Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Kisah Rasul; Abdul Mutholib dalam Perjuangan Zam-zam



Oleh : Ilman Mahbubillah

Setelah tumbuh dewasa, Abdul Muthalib pun menjadi seorang pemuka Mekah sebagaimana Hasyim, bapaknya. Sementera itu, ketika Hasyim meninggal dunia, keseluruhan hartanya dikuasai oleh Naufal, adiknya yang terkecil. Abdul Muthalib pun hendak meminta harta ayahnya, tetapi awalnya Naufal menolak karena menganggap Abdul Mutholib masih terlalu dini untuk mendapatkannya. Abdul Muthalib kemudian meminta bantuan kerabat ibunya yang tinggal di Yatsrib Orang-orang Yatsrib mengirimkan 80 pasukan berkuda. Naufal pun akhirnya dengan sukarela menyerahkan harta Hasyim kepada Abdul Muthalib.

Prinsip Teguh akan Keyakinan

Abdul Muthalib adalah pengurus air dan makanan bagi tamu-tamu yang datang ke Mekah. Mengurusi air pada zaman itu sangat sulit karena setelah ratusan tahun Sumur Zamzam tertimbun, dan pasokan air harus didatangkan dari beberapa sumur yang terpencar-pencar di sekitar Mekah. Namun, Abdul Muthalib tidak pernah lupa pada sejarah Mekah, bahwa dulu pernah ada mata air yang menghidupi seluruh Mekah, mata air yang memancar keluar oleh kaki Ismail.

“Aku harus menemukannya!" pikir Abdul Muthalib. “Aku harus menemukan kembali Sumur Zamzam yang telah dilupakan orang!”, “Apalagi aku adalah orang yang bertugas dan paling bertanggung jawab untuk menyediakan air dan makanan bagi penduduk Mekah."

Setelah itu, Abdul Muthalib bergegas mengambil tembilang (alat untuk menggali bertangkai panjang) dan memanggil putra satu-satunya pada saat itu, “Harits, temani ayah mencari dan menggali kembali Sumur Zamzam!". Harits mengangguk. Kemudian, mereka mulai mencari di mana dulu letak Mata Air Zamzam berada. Setelah beberapa kali mencoba menggali di beberapa tempat, Sumur Zamzam tidak juga ditemukan.

“Ayah, mungkin Sumur Zamzam memang benar-benar hilang," kata Harits. “Tidak Nak, Ayah yakin Sumur itu masih ada! Kita harus menemukannya Orang-orang Mekah akan hidup lebih baik jika Sumur Zamzam ada di tengah kita!". Dengan gigih keduanya pun terus mencari sumur Zam-Zam. Orang-orang Quraisy, penduduk asli Mekah,melihat perbuatan mereka dengan heran.

Nadzar seorang Datuk dan Cucunya

“Mengapa engkau masih terus menggali, Abdul Muthalib? Bukankah dulu nenek moyang kita, Mudzaz bin Amr pernah menggalinya, tapi tidak berhasil?". Abdul Muthalib menaruh tembilangnya dan duduk. “Ya, ratusan tahun yg lalu Mudzaz bin Amr mertua Nabi Ismail AS pernah mencoba menggali Zamzam tp tdk berhasil. Padahal, saat itu Mudzaz telah mempersembahkan sesaji berupa pedang dan pelana berpangkal emas agar Sumur Zamzam ditemukan”.

Pada saat itu juga, Abdul Muthalib ikut bernadzar, "Kalau saja aku mempunyai 10 anak laki-laki, kemudian setelah semuanya dewasa, aku tdk memperoleh anak lagi seperti ketika sedang menggali Sumur Zamzam maka salah seorang diantara 10 anak itu akan kusembelih di Ka'bah sebagai kurban untuk Tuhan”.

Ternyata takdir memang menentukan demikian. Abdul Muthalib akhirnya mendapat 10 orang anak laki-laki. Setelah semua anak berangkat dewasa, ia tidak lagi memperoleh anak. Dipanggilnya kesepuluh orang anak itu, termasuk si bungsu Abdullah yang amat disayangi dan dicintainya. "Aku pernah bernadzar untuk menyembelih salah seorang di antara kalian jika Tuhan memberiku 10 orang anak laki-laki." Tegas Abdul Muthalib pada anak-anaknya.

Kesepuluh anaknya terdiam. Mereka beusaha memahami persoalan itu. Mereka juga melihat kebingungan yang luar biasa di mata ayah mereka yang berkaca-kaca. “Namun, aku tidak bisa menentukan siapa di antara kalian yang harus kusembelih. Oleh karena itu, aku berniat memanggil juru qidh (semacam hakim) untuk menentukannya."

Kebesaran Hati Ayah dan Tanggung Jawab sebagai Pemimpin

Di hadapan patung dewa tertinggi Ka'bah, juru qidh (nanak panah) meminta setiap anak menulis namanya masing-masing di atas qidh. Kemudian, ia mengocok anak panah tersebut di hadapan berhala Hubal. Nama anak yang keluar adalah Abdullah.

Melihat itu, serentak orang orang Quraisy datang dan melarangnya melakukan perbuatan itu. "Batalkan keinginanmu, wahai Abdul Muthalib! Mohon ampunlah kepada Hubal supaya kamu bisa membatalkan nadzarmu!". Hati seorang Abdul Muthalib semakin bimbang, dia dihadapkan pada pilihan bertanggung jawab atas kebutuhan air di kota Mekkah dengan melaksanakan nadzarnya atau menjadi Ayah yang menjaga anak-anaknya.

Malam harinya, dengan tubuh lelah, Abdul Muthalib tertidur. Tiba-tiba, dalam tidur, dia bermimpi mendengar suara yang bergema berulang-ulang, “Temukan Sumur Zamzam itu, wahai Abdul Muthalib! Temukan Sumur Zamzam! Temukan..!”. Abdul Muthalib terbangun dengan keyakinan dan semangat baru. Esoknya, dia mengajak Harits menggali dan menggali lebih giat.

Pancaran Pertama yabg Dirindukan

"Kasihan Abdul Muthalib, mungkin dia sudah kehilangan akal sehatnya!" kata mereka satu sama lain. Suatu saat, ketika mereka sedang menggali di antara berhala Isaf dan Na'ila, air membersit. "Air! Harits! Lihat, ada air!" seru Abdul Muthalib saking kagetnya. "Ayo kita gali terus, Ayah! Ayo gali terus!"

Ketika mereka menggali lebih dalam, tampaklah pedang-pedang dan pelana emas yang pernah ditaruh oleh Mudzaz bin Amr dahulu. Melihat penemuan itu, orang orang Quraisy datang berbondong bondong. "Abdul Muthalib, mari kita berbagi air dan harta emas itu!" pinta mereka.

“Tidak! Tetapi, marilah kita mengadu nasib di antara aku dan kamu sekalian dengan permainan qidh (anak panah). Dua anak panah buat Ka'bah, dua buat aku, dan dua buat kamu. Kalau anak panah itu keluar, dia mendapat bagian. Kalau tidak, dia tidak mendapat apa-apa."

Usul ini disetujui. Juru qidh mengundinya di tengah-tengah berhala di depan Ka'bah. Ternyata, anak panah Quraisy tidak ada yang keluar. Pemenangnya adalah Abdul Muthalib dan Ka'bah.

Oleh karena itu, Abdul Muthalib dapat meneruskan tugasnya mengurus air dan keperluan para tamu Mekah setelah Sumur Zamzam memancar kembali. Mengingat beratnya tugas itu. Abdul Muthalib sangat ingin agar dia mempunyai banyak anak laki-laki yang dapat membantunya. Kemudian Abdul Muthalib memasang pedang-pedang yang ditemukannya itu di pintu Ka'bah, sedangkan pelana pelana emas ditaruh di dalam rumah suci itu sebagai perhiasan.

Tebusan 100 Unta

Dengan mem"baja"kan hati, Abdul Muthalib  menuntun Abdullah menuju sebuah tempat di dekat sumur Zamzam yang terletak di antara dua berhala Isaf dan Na'ila. Di tempat itulah biasanya orang orang Mekah melakukan pengurbanan hewan untuk dewa-dewa mereka. Namun, masyarakat semakin keras menghalangi Abdul Muthalib melakukan niatnya. Akhirnya, kekerasan hatinya pun luluh. “Baiklah, tetapi apa yang harus kulakukan agar berhala tetap berkenan kepadaku?"

“Kalau penebusannya dapat dilakukan dengan harta kita, kita tebuslah," kata Mughirah bin Abdullah dari suku Makhzum. Setelah diadakan perundingan, mereka sepakat menemui seorang dukun di Yatsrib. “Berapa tebusan kalian?" tanya dukun wanita itu. "Sepuluh ekor unta." Jawab Abdul Muthalib, “Kembalilah ke negeri kalian. Sediakan tebusan 10 ekor unta. Kemudian undi antara unta dan anak itu. Jika yang keluar nama anakmu, tambahlah jumlah untanya, kemudian undi lagi sampai nama unta yang keluar.".

Mereka pulang dengan lega dan segera mengundi dengan anak panah. Ternyata yang keluar adalah nama Abdullah. Mereka menambahkan tebusan unta dan mengundi lagi. Ternyata, lagi-lagi nama Abdullah yang keluar. Demikianlah, Abdul Muthalib menambah dan menambah terus jumlah unta.

Ketika jumlah unta sudah mencapai 100 ekor, barulah nama unta yang keluar. “Dewa sudah berkenan," seru orang-orang. "Tidak,” bantah Abdul Muthalib. “Harus dilakukan sampai 3 kali." Akhirnya, setelah 3 kali dikocok, yang keluar adalah nama unta. 100 ekor unta itu pun disembelih dan dibiarkan begitu saja tanpa disentuh manusia dan hewan karena mereka beranggapan bahwa unta itu untuk dewa.

Keturunan 2 Orang yang Disembelih

Diriwayatkan dari Rasulullah bahwa beliau bersabda; “Aku adalah anak dua orang yang disembelih.". Yang dimaksud oleh beliau (SAW) adalah Nabi Ismail nenek moyangnya, dan Abdullah ayahnya. 










Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar