Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Memilih Monogami, Tinggalkan Poligami



Oleh Ahmad Maulana Sabbaha

Poligami sesungguhnya bukan praktik yang dilahirkan oleh Islam. Tradisi poligami sudah 
menjadi salah satu bentuk praktik peradaban patriarkis jauh sebelum Islam datang. Peradaban patriarki merupakan peradaban yang menempatkan laki-laki sebagai aktor dalam seluruh aspek kehidupan. Perempuan dalam budaya patriarki dipandang layaknya benda yang digunakan hanya untuk kesenangan laki-laki. Peradaban ini telah lama mengakar hampir diseluruh bagian dunia.Bukan saja di wilayah jazirah Arab, juga peradaban kuno lainnya seperti Mediterania dan Mesopotamia.
 
Poligami menjadi praktik kebudayaan yang diangap wajar dalam masyarakat Arab saat itu. 
Laki-laki dianggap wajar dan sah-sah saja untuk mengawini istri sebanyak yang dia mau 
sebagaimana laki-laki juga dianggap wajar saja melakukan kaum perempuan sesuka hatinya. 
Bahkan, untuk sebagian orang atau kaum, poligami dengan banyak perempuan merupakan suatu kebanggaan tersendiri. Pada saat itu, kaum perempuan tidak berdaya melawan realitas yang kenyataannya sangat merugikan dirinya. Mereka menerima kenyataan tanpa bisa berbuat apa-apa. Kaum perempuan pada saat itu menjadi korban ketidakadilan tanpa mereka sendiri mengetahuinya. Bisa jadi karena keadaan yang dianggap lumrah dan telah dianggap tradisi ini mereka tidak menganggapnya sebagai hal yang merugikan, malah sebagian diantaranya merasa enjoy.

Setelah Islam turun, praktik poligami yang demikian mendapat kritik lewat ayat suci Al-
Qur’an dengan cara meminimalisir jumlah yang tak terbatas menjadi dibatasi hanya empat orang saja dengan syarat berbuat adil terhadap para istri (QS. An-Nisa’: 3). Islam tampaknya enggan untuk membolehkan poligami kecuali dengan syarat-syarat tertentu. Poligami dalam banyak kondisi sering kali membuat perempuan semakin tidak berdaya, selain itu juga melahirkan berbagai persoalan krusial di dalam rumah tangga. Seperti sering menimbulkan problem psikologis bagi istri bahkan bagi pihak lain yang terkait, terutama anak. Tegasnya, poligami adalah isu problematik yang banyak mendatangkan dampak negatif bagi keluarga. 

Meskipun Al-Qur’an menjelaskan secara eksplisit tentang praktik poligami, tetapi yang 
harus menjadi perhatian utama adalah pesan keadilan yang terkandung di dalamnya. Keadilan dalam Islam menjadi nilai universal yang harus diupayakan dalam setiap relasi antar manusia. 
Dalam praktik poligami seorang suami akan sulit mewujudkan sebuah keadilan, bukan berarti tidak mungkin (QS. An-Nisa’: 129). Dengan demikian perkawinan monogami adalah keputusan yang paling mungkin dalam mewujudkan rumah tangga yang berkeadilan serta sakinah, mawaddah, dan rahmah.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar