Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Biografi dan Pemikiran Riffat Hassan: Gender Dalam Islam Prespektif Feminisme


Sumber Gambar: https://images.app.goo.gl/Tm53JF2uQnG84z5HA


Oleh: Erwin

Biografi Riffat Hasan

Riffat Hassan adalah salah seorang tokoh feminis muslimah yang lahir disebuah ujung galee (lorong), suatu daerah yang berdampingan dengan Temple Road Lahore, Pakistan, beliau diperkirakan  lahir sekitar tahun 1945-an, hal ini didasarkan pada analisis sejarah pendidikan formal yang pernah ditempuh. Ayahnya bernama Begum Shahiba yang memiliki pandangan yang sangat konservatif, tradisional, dan patriakal didaerah tempat tinggalnya. Sedangkan ibunya bernama Dilara, yang merupakan seorang pejuang feminis yang menolak segala bentuk praktek patriarki yang berkembang di masyarakat.

Pendidikan dan Karir Intelektual Riffat Hassan Pendidikan Riffat Hassan dapat dikategorikan menjadi dua macam, yaitu pendidikan formal dan informal. Pendidikan formalnya ia peroleh langsung dari pengalaman dan realitas sosial, baik dalam keluarga maupun dalam masyarakatnya, ditambah dengan kegemarannya membaca buku-buku secara otodidak. Sedangkan pendidikan formalnya ditempuhnya pada sekolah menengah berbahasa Inggris yang menjadi sekolah unggulan di daerahnya. Beliau kemudian menempuh pendidikan di St. Mary’s College Universitas Durham, Inggris. Setelah tiga tahun studi, dia berhasil meraih predikat kehormatan di bidang sastra Inggris dan filsafat. Dalam disertasinya ia menulis tentang filsafat Muhammad Iqbal seorang penyair dan filosof dari Pakistan. Oleh sebab itu tidak mengherankan jika dalam beberapa pandangannya Riffat juga terpengaruh atau setidaknya terilhami oleh pemikiran dari Muhammad Iqbal.

Kemudian mulai tahun 1976 Riffat Hassan tinggal di Amerika Serikat dan menjadi seorang professor sekaligus menjabat sebagai ketua jurusan program Religious Study di Universitas Louesville, Kentucky. Pada tahun 1983-1984 Riffat pernah terlibat dalam suatu proyek penelitian di Pakistan pada masa pemerintahan Ziaul Haq dan program Islamisasi. Lalu pada tahun 1988 ia juga dipercaya menjadi dosen tamu di Divinity School Harvard University. Disinilah dia menulis bukunya yang berjudul Equal Before Allah (Setara Dihadapan Allah). Adapun karya-karya yang telah dihasilkan dalam bentuk artikel, antara lain:

1. The Role and Responsibilities of Woman in the Legal and Ritual Tradition of Islam.

2. Equal Before Allah: Women Man Equality in Islamic Tradition.

3. Feminis Theology and Woman In the Muslim World.

4. What does it mean to be a Muslim Today?.

5. Women Living Under Muslim Laws.

6. Muslim Women and Post Patriachal Islam.

7. The Issue of Women-men Equality in Islmic Tradition.

8. Jihad fi Sabilillah:A Muslim Woman’s Faith Journey from Struggle to Struggle.

9. Women’s and Men Libertion.

10. Women Religion and Sexuality.


Gender dalam Islam Menurut Riffat Hasan

Eksistensi kehidupan seseorang sangat mempengaruhi terhadap perspektif dirinya terhadap sesuatu. Latar belakang kehidupan sosial, tekana psikilogis dari masyarakat dapat menjadi acuan yang yang mempengarufi formulasi ide-ide dario seseorang. Kerangka berfikir seseorang pada suatu masalah pada tahap abstrak sampai pada tahap realitas sanagnt terikat dengan apa yang telah dialaminya pada kehidupan sosial. Halini pulalah yang terjadi pada Riffat Hasan yang kemudian memunculkan berbagai pemikiran-pemikiran baru terutama terkait gender dalam Islam. Adapun pokok-pokok pikiran riffat hasan  diantaranya;

  1. Perihal Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan

Riffat hasan melakukan kajian bahwa terkait adanya Matriks Kultural yang merupakan “pra-teks” dalam membaca Al-Q ur’an yang dianggapnya dapat mempengaruhi pemeahaman pembaca mengenai interpretasi dari Al-Qur’an. Sehingga muncul perspektif bahwa  posisi laki-laki dan perempuan dalam Islam tidak setara. Isu tersebut menurut Riffat Hasan terjadi karena pengaruh tiga asumsi teologis yang berkembang, tiga asumsi ini tidak hanya dialami dalamagama islam, namun juga bagi kaum Yahudi dan Kristen. Ketiga asumi tersebut yaitu:

  1. Ciptaan pertama dan utama adalah laki-laki, sedangkan perempuan diciptakan setelah itu melalui tulang rusuk laki-laki yaitu Adam AS, bahkan paling bengkok.

  2. Perempuan dianggap penyebab utama kejatuhan manusia dari Syurga.

  3. Perempuyan tidak hanya diciptakan dari tulang rusuklaki-laki, tapi juga untuk melayani laki-laki.

Dari ketiga asumsi teologis tersebut, Riffat hasan kemudian memfokuskan pendekatannya pada poin yang pertama, yakni asumsi Ciptaan pertama dan utama adalah laki-laki, sedangkan perempuan diciptakan setelah itu melalui tulang rusuk laki-laki yaitu Adam AS, bahkan paling bengkok. Asumsi ini dianggap sebagai implikasi yang paling mempengaruhi bahkan terhadap dua asumsi setelahnya. Sebagaimana dlam kutipannya;

"Saya menganggap hal ini (penciptaanpertama) baik secarafihsofis maupun teologis lebih penting 'dan mendasar daripada isit-isu lain dalam konteks kesetaraan laki-laki dan perempuan. Sebab jika laki-laki dan perempuan telah diciptakan setara oleh Allah sebagai penentu nilai tertinggi. maka di kemudian hari tidak bisa menjadi tidak setara. Prinsip lain jika laki-laki dan perempuan telah diciptakan tidak setara oleh Allah, maka secara essensial di kemudian hari mereka tidak bisa menjadi setara.”


Penolakan Riffat Hasan terhadap konsep penciptaan perempuanan yang dipercayai sampai sekarang menjadi sesuatu yang sangat penting. Menurutnya, secara filosofis dan teologis konsep penciptaan perempuan menjadi landasan utama dari mereka yang memegang konsep patriarki, sehingga penolakan ini perlu dikembangkan.

Islam sendiri memperkenalkan proses penciptaan manusia dengan 4 macam, diantaranya: 

  1. Manusia diciptakan dari tanah,dalam halk ini dijelaskan bahwa Adam As sebagai manuasia pertama, dengan merujuk pada Q.S Al-fathir ayat 11, Ash-shaffat ayat 11 dan Al-Hijr ayat 26.

  2. Manusia diciptakan daritulang rusuk Nabi Adam yakni perempuan untuk menjelaskan penciptaan Hawa dengan merujuk pada Q.S An-Nisa ayat 1, Al-A”raf ayat 189, danAz-zumar ayat 6

  3. Manusia diciptaka dengan seorang iu tampa ayah dengan proses kehamilan, penciptaan ini menjelaskan penciptaan Isa As, dengan merujuk pada Q.S maryam ayat 19-22

  4. Manusia diciptakan dengan proses kehamilan dengan adanya ayah secara biologis dan hukum atau minimal secara biologis semata, untuk menjelaskan penciptaan manusia pada umumnya, merujuk pada yat q.s Al-Mu’minun ayat 12-14.


Mekanisme penciptaan hawa dalam al-Qur’an tidak dijelaskan secara rinci berbeda dengan tiga pin yang lain. diasan hanya disebutkan bahwa Nafs Wahidah Adam tercipta zaujaha yaitu Hawa. Frasa seperti ini berpotensi menimbulkan penafsiran yang berbeda. Redaksi frasa al-Qur’an yang dimaksud yaitu Qur’an surah An-Nisa ayat 1, dimana dalam Ayat tersebut tidak memaparkan secara eksplisit terkait penciptaan hawa, namun banyak dijelaskan dari ayat lain dan  hadis Rasulullah Saw. Namun, para mufassir meyakini bahwa yang dimaksud dengan Nafs Wahidah dan zaujah adalah Nabi Adam (laki-laki) dan Hawa (perempuan). Dari kedunya kemudian berkembangklah umat manusia. Masalahnya kemudian adalah apakah hawa juga diciptakan dari tanah seperti nabi Adam atau dari tulang rusuk Nabi Adam. Kunci penafsiran yang berbeda tersebut berasal dari kata minha, apakah ha kembali kepada penciptaan adam berasal dari jenis yang sama dengan dirinya atau bearsal dari bagian dirinya. 

Penafsiran mengenai penciptaan hawa dari tulang rusuk Adam ditolak kersa oleh Raffat Hasan. Raffat hasan juga mempertanyakan kenapa Nafs wahidah itu adam dan Zaujaha itu hawa, padahal Nafs itu netral, tidak menunjukkan laki-laki atau perempuan. Sedangkan zauj juga netral,  yang berarti pasangan, tidak mesti menunjukkan laki-laki atau perempuan. Hanya dibagian hijaz yang memakai zauj untuk perempuan, daerah lain menggunakan zaujah. Untuk menguatkan argumennya, Raffat Hasan juga meneliti kitab inji, dan menemukan bahwa Adam berasal dari bahasa Ibrani yaitu adamah yang secara literal berarti tanah. Al-Qur’an menurut Raffat hasan tidak menyebut adam manusia pertama dan tidak menunjukkan bahwa adam adalah laki-laki. Adam hanyalah kata benda maskulin yang sma sekali tak menunjukkan jenis kelamin. Konsep dari Injil ini kemudian dianggap dasar penciptaan Hawa oleh para mufassir menurut Raffat Hasan. Tradisi injil masuk melalui kepustakaan hadis yang kontraversial. Menurutya cerita penciptaan Adam dan Hawa dari rusuk adam tidak lain hany sebuah dongeng yang masuk melalui tradisi Islam hasil asimilasi dari kepustakaan hadits. Ia juga menolak otentitas hadis-hadis dari Bukhari-Muslim tentang penciptaan Hawa dari tulang rusuk adam, serta menolak hadis-hadis apapun yang misogin atau anti perempuan. 

  1. Konsep Poligami 

Menurut Riffat Hasan Q.S An-Nisa ayat 3 tidak bisa dijadikan legalitas mutlak diperbolehan poligami, tanpa melihat kontek ayat tersebut. Menurutnya, al-Qur’an tidak memperlakukan perempuan dengan tidak adil, apalagi dengan melihat konteks bahwa Nabi Muhammad juga melakukan poligami. Konteks yang dimaksud disini bahwa sesungguhnya poligami yang dimaksud nabi Muhammad SAW adalah untuk menyantuni anak yatim. Jadi, maksudnya adalah dengan menikahi ibu yang memiliki anak yatim untuk dinafkahi. Hal ini deperkuat bahwa ayat poligami ini turun pasca banyaknya perang yang terjadi, yang menyebabkan banyak kepala keluarga yang meninggal, sehingga meninggalkan nak dan istri dirumah. Pesan moral ayat itu adalah menyantuni anak yatim, dan tentang keadilan, maka sebenarnya poligami hany dilakukan dimasa sulit. Riffat hasan juga memandang bahwa penikahan nabi bukan karena unsur promiskuitas dan hedonistik, karena Nabi mulai berpoligami pada usia 50 tahu, dimana istri pertamanya telah meninggal. Istri yang dipoligami pun kebanyakan adalah janda kecuali Aisyah seorang yang dianggap oleh Riffat hasan sebagai pernikahan Diplomatik dengan sahabatnya.

  1. Teori Purdah Pandangan Riffat Hasan

Purdah (cadar) bagi perempuan seringkali dianggapa sebagai islamisasi sebuah negara. Purdah menempatkan perempuan hanya pada wilayah privat, berbeda dengan laki-laki yang tidak dibatasi oleh hal-hal seperti itu. Apabila perempuan keluar maka harus menggunakan purdah seolah-olah tampa identitas, muka dan suara. Permasalahan gendernyanya adalah penekanan purdah tersebut hanya untuk perempuan. Hini tidak diinginkan oleh Riffat Hasan karena dianggap mengandung dekskriminasi gender, apalagi perempuan dianggap sebagai fitnah bagi kaum laki-laki, tubuh perempuan dianggap sebagai reklame. Boleh jadi ini sebab dari adanya budaya patriarki menganggap perempuan sebagai objek sex. Maka Allah memerintahkan untuk berpakaian yang sopan agar perempuan tidak dianggap sebagi objek sex.

Riffat Hasan memandang bahwa perempuan tidak harus menutup mukanya dengamn niqab atau cadar ketika hendak keluar rumah. argumen ini diperkuat dengana adanya perintah al-Qur’an terhadap laki-laki agar menundukkan padanganya, sehingga tidak perlu melihat wajah prempuan yang bukan mahramnya. Riffat Hasan memaknai hijab (niqab/cadar/purdah) tidak harus menutup seluruh tubuh perempuan termasuk muka dan telapak tangan, melainkan pakaian yang pantas dan sopan sesuai daerah, kkarena setiap daerah memilki ukuran sopan berpakaian yang berbeda-beda. Panmdnagn ini snagat kontekstual, sehingga makna jilbab dalam al-Qur’an bersigfat realistis, relatif dan kondisional. Gaya dan model hijab sorang ibu rumah tangga di kampung tentu berbeda dengan wanita karir atau wanita di kota dlam hal kesopanan. Itu artinya, Interpretasi itu adalah contesred dansangat dipengaruhi sosio-kultural penafsirannya. Maka tampa jelas bahwa Raffat Hasan dalam menfsirkan al-Qur’an cenderumg melihat dimensi ideal moral dari pada formatnya.


Kesimpulan

Riffat Hasan adalah seorang tokoh feminisme muslimah yang lahir di Negara Pakistan. Secara geologis Riffat merupakan seorang keturuna Sayyid (keturunan Raulullah Saw). Benih-benih pemikiran feminisme turun dari ibunya sendiri yang tidak mau kompromi dengan kebudayaan Islam Tradisional. Dia menolak keras terhadap trdisi patriarki dan tunduk kepada laki-laki. Ayahnya sangat menjunjung tradisi kebudayaan Islam, sehingga dalam keluarga Riffat Hasan terjadi tarik-menarik  antara pihak yang inginmempertahankan budaya patriarki dengan yang ingin mendekonstruksi budaya tersebut yang dalam hal ini diwakili oleh ibunya. Riffat hassan kemudian menyumbang pemikiran mengenaifeminisme yang kemudian memberikan kontribusi yang besar terhadap gerakan feminisme khususnya di Negara Pakistan dan Dunia.

        Riffat Hasan memandang bahwa perempuan tidak harus memakai cadar ketika keluar rumah, karena al-Qur’an juga memerintahkan laki-laki untuk menundukkan pandangan ketika bertemu perempuan. Riffat Hasan memaknai hijab (niqab/cadar/purdah) tidak harus menutup seluruh tubuh perempuan termasuk muka dan telapak tangan, melainkan pakaian yang pantas dan sopan sesuai daerah, kkarena setiap daerah memilki ukuran sopan berpakaian yang berbeda-beda. Panmdnagn ini snagat kontekstual, sehingga makna jilbab dalam al-Qur’an bersigfat realistis, relatif dan kondisional. Gaya dan model hijab sorang ibu rumah tangga di kampung tentu berbeda dengan wanita karir atau wanita di kota dlam hal kesopanan. Itu artinya, Interpretasi itu adalah contesred dansangat dipengaruhi sosio-kultural penafsirannya.

Daftar Pustaka

 Muhtador, Moh. Gagasan Riffat Hasan Tentang Kritik Gender Atas Hadis Misoginis. Rausyan Fikr: Jurnal Studi Ilmu Ushuluddin Dan Filsafat, 2018.

Mernissi and Riffat Hassan, Setara Di Hadapan Allah: Relasi Laki-Laki Dan Perempuan Dalam Tradisi Patriaki . Yogyakarta: LSPAA Yayasan Prakarsa, 1995.

 Husniyah, Nur Iftitahul. Konsep Purdah Perspektif Riffat Hassan, 2018.

Haningsih , Sri. Pemikiran Riffat Hassan Tentang Feminisme dan Implikasinya Terhadap Tranformasi Sosial Islam,  2005.

Maftukhatusolikhah.  Akar Teologis Ketimpangan Gender: Pemikiran Feminisme Riffat Hassan. Agustus, 2002.

Utomo, Agus Himmawan. Status Ontologis Perempuan (Gugata Riffat Hassan atas Konstruksi Teologis dari Konsep Gender). Desember, 2003. 

Husniyah,  Nur Iftitahul. Konsep Purdah Prespektif Riffat Hassan. Juni, 2018.

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar