Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Teror Penjual Kripik






Oleh Ahmad Jaelani Yusri

            Langit saat itu sangat indah. Cakrawala biru mempesona yang dihiasi awan tipis menandakan cuaca yang sedang stabil dan cerah. Lebaran idul fitri telah lewat tiga hari. Seperti pada muslim kebanyakan, Rusydi menghabiskan waktunya sedari awal lebaran dengan silaturahmi tanpa henti. Silaturahmi kepada sanak keluarga baik yang dekat ataupun jauh, silaturahmi kepada tetangga kampung, silaturahmi ke teman-teman SMP-nya, silaturahmi ke teman-teman SMA-nya, juga silaturahmi ke teman-teman yang baru ia kenali di perkuliahannya.

            Rusydi, anak pemuda yang terkenal sangat ekstrovert. Bertemu dengan banyak orang membuat dia happy dan ceria. Apalagi sekarang pembatasan sosial dari Covid sudah tidak berlaku lagi ditambah ia punya motor vario baru membuatnya tak bosan-bosan kesana kemari. Pergi dari rumah sejak pagi dan pulang saat pukul 21.00 bahkan bisa lebih. Sudah tiga hari sejak lebaran dia seperti itu bak burung keluar dari sangkarnya.

            Pagi itu smartphonenya berbunyi, “moshi moshh, moshi mosh” nada dering khas ala anime. Tertulis di situ panggilan dari Raka, teman akrab kuliahnya.

            “Rusy, samean ada acara apa hari ini ? , kosong opo ra?”

            “Kosong, emang ada apa ka?

            “Ealah, aku, Mahmud sama Rehan mau ke Batu, nanti nginep di Villa, yoklah kita bakar-bakar ikan disana “

            “Yok gaslah, aku yo pengen” timpal Rusydi dengan senang hati.

            Rusydi segera bersiap-siap dan mandi. Ia menengok ke teras rumah, apakah ada ibunya atau tidak?. Ia harus pergi secara diam-diam karena tau ibunya pasti akan melarangnya dan tidak seperti Ayahnya. Ibunya pasti akan beralasan akan ada saudara lain yang akan datang dan ingin bertemu dengannya. Setelah memastikan Ibu tak memerhatikan kepergiannya. Dia segera cabut dengan motor barunya. Ia tak peduli meskipun ia baru tidur pukul 01.00 dini hari.

            Mereka berkumpul di alun-alun kota Malang. Tepatnya di bawah pohon beringin depan Masjid Jami . Raka dan Rehan sudah menunggu dari lama. Mereka satu kontrakan dan satu tempat tinggal sehingga berboncengan. Tak selang beberapa lama, Mahmud datang dengan motor Nmax hitamnya yang cocok dengan badannya yang besar.

            “Minal Aidin Wal Faidzin kawan” sahut Raka dan Rehan pada Mahmud

            “ Ma Sya Allah, dua sejoli yang tak terpisahkan hehehhe, tumben kalian gak pulang kampung”

            “Males aja di rumah hehe” Ucap Raka, mahasiswa asal Situbondo

            “Ya taulah, aku darimana “ Balas Rehan dengan senyum sumringahya

            “Owh, iya orang Belitung, sorry hehehe. Berarti tinggal Rusydi aja yang belum datang ya. Padahal dia orang asli Malang lho “

            Di sela-sela pembicaraan, datanglah Rusydi dengan kemeja Hem kotak dan celana Jeansnya.  “ Maaf kalo agak telat “.

            “Widih, ketua genk kapak nampaknya telah tiba “ kata Mahmud terkekeh-kekeh

            Setelah cukup berbasa-basi. Mereka memutuskan untuk memulai perjalanan ke arah Kota Batu. Raka agak terheran-heran melihat mata Rusydi yang agak sembab dan kantung mata yang hitam.

            “Samean, ropopo a ? “ Tanya Raka

            “Aman bro, aku seger gini kok” Jawab Rusydi.

            Setelah memastikan keamanan anggota. Raka memimpin maju kedepan diikuti motor Mahmud dan Rusydi. Mereka berempat menuju kawasan wisata cangar dan menghabiskan waktu hingga sore dan berencana menginap di Villa Songgoriti.

            Jalan berkelok-kelok, cuaca berkabut dan pemandangan sawah baik di kanan dan kiri. Pemandangan yang asyik untuk dipandang. Tibalah mereka di pemandian air panas Cangar berdampingan dengan Taman Hutan Raya Raden Soerjo. Sebuah kawasan penghubung antara Kota Batu dan Mojokerto dimana para pengendara selalu ekstra hati-hati saat memasuki kawasan itu apalagi sering terdengar kasus kecelakaan tiap bulannya.

            Rusydi, Mahmud, Raka dan Rehan. Mereka menikmati siang itu dengan dengan berendam di air panas. Sesekali cekikikan bercanda tentang masalah kuliah, dosen yang galak ataupun tentang pacar mereka. Kecuali Rehan, ia tak punya pacar dan hanya manggut-manggut mengiyakan dan tersenyum.

            Matahari semakin redup, kabut mulai menebal. Para pengunjung mulai berniat pulang dari pemandian itu, begitupun mereka yang mulai bersiap-siap melanjutkan tripnya. Rusydi saat keluar gerbang pemandian tetiba dihadang oleh penjual  yang menggendong tas berisi kripik apel. Dia adalah perempuan kurus setengah baya, berambut hitam dan sebagian beruban, memakai kain kebaya lusuh dan bawahann kain batik. Tapi Rusydi merasa enggan melihat wajah perempuan itu karena satu matanya telah memutih karena katarak dan kulit wajahnya kasar, bibirnya pecah-pecah, giginya kuning serta di sebelah kiri pipinya kulitnya ada bercak coklat seperti pigmentasi. Menandakan usia yang tua dan jarang perawatan diri. Rusydi sangat malas melihat wajahnya karena ia merasa takut apalagi suara penjual itu agak serak-serak basah.

            “Monggo mas, niki kripik’e murah mas, minta tolong dibeli enggeh, tolong ya mas” ucapnya dengan penuh harap.

            Rusydi melangkah begitu saja tanpa ada seucap kata. Terlihat penjual itu nampak sedih, segembol tas berisi kripik masih penuh. Rehan yang merasa simpati, akhirnya membeli kripik itu walaupun cuma satu bungkus. Langsung saja, ibu itu nampak berkaca-kaca dan tersenyum.

            Mereka berempat lantas melanjutkan perjalanan ke Songgoriti. Rusydi diboncengi Rehan karena merasa capek, sedangkan dua yang lain dengan motor masing-masing. Perihal tempat, Raka sudah memesan villa yang sedang untuk teman-temannya. Tak lupa Mahmud dan Rehan juga sudah membeli ikan di pasar batu untuk dibakar nanti. Rusydi yang terima jadi, cukup menikmati dan membantu alakadarnya.

            “Nah itu Villa kita, biasanya aku pesan disitu sama saudaraku, bagus kan rek?

            “Lumayanlah buat nginap semalam hehe” Sahut Rusydi

            Bangunan tanpa tingkat beratap limas dan pelatarannya cukup luas untuk menampung dua mobil. Gerbang masuk terdapat dua patung dwarapala sedang menyeringai dan melotot , patung raksasa dalam mitologi hindu setinggi satu meter, Pintu depan sangat estetik berukiran singa barong. Di dalamnya ada dua kamar satu ruang tamu dan dibelakangnya ada kamar mandi berdampingan dengan dapur. Toiletnya sangat modern, ada kucuran yang bisa disetel panas ataupun dingin. Mereka pun masuk dan mulai menaruh barang-barang bawaan di kamar masing-masing. Mahmud, Raka dan Rehan pergi ke teras meinggalkan Rusydi yang masih dikamar. Ia dengan teliti melihat interior kamar. Harap-harap tidak ada yang ganjil di matanya. Lalu ia naik ke kasur dan rebahan di ranjang yang empuk itu.

            Baru saja terpejam beberapa detik, ia bangun dan ingat bakar ikan. Langsung ia beranjak ke depan dan membantu temannya itu.

            “Rusydi, tolong ambilin gayung di belakang ya “ perintah Raka

            “Sek, tak kebelakang dulu” ucapnya

            Saat ia mengambil gayung di kamar mandi, ia melihat cermin berbentuk oval persis seperti cerminnya di kamar Ibu. Sekelabat ada suara Ibu di pikirannya “Rusydi, Rusydi Nangndi?”. Ia tetap fokus dan segera mengambil gayung. Dan untuk memastikan akhirnya, ia menghidupkan smartphone yang sedari tadi mati dan menelpon Ibunya.

            “Halo, Assalamulaikum, Halo”. Selang beberapa lama kemudian ada jawaban dari smartphone ibunya tapi bukan Ibu yang jawab.

            “Waalaikumsalam, Rusydi ini Ayah. Kamu kemana aja?, ibumu lho sampe sekarang belum balik nyariin kamu anak semata wayang. Ayah baru pulang kerja ini. Tolong kamu balik secepatnya ya. Ayah juga khawatir sama Ibumu ini yang belum balik-balik” Jawab Ayah dengan penuh kecemasan.

            “Enggeh pak, Rusydi segera pulang ini, tadi diajak temen-temen ke pemandian”

            “.............” telepon langsung dimatikan begitu saja.

            “Duh, harus cepet balik ini. Ayah bakal marah sepertinya” ucapnya dalam hati

            Rusydi merasa tak enak hati. ia berpamitan pada teman-temannya yang sedang ayik bakar ikan. “ Lho, mau kemana cuy. Udah malem banget ini, gak takut nyasar tah ?” tanya Mahmud

            “Darurat Mud, Ibuku belum pulang-pulang nih dari sore. Aku disuruh balik sama Ayahku” . Sahut Rusydi dengan cemas.

            Rusydipun mulai menyalakan motornya dan melaju ke depan villa. Tanpa ia sadari, ekspresi patung dwarapala berubah menjadi tersenyum. Waktu menunjukan pukul 20.45, ia membuka google map di hp-nya. Rusydi tak ingat jalan pulang karena ia dibonceng saat menuju villa. Saat dibonceng, ia merasa ngantuk dan tak memerhatikan markah jalan.

            Berbekal arahan dari google map, ia mulai melaju sesuai rute. Jalan yang ia susuri berupa tanjakan dan turunan. Persawahan dan juga deretan rumah. Lambat laun jalan yang ia lewati mulai sepi dari rumah dan gelap. “eh ini jalannya bener gak ya, perasaan gak lewat sini” gumam Rusydi dalam hati. Saat ia lihat rute di google map, jalan masih panjang ke depan dan berbelok-belok. Sedangkan sinyal handphone sudah 3G strip dua. Rusydi melanjutkan perjalanan dengan yakin.

            Ia melewati jalan yang semula jalan berbatako menjadi jalan tanah. Kanan kiri mulai dihiasi pohon-pohon rindang sesekali lampu jalan yang redup. Ia terus melaju kedepan, setumpuk pikiran mulai muncul dikepalanya. Pikiran tentang Ibunya, jalan yang gelap, dan entah kenapa dia memikirkan penjual yang ia temukan di cangar.

            Stttttt, sekelebat bayangan hitam lewat disamping. “apa itu woy” sentak rusydi kaget. “alah, mungkin cuman kelelawar lewat”.Bulu kuduknya mulai merinding. Rusydi terus menarik gas motornya hingga melesat maju kencang. Sampailah ia di jembatan selebar dua meter yang hanya muat dilewati dua motor dari arah berlawanan. Sungai dibawahnya tak terlalu besar tapi rimbun oleh pepohonan dan di tengah jembatan itu ada lampu neon sayup-sayup. Rusydi terus melaju, bunyi decitan ban dengan lantai jembatan yang terbuat dari papan kayu tebal sangat kentara di telinga Rusydi. Lampu di tengah itu bergoyang-goyang dihempas angin. Udara mulai dingin, Rusydi mulai merasa tak enak. Ia ingin segera keluar dari jalan kecil yang payah dan seram ke arah jalan besar dan pulang ke rumah.

            Saat di tengah jembatan, tiba-tiba wangi daun melati menyeruap disusul dengan angin kencang. Sampai ia tiba di ujung jembatan, ia melihat bayangan cepat lagi di sebelah kiri. Jantungnya berdegup kencang. “Siapa itu woy” teriaknya ia karena takut. Tak selang beberapa lama, dari arah berlawanan, datanglah motor supra dinaiki pemuda kampung dengan sarung dilingkari di bahunya. “ mau daki ya mas? Hati-hati ya, jalan di depan gak udah gak ada lampu” ucap pemuda itu tiba-tiba.

            Rusydi terperanjat tak menyahut. “masa sih ini jalan ke gunung, perasaan ini rute ke jalan besar” gumamnya. Ia masih melihat sumber cahaya putih di ujung jalan. Ia terus melaju ke depan tanpa ragu. Jalan mulai rusak dan bergelombang, licin ia mesti hati-hati. Ternyata benar, sumber cahaya di depan itu adalah warung. Ia pun kesana, dan tak diduga pemilik warung itu ialah ibu penjual yang ia temui di cangar. “ Ngapain ibu itu, buka warung di tempat gelap-gelap gini” pikirnya. Ibu itu kembali menawarkan dagangannya. Tapi bungkusan berisi rambut dengan noda darah.

            “minta, mmmminta......... tolong beli mass” suara Ibu itu lebih serak.

            Rusydi yang takut, langsung menggeber motornya melaju ke depan. Ibu penjual itu lantas tertawa mengikik layaknya kuntilanak. Keringat bercucuran, Rusydi mulai panik. Beberapa kali, ia hampir terjatuh dari motornya lantaran menghindari batu.

            “Minta ,,,,,,,,,,”

            Suara ibu itu menjadi tambah kencang dan mengerikan . Huh,,,huh,,huh,,,, nafas Rusydi tersengal-sengal

            “Minta ,,,,,,,, tolong mas “”” . Tiba-tiba ibu penjual itu muncul mendadak di depan Rusydi. Rambutnya memanjang hingga kaki. Mata putihnya melotot. Sontak Rusydi banting setir ke kanan dan berteriak. “Ampun,,,,,,,,, Ibu  tolong,,,,,, Rusydi minta maaf belum izin pergi dari rumah” . Ia pun terjatuh dari motornya . Bukkkkkkk.

            Rusydi terbangun, ia sudah dirubungi ketiga temannya yang saling bertatap. Rusydi tergeletak di lantai di kamar villa. Ternyata yang ia alami hanya mimpi sesat. Ia bercucuran keringat.

            “Rusy, sadar. Awakmu mimpi opo , kok iso ngegelundung dari kasur?” tanya Raka sambil mencengkeram pundak temannya. Rehan memberikannya air minum, Mahmud pun agak tersenyum lucu melihat ekspresi Rusydi

            “Wah ini, gara-gara kecapean langsung tidur, belum bersih-bersih “ ucap Mahmud

            “Jam berapa sekarang rek” Tanya Rusydi masih panik

            “ Jam 10 malem Rusy” Jawab Raka.

            Seketika, Rusydi menelepon Ibunya. “Halo, Bu, Halo”

            “Ada apa Rusydi, Ibumu lagi tidur. Kamu dimana? udah malem, gak usah pulang, hati hati di rumah orang”

            Tanpa dialog panjang, Rusydi tau kalau ibunya aman-aman saja dan ayahnya pun membiarkannya tak pulang. Ini semua hanya mimpi, pikirnya. Semua kembali normal, Rusydi pun ikut ke teras depan dan tak mau sendirian di dalam. Ikan sudah selesai dibakar. Mereka kembali bercanda dan me-roasting Rusydi yang masih ada iler di pipinya setelah ketiduran tadi

            “Biasalah rek, orang kecapean” tukas Mahmud menertawainya.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar