Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Pom Poko, Misteri Hantu Proyek


  

https://hyakumonogatari.com/

Oleh: Hidayatun Na

“Kamu harus ikut aku ke bukit Tama minggu ini! Aku menemukan sesuatu tentang misteri hantu di proyek itu!”

Aku menahan nafas karena terkejut. Tiba-tiba saja kawan sebangkuku mencondongkan tubuhnya di meja kantin dan berbisik setelah aku meneguk segelas es teh. Tak hanya itu, aku yang penakut ingin berteriak marah karena dia mendadak mau mengajakku ke hutan. 

“Di hutan ya jelas banyak hantunya!” teriakku. 

“Ini hantu yang lain, Doni! Hantu ini beda dari yang lain. Sungguh.”

Ah, aku tahu ke mana arah pembicaraan ini. Dari tadi sudah tak kuhiraukan cerita petualangan uji nyalinya. Tetapi dia terus saja memaksa dan aku terpaksa mendengarkan. Bagiku hantu sama saja, tak ada bedanya. Sekali ia hantu ya tetap hantu. Mau di hutan, di rumah, di proyek atau di manapun, hantu tetaplah hantu. 

Aku mendengus, memberi sinyal bahwa aku tak ingin mendengar isi fikiran liar dari sahabatku lagi. Ia baru saja pergi camping ke hutan di bukit Tama minggu kemarin. Hutan yang sebentar lagi akan menjadi gundul karena terus ditebang untuk membuat proyek Kota Baru Tama yang memakan 3000 hektar area dan diperkirakan mampu menampung populasi manusia sebanyak 300.000 orang.  

Awalnya, pembangunan proyek berjalan dengan lancar sampai di bulan keempat minggu pertama, ada kecelakaan  janggal yang menyebabkan kematian 4 orang pengemudi truk gandeng dan membuat 2 orang pekerja mengalami luka berat. Ya, kecelakaan itu memang janggal karena para pekerja bersaksi bahwa mereka telah melihat berbagai macam bentuk hantu yang mengalihkan konsentrasi mereka sebelum terjadi kecelakaan. Hantu-hantu itu memiliki berbagai macam bentuk seperti hantu muka rata, hantu yang menyerupai para pekerja, serta  suara-suara anak kecil yang membuat para pekerja seperti mengalami halusinasi. Tentu saja, orang-orang lebih suka mengaitkan hal ini dengan hal mistis bahwa hutan itu berhantu ketimbang melihat dari sisi ilmiahnya bahwa perbukitan di sekitar hutan sangat terjal atau mungkin saja para pekerja berkendara ketika hujan badai sehingga pandangan mereka menjadi kabur dan terbataas. 

Gangguan hantu proyek itu tak juga berakhir. Malah semakin menjadi-jadi dan menyebabkan banyak pekerja proyek merasa tertekan. Desas desus mengenai hantu proyek berkembang ke seluruh penjuru negeri. Banyak mengaitkan hal tersebut dengan arwah para tumbal yang gentayangan. Banyak diantara pekerja memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan mereka karena tak mau mengambil resiko.

Meskipun demikian, pemerintah tidak berniat menghentikan pembangunan. Memang sempat tertunda untuk dua minggu, namun pembangunan kembali dilaksanakan dengan para pekerja baru. Akhirnya, untuk menghindari adanya korban lagi, pemimpin proyek mengikuti saran para tetua untuk melakukan ritual persembahan di sebuah kuil dan meminta restu para dewa penghuni hutan Tama yang telah lebih dahulu berada di sana agar diizinkan untuk melanjutkan pembangunan proyek. Apapun yang terjadi, proyek senilai milyaran yen itu harus tetap terlaksana. Bukan tanpa alasan, bertambahnya penduduk membuat kota semakin padat dan mau tidak mau mereka harus membangun tempat tinggal baru walaupun hutanlah yang menjadi korban.

Karena hal inilah, Riko sang pecinta magis pun nekad untuk menggali misteri hantu proyek kota Tama di hutan Tama yang angker. Ia bilang ada banyak kejanggalan pada kematian para pekerja dan gangguan magis yang dialami oleh mereka. Dia bersama komunitas ghost hunternya mengadakan kemah selama akhir pekan sembari meneliti keadaan sekitar. Ia selalu percaya kepada hal klenik. Sudah seperti cenanyang.

“Aku penasaran, makanya aku ingin cari kebenarannnya, Don. Siapa tahu ada faktor lalin selain hantu kan?”

“Ah, sudahlah Rik, aku tidak akan ikut denganmu!”

Aku menggelengkan kepala, menyerah.

Kami pun berdebat. Aku heran mengapa ada orang yang mau mengambil resiko dimakan hantu demi membuktikan bahwa itu bukan hantu? Hanya orang gila yang seperti itu.

Untungnya, bel masuk kelas melerai perdebatan kami. Tetapi memang Riko keras kepala, ia tetap bersikeras mengajakku, terus mengatakan bahwa hantu yang ini berbeda dari hantu biasanya, mereka tidak seram. Hantu muka rata tidak seram, katanya? Membayangkan wujudnya saja sudah membuat nyaliku menciut.

Sebelum aku sempat berlari kecil menuju kelas, Riko menepuk bahuku dan membisikkan sesuatu. Aku tersentak, tak percaya tentunya. Tetapi apa yang dikatakan Riko di telingaku membuat bulu kudukku berdiri. Anehnya, rasa penasaranku juga bergelora, ada kontradiksi dalam hatiku apakah aku harus percaya pada Riko atau tetap pada pendirianku.

Riko dan pengalamannya memang aneh, namun dia sudah menjadi sahabatku sejak Sekolah Menengah Pertama. Meski bukan indigo, Riko tahu banyak tentang misteri dari dimensi lain yang ia dapatkan dari hobinya membaca dan memburu tempat-tempat misterius.

“Ayolah, Don, aku sungguh-sungguh!”

Aku terdiam sejenak. “Kupikir-pikir dululah.” Kataku dengan malas dan berlalu ke dalam kelas.

------------------------------------------------------------

Pada minggu selanjutnya, aku terpaksa ikut Riko berkemah. Terpaksa mengikuti rasa penasarannya yang ternyata juga membuatku penasaran. Riko mendapatkan sebuah cerita tentang hantu hutan Tama dari neneknya. Aku tahu nenek Riko tak bergurau. Orang tua yang bercerita hal mistis berarti menceritakan kebenaran. Itu yang kuyakini.

Kami bedua sampai di bukit setelah mentari tak lagi terik dan langsung mendirikan tenda di kaki bukit, tepat di antara sisa hutan Tama dan pembangunan proyek yang sudah sepertiga jadi. Riko sengaja tak mengajak teman-teman komunitasnya karena baginya mereka terlalu berisik.

Perlahan, semburat kemerahan dari cahaya matahari menghilang. Malam datang dan suasana mulai mencekam. Banyak serangga malam menggeliat ntuk melakukan tugas mereka seperti jangkrik yang mengerik, nyamuk yang berebut darah kami berdua, burung hantu dengan suara menyeramkannya yang khas, serta hewan-hewan lain yang seolah sedang bercengkrama di keheningan malam.

Aku dan Riko duduk di atas sebongkah kayu besar yang tumbang setelah makan mie instan. Kami memeluk lutut masing-masing karena udara dingin yang mulai menusuk kulit, meskipun siang harinya, panas terasa seperti neraka.

“Awalnya, aku sedang duduk di sini, malam sudah mulai larut dan bulan purnama muncul membentuk bayangan dahan pohon.” Kata Riko menunjuk sebuah pohon besar dengan cabang yang tinggi di depan kami. “Aku ingat sekali tak ada cabang apapun di sana saat aku mendirikan tenda, kemudian aku berkata ‘Sepertinya tadi tidak ada cabang di sana’ dan aku memalingkan wajah ke arah yang lain. Saat kembali melihat pohon itu lagi, dahannya berpindah dari sisi kanan ke sisi kiri. Lalu aku berkata lagi ‘Loh, bukannya tadi di sisi sebelah sana juga ada cabangnya?’ lalu aku pura-pura memalingkan wajah lagi. Dan saat aku kembali melihat pohon itu untuk kedua kalinya, kulihat ada dua dahan di sana. Dan sesaat setelahnya, aku mendengar suara dentuman. Seperti ada sesuatu yang besar terjatuh dari pohon. ‘Brukk!’ aku terkejut sesaat, tetapi setelah berfikir sejenak, aku merasa lega. Karena ternyata apa yang dikatakan nenekku benar.”

Aku tak mengerti dengan perkataannya. Orang ini tak punya rasa takut! “Tunggu, tunggu. Jadi, menurut nenekmu itu bukan hantu?!”

“Itulah mengapa aku mengajakmu ke sini, Don.”

Aku ingin protes karena tidak mendapatkan jawaban. Tetapi semua itu kutahan karena bulu kudukku sudah keburu berdiri setelah mendengarkan ceritanya. Ditambah lagi, hutan ini sangat gelap karena bulan tak lagi menerangi dengan utuh. Suara nyamuk mengusik telingaku. Udara begitu dingin dan lembab dengan angin yang berhembus pelan. Aku mendongak dan menyaksikan dedaunan pohon melambai-lambai di atasku, dalam kegelapan.

Percaya tidak percaya, aku sudah terlanjur terjebak di sini dan harus menunggu sampai pembuktian itu terjadi. Nasibku kuserahkan pada Riko. Jika memang hantu yang ia bilang benar tidak menakutkan, aku akan jadi temannya untuk selamanya. Tetapi jika yang terjadi sebaliknya, akan kutinggalkan ia sendiri bersama hantu-hantu itu, biarlah ia dimakan.

Tetapi sampai hampir tengah malam tiba, kami tidak menemukan apa-apa. Tak juga ada keanehan di dahan pohon seperti yang dilihat oleh Riko minggu lalu. Aku dan Riko terus menunggu dengan terkantuk. Api unggun sengaja dimatikan dan kami duduk cukup jauh dari tenda.

“Jadi, kita masih mau menunggu hantu dahan pohon?” tanyaku. Meski terkantuk, aku tak bisa tidur karena bagiku suasana seperti ini sangat menakutkan. Tak memungkinkan untuk tidur karena takut akan terbangun di beda alam.

Riko menangguk. “Kau tahu tidak? dulu, kata nenekku, hantu-hantu yang menghuni hutan adalah jelmaan dari hewan-hewan. Hantu makhluk halus itu tidak ada. Semuanya murni ulah hewan-hewan.”

Ah, dia ngaco lagi! “Tak mungkin! Hewan dan hantu jelas berbeda. Hewan buas jauh lebih menakutkan dari hantu!” Teriakku padanya.

“Aku serius, Don. Ucapan nenekku benar bahwa masih ada banyak rakun yang menunggu hutan ini. Aku telah membuktikannya”

Rakun?

“Apa hubungannya hantu dengan rakun?” tanyaku terheran. “Rakun tak mungkin jadi hantu. Atau jangan-jangan maksudmu suara gedebuk tadi sebenarnya adalah rakun?”

Riko mengangguk. Kenapa ia tak ceritakan itu dari tadi?

“Aku tahu bahwa yang kulihat kemarin adalah rakun ketika dahan pohon itu berpindah-pindah. Itu seperti cerita nenekku. Hantu tak mungkin menakut-nakuti dengan cara begitu. Mereka hewan, tak punya akal. Dan satu hal lagi, para rakun mudah terpengaruh oleh manusia. Makanya saat kukatakan dahannya tadi tidak di sini, di ikuti perkataanku.” Riko berdiri, memasukkan kedua tangannya ke saku jaket. Sedang aku bergidik ngeri. Baru kali ini aku mendengar bahwa rakun bisa menjadi hantu. Tetapi aku masih tidak percaya.

“Aku diajari nenekku sebuah lagu untuk berkomunikasi dengan rakun. Ini lagu anak-anak. Aku sering dinyanyikan oleh nenekku waktu kecil dulu. Sebentar lagi mereka akan beraksi untuk menakut-nakuti pekerja proyek. Ayo kita pergi melihat!”

Aku mengikuti Riko dari belakang. Ia berjalan menyusuri jalan kecil di hutan sambil menyanyikan sebuah lagu. Ia menyanyikannya dengan pelan dan berhati-hati.

Tuan rakun, tuan rakun, maukah kau keluar dan bermain?

Tidak bisa, aku sedang makan

Apa yang kau makan

Acar plum dan lobak

Boleh aku minta sedikit

Ketika dinyanyikan dalam kondisi seperti ini, lagu tersebut lebih terdengar seperti mantra pengundang setan ketimbang lagu anak-anak. Riko mengulang bait pertama lagu. Kali ini dengan nada yang cukup keras. Memecah keheningan malam.

Tuan rakun, tuan rakun, maukah kau keluar dan bermain?

Tubuhku bergetar hebat tatkala samar-samar dari kejauhan di timur, aku mendengar sebuah sahutan.

Tidak bisa, aku sedang bekerja

“Dengar suara itu, Don?” Tanya Riko yang langsung berlari kecil menuju sumber suara di tengah hutan.

“Apa yang kau kerjakan?” sahut Riko.

Suara itu menggelegar. Seperti grup paduan suara yang memenuhi hutan. Diikuti dengan langkah kaki yang menderap dengan cepat dan keras, seolah sedang berlari kencang. Dari tempatku berdiri, kulihat bayangan-bayangan besar berbaris di sekitar pohon seperti genderuwo bermata merah. Riko mengerjar bayangan itu tanpa sedikitpun rasa takut.

“Menakuti-nakuti manusia” Jawab para bayangan.

Kudengar Riko terus bernyanyi sahut menyahut dengan suara misterius itu. Tetapi aku sudah tidak bisa mendengar dengan jelas. Riko tak bisa kukejar karena langkahnya sama cepatnya dengan makhluk-makhluk hitam yang kulihat sangat menyeramkan, seperti mimpi terburuk yang pernah kuimpikan.

Aku terpaku, seolah ada sesuatu yang mencengkram kakiku hingga tak bisa bergerak. Tetapi untuk menghindari kemungkinan buruk yang mungkin terjadi, aku memaksakan diri untuk berjalan. Terus berjalan mengikuti Riko di kegelapan. Nafasku tak beraturan, jantung berdegup kencang seolah isi kesunyian adalah suara detak jantungku sendiri. Aku mencari jejak Riko dalam kegelapan, tetapi tak kunjung menemukannya. Ingin berteriak tapi seperti ada sesuatu yang menyumbat kerongkonganku.

Karena tak kuat lagi, aku menyandarkan pungungku di bawah pohon besar. Meredakan rasa takutku. Tak percaya dengan apa yang baru saja kulihat dan kudengar. Aku menelan ludah. Kepalaku terasa pusing dan telingaku berdenging. Kudengar suara langkah kaki, yang ternyata adalah Riko.

“Kamu sembunyi di sini saja Don!” katanya dengan tergesa-gesa lalu kembali berlari mengejar suara.

Dari balik pohon tempatku hampir pingsan, ketika kesadaranku mulai pulih, sayup sayup aku mendengar suara beberapa orang yang sedang bernegosiasi. Aku tak tahu apa yang baru saja terjadi dan apa yang sedang terjadi. Yang kuingat kepalaku berdenyut hebat sebelum akhirnya tak sadarkan diri.

Aku berpegangan pada pohon agar dapat berdiri tegak dan mengintip dengan jelas. Di kejauhan, aku meihat Riko sedang berbincang dengan seorang laki-laki berkacamata asing yang entah datangnya dari mana. Mereka berdua dikelilingi oleh beberapa makhluk lain dengan bentuk abstrak dan juga belasan ekor rakun.Tetapi mereka semua bisa berbicara seperti manusia dan perbincangan di antara mereka terasa menegangkan.

“Kami telah melakukan yang kami bisa. Namun rupanya, jurus perubahan bentuk kami tidak cukup untuk mempertahankan lahan yang kami miliki. Kami kalah di rumah kami sendiri!” Kata lelaki berkacamata itu, diikuti suara protes dari yang lain.

“Aku juga minta maaf karena tidak bisa menjanjikan apapun kepada kalian. Tetapi aku akan berusaha agar manusia menyadari dan melindungi kehadiran kalian meskipun proyek ini tetap terealisasikan.” Riko menjawab dengan mantap.

“Mustahil! Kami tak percaya manusia! Kau lihat seberapa banyak rakun yang mati?! Kami akan punah! Di hutan tak ada makanan! Menyebrang jalan kamu tertabrak, mencari makan, kami masuk jebakan! Tak ada tempat aman seperti dulu lagi buat kami!” Sesosok makhluk berbentuk beruang coklat ikut menyahut. Suaranya besar dan menyeramkan.

“Tak ada lagi makan buah persik, atau tikus sawah!” seekor rakun bertubuh gempal ikut menimbali.

Tak percaya dengan apa yang kulihat, peganganku terlepas. Aku kembali terjatuh dengan lemas. Sayangnya, saat itulah para rakun menyadari kehadiranku. Mereka membuat ancang-ancang untuk melindungi diri.

“Kau pun sama dengan yang lain. Memanfaatkan kehadiran kami, tetapi tak melindungi!” kata lelaki berkacamata itu sembari menatapku tajam.

“Tidak, dia temanku. Dia orang baik! Kami akan berusaha menyelamatkan habitat kalian! Sungguh!” Riko merentangkan kedua tangannya sambil memohon.

Tetapi makhluk-makhluk itu sudah kehilangan kepercayaan. Dalam sekejap mata rakun-rakun itu berkumpul dan membentuk sebuah tangan raksasa yang mengepal lalu menghantam wajah Riko hingga ia terpental jauh dihadapanku.

“Kalian sama saja!” Teriak mereka bersamaan dalam wujud genderuwo lalu pergi melayang dan menghilang di balik gelapnya hutan.

Aku kembali pingsan.

Dahulu, pada zaman Edo sekitar abad ke-16, para rakun dipercaya menduduki puncak tertinggi kehidupan manusia karena mereka memiliki kemampuan untuk berubah bentuk. Rakun ini bernama Tanuki dan memilki tubuh yang gemuk. Mereka merupakan makhluk yang lucu, periang, dan suka bernyanyi tetapi jahil.

Sudah berabad-abad lamanya Tanuki mendiami hutan Yabo dan hutan Tama untuk hidup di sana dan membentuk komunitas yang solid dengan kekeluargaan yang erat. Banyak yang bilang, mereka sudah seperti dewa penjaga hutan di kota ini. Namun, pembangunan yang terus dilakukan telah membuat habitat mereka terancam punah. Bahkan, para rakun saling berperang untuk berebut wilayah hutan yang tersisa.

Tanpa diketahui manusia, para rakun terus mempelajari seni perubahan bentuk agar bisa menjadi manusia untuk mencari makanan atau melakukan observasi mengenai perilaku manusia sesungguhnya. Para rakun yang menganggu proyek Kota Baru Tama adalah keturunan Tanuki yang masih tersisa di dunia modern. Pembunuhan terhadap umat manusia, adalah satu-satunya cara untuk menghentikan proyek dan mempertahankan habitat mereka yang tersisa. Namun, entah karena jumlah mereka terlalu sedikit, atau kekuatan mereka yang terlalu lemah, para rakun tak bisa merebut kembali tanah mereka.

Para rakun yang menyerah dengan perjuangan melawan manusia, memutuskan untuk pindah ke hutan Azuri yang terletak cukup jauh dan harus menyeberangi sungai besar. Sedangkan mereka yang memutuskan untuk tetap bertahan di Tama, mengerahkan segala kemampuan agar tetap bertahan hidup meski dengan banyak ancaman.

Pada akhirnya, proyek itu tetap dilakukan dengan menyisakan hanya dua hektare taman. Di sanalah sisa-sisa rakun berkumpul untuk bernyanyi dan menikmati kehidupan yang ada saat ini. Dalam kondisi sulit, persatuan para rakun dipertaruhkan agar tetap bertahan dan hidup berdampingan dengan manusia. Dengan bernyanyi itulah, mereka bisa melupakan kisah pilu yang telah merenggut ratusan saudara dalam waktu singkat.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar