapur sambil menikmati sumber vitamin D matahari yang dengan lembut meresap ke tulang kami. 
Aku juga membenci diriku sendiri dan keadaan yang menimpaku. Setiap hari ketika melewati warung miso A Kiong, aku mengumpati Tuhan karena tidak menjadikanku anak orang kaya, atau minimal menjadi anak penjual miso daging. Hidupku berat kawan, aku harus berjalan hampir satu jam ke sekolah dengan perut yang hanya diisi oleh nurisi dari jagung rebus. Belum lagi, kalau di sekolah teman-temanku membicarakan tentang saarapan lezat mereka pagi ini, aku merasa semakin kelaparan. 


      Keputusanku untuk mogok sarapan itu juga telah membawaku pada resiko dimana aku harus memakan jagung rebus yang terpaksa kubawa atas paksaan Nenek dengan sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan temanku yang lain. Meskipun mereka sebenarnya baik dan tidak mempermasalahkan sarapan yang kumakan. Tetapi setiap kali mereka membicarakan hal itu, hatiku selalu nelangsa. Tak sanggup menahan godaan sup miso lebih lama. 
Setelah lima jam berkutat dengan pelajaran sekolah yang masuk ke otakku dengan lancar, aku kembali ke gubuk bersama teman-teman yang rumahnya juga searah denganku. Mereka sering memuji performa mengagumkanku di kelas. Meski aku hanya sarapan jagung, ternyata aku cukup pandai. Sejak kelas satu, aku sudah jadi juara kelas, dan gelar itu masih kupertahankan hingga detik ini. 


       “Boi, bagaimana kau bisa sepandai itu? Kau makan apa sih?” mereka selalu membercandaiku dengan kalimat itu. Rasa bersalahku semakin membesar karena ternyata jagung rebus juga bisa membuat seseorang jadi pintar. Tetapi kenapa aku malah menyalahkan Kakek dan Nenek? Aku sempat curiga kalau-kalau ternyata kakek dan nenek jauh lebih paham tentang nutrisi ketimbang aku.

---
       Sesampainya di rumah kulihat kakek sudah pulang bekerja lebih awal. Biasanya, ia baru pulang sebelum aku berangkat mengaji. Kadang, kakek juga pulang larut malam jika dapat pekerjaan tambahan dari para tetangga yang dermawan. Beliau duduk di bangku – yang tadi kami sebut sebagai ruang makan – sambil meluruskan kaki dan memijit-mijit pergelangannya dengan ekspresi kesakitan. 

       “Kakek kenapa?” tanyaku pada nenek yang keluar dari rumah tergopoh-gopoh dengan membawa secangkir teh hangat.
 
      “Kakekmu habis jatuh. Makanya, kau jangan .... Auch! Kenapa kau ini, kek?!” Nenek tak meneruskan kalimatnya karena kakek mencubit lipatan perut nenek sambil berdesis. Isyarat agar nenek tak usah banyak bicara. 

        “Kakek tadi jatuh terpeleset di sumur, Boi. Usahlah risau. Kakekmu baik-baik saja. Nah, sana makan siang. Habis itu tidur, supaya nanti sore bisa mengaji, malamnya bisa mengerjakan PR.” Kata kakek dengan lembut. 

       Nenek menatap kakek sambil merengut.
 Aku menuruti perkataannya meskipun masih curiga ada sesuatu yang disembunyikan dariku. Dibanding nenek, kakek jauh lebih pendiam dan jauh lebih baik. Ia tak harus mengomel untuk menunjukkan kasih sayangnya. Bahkan bisa dikatakan bahwa kakek mendidikku lebih sering menggunakan gestur tubuh dan ekspresi wajah. 


        Malam harinya, aku hampir tak bisa tidur memikirkan kakek yang sedang dipijit oleh seorang dukun pijit di ruang tengah. Keseleo di pergelangan kaki kanannya nampak cukup parah. Baru kusadari, punggung Kakek yang semakin rapuh juga mengalami encok. Aku terduduk di pojok ruangan menyaksikan kakek kesakitan. 
 “Kau sudah tua, Kek. Jangan lagi kerja berat-berat. Sudah tak sekuat dulu.” Kata si dukun pijit. 


       Kakek memandangku sesaat. “Meski aku tua, jiwaku masih muda, tau.” Ia menanggapinya dengan lelucon. Seisi ruangan tertawa kecuali aku.


       “PR-mu sudah kau kerjakan?” tanya nenek begitu melihatku melongo. Aku mengangguk. 

       “Kalau sudah, tidur saja sana, Boi. Biar besok tak terlambat.” Nenek yang melihatku memasang wajah kusam, segera paham bahwa aku sedang mengkhawatirkan tulang punggung keluarga kami. “Kakek hanya keseleo, bukan masalah besar.” Katanya. 
 Aku pun berlalu ke pembaringan. 

---
 

      Suara adzan subuh berkumandang dari TOA masjid-masjid di penjuru desa. Aku memang sudah terbiasa bangun pada saat tersebut. Selain karena kebiasaan baik yang diajarkan kakek agar cucu bujangnya ini terbiasa sholat shubuh di masjid, aku harus bangun pagi karena jarak yang kutempuh ke sekolah tidaklah dekat. Tetapi karena kaki kakek masih sakit dan sedang terbaring di kasur, aku memutsukan untuk berangkat ke masjid sendiri karena tak tega membangunkannya. Seperti biasa, sepagi itu, nenek sudah berisik di dapur. Seolah-olah semua jenis peralatan dapur dimainkannya untuk membangunkan seisi dunia. 


       Sepulang dari masjid dan mempersiapkan peralatan sekolah, aku bergegas untuk mandi di sumur belakang rumah. Setelah melilitkan handuk di tubuh, tiba-tiba aku mencium aroma yang selama ini hanya menjadi aroma imajiner di otakku. Aku yakin, yang masuk ke rongga hidungku adalah aroma rebusan daging dari asap yang mengepul di atas atap dapur gubuk kami. Masih menjadi aroma, namun itu sudah mampu menghangatkan lambungku yang kedinginan. Tetapi, benarkah itu sop daging?
 
        Aku segera berlari ke dapur, menghampiri nenek untuk memastikan bahwa penciumanku tidak salah. Mataku langsung berbinar tatkala aku menemukan panci yang biasanya berisi jagung rebus telah berubah menjadi panci berisi zat cair berwarna cokelat dengan berbagai macam isian. Jantungku berdetak tak karuan.

       “Miso daging!” teriakku bahagia. “Apa aku sedang bermimpi, Nek?!”

       Nenek hanya menggeleng sambil senyum-senyum. 

       “Benarkah itu sop daging?!” tanyaku keras-keras karena tak percaya.

       Nenek menghembuskan nafas dan mengangguk sambil menyiapkan mangkok.

        “Yeeay, akhirnya aku sarapan miso daging pagi ini!” aku berputar-putar di dapur sambil mengepalkan tinju bahagia. 

       “Pakai dulu bajumu, baru sarapan!” 

       Akhirnya kawan! setelah bertahun-tahun sarapan dengan jagung rebus – telah berkali-kali kukatakan padamu, bukan? – hari ini aku makan dengan miso daging idamanku. Setelah bertahun-tahun aroma dan sensasi hangat miso yang selama ini hanya dapat kunikmati lewat mimpi, kini kutemukan di hadapanku. 
         
         Nyata! 

        Saking bahagianya, aku sampai lupa dari mana nenek mendapatkan uang untuk membeli daging, mi bihun, sayuran, tahu, dan bumbu lainnya. 

          Aku terdiam setelah mematut diri di depan cermin pada salah satu pintu lemari tua.  
        
         Jangan-jangan!

---

       Benar dugaanku bahwa ternyata, kakek sengaja mencari uang lebih dengan bekerja menjadi buruh panggul di pasar demi bisa membeli daging untuk sop miso. Sebenarnnya, orang-orang tak tega menyerahkan pekerjaan itu kepada kakek melihat kondisi fisiknya yang sudah renta. Tetapi kakek terus memaksa dan mengatakan bahwa ia sangat membutuhkan uang untuk bisa membeli daging meski hanya satu ons saja. Nahas, karena beban yang dipikul melebihi batas maksimum kemampuan pinggang kakek, ia jadi kehilangan keseimbangan dan keseleo. Terlebih lagi, sepulang dari pasar dengan berjalan terpincang-pincang, dan karena lelah sehabis memikul, kakek sempoyongan lalu pingsan di pinggir jalan. Untungnya ada kepala desa yang menolong dan membawa kakek ke rumah. 


         Nenek baru menceritakan kisah itu padaku pagi ini, saat sup miso daging baru saja meluncur satu suapan ke mulutku. Rasanya sungguh lezat dan hangat. Membuat tubuhku kebal akan dinginnya pagi di musim hujan. Melebihi rasa yang selama ini selalu kubayangkan. Dapat kurasakan bahwa irisan daging di dalam sup ini mengandung berkali lipat nutrisi dibandingkan dengan jagung rebus, yang - jika kumakan secara rutin, pasti akan - membuatku jauh lebih pandai daripada aku yang sekarang. 


          Awalnya, nenek menolak untuk bercerita, tetapi paksaanku lebih kuat dari pertahanan dirinya. Kelezatan sup itu tiba-tiba saja menguap dari mulutku. Aku memandang kakek dengan sedih. Tetapi laki-laki jangkung itu malah tersenyum sambil menggerak-gerakkan kaki dan memutar-mutar punggugnya.


     “Tak usah khawatir, kakek sudah sembuh. Lihat! Lihat! Baik-baik saja, kan?”


        Aku merasa sangat bersalah kepada kakek karena telah membanting tutup panci tempo hari. Tak tega aku melihat gurat wajah kakek yang penuh dengan keletihan. 

        “Kalau kami punya uang, pasti sudah kusuapi mulutmu dengan makanan enak setiap hari, Boi. Tapi kau tahu sendiri, kami sudah tua, hidup miskin pula. Hanya ini yang mampu kami lakukan.” Nenek berkata pelan dengan air mata yang mengembang di pelupuknya. 

        “Maafkan kami ya, Boi. Karena tak bisa memberikanmu sarapan yang layak.” Sambung kakek. 

         Aku menggelengkan kepala dengan keras. “Janganlah kakek pergi ke pasar lagi! aku tak apa sarapan jagung setiap hari, kek! Sungguh!” Kataku dengan air mata yang tiba-tiba berderai di pipi. “Maafkan aku, kek!”
 
       Kakek tersenyum dan menepuk punggungku.
 
       Aku menangis tersedu sambil meletakkan mangkuk supku di bawah untuk sementara dan memeluk pinggang lelaki itu. Ada harga mahal yang harus dibayar untuk setiap kenikmatan yang aku impikan. Aku telah menggadaiakan nyawa kakek dengan semangkuk sup miso yang baru kusadari tak ada apa-apanya dibanding dengan kehadiran kakek dalam hidupku.Aku menyadari bahwa jagung rebus dengan kakek yang baik-baik saja, jauh lebih lezat dari makanan lezat manapun yang membuat kakek terluka. 
Kakek mengusap air mataku. Ia mengambil mangkok putih yang tadi kuletakkan di bawah lalu menyerahkannya kepadaku. 
 
          “Sudah, sudah. Jangan cengeng. Ayo makan, nanti supnya keburu dingin.” Kakek dan nenek tertawa. Senyumannya jauh lebih hangat dari mentari pagi. Membuat mataku berkilat-kilat.


        Akhirnya, ini adalah sarapan terbaik yang pernah kumiliki! sup miso idamanku dengan mi kenyal dan irisan daging sapi! 
 Aku memang takkan bisa melupakan peristiwa ini, Kawan. Tetapi aku pun tak tahu, akankah nasibku berubah setelahnya? Yang jelas kakek benar. Sekarang, aku harus menikmati sarapan ini, sebelum menjadi dingin. 


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar