Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Pergi



Oleh Dinda Novita Sari

 Akan ku ceritakan ceritaku bersamanya yang tak akan pernah lagi bisa ku ulangi karena jarak yang memisahkan dan tak akan pernah bisa ku tembus. Di sini di lorong panjang yang berhiaskan puluhan ikan yang menjadi saksi bahwa aku dan dia perah menjadi kita sebelum takdir memisahkan. Ia sosok pertama yang telah mencairkan hati ini yang telah lama beku, yang membuatku kembali percaya bahwa tak semua orang itu jahat.

Di Lorong ini aku seakan melihatnya berada di ujung dengan senyumanya yang menawan tengah menantiku berlari padanya dan menyambut tangan ini untuk ia genggam. Lalu kami akan berjalan dengan bergandeng tangan merangkai mimpi indah di masa depan. Tapi mimpi itu tak pernah menjadi nyata, karena nyatanya sekenario Tuhan lebih indah dari yang hamba-Nya rangkai.

Masih teringat oleh ku di Lorong ini ia berkata “jangan pernah menangis saat aku tak ada di sisimu karena aku tak bisa menghapus air matamu” lalu bagaiaman saat air mata ini menetes karenanya, siapa yang akan mengusapnya. Bolehkah aku mengatakan bahwa ia sangata jahat dan egos. Ia membuat mata ini menangis dan tak akan pernah lagi mengusapnya.

Ia telah pergi untuk selamanya, meninggalkan ku dengan ribuan mimpi yang terangkai untuk menghadap sang penciptanya. Aku tak tahu harus bagaimana saat itu seolah takdir tengah bermain-main denganku. Hati yang baru saja sembuh harus kembali terluka dengan kenyataan yang ada. Aku tak tahu harus melakukan apa saat itu, jika saja aku bisa memilih maka biarkan aku saja yang pergi jangan dia.

Ia pernah berkata padaku “takdir Tuhan itu indah dan penuh dengan teka-teki. Maka janganlah kamu bersedih saat Tuhan memberimu ujian. Karena mungkin Tuhan tengah menyiapkan kejutan yang begitu indah untuk mu”. Yah, mungkin saja ini ujian bagiku untuk sebuah kejuatan yang indah.

Perlahan aku mencoba untuk mengihklaskan kepergianya, berharap di sana ia akan bahagia karena aku telah mengihkalskanya. Maka Tuhan jagalah ia di sana untuk ku dan pertemukanlah kami kembali suatu saat nanti. 




Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar