Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

PEMBIDANGAN FIQH DAN CAKUPANNYA

sumber : interest.id


Nama : Dinda Novita Sari 

Ada beberapa pendapat mengenai pembidangan ilmu fiqh menurut para ulama. Ada  yang membaginya menjadi tiga bidang yaitu, ibadah, muamalah, dan uqubah. Namum ada juga  yang membgai fiqh menjadi empat bidang, yakni ibadah, muamalah, munakahat, dan uqubah.  Waulaupun demikian para fuquha telah menyepakati dua poko hukum islam, yakni bidang  ibadah dan muamalah. 

A. Bidang Ibadah 

Ibadah beraal dari kata Bahasa arab (عبادة (yang diartikan dengan berbakti,  berkhitmat, patuh, tunduk, mengesakan, dan merendahkan diri. Dimana ibadah  dlakukan dengan penuh rasa khitmad dengan mengharap ampunan,keridhoan, dan  perlindungan hanya dari Allah SWT. 

Dari segi umum atau khusus ibadah di bagi menjadi dua macam, yaitu: 

1. Ibadah khoshos, yaitu ibada yang ketentuanya sudah ditetapkan dalam  dalia/dasar hukum yang jelas, yaitu Sholat, zakat, puasa dan haji. 

2. Ibadah ammah, adalah semua perilaku yang baik yang dilakukan karena  Allah SWT seperti bekerja, makan, minum, dan tidur sebab itu dilakukan  untuk kelangsungan hidup dan Kesehatan jasmani agar bisa tetap beribada  kepada Allah SWT. 

B. Bidang Muamalat 

Secara istilah arti muamalah dat dibagi menjadi dua, yaitu arti muamalah  secara sempit dan arti muamalah secara luas. Muamalah secara sempit yaitu semua  akad yang di berbolehkan manusia untuk saling tukar menukar manfaatnya.  Sedangkan arti muamalat secara luas yaitu peraturan-paraturan Allah yang harus di  taati dan diikuti dalam hidup bermasyarakat untuk menjaga kepentingan Bersama.  Secata etimologis muamalat yaitu hubungan sesame manusia yang berkaitan dengan  harta. 

Muamalat dapat dibagi menjadi beberapa, yaitu: 

1. Harata, dapat diartikan sebagai sesuatu yang dapat dimiliki oleh seseorang.  Harta dapat dikatakan sebagi sendi kehidupan manusia karena tanpa hara  contohnya makanan maka manusia tidak akan bisa bertahna hidup. 

2. Transaksi dalam muamalat islam, yakni peralhian hak miliki dari orang  satu ke orang lainnya. Dalam islam transaksi dapat di artikan sebagai tijar transaksi.transaksi secara islam dapat di bagi menjadi 2, yaitu: 

a. Berlangsung dengan sendirinya tanpa ada pihak-pihak yang terlibat  yang di sebut sengan ijbari

b. Peralihan secara ihtiyari, yakni peralihan hak kepada orang lain atas  kehendak dari salah satu atau kedua belah pihak. 

3. Kerjasama dalam Mu’amalah islam 

Dalam hal ini Kerjasama secara umum dapat diartikan sebagai bentuk  tolong menolong yang di anjurkan dalam agama selama kerja sama itu  tidak dalam bentuk dosa dan permusuhan. Bentuk Kerjasama dalam  muamalah dalam Kerjasama yang sering terjadi yaitu: 

a. Muzaro’ah, Kerjasama dalam usaha pertanian. 

b. Musaqoh, Kerjasama dalam perawatan tanaman dengan  

imbalan bagian hasil yang diperoleh dari tanaman tersebut. 

c. Mudharobah, yaitu kerjasa yang dilakukan dengan dua pihak  

dengan yang satu diantaranya menyerahkan uang kepada pihak  

lain untuk di perdagangkan, sedangkan keuntungannya dibagi  

di antaranya menurut kesepakatan. 

C. Pembidangan Ilmu Fiqih Jiniyah 

Fiqih Jiniyah yaitu segala bentu-bentuk kejahatan yang dilarang oleh Allah  melakukannya dan oleh karenanya ia berdosa kepada Allah dan oleh sebab itu ia  berdoda kepada Allah SWT dan akibat oleh dos aitu akan di rasakan azab Allah di  Akhirat. Dalam Fiqh Jiniyah dibagi dalam beberapa bidang, yaitu: 

1. Jinniyah Qisas-Diyat, yaitu tindak kejahatan yang sanksing hukumnya  dibalas setimpal (Qisas) dan denda Darah (Diyat). Misalnya: pembunuhan,  pelukaan, dan penghilangan bagian/anggota Tubuh. 

ول ثقثلوا النفس الثى حرم هللا ال بالحق 

Artinya: “Jangan kamu membunuh jiwa yamg diharamkan Allah kecuali  dengan hak.” Surat Al-An’am : 151. 

2. Inayah Hudud:yaitu kejahatan yang sanksi hukumannya ditetapkan sendiri  secara pasti oleh Allah dan/atau Nabi. Misalnya: pencurian,perampokan,  perzinaan,minum-minuman keras.Firman Allah. 

وال ثقربوا الزنى انه كان فاحشة وساء سبيل  

Artinya: “Janganlahkamu mendekati zina,karena ia adalah perbuatan keji  dan cara yang paling buruk.” Surat Al-Isra : 32 

3. Hukuman Ta’zir: yaitu kejahatan lain yang tidak diancam dengan qisas diyatdan tidak pula denganhudud.Dalam hal ini ancamannya ditetapkan  oleh imam atau penguasa.Dasar hukum dari adanya hukuman ta’zir itu  adalah ijtihad ulama yang berlandaskan kepada umumnya hadits Nabi  yang mengatakan: 

ا ضرر وال ضرا ر  

Artinya: “Janganlahkamu mendekati zina,karena ia adalah perbuatan keji  dan cara yang paling buruk.” 

D. Pembidangan Fiqih Munakahat 

Fiqih munakahat terdiri dari beberapa bidang, yaitu: 

1. Perkawinan 

Perkawinan yaitu bersatunya antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom  dalam suatu ikata dengan kata ni-ka-ha atau za-wa-ji. 

عقديثضمن اباحة الوطء بلفظ االنكاح او الثزويج  

Artinya; akad atau perjanjian yang mengandung maksud membolehkan hubungan  kelamin dengan menggunakan lafaz na-ka-ha atau za-wa-ja. 

Nikah sebagai sunah Allah dapat dilihat dari ayat berikut :  

”ومن كل شيء خلقنا زوجين لعلكم ثذكرون 

Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat  akan kebesaran Allah.” 

Perkawinan itu juga merupakan sunnah Rasul yang pernah dilakukannya selama  hidupnya dan menghendaki umatnya berbuat sama. Hal ini terdapat dalam hadits  yang berasal dari Anas bin Malik sabda Nabi yang bunyinya: 

لكنى اصلى و انام و اصوم و افطر واثزوج النساء فمن رغب عن سنثى فليس منى 

“Tetapi aku sendiri melakukan shalat, tidur, aku berpuasa dan juga aku ber buka,  aku mengawini perempuan. Siapa yang tidak senang dengan sunahku, maka ia  bukanlah dari kelompokku.” 

Tujuan dan hikma dari perkawinan yaitu: 

a. mendapatkan keturan untuk melanjutkan generasi yang akan datang. b. Untuk mendaptkan kelurga Bahagia yang penuh dengan ketenangan hidup  dan rasa kasih sayang. 

2. Putusnya perkawinan  

Putusnya perkawinan berarti putusnya hubungan suami istri. Putusnya  perkawinan ada dalam beberapa bentuk tergantung dari pihak mana yang  menginginkan pustusnya perkawinan. Dalam hal ini ada 4 kemungkinan 

a. Putusnya perkawinan atas kehendak Allah sendiri melalui matinya salah  seorang suami istri. 

b. Putusnya perkawinan atas kehendak si suami oleh alasan tertentu dan  dinyatakannya kehendaknya itu dengan ucapan tertentu. Perceraian dalam  bentuk ini disebut talak. 

c. Putusnya perkawinan atas kehendak si istri karena si istri melihat sesuatu  yang menghendaki putusnya perkawinan sedangkan si suami tidak  berkehendak untuk itu. Kehendak untuk putusnya perkawinan yang  disampaikan si istri ini dengan membayar uang ganti rugi yang diterima  suami dan dilanjutkan dengan ucapannya untuk memutus perkawinan itu.  Putusnya perkawinan dengan cara ini disebut khulu. 

d. Putusnya perkawinan atas kehendak hakim sebagai pihak ketiga setelah  melihat adanya sesuatu pada suami dan atau pada istriyang menandakan  tidak dapatnya hubungan perkawinan itu dilanjutkan. Putusnya perkawinan  dalam bentuk ini disebut fasakh 

3. Rujuk 

Secara lughawi ruju’ atau raj’ah berarti kembali. Sebagaimana perkawinan itu  adalah suatu perbuatan yang disuruh oleh agama, maka ruju’ setelah terjadinya  perceraian pun merupakan suruhan agama. Hal ini dapat dilihat dalam firman  Allah pada surat Al-Baqarah : 231 

واذا طلقثم النساء فبلغن أجلهن فأمسكوهن بمعروف أو سرحوهن 

“Dan bila kamu menceraikan istri-istrimu, lalu mereka mendekati akhir masa  iddahnya, maka rujukilah mereka dengan cara baik, atau ceraikanlah mereka  dengan cara baik....” 

Adapun unsur yang menjadi rukun dan syarat-syatrat untuk setiap rukun itu  adalah sebagai berikut : 

a. Laki-laki yang meruju’ istrinya mestilah seseorang yang mampu  

melaksanakan pernikahan dengan sendirinya, yaitu telah dewasa dan sehat  akalnya. Seseorang yang masih belum dewasa atau dalam keadaan gila  tidak sah ruju’ yang dilakukannya. Bila waktu mentalak istrinya ia berakal  sehat kemudian dia gila dan ingin ruju’ yang melakukan ruju’ itu adalah  walinya, sebagaimana yang menikahkannya adalah walinya 

b. Perempuan yang dirujuki adalah perempuan yang telah dinikahinya dan  kemudian di ceraikannya tidak dala bentuk cerai tebus (khulu’) dan tidak  pula dalam talak tiga, sedangkan dia telah digauli selama dalam  

perkawinan itu dan masih berada dalam masa iddah. 

c. Ada ucapan ruju’ yang di ucapkan oleh laki-laki yang akan merujuk.  Disini tidak diperlukan qabul dari pihak istri; karena ruju’ itu bukan  

memulai nikah tetapi hanya sekedar melanjutkan pernikahan. Ucapan ruju’  itu menggunakan lafaz yang jelas untuk ruju’. 

Sumber 

Wahyudin, Pembidangan Ilmu Fiqih. Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. 



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar