Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Kisah Rasul; Hasyim bin Abdul Manaf

https://www.instagram.com/p/CjJnY4ehNVE/?igshid=ZDZjYjU5YmM=
 

Oleh : Ilman Mahbubillah


ليس نحن من يحي ذكراك يارسول الله بل ذكراك هي التى تحييناا

“Bukan kami yang menghidupkan peringatan hari lahirmu wahai Rasulallah, tetapi peringatan hari lahirmu lah yang menghidupkan kami"


Salah seorang nenek moyang Nabi Muhammad SAW bernama Hasyim bin Abdul Manaf. Ia adalah pemuka masyarakat dan orang yang berkecukupan. Masyarakat Mekah mematuhi dan menghormatinya. "Wahai penduduk Mekah, aku membagi perjalanan kalian menurut musim. Jika musim dingin tiba, pergilah berdagang ke Yaman yang hangat. Jika musim panas, giliran kalian pergi ke Syam yang sejuk!", demikian keputusan Hasyim. 

Hasyim tambah disayangi penduduk Mekah karena pada suatu musim kemarau yang mencekam, ia pernah membawa persediaan makanan dari tempat yang jauh Padahal, saat itu makanan amat sulit didapat. "Terima kasih, wahai Hasyim! Engkau menolong kami dengan pemberian makanan ini!" seru penduduk Mekah. 

Di bawah kepemimpinan Hasyim, Mekah berkembang menjadi pusat perdagangan yang makmur. Pasar-pasar didirikan sebagai tempat berniaga kafilah-kafilah dagang yang datang dan pergi silih berganti, baik pada musim panas maupun pada musim dingin. 

Riwayat menjelaskan bahwa betapa pandainya penduduk Mekah dalam berdagang, sampai-sampai tidak ada pihak lain yang mampu menyaingi mereka. Akan tetapi, di samping kemajuan yang besar itu, masyarakat Arab juga mengalami kemunduran luar biasa. Itulah sebabnya mereka dijuluki masyarakat jahiliah alias masyarakat yang diliputi kebodohan. Itulah juga sebabnya sampai Allah mengutus rasul terakhir-Nya di tempat ini.

Cinta dan Estafet Perjuangan

Suatu hari, Hasyim pergi berdagang menuju Syam. Ketika melewati Yatsrib, (di kemudian hari disebut Madinah), Hasyim melihat seorang wanita baik-baik dan terpandang. "Siapakah wanita itu?" tanya Hasyim kepada orang-orang Yatsrib. "Dia adalah Salma binti Amr." "Suaminya telah tiada. Kini dia seorang janda."

Mendengar itu, Hasyim melamar Salma dan Salma pun menerimanya. Mereka lalu menikah. Hasyim tinggal di Yatsrib beberapa lama. Ketika Salma mengandung, Hasyim melanjutkan perniagaannya. Namun, itulah kali terakhir Salma melihat suaminya karena Hasyim tidak pernah kembali lagi. Ia meninggal dunia di Palestina. 

Salma melahirkan seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Syaibah. Nama Syaibah diberikan karena ada rambut putih (uban) di kepalanya sejak dia kecil. Selain Syaibah, Hasyim telah memiliki empat putra dan lima putri yang tinggal di Mekkah.

Sementara itu, sepeninggal Hasyim, kedudukannya sebagai pemuka masyarakat Mekkah dipegang oleh adik Hasyim yang bernama Al Muthalib. Al Muthalib juga seorang laki-laki terpandang yang dicintai penduduk Mekkah. Orang-orang Quraisy menjulukinya dengan sebutan Al Fayyadh yang berarti Sang Dermawan. 

Suatu hari, dia mendengar bahwa Syaibah, keponakannya yang tinggal di Yatsrib, sedang tumbuh remaja. "Aku harus menemuinya," pikir Al Muthalib, "Dia adalah anak kakakku. Dulu ayahnya adalah pemuka Mekah, maka dia harus pulang untuk melanjutkan kekuasaan ayahnya menggantikan aku."

Pertemuan dan Kasih Sayang

Ketika Al Muthalib bertemu Syaibah di Yatsrib, dia tersentak, "Anak ini benar-benar mirip Hasyim." "Mari Nak, ikut Paman ke Mekah," peluk Al Muthalib. “Tetapi, jika ibu tidak mengizinkan pergi, aku akan tetap tinggal di sini," jawab Syaibah.

Tak menyerah, Al Muthalib meminta Syaibah untuk dipertemukan dengan ibunya. "Tidak. Aku tidak akan membiarkannya pergi" jawab Salma. "Dia buah hatiku satu-satunya. Wajahnya lah yang senantiasa mengingatkan aku akan wajah ayahnya". "Aku juga menyayangi Hasyim", jawab Al Muthalib, 

"Bukan cuma aku, tetapi penduduk kota Mekah juga menyayanginya. mereka pasti akan senang sekali menyambut kedatangan putra Hasyim. Begitu melihat wajah anak ini, rasa sayangku timbul kepadanya. Seolah-olah aku melihat Hasyim hidup kembali & berdiri di hadapanku. Izinkan aku membawanya pergi. Sesungguhnya Mekah adalah kerajaan ayahnya & Mekah adalah tanah suci yg di cintai oleh seluruh bangsa Arab. Tidakkah pantas putramu pergi ke sana & melanjutkan pemerintahan ayahnya?"

Salma memandang Syaibah dengan mata berkaca-kaca. Hatinya ingin agar putra satu-satunya itu tetap tinggal di sisinya. Namun, ia tahu masa depan Syaibah bukan di Yatsrib, melainkan di Mekkah. Akhirnya, ia pun mengangguk, "Baiklah, kuizinkan ia pergi."

Calon Pemimpin yang disangka budak

Dengan amat gembira, Al Muthalib mengajak keponakannya itu pulang. Syaibah duduk membonceng unta di belakang pamannya. Ketika mereka tiba di Mekkah,  orang-orang menyangka bahwa anak yang duduk di belakang Al Muthalib adalah budaknya.

"Abdul Muthalib (Budak Al Muthalib)! Abdul Muthalib!" Panggil mereka kepada Syaibah. "Celaka kalian! Dia bukan budakku, dia anak saudaraku, Hasyim!" Namun, orang-orang terlanjur menyebutnya demikian sehingga akhirnya nama Syaibah pun terlupakan. Setelah itu, dia dikenal dengan nama Abdul Muthalib. Yang kelak menjadi kakek Nabi Muhammad SAW. 


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar