Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Sketchbook and Her

sumber :pinterest.id

Oleh : Hilyatus Saadah

Setelah dari aula untuk belajar malam, aku menemukan kejanggalan di Lorong aku berjalan, saat akan kembali ke kamarku. Seperti ada yang berjalan di belakangku. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 1 malam yang sudah sepi waktu tidur murid. Saat aku menoleh tiba-tiba “Kak Abel!”. Huft itu ternyata suara Irene. Mengagetkan saja. Irene adalah teman sekamarku di asrama sekaligus teman sekelasku di SMP Edzeir ini. “Kamu dari mana rene?” tanyaku. “aku dari bercerita bersama temanku”. “Yuk ke kamar kak” sambung Irene dengan memeluk sketchbooknya. “Ooh, yuk” jawabku singkat hanya mengiyakan ajakannya. 

Irene adalah gadis cantik berkulit putih pucat yang sangat kompeten dalam menggambar dan melukis dan hal itu pun diakui oleh coach kami di kelas seni saat dia melukis seorang gadis cantik dengan kanvasnya. Kemana-mana ia membawa selalu sketchbooknya. Tapi, yang perlu kalian tau adalah ketika kita sedang duduk berdampingan saat kelas, aku meminta izin untuk melihat apa yang ia gambar di dalam sketchbook itu. Didalamnya bukanlah gambar-gambar indah tentang pemandangan alam, lukisan abstrak, ataupun sesuatu yang nyaman untuk dilihat. Melainkan banyak gambar aneh dan Sebagian besar nya adalah gambar manusia. Anehnya bukan manusia cantik nan elok, melainkan manusia yang berlumuran darah dengan pisau menancap di perutnya dengan sosok menyeringai disampingnya, manusia dengan membawa kepalanya yang terputus, manusia dengan wajah yang tak beraturan dan hancur, manusia dengan sekelilingnya banyak tangan dan makhluk aneh, dan sebagainya. Tak jarang juga dia menyispkan kata-kata seperti death, evil dan blood dalam setiap gambarannya. Semua goresan dalam buku itu sangat di luar nalar. Indah namun mengerikan. Itulah kata yang ada di otakku saat melihat semua itu. Tak kumengerti apa maksud dari semua gambaran tersebut, kuberikan kembali buku itu kepada Irene. Irene memang sedikit memiliki kelebihan tak lain adalah sering berbicara sendiri, tidak bisa menatapkan pandangannya pada lawan bicara, dan memiliki gerak tubuh yang cenderung tidak tenang. Namun, dia masih bisa memahami dan merespon apa yang dikatakan lawan bicaranya dan sangat cerdas. 

Suatu malam terjadi insiden yang sangat aneh. Dimana ada 2 murid yang berada di kamar tepat sebelah kamarku menangis histeris, dan satu lainnya marah-marah entah kenapa. Tak lama Miss emy dan Miss Fatimah datang dan membawa mereka ke kantor. Kemudian memerintahkan aku yang bertatapan mata dengan Miss Fatimah untuk ikut. Mereka mengunci pintu dan tirai kantor agar murid yang lain tidak datang untuk melihat. Mereka memerintahkan murid-murid untuk kembali ke kamar mereka dan tidur karena waktu sudah menunjukkan pukul 1 malam. Di dalam kantor terbujur dua anak yakni adik kelasku yang sedang di bacakan do’a oleh Miss Fatimah. Miss Fatimah adalah guru agama sekaligus pengurus kami di asrama ini. Tak lama Miss Fatimah bertanya kepadaku “Dimana Irene?”. Belum aku menjawab, Irene datang dengan berlari dan meminta untuk masuk ke kantor. Dia duduk di depan kami dan berkata kepada salah satu Murid yang terbujur. Aku tak mengerti apa yang ia katakan. Anehnya salah satu murid tersebut mendapatkan kesadarannya dengan tubuh yang masih lemas. Irene pun bercerita bahwa sosok yang merasuki murid itu bernama Nana, temannya dari Canada yang menghuni di Gudang dekat dengan kamarnya. Irene pun bercerita bahwa dia memang sudah lama berteman dengan Nana. Irene berkata Nana adalah gadis berumur 10 tahunan yang sangat cantik mengenakan gaun selutut berwarna putih dan memakai sepatu boots seperti orang Eropa yang pernah ia Lukis di kelas melukis. Irene mengenal Nana adalah gadis cantik dari masa colonial Belanda sebelum sekolah Edzeir ini dibangun. Ia juga pernah melukis tragedy kematian Nana di sketchbooknya. Namun ia tidak mengenal sosok apa yang memasuki tubuh murid satu lainnya yang bernama Yura. Kemudian Irene meminta izin untuk mengajakku pergi kesuatu tempat. Ya, di bawah alam sadar. Irene mengisyaratkanku untuk memegang tangannya. Sesaat kemudian aku seperti berada di alam mimpi. Aku bisa melihat tubuhku dan Irene duduk disana. “Ayo kak bel kita harus cepat menuju gudang” ajak Irene. Kami menuju gudang yang disana terdapat Yura duduk di kursi kayu dengan tangan dan leher di ikat oleh semacam sabuk kulit. Yura tak sadarkan diri. Segeralah kami melepaskan jeratan tersebut dan Yura tersadar masih lemas. Di ruangan lembab nan gelap tersebut tidak ada apapun atau sosok apapun. Kami pun berlari sekuat tenaga untuk kembali. Dan melihat raut Miss Emy dan Miss Fatimah lega.

Esok malamnya Irene bercerita kepadaku tentang sosok yang kemarin membawa Yura. Dia menunjukkan lembar terakhir dalam sketchbook-nya kepadaku. Inilah yang terakhir ia lihat saat berada di Gudang, seorang lelaki tinggi berjubah dan bertudung berdiri diujung ruangan dengan warna hitam mendominasi kertas itu. Disamping lukisannya terdapat tulisan “Wanna see something interesting?”. 


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar