Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Menyingkap Makam Fatimah Binti Maimun : Situs Islam Tertua di Pulau Jawa


Sumber :pwmu.co


Oleh : Ahmad Jaelani Yusri

Proses masuknya Islam di tanah jawa jika ditilik dari buku sejarah memiliki banyak versi ada yang mengatakan bermula di abad-15, bermula di abad ke-12 bahkan ada yang berpendapat masuknya islam ke tanah jawa sudah dimulai sejak jaman Khulafaur Rosyidin yakni abad ke-7 Masehi. Namun fakta sejarahyang kuat dapat dibuktikan dengan salah satu jejak arkeologis islam tertua yang berasal dari abad ke-10. Jejak tersebut adalah situs makam tua Fatimah binti Maimun.

Keberadaan  Makam Fatimah binti Maimun bin Hibatallah yang berlokasi di Dusun Leran, Desa Pesucian, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik yang inskripsinya  menunjuk kronogram 475 H/ 1082 M. Tampaknya makam ini berhubungan dengan kisah migrasi Suku Lor asal Persia yang datang ke Jawa pada abad ke-10 M.

Dilihat dari aspek toponim, nama-nama dusun sekitar makam Fatimah binti Maimun menunjuk pada kekhususan wilayah pada masa lalu. Toponim Wangen (tapal batas), Pasucian (tempat suci), Penganden (tempat kaum ningrat), Kuti (vihara budha), dan Daha (kemerahan) menunjukan kawasan sekitar kompleks makam adalah wilayah khusus berstatus sima yang bebas pajak dan dikeramatkan oleh warga setempat.

Lalu ada fakta yang menarik yang tersembunyi di balik cungkup Makam Fatimah binti Maimun. Di balik bidang batu nisan Fatimah binti Maimun yang berangka tahun 475 H/ 495 H itu, terdapat petikan ayat Al-Qur’an Surah Ar-Rahman ayat 55 dalam tulisan kaligrafi Khuf.  Menurut Prof. H.M Yamin, terjemahan J.P Moquette atas inskripsi batu nisan makam Fatimah binti Maimun itu sebagai berikut .

Dengan nama Tuhan yang Maha Penyayang dan Maha Pemurah. Tiap-tiap makhluk yang hidup di atas bumi ini adalah bersifat fana. Tetapi wajah Tuhanmu yang bersemarak dan gemilang tetap kekal adanya. Inilah kuburan wanita yang menjadi korban syahid, bernama Fatimah binti Maimun, putra Hibatallah, yang berpyulang pada hari jumat ketika tujuh sudah berlewat dalam bulan Rajab dan pada tahun 495 H.(sebagian membacanya 475 H), {yang menjadi kemurahan Tuhan Allah yang Mahatinggi} beserta Rasulnya yang Mulia.

Angka tahun 475 H atau 495 H jika dikonversi ke Masehi bertepatan dengan tahun 1082 atau 1102 Masehi. Menurut Jere L. Bacharach dalam The Middle East Studies Handbook, tanggal 1 Muharram 475 H sama dengan 1 Juni 1082 M. 1 Muharram 495 H sama dengan 26 Oktober 1101 M. Jadi pembacaan inskripsi batu nisan makam Fatimah binti Maimun lebih sesuai  dengan tahun 475 H.

Banyak ditemukan galian arkeologis disekitar Dusun Leran berupa mangkok, porselen yang berasal dari abad ke-10 dan ke-11 Masehi. Hal ini membuktikan telah adanya jaringan komunitas perdagangan antara Cina di Utara dan India serta Timur Tengah. Sehingga Leran di masa lampau merupakan pemukiman perkotaan dan perdagangan  dan diantara pemimpin yang ada pada waktu itu adalah Fatimah binti Maimun. Kata asy-Syahidah yang tertulis dalam inskripsi bisa dimaknai ‘wanita korban syahid’ namun juga bisa dimaknai pemimpin wanita

Fatimah binti Maimun juga dikatakan seorang muballigh perempuan sesuai yang dikatakan Dr. Muhammad Zafar Iqbal dalam bukunya “ Kafilah Budaya”. Pendapat itru merujuk pasda tulisan A Hasymy dalam bukunya yang berjudul “ Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia” terbitan PT al-Maarif Bandung. Perempuan yang dianggap memiliki peran penting dalam penyebaran Islam di Jawa Timur itu diyakini berasal dari keluarga Ler di Iran. Ler merupakan penguasa di wilayah Larestan. Keluarga Ler itulah yang diyakini datang ke Jawa , lalu membangun sebuah desa bernama Lorin di Gresik. Sehingga desa itu dikenal dengan nama Leran.

Sumber :
Sunyoto, Agus. 2021. Atlas Wali Songo. Bandung : Mizan Media Utama


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar