Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Luka


Oleh Dinda Novita Sari

Jika saja takdir bisa ku ubah sendiri mungkin aku lebih memilih untuk tidak akan mau menjalani takdir kehidupan yang seperti ini yang rumit, memuakkan, dan penuh akan drama. Aku akan lebih memilih untuk lari mencari bahagia yang ku inginkan dan menjadi egois tanpa harus memikirkan siapapun. Tapi sayang takdir tak akan pernah menurut denga apa yang kita inginkan. Karena semua sekenario yang ada telah tertulis dalam naskah sutradara kehidupan.

Aku ingin menjadi egois tanpa harus memikirkan siapapapun, menjadi egois dan bisa memilih apapun yang ku inginkan, menjadi egois dan mejauh dari mereka yang memuakkan. Aku lelah harus selalu mengalah, lelah pura-pura bahagia di antara tumpukan luka yang ada, lelah pura-pura tersenyum di saat mata ingin menangis. Aku Lelah dengan semua itu, memendam rasa sendiri tanpa ada yang memahami.

Aku hanyalah seorang gadis ceroboh dan pelupa yang ingin mencari bahagianya. Berharap pada tuhan untuk tak lagi memberi cobaan yang membuatku ingin mengakhiri semua ini. Aku bukan sosok kuat yang akan baik-baik saja di saat semua luka itu membuatku semakin hancur. Aku hanya sosok hamba yang menghibah pada Tuhannya untuk segera mengakhiri segala kesakitan ini.

Dikecewakan, diabaikani, dan terlupakan bukan lagi hal baru bagiku. Sudah terlalu sering aku merasakan-nya. Bahkan semua luka itu sudah ada di saat aku sendiri belum mengerti arti dari bahagia. Aku tak ingin menyalahkan Tuhan yang telah menciptakan sekenario dalam kehidupan ini. Namun sebagai seorang hamba tak ada salahnya untukku mengeluh bukan.

Aku hanya ingin bercerita sedikit mengenai luka yang selama ini ku pendam sendiri. Berharap bisa mengurangi beban yang menyesakkan dada. Aku sadar mungkin banyak di luar sana yang memiliki cobaan yang lebih berat dari yang ku rasakan. Namun sekali lagi ku katakana aku hanya ingin bercerita tidak untuk memandingkan.

Ada yang pernah bertanya pada ku “hal apa yang membuatmu iri di dunia ini?”. Ku katakana padanya “di dunia ini ada dua hal yang membuatku iri. Pertama keluarga yang harmonis, dan yang kedua memiliki sahabat yang selalu ada”. Lalu ia kembali bertanya “kenapa?”. Tak ku jawab pertanyaanya saat itu karena aku tak ingin ada yang melihatku menangis dan terlihat lemah.

Mereka bilang keluarga yang harmonis adalah keluarga yang utuh ada ayah, ibu, dan anak yang saling melengkapi. Tapi bagiku itu semua hanyalah angan yang tak akan menjadi nyata. Semuanya telah hancur hanya karena sebuah kepercayaan yang telah terhianati. Sosok yang seharusnya menjadi cinta pertama untuk anak perempuannya namun dia sendiri yang telah mematahkan cinta itu. Memberikan luka dan trauma bagiku yang mungkin tak akan bisa terlupakan.

Saat itu mungkin masih terlalu kecil bagiku untuk bisa memahami semuanya. Namun aku bisa merasakan “mungkin setelah ini semuanya tak akan pernah sama lagi”. Yah, dan itu semua benar terjadi seakan langit telah runtuh dan memporak-porandakan segalanya. Yang kulakukan saat itu hanya diam menangis dalam sunyi seakan tak mengerti apapun. Aku marah pada keadaan menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi “Tuhan apa yang Kau lakukan, mengapa Kau memisahkan keluarga ku. Mengapa Kau sangat jahat sekali?”.

Gadis kecil yang seharusnya bermain dipaksa untuk menajdi lebih dewasa oleh keadaan, menjadikannya korban dari sebuah keegoisan. Tak ada yang bisa ia lakukan di saat semuanya pergi begitu saja satu-persatu. Meninggalkan ia sendiri dengan air mata yang menetes. Tak ada yang bertanya apakah ia baik-baik saja. Mereka hanya sibuk dengan diri mereka sendiri memaksanya untuk lebih mengerti akan keadaan yang ada. Membuatnya harus menjadi gadis baik dan penurut agar tak menyusahkan banyak orang.

Mungki semua itu telah berlalu, gadis kecil yang malang telah tumbuh menjadi seorang gadis dengan setumpuk lukanya. Terlalu banyak rintangan yang harus ia lalui untuk bisa ada di titik ini. Mencoba untuk mengabaikan luka-luka yang ada dan menatap masa depan yang menanti di depan mata.

Aku iri dengan mereka yang bisa mengekspresikan diri dengan begitu mudahnya. Bisa bercertia dengan teman ataupun sahabat yang mereka punya. Lalu bagaimana denganku tak ada teman ataupun sahabat yang bisa ku ajak untuk bercerita. Bukan karena aku yang tak ingin bergaul. Namun ada saja cemohan yang kuterima setiap kali berada di antara mereka.

Ku amati mereka di bawah sana berlalu lalang dengan kesibukan yang ada. Ada yang datang dan pergi dengan senyum ataupun dengan raut lelah yang menghiasi wajah. Berbeda dengan ku yang menepi di antara sudut ruang dengan banyaknya buku. Aku pernah bertanya pada diriku sendiri “apa salahku hingga mereka semua seolah tak menyukaiku dan membenciku?” maka biarlah jika mereka tidak menyukaiku berada di antara mereka, biar aku menepi di ruang yang bisa menerimaku dengan apa adanya.

Seiring dengan berjalannya waktu aku sadar bahwa tidak ada yang lebih mencintaiku selain diriku sendiri.  Tak ada yang lebih peduli padaku selain diriku sendiri. Dan tak ada yang bisa lebih memahamiku selain diriku sendiri. Maka Tuhan berilah aku kekuatan untuk bisa menghadapi segala cobaan yang ada dan beri aku kekuatan agar aku tak lemah oleh keadaan. 







Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar