Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Kun Anti


Sumber: Dokumen Pribadi


Oleh: A'yuni Sabila Khusna

(Bagian 1)
 “Sok banget jadi orang, anak presiden?”

“Jutek banget dia jadi orang”

“owh...... itu orangnya”

“Belajar yang rajin nak!”

       Kalimat yang sudah menjadi makanan sehari – hari, masuk telinga kanan kemudian keluar telinga kiri. Itulah yang dia lakukan untuk menenangkan hatinya. Marah sudah biasa, tapi tak pernah terucapkan dengan kata. Diam adalah senjata utama untuk hatinya yang sedang tidak baik – baik saja. Perkenalkan “Diajeng Eri Fitri”, biasa dipanggil Eri. Gadis cantik yang tumbuh dari keluarga berpendidikan dan mapan. Banyak anak sebayanya yang ingin menjadi Eri dimana semua serba berkecukupan. 
Eri adalah lulusan terbaik di SMP nya, dimana dia mendapatkan nilai Ujian Nasional terbaik di sekolah. Ketika dia hendak melanjutkan ke jenjang selanjutnya yaitu SMA. Itu bukanlah hal yang membuatnya dilema karena peluang dia untuk masuk ke SMA favorit sangatlah besar, disamping dia berprestasi di bidang akademik, dia juga aktif dalam hal non akademik. 

Suatu ketika di rumah 

Mama: “Eri... kamu harus masuk ke SMA 1, banyak anak dari teman mama yang akan sekolah disana.”

Eri: (diam tidak ada jawaban)

Mama: “Minggu depan adalah tes untuk ujian masuk SMA, persiapkan buat tes besok!”

Tanpa menanggapi pernyataan dari mamanya, Eri langsung masuk ke kamarnya dengan keramaian di benak pikirannya. Eri merasa pernyataan dari mamanya bukanlah hal yang patut untuk dijawab, karena dia merasa masa SMA adalah masa dimana dia yang akan menentukan sendiri dimana dan bagaimana dia akan menata masa depannya. Sementara itu, ketika Eri sedang mencari-cari daftar SMA, tiba – tiba dia terpikirkan untuk melanjutkan SMA sekaligus masuk asrama. Eri pikir itu adalah cara terbaik untuknya agar bisa hidup mandiri serta jauh dari orang tua karena menurut Eri itu adalah hal yang menarik, menantang serta sayang jika tidak untuk dicoba.  


Kemudian dia mencari beberapa daftar sekolah menengah atas yang menawarkan asrama. Dari sekian banyak pilihan, entah kenapa hati Eri sangat mantap, bergairah dan lebih tertarik untuk masuk “Pondok”. Menurutnya itu merupakan ide yang bagus untuk masuk ke pesantren meskipun latar belakang dari orang tuanya bukanlah lulusan dari pondok pesantren. Tetapi dia sangat tertarik untuk masuk ke pesantren, kemudian dia mencari – cari info tentang pondok pesantren entah itu yang modern atau salafi. Dia mencari beberapa artikel di Google serta melihat beberapa video profil pondok. Setelah beberapa jam Eri sibuk dengan laptop dan gadget, akhirnya pilihan Eri jatuh untuk meneruskan SMA di salah satu Pondok Modern di Ponorogo. Eri lebih tertarik untuk masuk Pondok Modern karena di sana menawarkan program bilingual yaitu berbahasa Arab dan Inggris. Disamping itu ada beberapa program pondok yang mana membuat para santri – santrinya tidak akan kalah dan tertinggal dengan kemajuan serta perkembangan zaman yang ada. Oleh sebab itu Eri lebih yakin untuk masuk ke Pondok Modern. 


Ketika keluarga Eri sedang berkumpul di meja makan untuk makan malam, Eri menyampaikan apa yang menjadi pilihannya. 


Eri: “Papa... mama... Eri mau masuk ke pondok.”

Papa: “Kenapa kamu mau masuk ke pondok nak? Ada banyak SMA favorite yang bisa kamu tembus.” 

Mama: “Benar Eri, SMA yang mama tawarkan tadi pagi itu adalah SMA favorit, banyak dari anak pejabat negeri ini yang daftar disana. Kamu kok malah mau masuk pondok nak?” 

Papa: “Kamu tahu kan nak, papa sama mama bukan lulusan pondok, kamu yakin mau masuk pondok? Kalau kamu masuk SMA peluang kamu kerja lebih dan jadi pegawai negeri luas Eri.”

Eri: “nggak ma... nggak pa... bukan itu yang Eri maksud, Eri mau hidup mandiri, Eri mau Eri sendiri yang menentukan gimana Eri menata masa depan Eri. Eri bukan anak kecil lagi yang harus dibimbing, yang harus disuapin segala hal. Ini hidup Eri biarkan Eri yang nentuin gimana jalannya. Tolonglah kasih Eri ruang untuk mencari jati diri Eri sendiri.” 

Mama: “nak... kamu kenapa sih? Kamu habis kenapa? Apa yang kurang dari mama papa?”
 
Eri: “ma... tolonglah ngertiin Eri” 

Papa: “udah ... sudah kita bahas lain waktu!”
 
Seketika suasana makan malam menjadi sunyi, hanya terdengar suara gesekan sendok dan garpu. Makanan yang telah dimasak oleh bibi dengan penuh rasa seakan terasa hambar untuk mereka bertiga. Ketiganya sedang bergelut dengan pikirannya masing – masing untuk menentukan bagaimana jalan keluarnya. 


Di dalam keluarga sosok ayah adalah pemimpin untuk istri serta anak, pemimpin adalah orang yang bertanggung jawab untuk kebahagiaan, kedamaian serta kesejahteraan keluarganya, pemimpin berhak untuk memutuskan apakeputusan yang terbaik untuk keluarganya. Setelah memikirkan, memperkirakan untuk kedepannya serta saran dari teman – temannya. Akhirnya ayahnya Eri memutuskan apa yang terbaik untuk Eri. 


Keesokan harinya setelah ayah Eri pulang kerja, dia meminta Eri untuk datang ke ruangan ayahnya yang mana disana terdapat ibu Eri yang juga telah mantab memutuskan apa yang terbaik untuk Eri. 


Eri: “Ada apa papa dan ibu memanggil Eri? Sudah Eri bilang kan pah... mah.. Eri nggak mau masuk SMA favorit, Eri tetap teguh pendirian dengan keputusan Eri, sekeras apapun mama sama papa minta, Eri tetep nggak mau masuk SMA favorit.” 

Mama: “Eri... nak tunggu dulu, dengarkan penjelasan dari mama papa.”

Diam.... tidak ada kata yang terlontar dari mulut Eri. 

Papa: “Eri sayang.... papa sama mama tahu kalau Eri sudah dewasa, benar Eri berhak untuk menentukan masa depan Eri sendiri. Tapi perlu diingat Eri, Eri belum bisa hidup tanpa mama dan papa” 

Eri: “Terus..... maksudnya apa?”

Papa: “Setelah pertimbangan dari mama dan papa, iya... mama dan papa membolehkan Eri masuk pondok.” 

Kalimat yang singkat tapi sangat bermakna bagi Eri, dia tidak menyangka bahwa orang tuanya mengizinkan Eri masuk pondok. Impiannya untuk hidup mandiri serta keluar dari zona nyamannya akhirnya terbuka. Inilah awal dari kisah Diajeng Eri Fitri dimulai. 

(Bagian 2)

      Suasana ramai akan massa memenuhi Pondok Modern, mobil dan motor serta para wali santri berlalu lalang di depan halaman Pondok Modern. Suasana ramai di awal semester menandakan bahwa telah berakhirnya liburan bagi seluruh santri lama dan lembaran baru bagi para santri baru di pondok. Hari kedatangan para santri membawakan kabar gembira serta duka, kabar gembira datang karena santri bisa bertemu kembali kawannya serta para Ustadz serta Ustadzahnya untuk menuntut ilmu, akan tetapi kabar duka karena mereka harus berpisah lama dengan orang tuanya guna kelancaran dalam belajar. 


Ini adalah momen yang benar – benar dinantikan oleh Eri, momen untuk menuntut ilmu jauh dari orang tua serta keluar dari zona nyaman. Tidak ada kata yang bisa mendeskripsikan perasaan Eri. Lega, itulah yang saat ini dirasakan Eri ketika dia sampai di halaman Pondok Modern Putri. 


Mama: “Eri barang – barangmu tidak ada yang tertinggal kan di rumah? Aduh... kalau sampai ada yang tertinggal mama sama papa kerepotan nanti karena jarak dengan rumah kita jauh nak!” (gerutu mama Eri khawatir)

Eri: “Tenang ma.. semalam Eri sudah menyiapkan dengan rapi dan teliti, toh Eri juga bikin daftar barang yang mau Eri bawa,” (saut Eri sambil membantu papanya untuk menurunkan beberapa barang dari bagasi mobil)

Mama: “Sudah siap semua barangnya pa?”
 
Papa: “Sudah ma.... ayo Eri biar papa sama mama antar masuk ke dalam pondok.”

Eri: “Loh.... papa bukannya nggak boleh masuk pondok putri ya?” (tanya Eri heran kepada papanya sambil mengernyitkan dahi karena penasaran)

Papa: “Iya nak, papa cuma mengantar Eri sampai depan gerbang asrama, selebihnya mama yang akan bantu Eri buat kedalam dan menata barang – barang Eri nanti. Papa nanti mau ke bagian administrasi untuk mengurus berkas – berkas Eri.” 

Tak ada tanggapan dari Eri, tanpa banyak basa basi Eri langsung menggendong tas ransel kemudian membawa dua tas jinjing masuk kedalam asrama putri kemudian disusul mamanya Eri dari belakang. 

Pemandangan yang sangat asing bagi Eri, dimana asrama penuh dengan barang – barang santri baru yang masih berantakan di mana – mana. Suara tangisan santri sudah seperti saling bersahutan antara kamar satu dengan kamar yang lainnya. Heran, itulah yang sekarang difikirkan Eri. Mengapa para santri harus menangis ketika mereka akan berpisah dengan orang tua mereka? Bukanlah tujuan masuk pesantren adalah pilihan mereka sendiri? Lantas kenapa harus bersedih? Jika tidak berminat untuk masuk ke pondok, mengapa mereka tetap pergi kesini? Pertanyaan yang ramai di benak pikiran Eri.

 
Ustadzah: “Permisi ibu... ada yang bisa saya bantu?”

Mama: “Owh iya iya... ini dengan calon ustadzahnya Eri ya?”

Ustadzah: “Inggih .... benar ibu saya ustadzah disini dan akan menjadi wali kelas untuk santri baru.”

Mama: “Begitu ya ustadzah, ini ustadzah anak saya nama panggilannya Eri. Mohon bimbingannya untuk anak saya belajar di sini ya ustadzah.”
 
Eri membungkukan badan tanda hormat serta tersenyum tipis kepada ustadzahnya sebagai ucapan tanda perkenalan. Seperti biasa tak ada kata yang terlontar dari mulut Eri untuk ustadzahnya. Kelu bagi Eri untuk bisa langsung sok kenal sok dekat atau biasa disingkat dengan (SKSD) dengan orang yang baru saja ditemui. Akan tetapi ustadzahnya tidak menganggap serius dengan sikap Eri, beliau tetap memberikan senyum manisnya kepada Eri dan mamanya. 

Mama: “Ngomong – ngomong namanya ustadzah siapa ya?” (tanya mama Eri sambil memberikan senyum kaku karena merasa bersalah karena tidak berkenalan terlebih dahulu) 

Ustadzah: “Nama saya Laila bu, Siti Nur Laila Khasanah untuk nama lengkapnya.” (respon ustadzah kepada mama Eri sambil tetap memberikan senyum manisnya) 

Mama: “Walah ustadzah Laila namanya saya Ar...” (belum selesai mamanya Eri untuk memperkenalkan diri tiba – tiba Eri menyela percakapan)

Eri: “Ma... ayo antar Eri ke kamar” (rengek Eri kepada mamanya) 

Mama: “Oh iya iya, permisi ustadzah saya antar anak saya ke kamarnya dulu” 

Ustadzah: “Inggih bu, Eri kamar berapa nggih?”

Mama: “Kamar 305 ustadzah yang paling besar gitu tadi saya lihat petanya.”

Ustadzah: “Inggih bu, ibu sama Eri lurus saja nanti ada tangga ke atas itu depannya ada kamar besar seperti aula, nah itu kamar 305.”

Mama: “Ya Allah..... terima kasih ustadzah arahannya, mari ustadzah” (pamit mama Eri kepada ustadzah Laila)


Sesampainya di kamar Eri yaitu kamar 305, Eri dan mamanya langsung disambut hangat oleh pembimbing kamar yang akan mendampingi Eri selama kurang lebih satu tahun lamanya. Kemudian Eri dibimbing untuk memilih letak almari serta ranjang yang sekiranya nyaman untuk Eri. Dan akhirnya Eri memilih letak almari dan ranjang di tengah – tengah kamar, karena menurutnya itu adalah letak yang paling strategis. 


Setelah semua barang – barang Eri tersusun rapi dan kiranya semua sudah beres, tibalah waktunya Eri untuk berpisah dengan papa dan mamanya. Tak seperti santri lain menangis sedih ketika berpamitan dengan orang tua mereka, Eri justru senang karena dia akhirnya bisa merasakan bagaimana rasanya menjalani hidup mandiri tanpa kedua orang tuanya. 


Mama: “Jaga diri baik – baik ya Eri, pola makannya tetap dijaga, jangan sering mandi malam – malam. Kalau ada apa – apa yang sekiranya Eri butuh bantuan jangan sungkan menghubungi ustadzah Laila. Mama sudah berpesan untuk menitipkan Eri kepada ustadzah Laila.”


Tak ada tanggapan dari Eri, hanya anggukan kepala pertanda bahwa dia mengerti apa yang dipesankan oleh mamanya. 
Papa: “Jangan bandel di pondok Eri, belajar bersosialisasi dengan yang lain, perbanyak teman, Eri nggak akan mampu hidup sendiri.” 


Eri: “Hmmm” (gumam Eri pertanda mengerti) 

Papa: “Papa dan Mama pulang Eri, baik – baik di pondok.”

Eri: “Iya.. pa.. ma.. hati – hati di jalan!”

(Bagian 3)

Culture shock. 

Itulah yang dirasakan Eri, dimana kehidupan pesantren tak seindah, senyaman, dan tak semenyenangkan yang dibayangkan. Eri yang memiliki kepribadian condong introvert (sulit terbuka dengan banyak orang) membuatnya merasa sedikit tertekan. Banyak sekali masalah yang dihadapi Eri seperti contohnya: tiba – tiba jemurannya digeser sehingga pakaiannya tidak kering, barang sering kali hilang entah dimana, sampai ia sulit untuk mendapatkan teman dikarenakan kepribadiannya yang tertutup dan terkesan jutek. 

Suatu ketika Eri sedang mengantri untuk membeli beberapa makanan ringan di koperasi, tiba – tiba ada seorang santri yang dengan santainya menyela antrian dan itu membuat giliran Eri masuk ke koperasi lebih lama. Dikarenakan jam istirahat yang hanya seperempat jam, akhirnya Eri dengan berani menegur santri yang menerobos. 

Eri: “Afwan (kata maaf dalam bahasa Arab) kalau mau mengantri itu dari belakang ukhti, kasian yang lainnya sudah berdiri lama untuk mengantri beli makanan juga.”

Seketika suasana menjadi sedikit ricuh, terdengar sama suara beberapa santri yang berbisik di belakang Eri. Yang membuat Eri sedikit jengkel adalah tidak ada seorangpun yang membela dia untuk membenarkan ucapannya. Semua santri bungkam suara, entah itu dikarenakan takut atau mereka hanya sekedar malas untuk sedikit ikut campur.  

Akan tetapi dengan Eri unjuk suara, akhirnya santri yang mencoba menerobos akhirnya mengalah untuk pergi dan berkata:
Santri 1: “Sok banget jadi orang, anak presiden?”. (sindir santri tipis sambil berlalu melewati Eri)


Masalah baru, tentu saja dimana Eri yang berstatus santri baru sudah mulai mendapatkan masalah dengan teman santrinya. Akan tetapi itu sama sekali tidak menyakiti hati Eri, karena Eri selalu berpegang teguh dengan prinsip hidupnya bahwa “Jika dia melakukan hal yang memang benar adanya, kenapa harus merasa takut”. 

Ustadzah: “Hal fahimtunna? (apakah kalian sudah paham?)”

Para santri: “Na’am fahimna yaa ustadzah. (iya kita sudah paham ustadzah).” (jawab seluruh santri dengan serentak)

Ustadzah: “Thayyib (baik). Karena kalian sudah paham, maka ustadzah ingin tahu sampai mana pemahaman kalian.”
Seketika suasana di kelas hening tanpa adanya satupun tanggapan dari para santri. Mereka sudah mengerti bahwa ustadzah pastinya akan memberi mereka tugas sebagai tolak ukur seberapa paham santri tentang materi yang diberikan kepada mereka.
Ustadzah: “Kalian kerjakan soal Muthola’ah di bab dua dari nomor satu sampai nomor sepuluh saja. Apakah ada pertanyaan mengenai tugas?”
Eri: “Tidak ada ustadzah, semuanya sudah cukup jelas.” (jawab Eri dengan tegas)
Ustadzah: “Alhamdulillah, ustadzah yakin semuanya juga sudah paham dan jelas ya. Baiklah ustadzah tutup pelajaran kita pada siang hari ini. Ma’an Najah (semoga sukses) anak – anak, Wassalamu’alaikum”  
Para santri: “Wa’alaikumsalam, syukron (terima kasih) ustadzah.”
Selagi menunggu ustadzah yang akan mengisi di pelajaran selanjutnya, beberapa santri ada yang pergi ke toilet untuk sekedar wudhu agar tidak mengantuk, ada yang sedang bergerombol untuk ghibah (gosip) dengan temannya, ada yang tidur karena tidak kuat menahan rasa kantuk, sedangkan Eri mengisi waktu kosongnya dengan mencoba mencicil untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh ustadzahnya. Seperti kata pepatah “Waktu itu seperti pedang, jika kita tidak bisa memanfaatkannya maka itu akan membunuh kita” jadi Eri mengamalkan apa yang telah ia pahami dari pepatah tersebut. 
Ketika dia sedang asik bergelut untuk memecahkan beberapa soal, tiba – tiba ada salah satu teman yang menghampirinya, namanya adalah Shinta. 
Shinta: “Eri sudah sampai mana kamu ngerjain soalnya?” (tanya Shinta dengan nada sedikit penasaran)
Eri: “Udah dapet empat soal, ini mau lanjut ke soal nomor lima” (tanggap Eri seadanya)
Shinta: “Owh iya iya..., nanti aku lihat boleh kan Eri?”
Eri: “Haa maksudnya gimana?” (toleh Eri memandang Shinta dengan raut wajah bertanya – tanya sambil menaikkan satu alis)
Shinta: “ hahahaha gitu amat Eri ekspresinya, aku dan temanku nanti nggak berniat nyontek Eri kok, maksudku kita nanti saling bertukar jawaban gitu, nah misal ada yang nggak sama kita diskusiin bareng – bareng.” (jelas shinta kepada Eri)
Eri: “Oh ide yang bagus, maaf ya udah berpikiran buruk.”
Shinta: “Santai saja Eri, aku nggak masukin hati kok.”
Eri: “Oke, tunggu ya” (pinta Eri kepada Shinta, hingga pada akhirnya Eri lanjut bergelut dengan beberapa soal yang tersisa)
Ketika Shinta sudah sampai di bangkunya, seketika temannya yang melihat percakapan antara Shinta dan Eri memberi tanggapan. 
Teman Shinta: “Jutek banget dia jadi orang” 
Shinta: “Hush... ndak boleh ngomong gitu atuh, kita kan belum saling kenal lama, wajar saja Eri bersikap seperti itu, ingat suudzon (berprasangka buruk) itu tidak baik loh.”
Teman Shinta: “Iya ... iya bu nyai, bawel banget dah” (ejek teman shinta sambil tertawa renyah)
Tidak lama setelahnya akhirnya mereka bertiga pun saling bertukar jawaban dan saling mendiskusikan beberapa soal yang jawabannya berbeda. Dari situlah awal mula kedekatan Eri dan shinta, keduanya merasa cocok antara satu dan lainnya sehingga menimbulkan chemistry.
(Bagian 4) 
Hari jumat adalah hari yang sangat dinantikan bagi seluruh santri, karena hari jumat adalah hari liburnya kelas belajar mengajar sehingga para santri bisa melakukan aktivitas yang lainnya. Selain itu, suasana pondok ketika hari jumat adalah suasana yang penuh dengan kesenangan, bagaimana tidak? Hari jumat adalah satu – satunya hari dimana wali santri diperbolehkan untuk menjenguk putra maupun putri mereka di pondok sehingga, antara santri dan wali santri bisa saling melepas rindu. 
Setelah sholat subuh serta pembacaan surah Al Kahfi secara berjamaah di masjid, para santri segera bergegas untuk berpakaian olahraga dan pergi ke lapangan utama pondok untuk melaksanakan olahraga bersama – sama. Bertepatan hari jumat ini agenda olahraganya adalah bermain bola kasti. Beberapa santri berhitung mulai satu sampai dua belas guna untuk pembagian kelompok. Eri mendapatkan kelompok tujuh, dan di dalam kelompoknya masih banyak kakak kelas maupun teman seangkatannya yang belum Eri kenal. Alhasil, dia lebih banyak diam dan mengikuti apa yang diperintahkan oleh kakak kelasnya. 
Ketika kelompok Eri mendapat giliran untuk bermain, Eri bertugas untuk memukul bola kasti yang dilemparkan kelompok musuh. Pukulan Eri meleset pada lemparan pertama sehingga memberikan satu poin untuk tim musuh. Pukulan kedua juga sama, pukulan Eri meleset. Eri sangat pesimis karena dia tidak berhasil dalam memukul bola lemparan lawan. Eri meminta untuk tukar peran pemain tetapi ketua kelompok Eri tidak menyetujui itu. 
Eri: “Ukhti ana (saya) tidak bisa memukul bola, ana mau ganti peran.”
Ketua kelompok: “Sudah Eri tidak apa – apa, namanya juga masih awal. Yang terpenting itu pengalaman.” (nasehat ketua kelompok sambil menepuk pundak Eri guna menenangkan kegelisahan Eri)
Eri: “Tapi Eri tidak enak sama yang lain ukhti, pasti mereka juga ingin menang.”
Ketua kelompok: “Coba lihat, adakah dari wajah mereka yang terlihat marah? Nggak ada bukan? Mereka semua baik – baik saja. Sekarang kamu tidak perlu memikirkan pendapat orang lain tentang Eri, Eri cukup fokus gimana caranya Eri bisa memukul bola itu. Menang dan kalah itu suatu hal yang biasa. Ingat, ini bukan lomba Eri, ini cuma olahraga rutin pondok. Dibawa santai ya Eri, yuk semangat main lagi.” 
Eri menangguk tanpa menanggapi pernyataan dari ketua kelompoknya dan langsung menuju ke tengah lapangan untuk melanjutkan permainan. 
Mereka melanjutkan permainan. Eri sudah berusaha semaksimal mungkin agar kelompoknya bisa menang tetapi apalah daya, dikarenakan Eri yang tidak memiliki bakat bermain bola kasti, akhirnya kelompoknya kalah dengan nilai 0 : 5.
Eri: “Maafkan Eri ya, gara – gara Eri kelompok kita kalah”
Ketua kelompok: “Hahahaha, sudah Eri tidak perlu ada yang disesali. Ini hanya permainan biasa kok, bukan lomba.”
Eri: “Iya Ukhti, tapi Eri minta maaf banget ya.. kalau memang bikin malu.”
Teman sekelompok: “Laa ba’sa (tidak apa – apa)” (jawab mereka serentak)
Sontak suasana menjadi ricuh dengan tawa para santri karena melihat respon Eri yang bingung dan bertanya – tanya. Setelah jam olahraga selesai, para santri kembali ke asrama mereka masing – masing untuk melakukan bersih – bersih pondok secara masal. Tiba – tiba seorang santri menghampiri ketua kelompok Eri.
Santri 2: “Ukhti, tadi yang sekelompok sama kamu siapa namanya?”
Ketua kelompok: “Yang mana ukhti? Banyak orang masalahnya di kelompokku.”
Santri 2: “Itu loh, yang tadi perannya memukul bola tapi nggak kena – kena, kasihan banget kayak memaksa gitu.”
Ketua kelompok: “Oalah, namanya Eri ukhti, kenapa emang?”
Santri 2: “owh...... itu orangnya, masak kamu nggak tau kasusnya Eri yang dikenal dengan orang yang sok, jutek, mana kemarin berani menegur kakak kelas waktu antri di koperasi.”
Ketua kelompok: “Astaghfirullah, kenapa kamu langsung menilai seperti itu sih? Nggak boleh tau.”
Santri 2: “Loh aku nggak asal menilai loh. Itu fakta, banyak yang bilang gitu soal dia.”
Ketua kelompok: “Terserah wes, inget “don’t judge a book by it’s cover”, diamalkan ukhti jangan Cuma dihafal.”
Santri 2: “Aish ... nggak asik banget diajak ghibah”
Mereka akhirnya berpisah dan kembali ke asrama masing – masing.
(Bagian 5)
Malam menunjukkan pukul 22.00 WIB. Seluruh santri diwajibkan untuk segera tidur agar besok ketika subuh tidak susah bagi pengurus untuk membangunkan. Ketika Eri bersiap – siap untuk tidur, dia dipanggil oleh pengurus untuk menuju ke kamar ustadzah. Takut, heran dan cemas berperang keras di kepala Eri. Masalahnya dia tidak merasa melakukan hal yang salah sampai – sampai dia harus dipanggil ke kamar ustadzah. Setibanya Eri di kamar ustadzah, Eri mengetuk pintu kamar dan mengucapkan salam.
Eri: “Assalamualaikum ustadzah, hadza Eri (Ini Eri)”
Ustadzah: “Iya Eri, tunggu sebentar ya.”
Eri: “na’am (baik) ustadzah.”
Ustadzah keluar dari kamar dengan senyuman manis di wajahnya. Eri bertambah bingung dengan keadaan. Kemudian ustadzah mengeluarkan benda dari saku bajunya dan disodorkanlah kepada Eri.
Ustadzah: “Tadi ibumu menelpon, coba Eri telfon ulang ya.. siapa tau ada hal penting yang ingin ibu Eri sampaikan.”
Eri: “Baik ustadzah” (jawab Eri sambil menghela nafas panjang, karena yang ditakutkannya hanyal dari pikiran eri semata)
Eri langsung menelpon ulang mamanya kemudian menanyakan apa yang membuat mamanya harus menelpon Eri malam seperti ini. Ketika suara telepon tersambung.
Eri: “Hallo, Assalamualaikum Ma... ini Eri, mama kenapa malam – malam menelpon Eri?.”
Mama: “Waalaikumsalam, Oh iya Eri... itu minggu besok seharusnya jadwal mama sama papa jenguk Eri di pondok, tetapi besok papa ada acara di Hotel jadi mama mau ngabarin kalo minggu besok mama hanya transfer uang aja ke rekening Eri.”
Eri: “Oh.... mama cuma mau nyampein itu doang? Iya nggak apa – apa kok ma, terserah mama sama papa mau jenguk Eri kapan, Eri juga bukan anak kecil lagi.”
Mama: “Eri... mama dengar minggu besok itu sudah jadwalnya ujian ya... Belajar yang rajin nak! Jangan bikin malu mama papa ya Eri, duh apalagi setiap ketemu temannya papamu itu bu Dewi yang selalu pamer prestasi anaknya. Eri juga harus bisa kalau perlu dapet yang lebih biar besok mama bisa bungkam mulutnya bu Dewi itu” (cerita mamanya Eri dengan nada yang amat geram)
Eri: “Udah ya ma Eri ngantuk, nggak mau tidur malam takut besok telat sholat subuhnya. Bye ma... Assalamualaikum.”
Eri langsung menutup telepon dengan mamanya tanpa mau mendengar ucapan salam balik dari mamanya. Eri kemudian mengembalikan hp tersebut tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada ustadzahnya. Eri mengecup punggung tangan ustadzah dan pamit kembali ke kamar.
Sesampainya di kamar Eri tidak langsung tidur, melainkan menuliskan beberapa kata demi kata di sebuah buku harian.
“Dear Allah... Ya Rahman Ya Rahim.
Kenapa semua orang seakan tidak ada satupun yang bisa memahami Eri. Dari keluarga yang kukira adalah sebuah rumah, tempat ternyaman untuk pulang malah menjadi penjara yang selalu mengekang, menuntut, melarang segala hal. Tak ada ruang untuk bernafas, tak ada celah untuk tertawa lepas, tak ada alasan untuk bisa bertahan di tempat biasa disebut tempat kembalinya pulang. Memang benar adanya, terkadang orang dewasa tidak sadar bahwa apa yang mereka lakukan itu tidak semuanya benar. Papa ..... Mama, asal kalian tahu, Eri menjadi karakter Eri yang ini karena didikan papa dan mama.
Teman? Siapa teman yang sekarang bisa kupercaya? Mereka mendekati karena ada maunya, bukan karena benar – benar ingin menjalin ikatan. Eri sudah bosan dengan kalimat manis di awal tetapi menghancurkan ketika di belakang.
Apa salah jika Eri terlalu membatasi diri?
Keadilan? Ha ha ha ha, dimana letak keadilan sosial?
Buktinya pembela kebenaran malah mendapat olokan. Bukannya mendapat sanjungan malah tindasan. Terkucilkan di kehidupan sosial, mendapatkan sebutan “Sok” hanya karena membela orang, sungguh miris keadaan sosial jaman sekarang.
Yang Eri inginkan tak lebih tak bukan hanyalah hidup normal seperti orang –orang biasanya. Mendapatkan tempat sosial yang memang mau menerima Eri dengan semua karakter yang Eri punya. Memiliki teman yang tulus adanya, sehingga tak ada dusta antara kita, dan menemukan definisi tempat singgah untuk pulang yang sebenarnya.
Bagaimanapun skenarionya, Eri serahkan kepada Tuhan Semesta alam Allah SWT, Eri percaya bahwa, semua pasti akan happy ending pada masanya, jika belum happy ending berarti ceritanya belum berakhir bukan?.
Bismillah, semangat Eri.
Allah tidak akan membebani seseorang, melainkan dia benar – benar dipandang mampu untuk melewatinya.
All is well, let it be, let it flow.
Good luck for me.
Ponorogo, 20 Oktober 2022.”
Eri menutup pulpen dan buku hariannya, menyeka air mata dari pipinya, dan menghela napas sepanjang – panjangnya. Berusaha menutup mata untuk menjalani hari esok yang luar biasa. Berdoa dengan penuh harap agar dunia esok mungkin bisa sedikit lebih baik padanya. Tak lupa sebelum tidur, Eri memaafkan dirinya, orang yang mungkin menyakitinya dan tak lupa puji syukur karena mampu bertahan sampai titik dimana seharusnya dia sudah tak mampu untuk berjuang.  
-         TAMAT -


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar