Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Suatu Kisah di Pantai Utara Jawa


Oleh Ahmad Jaelani Yusri

“Byurrr” suara ombak menerjang tanggul karung yang dijajar sepanjang pantai. Sudah 
beberapa kali tanggul itu dibangun, lagi-lagi roboh dan tak kuat menahan laju ombak. 
Beberapa pria kerap menambal tanggul tersebut seminggu sekali, setidaknya itu cukup 
membantu agar air pasang tak terlalu jauh menyapa kawasan pesisir.

Beberapa ratus meter dari tanggul terdapat pemukiman. Pastinya warga selalu siap 
siaga terhadap air pasang yang intensitas kedatangannya tak pernah bisa diterka. Sudah 
banyak rumah penduduk yang meninggikan pondasi dan lantainya. Begitupun jalanan selalu 
tergenang air meskipun hanya beberapa cm, hal itu yang membuat warga berinisiatif 
membangun jalur kayu yang lebih tinggi dari jalanan sebelumnya.

Termasuk Mbah Darsih, ia berkaca-kaca melihat sawah dibelakang rumahnya. Sudah setahun lebih air tak pernah surut. Kini persawahan tak bisa ditanami padi lantaran sudah bercampur dengan air asin. Masih ingat dalam ingatannya, bagaimana ramainya sawah tatkala masa panen tiba. Kaum bapak yang memanen padi, sedangkan kaum ibu membantu 
konsumsi. Namun adakalanya kaum ibu ikut membantu. 

Mbah Darsih mempunyai anak semata wayang bernama Zainudin. Namun anaknya 
itu tinggal di Kota Surabaya dan sudah berkeluarga. Sudah beberapa kali Zainuddin 
membujuk ibunya agar pindah rumah dan ikut dengannya. Tapi apalah daya dan nasib, 
semanis-manisnya ucapan Zainuddin dalam membujuk, Mbah Darsih tetap keukeuh tinggal di rumahnya. Ia enggan pergi dari kampung kelahirannya. Beliau merasa kampung itu adalah jiwanya, tempat ia tumbuh bersama kenangan manis. Tempat leluhur beranak-pinak hingga 
kini. 

“Baiklah mak, kalau mau emak tetap begini. Zainuddin gak bisa maksain “ Ucap 
Zainuddin dalam hati. Meskipun begitu, terkadang ia tetap sesekali mengunjungi ibunya itu sebulan sekali. 

Hari ini kanal berita nasional memberitakan ramalan cuaca di Kabupaten Demak dan sekitarnya. Terdapat badai di pantai utara pulau jawa. Badai siklon tropis yang sangat jarang 
terjadi. Tentunya ini akan menjadi malapetaka bagi warga pesisir. Banjir rob kiriman dari 
laut.

Banjir rob bukan hal baru bagi masyarakat pesisir Kabupaten Demak. Alih fungsi 
lahan, kenaikan muka air laut, dan laju penurunan muka air tanah diduga menjadi 
penyumbang terbesar tenggelamnya daerah pesisir. Ditambah lagi dengan menjamurnya 
pabrik-pabrik berskala besar. Kekeliruan infrastruktur dari para teknisi seperti membuat 
tanggul beton sepanjang aliran sungai itu juga menjadi salah satu penyebab. Bagaimana 
tidak?, wilayah Demak terdiri dari tanah aluvial yang tercipta dari sedimentasi sungai. Jika 
sungai dibendung maka sedimentasi tidak bisa menyebar secara alami dan justru akan 
tertimbun di dasar sungai sehingga terjadi pendangkalan sungai secara cepat.

Siang itu langit tampak gelap, Pak Sandi selaku kepala Desa Kedasih mengajak warganya untuk segara mengungsi. Dapat dipastikan akan terjadi badai yang akan berlangsung lama dan akan menenggelamkan rumah mereka.

“Ayok kita cepat evakuasi warga , ada 10 rumah yang masih berpenghuni “ Ajak Pak 
Sandi pada masyarakat. Mereka menyiapkan untuk sekoci atau perahu kecil untuk berjaga-
jaga. Hujan rintik mulai turun. Kentungan dipukul sekeras-kerasnya. “Di mohon untuk 
seluruh warga dusun Teripang segera mengungsi dan membawa barang secukupnya”. 
Perintah Pak Sandi menggunakan TOA.

Hujan mulai semakin deras, warga mulai berbondong-bondong pergi ke dusun Merjo 
yang lebih tinggi. Angin bertiup kencang mengguncang pepohonan. Pohon kelapa, pohon asam, pohon rambutan semua tampak menari-nari bergoyang. Petir menyambar muncul dari 
tumpukan awan yang bergerak cepat. Hampir dipastikan tak ada orang yang berani ke pantai 
apalagi melaut. Pasti ombak sedang ganas-ganasnya. 

Derap kaki melangkah, semua orang membawa barang secukupnya. Ada yang 
membawa pakaian, karung beras, perkakas rumah, bantal, radio dan kebanyakan benda 
dibiarkan di rumah lantaran terlalu berat dan besar.

Sejam sudah berlalu dari masa evakuasi. Warga sudah tiba di pendopo dusun merjo, 
sebagian menginap di masjid yang didepannya sudah didirikan tenda bekas acara haul 
kemarin malam. Akhirnya dimulailah pendataan. Ternyata masih ada satu orang yang 
tertinggal yaitu Mbah Darsih!.

Dalam lamunan hujan, Mbak Darsih terpojok di kamarnya sambil memandang album 
foto usang. Beliau melihat potret anak, suaminya, orangtuanya dua puluh tahun yang lalu. Ia merindukan keluarga. Rumah peninggalan orangtua ini menjadi saksi bisu perjalanan hidupnya. Pandangannya menatap pintu kamar, ingatannya tertuju saat suaminya masih hidup. Sehabis panen tiba, ia menggendong sekarung gabah untuk ditaruh di gudang belakang. Meminta dibuatkan kopi, lalu minta dihidangkan singkong hangat kesukaannya. 

Ingatannya juga berpendar dimana saat momen lebaran kampungnya sangat meriah, banyak yang berziarah ke pemakaman tua, Berwisata ke pemancingan dan lain-lain . sungguh masa masa yang indah. Hujan tetap deras mengguyur, air mulai naik ke lantai rumah Mbak Darsih yang sudah ditinggikan sebelumnya. Mbah Darsih sangat yakin jika kampung halamannya ini akan kembali normal dan air bakalan surut sampaui jauh. Kehidupan akan seperti sedia kala. Mbak Darsih mengambil tasbih usang berbahan kayu mahoni peninggalan almarhum suaminya. Ia melirih untaian kalimat zikir.

“Semua akan berlalu, semua akan baik baik saja” gumamnya. Di luar rumah jalanan 
sudah tak keliatan sama sekali. Air sudah melahap bahu jalan. Bahkan rumah yang paling 
ujung sudah tenggelam setengahnya. Air juga sudah masuk ruang tengah Mbah Darsih.

Ingatannya kembali membuncah, kini beliau ingat masa kecilnya. Bersama teman-
teman sebaya, ia menyusuri muara yang berjarak satu kilometer dari belakang rumahnya. Mencari kepiting, ikan tembakul, atau kerang bakau yang suka bersembunyi di balik lumpur.
Lalu balik ke rumah menyusuri rawa dan sawah yang menguning. Ia ingat betul dulu di 
daerah dekat pantai terdapat langgar kuno dengan arsitektur setengah cina setengah joglo. Perpaduan yang unik jika dilihat. Beratap limas segi empat dengan pintu masuk banyak 
ukiran khas negeri cina. Namun sekarang mushola itu sudah benar benar tenggelam. Sesekali hanya pucuk atapnya yang kelihatan.

Tiga jam berlalu, tim evakuasi yang terdiri dari tiga orang beranjak ke kediaman 
Mbah Darsih menggunakan perahu sampan. Hujan sangat deras, perlu usaha yang keras 
untuk mencapai Dusun Kedasih. Aliran air juga tak bisa diragukan, beberapa kali sampan 
oleng tak seimbang dihantam kayu yang lewat. 

“Nah itu, rumahnya mbah “ Tunjuk salah satu tim evakuasi. Akhirnya mereka merapat, mengikat sampan di salah satu kayu jemuran . Air sudah setengah pintu masuk rumahnya. “Mbah!, ini kami mau jemput mbah” . Tak ada balasan maupun sahutan. Mau tak mau, salah satu tim merangsek masuk dan memeriksa kamar. Dan benar saja Mbah Darsih sedang meringkuk di atas dipan yang agak tinggi, air hampir menyentuhnya. “Mbah ! ayok ikut kami ke pengungsian”

“Mbah disini aja, hujannya sebentar lagi berhenti kok!” sahutnya. “Ayo mbah ikut, hujannya masih lama ini. Sebentar lagi rumah jenengan bakal tenggelam” Bujuk Pak Sarmin sang ketua tim.

Melihat gelagat Mbah Darsih yang enggan. Pak Sarmin mau tak mau berbohong dan membisikkan. “ Mbah, anak sama cucu jenengan sudah menunggu di pengungsian, gak sabar pengen ketemu katanya”. Bujukannya pun berhasil, Mbah Darsih berhasil di bawa ke pengungsian.

Hujan baru reda saat malam hari, dan benar seperti apa yang disampaikan berita 
nasional bahwa badai benar-benar terjadi. Zainuddin yang berada di surabaya merasa tak 
enak badan seakan-akan ada sinyal yang memanggilnya untuk pulang. Apalagi setelah 
melihat berita dimana kampungnya sudah tenggelam oleh air pasang dan banjir kiriman dari hulu. Segera dia memesan tiket kereta tujuan semarang. Ia berangkat saat magrib dan tiba sekitar jam 3 pagi. Langsung saja ia berangkat ke kampung halamannya menggunakan mobil grab. Perlu waktu satu jam untuk sampai di rumahnya.

Di tenda, Mbah Darsih merasa dibohongi. Ia tidak mau makan, padahal badannya 
kedingingan. Menggigil dari malam tadi. Ia hanya menyelimuti dirinya dengan kain 
kembennya. “Anakku mana?” Tanya Mbah. Pak Sarmin sebenarnya sudah menghubungi 
Zainuddin, dan ternyata saat dihubungi dia sedang di kereta.

“Sebentar lagi Mbah” Jawab Pak Sarmin menenangkan. “ Ayok makan dulu, ini ada 
nasi mbah”. Bujuknya lagi. Mbah Darsih tetap tidak mau makan sedangkan kondisinya makin 
mengkhawatirkan.

Sekitar pukul lima atau sehabis subuh. Zainuddin datang ke pengungsian, segera ia 
mencari ibunya itu di kerumunan warga. Ia mendapatkan ibunya berbaring di pojok 
pengungsian.

“Mak, ini Zainuddin anak emak!”

“Owh, Anakku semata wayang, cucunya dibawa ndak?”

“Aku sendiri kesini Mak, Syifa dan Dani besok sekolah jadi gak bisa diajak” Jawab 
Zainuddin.

Ia memegang kaki Ibunya, sangat dingin. “Emak sudah makan? Ini Zainuddin bawa 
bubur kesukaan mamak”. 

“Enggak usah nak, Emak udah kenyang” Jawabnya sambil tersenyum. Beliau nampak 
bahagia melihat anak satu-satunya yang dibanggakan. “Emak mau makan apa? Sini aku 
belikan ya mak?” tatap Zainuddin penuh harap.

“Emak Cuma pengen ditemenin kamu, jangan kemana-mana ya. Mak minta didoakan 
saja dan dibacakan Al-Qur’an” 

Zainuddin jadi ingat kalau ia sering diminta untuk menjadi imam sholat di masjid 
dekat rumahnya karena suaranya yang merdu. “Baik Mak, Zainuddin ambil wudhu dulu 
enggeh”. Setelah itu tampak Mbah Darsih tertidur pulas. 

Zainuddin merasa senang diminta ibunya. Dia membacakan surat Al-Kahfi kesukaan 
ibunya di hari jumat. Ibunya tampak tertidur pulas dan sangat pulas. Zainuddin akhirnya 
merampungkan bacaannya. Ia mengira ibunya tertidur. Sampai ia izin pergi membeli 
makanan.

“Mak, Zainuddin mau keluar sebentar ya” 
“Mak? Aku mau izin bentar” dua kali ucapan tetap tak ada tanggapan

“ Mak, lagi sakit ?”

“Mak, gak papa kan?” tanya Zainuddin sambil menyentuh bahu beliau. Tapi ada yang 
aneh, bahu yang ia pegang ternyata dingin. Lalu ia kembali menyentuh pergelangan tangan 
dan dingin juga. Lalu menyentuh leher ternyata dingin tak ada denyut nadi lalu terakhir 
menyentuh dahinya dan dingin juga. 

Tak terasa tetesan air mata merembes jatuh di pangkuannya. Matanya sembab. 
Giginya gemeretak. Tangannya mengepal kuat. Tak tahan menahan, emosinya pun 
membuncah. Zainuddin menangis. Para pengungsi geger, ada korban jiwa dalam peristiwa itu. Wafatnya Mbah Darsih menyisakan tangis pilu. “Emak Cuma pengen ditemenin kamu, jangan kemana-mana ya. Mak minta didoakan saja dan dibacakan Al-Qur’an”


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar