Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

LOGIKA PENDIDIKAN: Metode Ceramah II ( Skip Information, Ceramah Kreatif, dan Rasionalitas Berkah )





A. Adib Dzulfahmi


Meskipun metode ceramah memiliki banyak sekali kelemahan seperti pada pembahasan sebelumnya, namun metode ini masih menjadi alternatif utama dalam transfer pengetahuan di wilayah pembelajaran PAI dan ilmu agama Islam. Hingga saat ini yaitu setelah berabad-abad lamanya metode ceramah ini digunakan, banyak sekali pro dan kontra dalam penggunaan metodenya dalam pembelajaran yang mana beberapa berpendapat bahwa metode ini mudah membuat peserta didik untuk mengantuk dan kehilangan konsentrasi belajarnya didalam kelas atau dalam fokus pembahasan dan start penelitian artikel ini adalah “Skip Information”

Skip information adalah kasus dimana peserta didik kehilangan fokus ketika dalam proses pembelajaran dikarenakan berbagai macam hal. Seperti kehilangan kesadaran dan teralihkan pikiran kepada sesuatu diluar kelas meskipun hanya beberapa menit saja. Yang kemudian pada saat memudar fokus mereka, maka mereka tidak akan bisa memahami atau bahkan sekedar mengetahui apa yang disampaikan guru didepannya, dan itulah maksud dari skip information.

Dan kasus ini mudah dan sering terjadi ketika seorang guru menggunakan metode ceramah dalam usaha transfer ilmunya. Hal ini disebabkan karena metode ceramah adalah metode penyampaian satu arah dan membuat otak dari peserta didik sering kali bergerak pasif atau tidak aktif digunakan, hal ini memang hakikat dasar peserta didik yang hanya mendengar saja pada saat ceramah oleh guru. Dan dikarenakan otak mereka bergerak pasif, maka fokus mereka mudah teralihkan pada hal diluar kelas bahkan bisa kehilangan kesadaran atau mengantuk.

Hal ini searah dengan survei Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat UIN Jakarta yang dilakuakan oleh Jamhari Makruf, Ph.D. terhadap guru-guru agama di sejumlah sekolah (SMA, MA, dan MTs, dan SMP) di Jakarta dan Tangerang Selatan menyebutkan, bahwa pengajaran Pendidikan Agama Islam oleh guru-guru agama sangat tidak menarik bagi murid-murid, sehingga monoton dan membosankan. Dan sebetulnya hal ini tidak saja terjadi di Indonesia, tetapi juga di luar negeri.

Oleh karena itu, penulis disini memberikan sebuah solusi yang mana dikira bisa untuk menjadi sebuah dobrakan agar metode ceramah ini tetap bisa menjaga konsentrasi para peserta didik yang mana hal ini dijadikan alasan bahwa metode ceramah tidak bisa digunakan kembali pada masa sekarang. Solusi tersebut adalah “Ceramah Kreatif”.

Ceramah Kreatif yang dimaksud disini adalah ceramah konvesional seperti yang kita pahami diatas, namun dihiasi dengan beberapa bumbu seperti bantuan media animasi untuk memudahkan peserta didik dalam menangkap ilmu yang diberikan, hiburan atau candaan, hingga tanya jawab dengan peserta didik. Selain itu ceramah kreatif juga memerlukan kemampuan guru untuk lebih interaktif, lebih mengawasi kondisi setiap peserta didik (apakah mereka masih fokus terhadap pembelajaran ini?) dan bertindak lebih dalam mencari perhatian para peserta didik agar fokus mereka tetap terjaga sepanjang pembelajaran (caper). 

Mencari perhatian atau caper memang harus dilakukan oleh pendidik ketika akan menggunakan metode pembelajaran ceramah kreatif. Caper yang dilakukan bisa juga dengan cara aneh seperti:

  1. Guru tiba-tiba menghentakan sebuah benda (Pensil, bolpoin, penghapus, ataupun spidol) ke meja dan membuat suara yang cukup untuk mengakibatkan seluruh peserta didik menoleh dan memberikan seluruh perhatiannya kepada guru.

  2. Guru membuat sebuah candaan yang bisa membuat para peserta didik tertawa dan kembali fokus kepada guru, kemudian guru bisa melanjutkan penyampaian materinya.

  3. Guru menghentikan pembelajaran materinya dan menceritakan sebuah kisah yang menarik. Bisa itu kisah pribadi, kisah para nabi, kisah para sahabat ataupun lainnya. Hal ini dikarenakan peserta didik kebanyakan lebih suka dan akan semangat memperhatikan guru ketika guru sedang cerita. Dan ketika dirasa sudah cukup ceritanya (tidak terlalu panjang dan peserta didik mendapatkan kembali kesadaran dan fokus mereka) maka guru bisa melanjutkan kembali penyampaian materinya.

  4. Guru memanggil nama peserta didik yang dirasa hampir atau sudah kehilangan fokusnya untuk maju kedepan, kemudian bisa diberi tugas untuk membantu guru menulis atau sekedar tanya jawab baik seputar materi atau diluar materi.

  5. Guru memberikan tugas kepada seluruh peserta didik untuk menulis materi dari papan tulis di bukunya masing-masing dengan tujuan tambahan agar peserta didik dapat fokus kembali kepada guru dan otak peserta didik kembali aktif atau tidak bekerja pasif kembali yang mana hal itu dapat meningkatkan fokus dari para peserta didik.

  6. Guru membuat sebuah gerakan out of the box yang tidak pernah ia lakukan, contohnya seperti melepaskan Jas yang selalu dipakainya, senam (meregangkan badan), ataupun sekedar bercermin pada kaca cendela untuk memberikan jeda dalam penyampaian materinya dan mendapatkan kembali perhatian dari para peserta didik dengan tujuan mendapat perhatian dari para peserta didik. (meskipun para peserta didik hanya menoleh kepada guru pada saat ini, hal itu menunjukkan keberhasilan usaha guru untuk mendapatkan kembali perhatian dari para peserta didiknya)

  7. Dan lain sebagainya.

Tujuan ceramah kreatif adalah menghilankan kelemahan terbesar metode ceramah yaitu mudah dan seringnya terjadi skip information pada peserta didik dengan solusi cara yaitu caper terhadap para peserta didik seperti pembahasan diatas. Dengan ceramah kreatif ini, maka masalah utama tentang kehilangan fokus dalam metode ceramah konvesional dapat teratasi dengan syarat guru harus memiliki kemampuan untuk menjaga kelas selalu dalam pengawasan dan kendali perencanaannya.

Kemudian penulis juga akan mengangkat sebuah kasus metode ceramah konvesional seperti biasa namun guru bisa mendapatkan seluruh perhatiaan dari para peserta didik tanpa harus interaktif ataupun caper. Kasus ini yaitu hal yang sering kali terjadi di wilayah Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah Islam, yaitu pembelajaran menggunakan metode ceramah di pesantren.

Pembelajaran di pesantren hingga saat ini masih sering menggunakan metode ceramah konvesional (ceramah satu arah sesuai pembahasan diawal), namun dapat menghasilkan produk (santri) yang lebih baik dalam segi pengetahuannya dari pada produk yang dihasilkan dari sekolah formal (siswa) yang mana sebetulnya menggunakan metode transfer ilmu yang lebih kreatif dari pada di pesantren. Hal ini kemudian menjadi pertanyaan, kenapa bisa seperti itu?

Jawaban dari pertanyaan sebelumnya yang sering kali tersebar dan disampaikan dari para guru maupun santri dipesantren adalah “Barokah” atau Berkah dalam bentuk kata baku. Barokah adalah salah satu bentuk keikhlasan dari para guru dan santri di pesantren dalam melakukan segala hal terutama pendidikan. Dengan barokah bahkan santri yang nakal dan hanya sesekali mengikuti pembelajaran dapat mendapatkan ilmu yang cukup, begitulah kira-kira penjelasannya.

Dan disini penulis berusaha untuk merasionalitaskan barokah dengan penjelasan tentang niat, tekad, cinta, suka, rela dan hormat. Dr. Fahrudin Faiz menjelaskan bahwa manusia akan mengerjakan/melakukan sebuah perbuatan dengan pembagian 4 tingkat hierarki alasan dikarenakan: (1) Paksaan, (2) Kewajiban, (3) Kebutuhan, (4) Cinta. 4 tingkat ini memberikan kita padangan dan gambaran jelas tentang sebuah hasil yang akan dicapai tergantung pada niatnya. Akan berbeda hasilnya antara orang yang melakukan ibadah atau shalat dengan alasan paksaan dengan orang lain yang melakukan hal sama dengan dasar kewajiban, kebutuhan, ataupun cinta.

Dari sini kembali mengingatkan kita pada hadits arba’in pertama yaitu:

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .

Artinya: Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya setiap  perbuatan tergantung niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.”

Dan manusia mengerjakan sesuatu dengan alasan cinta adalah tingkat yang tertinggi. Seorang manusia akan mengerjakan sesuatu tersebut karena keinginan dirinya sendiri (tanpa paksaan) dan Ia dapat mencurahkan waktu dan usaha yang lebih banyak serta akan tetap fokus dalam mengerjakan hal tersebut meskipun sudah lama waktu berlalu.

Pada tingkat hierarki ke-4 yaitu “cinta” ini, menurut pandangan penulis didalamnya masih bisa dipecah menjadi beberapa bagian: Mimpi, Cita-cita, Suka (hobi misalnya), Hormat (hal yang sering ada didalam dunia pensantren, dan Cinta (yang tetap memegang posisi puncaknya).

Ketika seseorang sedang mengerjakan hobinya, semisal kita ambil contoh hobi memancing, maka orang tersebut akan menikmati dan menyukai proses memancing meskipun waktu telah berlalu lama. Orang tersebut akan tetap bisa menjaga fokusnya terhadap apa yang ia kerjakan (memancing) meskipun telah berlalu hingga 2 jam lebih. Hal ini juga berlaku pada dunia pendidikan dan kembali dihubungkan pada pembahasan awal tentang skip information.

Dikarenakan para santri yang dipenuhi rasa hormat atau cinta terhadap guru, ilmu, penulis kitab, dan/atau lain sebagainya. Hal itu berpengaruh terhadap apa yang dilakukan oleh para santri ini akan dilakukannya dengan sepenuh hati. Para santri akan tetap bisa menjaga fokus mereka dan tidak akan mengalami skip information dalam proses pembelajaran mereka dikarenakan rasa hormat tadi meskipun guru hanya menggunakan metode ceramah konvesional satu arah dalam waktu lama.

Hal ini akan berbeda dengan sekolah formal yang berbeda dengan pesantren. Di sekolah formal yang jarang sekali mengenal kata “hormat” pada guru, ilmu, penulis buku ataupun lainnya maka membutuhkan “ceramah kreatif” sebagai solusi pendidikan untuk menghindari skip information dari peserta didik. Dan usaha transfer ilmu akan dapat berjalan maksimal.

Daftar Pustaka

Harsono, Beni, Soesanto, and Samsudi. “Perbedaan Hasil Belajar Antara Metode Ceramah Konvensional Dengan Ceramah Berbantuan Media Animasi Pada Pembelajaran Kompetensi Perakitan Dan Pemasangan Sistem Rem.” Jurnal Pendidikan Teknik Mesin 9 (2009): 99.

Rikawati, Kezia, and Debora Sitinjak. “Peningkatan Keaktifan Belajar Siswa Dengan Penggunaan Metode Ceramah Interaktif.” Journal of Educational Chemistry (JEC) 2, no. 2 (2020): 40. https://doi.org/10.21580/jec.2020.2.2.6059.

Savira, Annisa’ Ni’ma, Rahma Fatmawati, Muchammad Rozin Z, and Muhammad Eko S. “Peningkatan Minat Belajar Siswa Dengan Menggunakan Metode Ceramah Interaktif.” Journal Focus Action of Research Mathematic (Factor M) 1, no. 1 (2018): 43–56. https://doi.org/10.30762/factor_m.v1i1.963.

Shihab, M. Quraish. Logika Agama. Edited by Siti Nur Andini. II. Tangerang: PT.Lentera Hati, 2017.




Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar