Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Isi Perut atau Isi Kepala?



Oleh Dihyat Haniful Fawad


Guys, kalian nyadar ga sih? Apa cuman gw yang nyadar? Gak dong ya. Pasti dari sekian banyaknya temen gw banyak yang sadar. Lah emangnya sadar apa? Pasti kalian bertanya-tanya, atau ngga juga?

Jadi gini guys, gw mau sedikit cerita perihal kemarin, 24 Oktober 2022, tapi cerita gw ini bakalan merembet kemana-mana. Kemarin gw dan temen-temen Darun Nun ikut Upacara Hari Santri yang diselenggarakan di Balai Kota Malang. Selesai upacara, gw sama temen-temen buka bazar buku karya temen-temen Darun Nun dari jam 09.00 sampai jam 17.00 WIB. Bazar dibuka langsung oleh bapak Wali Kota. Gak cuman bazar buku Darun Nun aja yang ada di sana, tapi juga beranekaragam bazar yang menarik dikunjungi oleh orang-orang. Ada bazar makanan, minuman, travel, kerajinan tangan, buku, dan lain sebagainya.

Singkat cerita, tiba-tiba gw buka status WhatsApp temen gw yang inti dari omongannya tuh gini, “Sekarang, orang-orang lebih mementingkan isi perut daripada isi kepala (ilmu)”. Dan ternyata dia juga termantik oleh seseorang yang kita hormati, Abi Halimi. Dari cerita dia, gw sadar kalo gw juga lebih sering mementingkan urusan perut. Sampai sini, apa kalian juga sadar akan hal yang sama? Oke, kalau belum, gw lanjut cerita.

Gak sampai status itu, gw pun menelisik kecil-kecilan ala orang awam yang gak tau apa-apa. Ketika pameran bazar kemarin, gw sama temen-temen yang lain menelusuri sepanjang stand-stand bazar yang ada. Dan ternyata benar, bazar makanan lebih banyak pengunjung daripada bazar yang lain, khususnya bazar buku yang dibuka oleh santri Darun Nun. Selama dibukanya bazar dari pagi sampai sore, orang-orang yang membeli buku masih bisa dihitung, sekitar 10-15 buku yang terjual. Alhamdulillah.

Tapi bukan itu konteks pembahasan kita. Kita membahas kenapa sih isi perut lebih dipentingkan daripada isi kepala? Padahal, dulu orang-orang lebih senang cari buku daripada makanan, meskipun buku yang dicari itu gak langsung dibaca, walaupun buku itu hanya dipajang. Siapa yang tau kalau besok buku itu dibutuhkan?

Beberapa tahun silam, di kampus sering banget tuh buka bazar buku yang digelar di gedung B bahkan di lapangan utama kampus. Beberapa tahun silam juga, para mahasiswa gemar banget datang ke bazar buku meskipun hanya untuk melihat-lihat saja. Beberapa tahun silam juga, perpustakaan lebih banyak pengunjung untuk mencari referensi, tapi sekarang mereka mencari referensi cukup dicari di mbah google. Begitu mudahnya mencari referensi. Karena dengan lu cari referensi berbentuk buku, itu adalah tantangan ketika lu mencarinya. Beruntunglah kalian yang masih suka baca-baca untuk menambah isi kepala, entah dari layar hp atau buku, we proud of you, guys.

Jangankan beberapa tahun, satu tahun pun banyak perubahan yang kita rasain. Ya contohnya kayak tadi, minat baca buku terus menurun, padahal kan itu asupan isi kepala. Tapi, minat cari makan terus melonjak, ya meskipun asupan makanan juga penting. Tapi apakah hidup hanya untuk mikirin “besok makan apa ya?” aja? Orang yang jual makanan juga pasti perlu asupan isi kepala (ilmu) tentang pemasaran. Dan orang yang beli makanan juga pasti perlu asupan isi kepala tentang bagaimana mendapatkan cuan. Tapi banyak banget yang menyalahgunakan prinsip tersebut. Gw ceritain lagi yang lebih mainstream perihal isi kepala atau isi perut.

Apa gw salah mengkritik orang-orang yang bertahta dan punya jabatan? Gw cuman mau mengekspresikan apa yang gw rasain selama ini. Disclaimer ya guys, ini contoh dari kisah nyata yang gw alamin. Beberapa bulan yang lalu, gw mengikuti acara besar tingkat provinsi yang diselenggarakan di Bojonegoro. Acara itu mengundang “kepala kabupaten” untuk mengisi sambutan dan menyapa kami semua beserta asatidz yang hadir di acara tersebut. Beliau sudah dilobby oleh panitia acara sebulan sebelum acara diselenggarakan. Singkat cerita, h-3 hari beliau menjanjikan untuk hadir dalam acara itu. Akan tetapi, janji tersebut tidak ditepati dengan alasan yang sangat irasional. Sejam sebelum acara dibuka, pihak sana membatalkan kunjungannya ke acara tersebut. Betapa kecewanya kami. Meskipun kami hanyalah orang  yang masih menempuh pendidikan, orang kecil, apakah hal tersebut pantas dijadikan alasan untuk tidak hadir? Kalau tidak bisa menjanjikan, mengapa kalian mengiyakan?

Jangan sampai pejabat manapun hanya memakan gaji buta tanpa usaha. Usaha mensejahterakan rakyat, membahagiakan rakyat, memenuhi janji-janji manis kepada rakyat. Tidak hanya pejabat tinggi. Guru atau dosen pun demikian. Karena kami banyak menemukan fenomena yang terjadi di dunia kampus, bahwa ada beberapa dosen yang tidak memenuhi kewajibannya sebagai tenaga pengajar dan pendidik. Meskipun mereka tidak hanya memiliki kesibukan di kampus, lantas apakah pantas dijadikan alasan bahwa mengajari mahasiswanya dengan tidak memenuhi kewajibannya seperti jarang masuk, hanya diberi tugas, hanya disebar materi tanpa dijelaskan? Kami (mahasiswa) perlu bimbingan kalian semua. Hanya oknum yang terkait.

Itulah yang dinamakan mementingkan isi perut daripada isi kepala “menurut gw”. Meskipun mereka orang-orang pintar dan cerdas, tapi kalau pintar dan cerdasnya hanya untuk memenuhi isi perut, lantas apakah hal tersebut dapat kita maklumi? Ya, pintar dan cerdas dalam mengumpulkan cuan tanpa kesusahan. Hanya untuk mensejahterakan perut-perut mereka sendiri.

Dari status WhatsApp sampai orang pintar. Good luck. Semoga gw dan kalian yang baca tulisan ini bukan termasuk dari mereka (oknum) yang cuman cari enaknya aja. Ayo perbanyak isi kepala dan terapkan dalam kehidupan. Jangan lupa, good attitude is number one.

And I am so sorry if you don’t understand my writing.





Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar