Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

PENGARUH PERKAWINAN DI BAWAH UMUR TERHADAP TINGKAT PERCERAIAN

Oleh Nyimas Salsabila Fitri 

ABSTRAK

Perkawinan merupakan sesuatu hal yang sakral dan tidak bisa dianggap biasa saja, membina keluarga dengan baik merupakan tujuan yang ingin dicapai oleh sepasang suami-istri namun dalam kenyataannya seringkali masalah mucul dan tidak bisa mencari jalan keluar yang tepat sehingga terjadi perceraian. Perkawinan di bawah umur mempunyai banyak masalah  dari ekonomi atau finansial sampai permusuhan dari keduanya. Data dari BKKBN menyebutkan bahwa umur yang tepat untuk melakukan perkawinan  sekitar umur 20-25 karena sudah siap dari sisi mental dan psikologis untuk menghadapi masalah-masalah yang ada.

_______________________________

Kata Kunci : Perkawinan, ekonomi, psikologis

Sebagai seorang manusia pernikahan atau perkawinan merupakan sesuatu yang diinginkan semua orang sehingga itu menjadi sebuah keharusan bagi setiap orang, bisa dikatakan perkawinan adalah perjanjian yang antara pria dan wanita dewasa yang pada umumnya tidak memandang profesinya seperti apa, agama, miskin atau kaya, dan dari mana mereka berasal (desa atau kota). Namun demikian sebagian orang memperhatikan hal tersebut dengan kemampuannya untuk mencari pasangan baik itu secara fisik maupun mental karena untuk membentuk sebuah keluarga yang mana pada hakikatnya dan tujuan dari perkawinan itu sendiri adalah untuk mendapat kebahagiaan, hal itu menjadi sesuatu hal yang penting karena dengan sebuah perkawinan seseorang akan bisa memperoleh kebutuhan hidupnya seperti biologis maupun psikologisnya.

Manusia dengan berlangsungnya sebuah pernikahan dengan secara otomatis semua kebutuhannya dapat terpenuhi secara biologis, dan juga bisa memenuhi kebutuhan seksualnya dengan pasangan. Semantara itu juga dari segi rohani dan mental sangat mempengaruhi individu karena seseorang yang telah menikah lebih bisa untuk mengendalikan emosional dan juga telah bisa mengendalikan nafsunya. Dapat dikatakan bahwa kematangan emosional menjadi aspek yang sangat penting untuk menjaga kerukunan dalam sebuah perkawinan. Keberhasilan sebuah hubungan suami istri (keluarga) salah satunya adalah kematangan emosional dari individunya itus sendiri baik itu suami ataupun istri, selain itu juga kematangan emosional dari individu ini dapat menyelesaikan masalah-masalah yang ada di keluarga bisa diatasi. Seseorang bisa dilihat kematangan emosionalnya bisa dilihat dari umur seseorang tersebut karena yang sudah disampaikan di awal bahwa perkawinan dilakukan oleh pria dan wanita dewasa jadi bisa dikatakan bahwa perkawinan mempunya tanggung jawab besar ketika sudah berlangsungnya perkawinan banyak sekali aspek aspek yang menjadi yang harus dipertanggungjawabkan dari segi kesiapan secara rohani dan jasmani lalu juga kesiapan dari segi ekonomi karena beberapa orang aspek ekonomi diperhatikan dll.

Sehingga bisa dikatakan bahwa tidak sembarangan orang bisa melangsungkan perkawinan ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Kesiapan-kesiap yang menjadi tanggung jawab ketika berlangsungnya perkawinan sudah menjadi hal yang wajib bagi setiap manusia, menurut Duvan dan Miller menikah merupakan hubungan yang bersifat suci antara pasangan dari seorang pria dan seorang wanita yang telah memiliki cukup dewasa dan hubungan tersebut sudah diakui secara sah dalam hukum dan agama, dapat dikatakan bahwa berlangsungnya perkawinan/ pernikahan ketika seorang pria dan seorang wanita memiliki umur dewasa dan yang lebih penting lagi adalah hubungan tersebut sudah diakui oleh hukum dan agama karena yang sudah disebutkan sebelumnya seseorang yang disebut cukup umur untuk menikah/ dewasa memiliki kesiapan mental yang bisa dipertanggung jawabkan oleh individu tersebut kesiap mental ini bersifat psikologis misalnya mendidik anak, dari segi ekonomi untuk membiayai kehidupannya selama menikah dan juga kesehatan keluarganya.

Banyak faktor yang menjadi alasan mengapa masyarakat indonesia melakukan perkawinan dibawah umur, secara umum faktor dari pernikahan dibawah umur adalah faktor keluarga yang tergolong masyarakat miskin namun bukan hanya itu saja yang menjadi faktor mengapa masyarakat terdorong untuk melakukan perkawinan dibawah umur di antaranya faktor pendidikan, faktor tradisi/ adat yang memang sudah dianjurkan untuk menikah dini lalu juga pergaulan bebas yang mengakibatkan melakukan seks bebas, faktor dari sosial bisa mempengaruhi seseorang melaksanakan pernikahan dibawah umur karena melihat perkembangan zaman yang amat sedang “tren” untuk menikah muda.

Secara umum pernikahan dibawah umur biasanya masuk ke dalam golongan kelas menengah kebawah namun tidak sedikit bahwa golongan kelas atas melakukan pernikahan dibawah umur karena beberapa faktor selain ekonomi mengapa kalangan atas juga bisa melakukan pernikahan dibawah umur, faktor faktor ini dapat berpengaruh kepada individu itu sendiri dari segi psikologis dan biologis namun juga ke lingkungan sosialnya.

Pernikahan dibawah umur akan memberikan berbagai dampak kepada individu yang melakukannya dari kesehatan bagi anak atau remaja sampai kepada perceraian dan itu tidak baik bagi anak itu sendiri. Pemerintah pun tidak berdiam diri atas banyaknya masyarakat melakukan pernikahan dibawah umur dari beberapa lembaga yang melakukan analisis mengenai perkawinan dibawah umur ini menjadikan patokan pemerintah melakukan program-program yang dapat mengurangi tingkat perkawinan dibawah umur.

PEMBAHASAN

Perkawinan Dibawah Umur

Pernikahan merupakan hal yang tidak bisa disebut hanya ingin bersenang-senang atau agar ada yang memberikan perhatian lebih namun pernikahan merupakan komitmen yang harus diemban oleh laki-laki ataupun perempuan serta proses pengikatan janji suci antara laki-laki dan perempuan. menurut Verma dan Takalar (2015) menyebutkan bahwa pernikahan adalah penyatuan atau penggabungan dimana seorang laki-laki dan perempuan hidup sebagai sepasang suami istri dengan komitmen hukum dan agama, dan reproduksi adalah fungsi utama dari setiap keluarga atau masyarakat, atau yang lain menyebutkan bahwa pernikahan bukan hanya sekedar cinta, pernikahan berawal dari pasangan yang masih berusia matang hingga akhirnya tua bersama, selama itu berlangsung banyak kebahagian dan kesedihan dilalui bersama (Vires, Arshad dkk, 2014).

Dapat dikatakan bahwa Pernikahan merupakan sesuatu hal yang sakral dan suci dilakukan oleh seorang laki-laki dan perempuan dewasa yang mana tidak ada paksaan dari keduanya yang sebagaimana sudah tertulis dalam UU No 1 tahun 1997 yang mana Indonesia sudah mempunyai landasan hukum mengenai perkawinan, namun dalam kenyataannya indonesia masih melakukan perkawinan dibawah umur yang mana itu tidak sesuai dengan apa yang sudah dibuat oleh pemerintah mengenai perkawinan ini, sebagaimana kita ketahui bahwa pernikahan menjadi tanggung jawab besar bagi laki-laki maupun perempuan banyak sekali yang mereka korbankan demi berlangsungnya pernikahan, persiapan mental yang matang dan itu harus dengan kedewasaan itu dilihat dari kematangan seseorang ketika dewasa.

Undang-Undang Nomor 1 Tahun Tahun 1974 tentang Perkawinan telah mengatur lebih detai mengenai Perkawinan, salah satunya mengenai batasan umur atau usia seseorang untuk menikah.  Akan tetapi, dalam keadaan tertentu, perkawinan tersebut dapat diizinkan dengan berbagai persyaratan serta prosedur tertentu. Pengaturan batasan umur seseorang dapat dilihat pada Pasal 7 ayat (1) UU Perkawinan yang berbunyi:

Perkawinan akan diizinkan apabila pihak dari suami sudah mencapai umur 19 tahun, serta pihak dari perempuan sudah mencapai umur 16 tahun.”

Tujuan ketentuan ini adalah untuk menjaga kesehatan suami istri serta keturunan dari mereka. Kesehatan yang dimaksud adalah kesehatan fisik serta kesehatan mental yang erat kaitannya dengan kematangan seseorang sebelum melakukan perkawinan.

Berdasarkan ketentuan pasal di atas, yang dimaksud dengan perkawinan dibawah umur adalah, perkawinan yang dilakukan sebelum pihak pria mencapai usia 19 (sembilan belas) tahun, serta pihak perempuan belum mencapai usia 16 (enam belas) tahun. Dibawah batas minimal usia tersebut maka harus mengajukan dispensasi nikah.

Faktor Yang Menyebabkan Terjadinya Pernikahan Usia Muda

Prefentif (Usaha Pencegahan) Adalah pencegahan dari perbuatan zina yang dilakukan anak-anaknya karena perkembangan media (utamanya media elektronik) yang masuk sangat mempengaruhi gaya hidup dan pergaulan remaja tersebut, kecenderungan mereka untuk bergaul bebas lebih tinggi. Maka menyegerakan pernikahan adalah upaya untuk mengatasi bahaya bagi para remaja dari pergaulan bebas.

Walaupun belum cukup umur mayoritas mereka beralasan, takut anak-anak mereka berbuat zina atau hamil dulu sebelum nikah. Pasalnya, mereka pacaran sudah lama dan sulit dipisahkan. Mereka memilih menikahkan anaknya. Jadi alasan pemohon mengajukan perkawinan ini adalah karena telah terlalu dekat berhubungan atau menjalin cinta kasih (berpacaran), apabila tidak segera dilakukan perkawinan dikhawatirkan akan terjerumus ke jalan maksiat. Kekhawatiran itu bisa datang dari pihak yang akan menikah ataupun dari pihak kedua calon mempelai tersebut. Kuratif (usaha atau upaya penyembuhan) yaitu usaha penyembuhan bagi orang tua yang tidak ada pilihan lain selain memberi pilihan pada anak itu menikah untuk menutup aib dan menyelamatkan status anak juga untuk menjaga dari fitnah akibat dari aib tersebut.

  1. Hamil di Luar Nikah 

Orang tua dari anak perempuan yang memiliki inisiatif untuk mengajukan perkawinan. Yang dijadikan alasan perkawinan adalah karena anak perempuannya telah hamil dari hasil hubungan seksual dengan pacarnya yang dilakukan tanpa adanya ikatan perkawinan. Usia kehamilan anaknya yang sudah cukup besar, tidak mungkin lagi ditutupi oleh orang tuanya. Hal ini pun telah menjadi perbincangan di lingkungan tempat tinggalnya. Kondisi semacam ini menimbulkan aib bagi keluarga, sehingga harus segera diperbaiki. Satu Satunya cara adalah dengan menikahkan si anak dengan pacarnya.

Banyaknya kejadian hamil di luar nikah merupakan dampak dari kurangnya perhatian orang tua kepada anaknya, terutama mengenai persoalan ajaran agama Kehamilan sebelum perkawinan merupakan hal yang tidak seharusnya terjadi. Hal ini dikarenakan dalam ajaran agama, pasangan yang bukan suami istri dilarang untuk melakukan hubungan seksual. Apabila seseorang telah mengetahui adanya larangan ini dalam agama, maka seharusnya dia tidak melakukan hal tersebut.Namun, nilai-nilai agama tidak lagi dijadikan pedoman dalam menjalankan hidup. Orang tua sudah jarang mengingatkan anak-anaknya tentang ajaran agama.Hal ini menimbulkan kemerosotan moral yang dialami oleh anak anak.Mereka cenderung tidak memperdulikan aturan- aturan agama.

Orang tua seringkali bertindak terlambat. Mereka mengingatkan anak-anaknya ketika keadaan tersebut telah terjadi.Banyak anggapan bahwa pacaran di kalangan remaja adalah sesuatu yang wajar dan telah dianggap biasa.Padahal, anak-anak tetap butuh kontrol dari orang tua agar tidak bertindak berlebihan. Kondisi seperti di atas, tentu saja dapat menimbulkan dampak yang cukup serius. Salah satu dampaknya adalah kehamilan yang dialami oleh perempuan yang telah melakukan hubungan seksual dengan pasangannya tersebut. Kehamilan seharusnya menjadi hal yang membahagiakan bagi sebuah pasangan. Namun, jika kehamilan ini terjadi sebelum adanya perkawinan, tentu saja akan menimbulkan dampak lanjutan yang sangat serius. 

Oleh karena itulah, mayoritas alasan nikah adalah karena calon mempelai perempuan telah hamil terlebih dahulu. Jika kondisinya sudah demikian, maka satu-satunya jalan keluar yang diambil orang tua adalah menikahkan anaknya tersebut. Karena bayi yang ada di dalam kandungan si calon mempelai perempuan harus jelas identitasnya. Tanpa perkawinan yang sah, anak yang akan dilahirkan nanti menjadi tidak jelas statusnya.Dan kemungkinan besar akan menimbulkan dampak negatif yang akan merugikan si anak di kemudian hari. Faktor ini yang seringkali menyebabkannya diajukannya nikah oleh pemohon nikah, dan Permohonan tersebut secara terpaksa dikabulkan. Karena demi menjaga kemaslahatan dan kemanfaatan dari dispensasi tersebut.

  1. Faktor Ekonomi

Kondisi ekonomi masyarakat yang lemah menyebabkan orang tua tidak bisa menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi, untuk meringankan beban keluarga maka orang tua lebih memilih menikahkan anaknya dengan orang yang dianggap mampu agar beban hidupnya berkurang. Karena alasan pemohon sudah tidak sanggup lagi menjalani beban hidup sehingga jalan terakhir yaitu menikahkan anaknya meskipun belum cukup umur.

Banyak kasus yang terjadi dalam persoalan kemiskinan yang menyebabkan maraknya perkawinan di bawah umur, ketika orang tua mengalami masalah ekonomi, anak perempuanlah yang dikorbankan, kemudian anak tersebut diminta untuk berhenti sekolah untuk sekedar membantu orang tuanya. Dengan mengawinkan anak perempuannya, orang tua berharap beban hidup mereka akan berkurang. Sayangnya, terkadang para gadis ini juga menikah dengan pria berstatus ekonomi tidak jauh beda, sehingga malah menimbulkan kemiskinan baru.

Kita juga masih banyak menemui kasus-kasus dimana orang tua terlilit hutang yang sudah tidak mampu dibayarkan. Dan jika si orang tua yang terlilit hutang tadi mempunyai anak gadis, maka anak gadis tersebut akan diserahkan sebagai “alat pembayaran” kepada si piutang dan setelah anak tersebut dikawini, maka lunasilah hutang-hutang yang melilit orang tua si anak.

Bagi kalangan masyarakat miskin, menikahkan anaknya merupakan sebuah pelepasan beban. Orang tua akan merasa beban hidupnya berkurang, karena si anak sekarang sudah menjadi tanggung jawab suaminya. Mereka merasa, semakin cepat anak gadisnya kawin, semakin baik bagi kehidupan mereka. Bukan karena kebahagiaan si anak, tetapi karena pertimbangan berat ringannya beban hidup yang akan mereka tanggung.

  1. Faktor Pendidikan

Menurut Bapak Taufik Ahmad, SH. selaku Panitera Muda bahwa pemohon mempunyai alasan anaknya sudah tidak sekolah, tidak punya pekerjaan tetap sehingga menjadi beban bagi orang tua, karena tingkat pendidikan masyarakat yang rendah sehingga mereka tidak memiliki keinginan dan motivasi untuk memfasilitasi anak- anaknya agar lebih maju. Bagi mereka yang memiliki anak perempuan, sering berpikiran untuk apa sekolah tinggi-tinggi apabila pada akhirnya kembali ke dapur juga.

Pemikiran semacam ini memang masih cukup melekat pada masyarakat pedesaan. Mereka tidak terbiasa melihat perempuan bekerja diluar rumah sehingga perempuan selalu ditempatkan di dapur. Hal inilah yang menyebabkan pemohon bertujuan untuk menikahkan saja dan memintakan dispensasi nikah di Pengadilan Agama. Pendidikan kepada anak-anak sangat mempunyai peran yang besar. Jika seorang anak putus sekolah pada usia wajib sekolah, kemudian mengisi waktu dengan bekerja. Saat ini anak tersebut sudah merasa cukup mandiri, sehingga merasa mampu untuk menghidupi diri sendiri. Atas dasar tersebutlah seorang anak cenderung ingin melakukan pernikahan dibawah umur. 

Hal yang sama juga jika anak yang putus sekolah tersebut menganggur. Dalam kekosongan waktu tanpa pekerjaan membuat mereka akhirnya melakukan hal-hal yang tidak produktif. Salah satunya adalah menjalin hubungan dengan lawan jenis, yang jika diluar kontrol membuat hal-hal yang tidak diinginkan dapat terjadi. Hal inilah yang mendorong orang tua untuk lebih cepat menikahkan anaknya yang masih di bawah umur. Sebagian orang tua yang masih belum paham pentingnya pendidikan memaksa anak-anak mereka untuk segera menikah. Hal itu biasanya terjadi setelah remaja lulus SMP atau bahkan belum. Mereka menganggap, pendidikan tinggi itu tidak penting. Bagi mereka, lulus SD saja sudah cukup. Anak-anak sendiri tidak memiliki keinginan atau cita-cita untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

  1. Faktor Tradisi atau Agama

Dalam faktor ini disebutkan bahwa faktor budaya menjadi alasan melakukan pernikahan dibawah umur. Sex Education dan pendidikan kesehatan reproduksi menjadi hal yang tabu bagi masyarakat. Ditemukan beberapa kasus yang mana perkawinan dibawah umur ini berkaitan biasanya dibawah umur tidak mau menjadi bahan “omongan” ketika ternyata anaknya ketahuan hamil diluar nikah. Selain itu juga di berbagai daerah seperti kalimantan faktor budaya atau tradisi orang tua yang mana ketika menikah harus mempunyai keturunan yang baik pula sehingga dipaksa untuk menikah dengan orang yang dianggap orang tuanya itu baik seperti para “guru” ataupun Kyai.

Perjodohan menjadi salah satu faktor pernikahan dibawah umur seperti peran orang tua sangat dominan disini, di daerah pedesaan yang mana beberapa daerah melakukan perjodohan dari sejak kecil atau sudah dianggap akhil baliq. Perjodohan bisa dilakukan karena anggapan masyarakat bahwa anak perempuan menikah sebelum umur 18 tahun disebut “perawan tua” dan pada akhirnya orang tua menikahkan anaknya dibawah umur 18 tahun, selai itu faktor agama yang mana ada anggapan bahwa agama memperbolehkan menikah muda untuk menghindari zina dan hal ini menjadi faktor masyarakat melakukan pernikahan dini.

  1. Faktor dari MBA (Marriage By Accident)

Faktor MBA ini bisa dikatakan bahwa menjadi salah satu faktor lain pendorong masyarakat indonesia. Pernikahan dibawah umur menjadi solusi paling memungkinkan untuk kehamilan diluar nikah menurut ahli psikologis, pernikahan di bawah umur banyak terjadi di masa pubertas atau remaja. Hal ini bisa terjadi karena usia pubertas yaitu remaja rentan untuk melakukan aktivitas seksual sebelum menikah. Remaja dengan pergaulan yang bebas bisa dengan mudahnya terjadi.

Aktivitas remaja di sekolah yang tidak diperhatikan oleh orang tuanya bisa menjadi pergaulan anak disekolah tidak terkontrol yang mengakibatkan terjadinya pergaulan bebas. Ketika tidak dikontrol dengan baik anak bisa terlalu bebas dalam pergaulan dengan lawan jenisnya. Pacaran berlebihan sehingga anak atau remaja melakukan seks bebas atau pranikah dan akibatnya adalah kehamilan, terpaksa solusi yang dipilih oleh keluarganya adalah menikahkannya .

Kurangnya pengawasan dari orang tua sehingga pergaulan yang bebas dan berpacaran itu menjadi faktor perkawinan dibawah umur, selain itu dengan berkembangnya teknologi bisa berpengaruh terjadinya MBA (Marriage By Accident), hal ini didukung pernyataan bahwa media massa baik itu cetak seperti koran majalah dan juha elektronik seperti tv, internet mempunyai pengaruh yang besar terhadap anak dan remaja untuk melakukan hubungan seksual pra nikah. Informasi yang disajikan dalam media massa yang mana cenderung bersifat pornografi dan pornoaksi akan timbul rasa ingin tahu dan terus mencari informasi tersebut , pada akhirnya sampai titik dimana informasi tersebut menjadi referensi bagi remaja yang membacanya. Lebih jauh lagi yang mana remaja ketika ingin tahu itu berubah menjadi tindakan perilaku yang coba ditiru karena melihat dan mendengar dari media massa tersebut.

Dampak Perkawinan Dibawah Umur Terhadap Perceraian

Dampak – dampak yang terjadi apabila melakukan pernikahan dibawah umur bersifat negatif yang mana akan berpengaruh kepada individu baik itu laki-laki ataupun perempuan. Dampak yang terjadi cukup berpengaruh kepada masyarakat yang melakukan pernikahan dibawah umur dari dampak secara finansial sampai dampak secara psikologis dan juga lingkungan sosial. Ini menggambarkan bahwa perkawinan dibawah umur butuh penyesuaian diri karena untuk membangun sebuah keluarga tidak hanya atas dasar dari diri sendiri namu ada kematangan emosional dan juga aspek penyesuaian diri atau adanya proses adaptasi seperti aspek penyesuaian keuangan, aspek dengan pasangannya, hingga aspek seksual juga diperhatikan.

Dari faktor- faktor pendorong dilakukan perkawinan dibawah umur mempunyai dampak yang cukup berpengaruh kepada remaja atau anak yang dibawah umur baik itu secara individu maupun lingkungannya mulai dari putusnya sekolah, adanya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan dampak lainnya yang berujung pada perceraian. Dampak yang dapat berpengaruh pada anak atau remaja yang pertama adalah dampak ekonomi yang mana perkawinan dibawah umur bisa menimbulkan adanya peningkatan jumlah kemiskinan di Indonesia karena biasanya masyarakat yang melakukan pernikahan dibawah umur belum atau masih mencari pekerjaan karena pendidikanya yang masih rendah, dengan adanya hal tersebut mengakibatkan ada peran orang tua dari masing-masing baik itu dari pihak istri maupun suami yang mana selain harus bisa menghidupi keluarganya juga harus membiayai keluarga baru.

Dampak lainnya ketika masyarakat Indonesia melakukan perkawinan dibawah umur adalah dampak secara psikologis karena ketika berlangsung perkawinan dibawah umur biasanya di beberapa daerah tidak siap dengan hal tersebut. Mental yang belum siap akan perubahan status dan peran yang mana akan timbul permasalah-permasalahan yang terjadi sehingga ketika kehilangan masa remaja dan harus berperan sebagai seorang istri yang mana masih kurang pemahaman mengetahui tentang itu akan timbul rasa penyesalan.

Status dan peran yang berubah yang awalnya menikmati masa remaja dengan bersekolah dan pada akhirnya harus berubah peran dan status bisa juga menimbulkan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Seringkali ketika adanya Kekerasan Dalam Rumah Tangga akan timbul rasa trauma atau bahkan kematian. Selain itu juga dampak psikologis yang akan diterima ketika melakukan pernikahan dibawah umur adalah adanya kehamilan yang tidak diinginkan, biasanya karena faktor MBA (Marriage By Accident) yang mengharuskan menikah karena bisa jadi hamil pra- nikah yang pada akhirnya timbul rasa tidak percaya diri karena ketidaksiapan perempuan untuk mempunyai anak dan kurangnya pengetahuan mengenai bagaimana mengurus anak dan sebagainya atau karena ketika menikah dibawah umur dan pernikahannya singkat hanya beberapa bulan akan menimbulkan rasa minder dan tidak percaya diri karena menyesal.

Dampak lainnya adalah dari segi sosial karena dilihat dari sisi sosial, perkawinan dibawah umur akan berdampak pada lingkungan sosialnya, perselingkuhan akan sering terjadi yang membuat hubungan tidak harmonis jika adanya pertengkaran dan timbul Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) atau kekerasan seksual yang terjadi bisa menimbulkan juga ketidak seimbangan dalam keluaraga tersebut.

Beberapa daerah mengalami keluarga yang tidak harmonis karena adanya faktor sosial seperti adanya inses atau kekerasan seksual pada anak di beberapa daerah berakhir kepada rumah-rumah menjadi tempat prostitusi dan juga tidak sedikit yang putus sekolah. Selain itu kasus lain seperti melakukan perkawinan dibawah umur dengan secara terpaksa karena adanya hubungan pra-nikah yang mengalami kehamilan yang sebenarnya tidak diinginkan, beberapa daerah dengan adanya hal seperti itu membuat kurang diterimanya oleh keluarganya atau diskriminasi baik itu di keluarga sendiri ataupun di masyarakat sekitarnya.

Penerimaan masyarakat mengenai perkawinan dibawah umur di beberapa daerah ketika terjadi pernikahan dibawah umur tidak diakui oleh hukum yang mana ketika itu ada perceraian tidak perlu menggunakan jalur hukum atau pengadilan agama karena tidak adanya legalitas ketika saat perkawinan sehingga menganti cara dengan mempertemukan keluarga kedua pihak atau dengan mendatangkan saksi, ataupun tokoh adat dapat terjadi perceraian.

Dampak pendidikan termasuk yang berpengaruh kepada yang melakukan pernikahan dibawah umur yang mana sering kali di beberapa daerah ketika terjadinya pernikahan dibawah umur untuk perempuan untuk tidak melanjutkan pendidikannya karena mempunyai tanggung jawab lainnya dan hal itu terjadi dapat memutuskan hal memperoleh pendidikan dan mencapai potensi mereka secara maksimal. Perkawinan dibawah umur baik itu laki laki maupun perempuan akan berganti peran menjadi seorang suami dan seorang istri yang mana mempunyai kewajiban yang harus dilakukan, laki-laki bagaimana mempunyai keharusan untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehingga harus memutuskan pendidikannya dan mencari peluang untuk bekerja sedangkan seorang istri yang memiliki peran menjadi ibu rumah tangga.

KESIMPULAN 

Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 1 Tahun Tahun 1974, yang dimaksud dengan perkawinan dibawah umur adalah, perkawinan yang dilakukan sebelum pihak pria mencapai usia 19 (sembilan belas) tahun, serta pihak perempuan belum mencapai usia 16 (enam belas) tahun. Dibawah batas minimal usia tersebut maka harus mengajukan dispensasi nikah.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya pernikahan usia muda yaitu: Hamil di luar nikah, faktor pendidikan, faktor ekonomi. Faktor tradisi atau agama, dan faktor dari MBA (Marriage By Accident).

Dampak – dampak yang terjadi apabila melakukan pernikahan dibawah umur bersifat negatif yang mana akan berpengaruh kepada individu baik itu laki-laki ataupun perempuan. Dampak yang terjadi cukup berpengaruh kepada masyarakat yang melakukan pernikahan dibawah umur dari dampak secara finansial sampai dampak secara psikologis dan juga lingkungan sosial. Ini menggambarkan bahwa perkawinan dibawah umur butuh penyesuaian diri karena untuk membangun sebuah keluarga tidak hanya atas dasar dari diri sendiri namu ada kematangan emosional dan juga aspek penyesuaian diri atau adanya proses adaptasi seperti aspek penyesuaian keuangan, aspek dengan pasangannya, hingga aspek seksual juga diperhatikan. 


DAFTAR PUSTAKA

KA, R. (2013). Menelusuri Makna Dibalik Fenomena Perkawinan di Bawah  Umur dan              Perkawinan Tidak Tercatat.

Dudi Badruzaman. Volume 6, Nomor 1, 2021. Pengaruh Pernikahan Usia Muda Terhadap Gugatan Cerai di Pengadilan Agama Antapani Bandung. STAI Sabili Bandung.

Journal Muslim Heritage. Vol. 6 No, 1 Juni 2021.

Qibtiyah, M. (2014). Faktor yang Mempengaruhi Perkawinan Perempuan. Jurnal Biometrika dan Kependudukan, 51-57.

Syarifatunisa, I (2017). Faktor-faktor Penyebab Pernikahan Dini di Kelurahan Tunon Kecamatan Tegal Selatan Kota Tegal.  Doctoral Disertasi.

Masrukhan, M (2017). Faktor dan  Dampak Perkawinan di Bawah Umur Ditinjau dari Maslahah Mursalah (Studi Kasus di Desa Sraten Kecamatan Gatak Kabupaten Sukoharjo Tahun 2014-2017). Disertasi Doktor,  IAIN Surakarta

Yulianti, R. (2010). Dampak yang Ditimbulkan Akibat Perkawinan Usia Dini. Pamator, Vol 3, Tidak 1, 1,5.

Alfa,F.R. (2019). Pernikahan dini dan Perceraian di Indonesia. Jumal mah Ahwal Syakhshiyyah, 50.

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar