Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Post-truth

Source: New Age

Oleh Hilyatus Saadah

Zaman yang semakin berkembang memaksa kita hidup di era serba digital. Jika kita tidak memperluas pengetahuan, membuka pikiran, dan menggali informasi sebanyak-banyaknya tentu kita akan tertinggal dan sukar untuk menilai mana yang baik dan buruk. Cepatnya kenaikan tingkat digitalisasi melahirkan platform-platform yang digunakan sebagai sarana atau wadah bagi seseorang untuk kepentingannya sendiri (oknum tertentu). Lebih khususnya tentang bagaimana dampak ‘wadah’ tersebut terhadap psikologi seseorang. Mari kita melihat masalah ini dari beberapa contoh, misalnya media sosial.

Media sosial menjadi ajang mencari ketenaran yang menimbulkan seseorang cenderung tidak peduli tentang etika maupun kualitas informasi yang disampaikan. Wadah ini juga memungkinkan seseorang untuk terbiasa berbohong atau mengesampingkan fakta karena mengikuti hal-hal yang sedang ramai diperbincangkan tanpa menggali informasi yang sebernar-benarnya. Mental seseorang juga sangat berkaitan dengan hal demikian, di mana seseorang bisa menerima fakta namun yang sesuai dengan ideologi mereka. Bahkan tak sedikit orang membuat komunitas seidiologi itu sendiri dalam mendukung pemikiran yang mereka kira benar.

Dapat disimpulkan bahwa masalah penggunaan media sosial dalam masyarakat ini seseorang cenderung memedulikan emosi atau ideologinya mereka sendiri dibandingkan fakta objektif dan rasionalitas. Inilah yang disebut dengan post-truth yakni kebohongan menyamar sebagai suatu fakta. Selain itu, media sosial juga dapat menimbulkan seseorang lemah kewaspadaan. Jika kita lemah intuisi akibatnya, seperti pada kasus kenal melalui media sosial jumpa darat ditipu, diperkosa, dan semacamnya. Memang tidak semua namun hal yang perlu kita ketahui adalah untuk tetap waspada dan bijak dalam penggunaan platform-platform yang beredar di masyarakat ini. 

Selanjutnya akan dikupas lebih lanjut teknik-teknik post-truth (fakta menjadi nomor dua, lebih mengutamakan ideologi atau emosi) yang agresif atau hiperrealitas. Sederhananya hiperealitas adalah tanda yang dianggap real itu sendiri. Sebagai perumpamaan ada anak yang memaksa meminta membeli salah satu merk pembalut kepada ibunya, karena di iklan yang ia lihat di televisi adalah bahwa jika membeli itu ia bisa berenang dan berkuda. Tanda yang ditunjukkan oleh iklan malah dianggap hal real itu sendiri oleh anak tersebut.

Adapun beberapa teknik-teknik post-truth adalah; (1) Deepfakes yakni manipulasi informasi seakan-akan seperti faktanya video/audio sebagai tujuan untuk menghancurkan orang, (2) Dunia virtual dibuat nyata, (3) Komunikasi phatique, yakni yang terpenting adalah menarik perhatian. Sebagai contoh adalah terdapat iklan dengan gambar penderita aids stadium, (4) Disandingkan dengan biarawati, sepeti contoh  dituntut oleh penderita aids. Mereka kalah dalam persidangan dan dikenai denda. Motifnya adalah marketing. Mereka berasumsi bahwa membayar ke stasiun televisi untuk memasarkan produknya lebih mahal daripada membayar denda di pengadilan. Ini adalah komunikasi patic, (5) Troll yakni mengedarkan pesan jahil ke forum atau kelompok untuk memprovokasi penerimanya (6) Skematisasi, yakni penyederhanaan argument untuk memprovokasi. Sebagai contoh adalah iklan pasta gigi. Iklan di dalam televisi mengiklankan bahwa pasta gigi ini mengandung fluoride. Namun, penonton tidak mengerti apa itu fluoride. Dan kita bisa melihat bahwa sales-sales pasti tidak bilang begitu. Melainkan bilang jika beli pasta gigi ini maka gigi kamu akan putih seketika. Maka ini yang disebut komunikasi skematisasi, (7) Weaponization of information, yakni audience dibuat skeptis, sebagai contohnya adalah penemuan hubungan rokok dengan kanker paru-paru. Pihak rokok menyewa ahli untuk membuat penelitian lapangan agar rokok tetap laku. Menyatakan memang benar adanya hubungan kanker paru-paru dengan rokok tapi ada satu yang masih belum pasti penelitiannya. Jadi pengguna rokok masih berfikir bahwa penelitian itu belum ada finalnya.

 


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar