Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Perspektif Santri terhadap Sifat Ikhlas

  

Link Gambar : https://images.app.goo.gl/vd9YcdM7jB8DWBKb9 

         Oleh : Zainuddin

            Kita sering mendengar istilah ikhlas di berbagai literatur, media sosial bahkan perkataan orang-orang yang sedang memberikan jalan pintas kepada seseorang yang sedang mengalami jalan buntu untuk permasalahannya. Lantas bagaimana kita sebagai santri menanggapi kara ikhlas itu sendiri ? mungkin akan lebih jelas apabila santri sendiri yang mengalami hal tersebut. Seperti, baru dikirim uang jajan oleh orang tuanya kemudian ada iuran untuk membeli barang semisal kaos/pakaian yang seragam dengan temannya, mungkin santri sangat mengalami hal tersebut. Meski tak semua santri pernah merasakan hal tersebut.

Lantas bagaimana seorang santri menghadapi derasnya cobaan ketika saat di pondok pesantren yangg mengharuskan seorang santri itu aktif dan tidak boleh bermalas-malasan. Maka dsinilah mental seorang santri harus kuat. Disaat teman-teman yang lain sedang asyik bermain HP atau PS di luar sana, santri sedang diselamatkan oleh kegiatan-kegiatan yang berfaedah di dalam pesantren. Santri harus kuat menahan kuatnya godaan yang terus menerus dirasakan teman-teman yang berada di luar pesantren. Maka relanya santri/kuatnya kesabaran santri itulah keikhlasan. 

Ikhlas tidak hanya merelakan sesuatu yang sudah hilang/sabar atas sesuatu yang telah menimpanya. Tetapi hal yang dialami oleh seorang santri itulah sebuah keikhlasan. Dimana santri dituntut untuk selalu semangat dan tidak terlebih dahulu melihat kenikmatan diluar sana. seperti yang tercantum pada bait nadhom imrithy. Pada bab i’rab al-Fi’il terdapat sebuah bait كلا ترم علما وتترك التعب  yang artinya : “Janganlah kau menginginkan ilmu sedangkan rasa lelah kau tinggalkan”. Sudah jelas pada bait itu seorang santri atau lebih tepatnya orang yang menuntut ilmu diharuskan untuk semangat, ketika santri terus bermalas-malasan maka jangan harap ilmu kan itu akan sampai pada dirinya. 

Bisa kita ambil kesimpulan bahwa semangatnya santri dalam mencari ilmu dan kesabaran santri untuk menahan keinginannya seperti halnya teman-temannya yang tidak berada di dalam pesantren adalah salah satu bentuk ikhlas yang mungkin bisa diterapkan kepada orang yang sedang menekuni suatu bidang tertentu, untuk selalu sabar dan istiqomah tanpa henti demi berhasilnya tujuan yang dia capai. Sama seperti halnya santri yang harus ikhlas berada di dalam pesantren, mencari ilmu demi masa depannya yang cerah. Ikhlas dalam belajar, sabar menahan keinginan yang harus ditahan selama berada di pesantren. Semoga kita bisa mengamalkan Sifat Ikhlas yang insya allah manfaatnya akan kembali pada diri kita sendiri. 


Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar