Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Kata Talaq dalam Al-Qur'an

sumber :pinterest.id


Oleh

 Nyimas Salsabila Fitri

 

Kata talaq dalam al-qur’an di tulis dengan berbagai model kata (sighat), kata  الطلاق tertulis didalam Al-qur’an sebanyak 2 kali yaitu pada surat Al-Baqarah (2) : 227 dan pada surat al-baqarah (2) : 229 danjuga terdapat beberapa bentuk kata (sighat) lainnya yang memiliki berbagai makna. Seperti kata  طَلَّقْتُم yang tertulis dalam alquran sebanyak 4 kali yaitu pada surat Al- Baqarah(2) : 231 , Surat Al Baqarah (2) : 232, Surat Al-Baqarah (2): ayat 236 , dan Surat At-Talaq ayat 1. Lalu dalam kata طَلَّقْتُمُوْهُنَّ  tertulis di Alqur’an sebanyak 2 kali yaitu pada surat Al Baqarah (2): 231 dan surat Al-Ahzab (23): 49 . Lalu dalam kata طَلَّقَكُنَّ tertulis dalam Al-Qur’an sebanyak 1 kali yaitu pada Qs. At-Tahrim (66):5. Lalu dalam kata طَلَّقَهَا tertulis dalam Al-Qur’an sebanyak 2 kali yaitu pada Qs. Al-Baqarah (2):230 dan Qs. Al-Baqarah (2):230. Lalu dalam kata فَطَلِّقُوْهُنَّ tertulis dalam Al-Qur’an Qs. At-Thalaq (65):1. Dalam kata انْطَلَقَ tertulis dalam Al-Qur’an Qs. Shod (38):6. Lalu dalam kata فَانْطَلَقَاۗ tertulis dalam Al-Qur’an sebanyak 3 kali yaitu pada surat Al-Kahfi (18):71 , surat Alkahfi (18) : 73 dan surat Al-Kahfi(18) ayat 77. Lalu dalam kata انْطَلَقْتُمْ tertulis dalam Al-Qur’an sebanyak 1 kali yaitu pada surat Al-Fath(48): 15. Lalu dalam kata فَانۡطَلَقُوۡا tertulis dalam Al-Qur’an sebanyak 1 kali yaitu pada surat Al-Qolam (68):23. Lalu dalam kata يَنطَلِقُ tertulis dalam Al-Qur’an sebanyak 1 kali yaitu pada surat Asy-Syuaro’(26):13. Lalu dalam kata اِنْطَلِقُوْٓا tertulis dalam Al-Qur’an sebanyak 2 kali yaitu pada surat Al-Mursalat(77) : 29 dan 30. Lalu dalam kata الْمُطَلَّقٰتُ tertulis dalam Al-Qur’an sebanyak 2 kali yaitu pada surat Al-Baqarah(2): 228 dan 241.

·         Fokus analisis

Fokus analisis ayat yang akan diberikan penafsiran adalah:

QS Al-Baqarah(2) : 231:

وَاِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاۤءَ فَبَلَغْنَ اَجَلَهُنَّ فَلَا تَعْضُلُوْهُنَّ اَنْ يَّنْكِحْنَ اَزْوَاجَهُنَّ اِذَا تَرَاضَوْا بَيْنَهُمْ بِالْمَعْرُوْفِ ۗ ذٰلِكَ يُوْعَظُ بِهٖ مَنْ كَانَ مِنْكُمْ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ ۗ ذٰلِكُمْ اَزْكٰى لَكُمْ وَاَطْهَرُ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

Dan apabila kamu menceraikan istri-istri (kamu), lalu sampai (akhir) idahnya, maka tahanlah mereka dengan cara yang baik, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang baik (pula). Dan janganlah kamu tahan mereka dengan maksud jahat untuk menzalimi mereka. Barangsiapa melakukan demikian, maka dia telah menzalimi dirinya sendiri. Dan janganlah kamu jadikan ayat-ayat Allah sebagai bahan ejekan. Ingatlah nikmat Allah kepada kamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepada kamu yaitu Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunnah), untuk memberi pengajaran kepadamu. Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Ada beberapa kata kunci dalam fokus ayat di atas, yang berhubungan dengan tema yang di diskusikan. Yaitu: 

  1. Kata  طَلَّقْتُم yang tertulis dalam alquran sebanyak 4 kali yaitu pada surat Al- Baqarah(2) : 231 , Surat Al Baqarah (2) : 232, Surat Al-Baqarah (2): 236 , dan Surat At-Talaq ayat 1.

 

QS Al-Baqarah(2) : 231:

 

وَاِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاۤءَ فَبَلَغْنَ اَجَلَهُنَّ فَلَا تَعْضُلُوْهُنَّ اَنْ يَّنْكِحْنَ اَزْوَاجَهُنَّ اِذَا تَرَاضَوْا بَيْنَهُمْ بِالْمَعْرُوْفِ ۗ ذٰلِكَ يُوْعَظُ بِهٖ مَنْ كَانَ مِنْكُمْ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ ۗ ذٰلِكُمْ اَزْكٰى لَكُمْ وَاَطْهَرُ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

 

Dan apabila kamu menceraikan istri-istri (kamu), lalu sampai (akhir) idahnya, maka tahanlah mereka dengan cara yang baik, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang baik (pula). Dan janganlah kamu tahan mereka dengan maksud jahat untuk menzalimi mereka. Barangsiapa melakukan demikian, maka dia telah menzalimi dirinya sendiri. Dan janganlah kamu jadikan ayat-ayat Allah sebagai bahan ejekan. Ingatlah nikmat Allah kepada kamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepada kamu yaitu Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunnah), untuk memberi pengajaran kepadamu. Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

 

Jadi, indikator طَلَّقْتُم  berdasarkan ayat diatas bisa menjawab siapa yang dimaksud طَلَّقْتُم Dari sini kita dapat memberikan penafsiran sebagai berikut : siapakah yang di maksud طَلَّقْتُم ? Talaqtum yang di maksud disini yaitu menceriakan istri-istri kamu. Jadi dalam QS Al-Baqarah(2) : 231 dijelaskan bahwasanya apabila kamu menceraikan istri-istri, lalu sampai idahnya), maksudnya dekat pada berakhir idahnya (maka peganglah mereka), artinya rujuklah kepada mereka (secara baik-baik) tanpa menimbulkan kesusahan bagi mereka (atau lepaskanlah secara baik-baik pula), artinya biarkanlah mereka itu sampai habis idah mereka. (Janganlah kamu tahan mereka itu) dengan rujuk (untuk menimbulkan kesusahan) berfungsi sebagai maf`ul liajlih (sehingga menganiaya mereka) sampai mereka terpaksa menebus diri, minta cerai dan menunggu lama. (Barang siapa melakukan demikian, berarti ia menganiaya dirinya) dengan menghadapkannya pada siksaan Allah 

 

QS Al-Baqarah (2): 236

 

لَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ اِنْ طَلَّقْتُمُ النِّسَاۤءَ مَا لَمْ تَمَسُّوْهُنَّ اَوْ تَفْرِضُوْا لَهُنَّ فَرِيْضَةً ۖ وَّمَتِّعُوْهُنَّ عَلَى الْمُوْسِعِ قَدَرُهٗ وَعَلَى الْمُقْتِرِ قَدَرُهٗ ۚ مَتَاعًا ۢبِالْمَعْرُوْفِۚ حَقًّا عَلَى الْمُحْسِنِيْنَ

 

Tidak ada dosa bagimu, jika kamu menceraikan istri-istri kamu yang belum kamu sentuh (campuri) atau belum kamu tentukan maharnya. Dan hendaklah kamu beri mereka mut‘ah, bagi yang mampu menurut kemampuannya dan bagi yang tidak mampu menurut kesanggupannya, yaitu pemberian dengan cara yang patut, yang merupakan kewajiban bagi orang-orang yang berbuat kebaikan.

 

Jadi, indikatorطَلَّقْتُم  berdasarkan ayat diatas bisa menjawab siapa yang dimaksudطَلَّقْتُم . Dari sini kita dapat memberikan penafsiran sebagai berikut : siapakah yang di maksuطَلَّقْتُم   ? Talaqtum disini memiliki arti yang sama dengan ayat sebelumnya yang dimaksud disini yaitu menceraikan istri-istri kamu. Jadi dalam QS Al-Baqarah (2): 236 ini dijelaskan bahwasanya tidak ada dosa bagi seorang suami jika menceraikan seorang istri yang belum dia sentuhi (campuri) atau yang belum ditentukan maharnya, dan hendaklah seorang suami memberi mut’ah kepada istri dengan cara yang patut yaitu bagi mereka yang mampu menurut kemampuannya dan bagi yang tidak mampu menurut kesanggupannya.



2.                  Kataالنِّسَاء  yang tertulis dalam Al-Qur’ansebanyak 38 kali yaitu pada surah Al-Baqarah (2): 222,231,232,235,236, surat Al-imran (3): 14 dan 42, surat An -Nisa (4):  1,3,4,7,11,19,22,24,32,34,43,75,98,127 disebutkan 2 kali,129 dan 176, surah Al-Maidah (5): 6, surat Al-A’raf(7): 81, surat An-Nur (24): 31 dan 60, surat An- Naml (27): 55, surat Al-Ahzab (33): 30,32 disebutkan dua kali,52 dan 59, surat Al-Fath (48): 25, surat Al-Hujurat (49): 11 disebutkan dua kali, dan surat At-Talaq (65): 1.

 

QS An-Nisa (4):3

            وَاِنْ خِفْتُمْ اَلَّا تُقْسِطُوْا فِى الْيَتٰمٰى فَانْكِحُوْا مَا طَابَ لَكُمْ مِّنَ النِّسَاۤءِ مَثْنٰى وَثُلٰثَ وَرُبٰعَ ۚ فَاِنْ خِفْتُمْ اَلَّا تَعْدِلُوْا فَوَاحِدَةً اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ ذٰلِكَ اَدْنٰٓى اَلَّا تَعُوْلُوْاۗ            

Dan jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat zalim.

 

Jadi, indikator النِّسَاءberdasarkan ayat diatas bisa menjawab siapa yang dimaksud النِّسَاءDari sini kita dapat memberikan penafsiran sebagai berikut : siapakah yang di maksud النِّسَاء    ? Yang dimaksud Annisa disini yaitu perempuan yang kamu nikahi. Jadi dalam ayat ini dijelaskan bahwasanya apabila seorang suami khawatir tidak mampu berlaku adil terhadap hak-hak perempuan yatim atau istrinya sebagaimana dia telah menikahinya, maka hendaklah menikahi perempuan lain yang dia senangi; dua,tiga atau empat, tetapi jika khawatir tidak mampu berlaku adil maka hendaklah menikahi seorang saja, atau hamba sahaya perempuan yang dimiliki.

 

وَاٰتُوا النِّسَاۤءَ صَدُقٰتِهِنَّ نِحْلَةً ۗ فَاِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِّنْهُ نَفْسًا فَكُلُوْهُ هَنِيْۤـًٔا مَّرِيْۤـًٔا

 

Dan berikanlah maskawin (mahar) kepada perempuan (yang kamu nikahi) sebagai pemberian yang penuh kerelaan. Kemudian, jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari (maskawin) itu dengan senang hati, maka terimalah dan nikmatilah pemberian itu dengan senang hati.

 

Jadi, indikator النِّسَاءberdasarkan ayat diatas bisa menjawab siapa yang dimaksud النِّسَاءDari sini kita dapat memberikan penafsiran sebagai berikut : siapakah yang di maksud النِّسَاء  yang dimaksud Annisa disini yaitu perempuan yang kamu nikahi. Jadi dalam ayat ini dijelaskan tentang perintah atau anjuran untuk memberi maskawin atau mahar kepada  perempuan yang akan dinikahi sebagai pemberian yang penuh kerelaan, kemudian apabila mereka (orang yang hendak dinikahi) memberikan kepada kamu sebagian dari maskawin yang telah kamu kasih dengan senang hati (tanpa paksaan), maka terimalah dan nikmatilah dengan senang hati.



3.                  Kata فَبَلَغْنَ  yang tertulis dalam Al Qur’an sebanyak 4 kali yaitu pada surat Al-Baqarah (2) ayat 231,232 dan 234, surat At-Talaq (65) ayat 2.

 

QS At-Talaq (65):2

فَاِذَا بَلَغْنَ اَجَلَهُنَّ فَاَمْسِكُوْهُنَّ بِمَعْرُوْفٍ اَوْ فَارِقُوْهُنَّ بِمَعْرُوْفٍ وَّاَشْهِدُوْا ذَوَيْ عَدْلٍ مِّنْكُمْ وَاَقِيْمُوا الشَّهَادَةَ لِلّٰهِ ۗذٰلِكُمْ يُوْعَظُ بِهٖ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ ەۗ وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ

 

Maka apabila mereka telah mendekati akhir idahnya, maka rujuklah (kembali kepada) mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah pengajaran itu diberikan bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya.

 

Jadi, indikator فَبَلَغْن ayat diatas bisa menjawab siapa yang dimaksudفبلغن  . Disini kita dapat memberikan penafsiran sebagai berikut : siapakah yang di maksud فَبَلَغْنَ   yang dimaksud فَبَلَغْنَ  disini yaitu apabila telah mendekati akhir iddah seorang istri. Jadi dalam ayat ini dijelaskan bahwasanya apabila seorang istri mendekati masa akhir iddahnya maka ada dua pilihan bagi seorang suami yaitu rujuklah (kembali kepada) mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil, dan hendaklah bersaksi karena Allah.

 

QS Al-Baqarah (2):234

 

وَالَّذِيْنَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُوْنَ اَزْوَاجًا يَّتَرَبَّصْنَ بِاَنْفُسِهِنَّ اَرْبَعَةَ اَشْهُرٍ وَّعَشْرًا ۚ فَاِذَا بَلَغْنَ اَجَلَهُنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيْمَا فَعَلْنَ فِيْٓ اَنْفُسِهِنَّ بِالْمَعْرُوْفِۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

 

Dan orang-orang yang mati di antara kamu serta meninggalkan istri-istri hendaklah mereka (istri-istri) menunggu empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah sampai (akhir) idah mereka, maka tidak ada dosa bagimu mengenai apa yang mereka lakukan terhadap diri mereka menurut cara yang patut. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

 

Jadi, indikator فَبَلَغْن ayat diatas bisa menjawab siapa yang dimaksudفبلغن  . Disini kita dapat memberikan penafsiran sebagai berikut : siapakah yang di maksud فَبَلَغْنَ  ? Yang dimaksud فَبَلَغْنَ  disini yaitu apabila telah mendekati akhir iddah seorang istri. Jadi dalam ayat ini dijelaskan bahwasanya orang-orang yang telah meninggal dunia serta meninggalkan istri, maka hendaklah seorang istri menunggu sampai empat bulan sepuluh hari,kemudian apabila telah sampai masa akhir iddahnya, maka tidak ada dosa bagimu mengenai apa yang mereka lakukan terhadap diri mereka menurut cara yang patut.



4.                  Kata أَجَلَهُنَّ  tertulis dalam Al Qur’an sebanyak 5 kali yaitu pada surat Al-Baqarah (2) ayat 231,232, dan 234, surat At Talaq (65) ayat 2, dan 4.

 

QS Al-Baqarah (2):234

 

وَالَّذِيْنَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُوْنَ اَزْوَاجًا يَّتَرَبَّصْنَ بِاَنْفُسِهِنَّ اَرْبَعَةَ اَشْهُرٍ وَّعَشْرًا ۚ فَاِذَا بَلَغْنَ اَجَلَهُنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيْمَا فَعَلْنَ فِيْٓ اَنْفُسِهِنَّ بِالْمَعْرُوْفِۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

 

Dan orang-orang yang mati di antara kamu serta meninggalkan istri-istri hendaklah mereka (istri-istri) menunggu empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah sampai (akhir) idah mereka, maka tidak ada dosa bagimu mengenai apa yang mereka lakukan terhadap diri mereka menurut cara yang patut. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

 

Jadi, indikator اجلهن ayat diatas bisa menjawab siapa yang dimaksudاجلهن  . Disini kita dapat memberikan penafsiran sebagai berikut : siapakah yang di maksud فاجلهن   yang dimaksud اجلهن disini yaitu akhir Iddah seorang istri. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwasanya dalam QS Al-Baqarah (2):234 ini menjelaskan tentang apabila seorang suami yang telah meninggal dunia dan meninggalkan istrinya maka hendaklah seorang istri menunggu hingga akhir iddahnya yaitu empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah sampai akhir iddahnya,maka tidak ada dosa bagi seorang istri mengenai apa yang akan mereka lakukan terhadap diri mereka menurut cara yang patut.

 

QS At-Talaq (65):2

 

فَاِذَا بَلَغْنَ اَجَلَهُنَّ فَاَمْسِكُوْهُنَّ بِمَعْرُوْفٍ اَوْ فَارِقُوْهُنَّ بِمَعْرُوْفٍ وَّاَشْهِدُوْا ذَوَيْ عَدْلٍ مِّنْكُمْ وَاَقِيْمُوا الشَّهَادَةَ لِلّٰهِ ۗذٰلِكُمْ يُوْعَظُ بِهٖ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ ەۗ وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ

 

Maka apabila mereka telah mendekati akhir idahnya, maka rujuklah (kembali kepada) mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah pengajaran itu diberikan bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya,

 

Jadi, indikator اجلهن ayat diatas bisa menjawab siapa yang dimaksudاجلهن  . Disini kita dapat memberikan penafsiran sebagai berikut : siapakah yang di maksud فاجلهن   yang dimaksud اجلهن disini yaitu akhir Iddah seorang istri. Seperti ayat sebelumnya telah dijelaskan bahwasanya dalam QS At-Talaq (65):2 ini menjelaskan bahwasanya apabila seorang istri telah mendekati akhir iddahnya, maka ada dua pilihan bagi seorang suami yaitu rujuklah (kembali kepada) mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil, dan hendaklah bersaksi karena Allah.




5.                  Kata تَعْضُلُوهُنَّ  yang tertulis dalam Al-Qur’ansebanyak 2 kali yaitu pada surat Al-Baqarah (2): 232 dan Surah An-nisa (4): 19.

 

QS Al-Baqarah (2):232

 

وَاِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاۤءَ فَبَلَغْنَ اَجَلَهُنَّ فَلَا تَعْضُلُوْهُنَّ اَنْ يَّنْكِحْنَ اَزْوَاجَهُنَّ اِذَا تَرَاضَوْا بَيْنَهُمْ بِالْمَعْرُوْفِ ۗ ذٰلِكَ يُوْعَظُ بِهٖ مَنْ كَانَ مِنْكُمْ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ ۗ ذٰلِكُمْ اَزْكٰى لَكُمْ وَاَطْهَرُ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

 

Dan apabila kamu menceraikan istri-istri (kamu), lalu sampai idahnya, maka jangan kamu halangi mereka menikah (lagi) dengan calon suaminya, apabila telah terjalin kecocokan di antara mereka dengan cara yang baik. Itulah yang dinasihatkan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Itu lebih suci bagimu dan lebih bersih. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.

 

Jadi, indikator تعضلو هن ayat diatas bisa menjawab siapa yang dimaksudتعضلو هن disini kita dapat memberikan penafsiran sebagai berikut : siapakah yang di maksud تعضلو هن  yang dimaksudفتعضلو هن  disini yaitu menghalangi istri atau menyusahkan istri. Jadi dalam ayat ini menjelaskan bahwasanya apabila seorang suami telah menceraikan istrinya, kemudian sampai pada akhir Iddah seorang istri. Maka janganlah artinya seorang suami tidak memiliki hak untuk melarang mantan istrinya untuk menikah lagi dengan calon suaminya, apabila telah memiliki kecocokan antara satu sama lain dengan cara yang baik.

 

QS An-Nisa (4):19

 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَحِلُّ لَكُمْ اَنْ تَرِثُوا النِّسَاۤءَ كَرْهًا ۗ وَلَا تَعْضُلُوْهُنَّ لِتَذْهَبُوْا بِبَعْضِ مَآ اٰتَيْتُمُوْهُنَّ اِلَّآ اَنْ يَّأْتِيْنَ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ ۚ وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ ۚ فَاِنْ كَرِهْتُمُوْهُنَّ فَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّيَجْعَلَ اللّٰهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا

 

Wahai orang-orang beriman! Tidak halal bagi kamu mewarisi perempuan dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, kecuali apabila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya.

 

Jadi, indikator تعضلو هن ayat diatas bisa menjawab siapa yang dimaksudتعضلو هن disini kita dapat memberikan penafsiran sebagai berikut : siapakah yang di maksud تعضلو هن  yang dimaksudفتعضلو هن  disini yaitu menghalangi istri atau menyusahkan istri. Dalam ayat ini menjelaskan bahwasanya tidak halal bagi seorang lelaki mewarisi perempuan dengan cara paksa, dan larangan bagi seorang lelaki menyusahkan seorang perempuan karena ingin mengambil kembali sebagian dari apa yang telah diberikan kepadanya, kecuali dia melakukan sebuah perbuatan yang keji nan nyata.



6.                  Kata يَنكِحْنَ  yang tertulis dalam Al-Qur’an sebanyak 1 kali yaitu pada surat Al-Baqarah (2) ayat 232.

 

QS Al-Baqarah (2):232

 

وَاِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاۤءَ فَبَلَغْنَ اَجَلَهُنَّ فَلَا تَعْضُلُوْهُنَّ اَنْ يَّنْكِحْنَ اَزْوَاجَهُنَّ اِذَا تَرَاضَوْا بَيْنَهُمْ بِالْمَعْرُوْفِ ۗ ذٰلِكَ يُوْعَظُ بِهٖ مَنْ كَانَ مِنْكُمْ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ ۗ ذٰلِكُمْ اَزْكٰى لَكُمْ وَاَطْهَرُ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

 

Dan apabila kamu menceraikan istri-istri (kamu), lalu sampai idahnya, maka jangan kamu halangi mereka menikah (lagi) dengan calon suaminya, apabila telah terjalin kecocokan di antara mereka dengan cara yang baik. Itulah yang dinasihatkan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Itu lebih suci bagimu dan lebih bersih. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.

 

Jadi, indikator يحكحن ayat diatas bisa menjawab siapa yang dimaksudينكحن disini kita dapat memberikan penafsiran sebagai berikut : siapakah yang di maksud ينكحن   yang dimaksudينكحن  disini yaitu menikah lagi dengan calon suaminya. Jadi dalam ayat ini menjelaskan bahwasanya apabila seorang suami telah menceraikan istrinya, kemudian sampai pada akhir Iddah seorang istri. Maka janganlah artinya seorang suami tidak memiliki hak untuk melarang mantan istrinya untuk menikah lagi dengan calon suaminya, apabila telah memiliki kecocokan antara satu sama lain dengan cara yang baik.



7.                  Kata أَزْوَاجَهُنَّ  yang tertulis dalam Al-Qur’an sebanyak 1 kali yaitu pada surah Al-Baqarah (2): 232.

 

QS Al-Baqarah (2):232

 

وَاِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاۤءَ فَبَلَغْنَ اَجَلَهُنَّ فَلَا تَعْضُلُوْهُنَّ اَنْ يَّنْكِحْنَ اَزْوَاجَهُنَّ اِذَا تَرَاضَوْا بَيْنَهُمْ بِالْمَعْرُوْفِ ۗ ذٰلِكَ يُوْعَظُ بِهٖ مَنْ كَانَ مِنْكُمْ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ ۗ ذٰلِكُمْ اَزْكٰى لَكُمْ وَاَطْهَرُ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

 

Dan apabila kamu menceraikan istri-istri (kamu), lalu sampai idahnya, maka jangan kamu halangi mereka menikah (lagi) dengan calon suaminya, apabila telah terjalin kecocokan di antara mereka dengan cara yang baik. Itulah yang dinasihatkan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Itu lebih suci bagimu dan lebih bersih. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.



Jadi, indikator أَزْوَاجَهُنَّ ayat diatas bisa menjawab siapa yang dimaksudأَزْوَاجَهُنَّ disini kita dapat memberikan penafsiran sebagai berikut : siapakah yang di maksud ينكحن   yang dimaksud أَزْوَاجَهُنَّ  disini yaitu  calon suaminya. Jadi dalam ayat ini menjelaskan bahwasanya apabila seorang suami telah menceraikan istrinya, kemudian sampai pada akhir Iddah seorang istri. Maka janganlah artinya seorang suami tidak memiliki hak untuk melarang mantan istrinya untuk menikah lagi dengan calon suaminya, apabila telah memiliki kecocokan antara satu sama lain dengan cara yang baik.



8.                  Kata  تَرَاضَوْا  yang tertulis dalam Al-Qur’an sebanyak 1 kali yaitu pada surah Al-Baqarah (2): 232.

 

QS Al-Baqarah (2):232

 

وَاِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاۤءَ فَبَلَغْنَ اَجَلَهُنَّ فَلَا تَعْضُلُوْهُنَّ اَنْ يَّنْكِحْنَ اَزْوَاجَهُنَّ اِذَا تَرَاضَوْا بَيْنَهُمْ بِالْمَعْرُوْفِ ۗ ذٰلِكَ يُوْعَظُ بِهٖ مَنْ كَانَ مِنْكُمْ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ ۗ ذٰلِكُمْ اَزْكٰى لَكُمْ وَاَطْهَرُ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

 

Dan apabila kamu menceraikan istri-istri (kamu), lalu sampai idahnya, maka jangan kamu halangi mereka menikah (lagi) dengan calon suaminya, apabila telah terjalin kecocokan di antara mereka dengan cara yang baik. Itulah yang dinasihatkan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Itu lebih suci bagimu dan lebih bersih. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.

 

Jadi, indikator تَرَاضَوْا ayat diatas bisa menjawab siapa yang dimaksud تَرَاضَوْا  disini kita dapat memberikan penafsiran sebagai berikut : siapakah yang di maksud   تَرَاضَوْا yang dimaksud تَرَاضَوْا disini yaitu  terjadi kecocokan. Jadi dalam ayat ini menjelaskan bahwasanya apabila seorang suami telah menceraikan istrinya, kemudian sampai pada akhir Iddah seorang istri. Maka janganlah artinya seorang suami tidak memiliki hak untuk melarang mantan istrinya untuk menikah lagi dengan calon suaminya, apabila telah memiliki kecocokan antara satu sama lain dengan cara yang baik.



9.                  Kata  بِالْمَعْرُوفِ  yang tertulis dalam Al-Qur’ansebanyak 15 kali yaitu pada surah An-nisa (4): 19,25 dan 114, surah Al-A’raf (7): 157, surah At-taubah (9): 67,71, dan 112, surah Al-haj (22): 41, surah surah Al-Luqman (31): 17, surah Muhammad (47): 21, surah Al-Mumtahanah (60): 12, surah At-Talaq (65): 2 disebutkan dua kali, 6.

 

QS An-Nisa (4):19

 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَحِلُّ لَكُمْ اَنْ تَرِثُوا النِّسَاۤءَ كَرْهًا ۗ وَلَا تَعْضُلُوْهُنَّ لِتَذْهَبُوْا بِبَعْضِ مَآ اٰتَيْتُمُوْهُنَّ اِلَّآ اَنْ يَّأْتِيْنَ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ ۚ وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ ۚ فَاِنْ كَرِهْتُمُوْهُنَّ فَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّيَجْعَلَ اللّٰهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا

 

Wahai orang-orang beriman! Tidak halal bagi kamu mewarisi perempuan dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, kecuali apabila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya.

 

Jadi, indikator بِالْمَعْرُوفِayat diatas bisa menjawab siapa yang dimaksud  بِالْمَعْرُوفِ disini kita dapat memberikan penafsiran sebagai berikut : siapakah yang di maksud    بِالْمَعْرُوفِ yang dimaksud بِالْمَعْرُوفِ disini yaitu  perbuatan atau kebiasaan yang baik (patut). Dalam ayat ini menjelaskan bahwasanya tidak halal bagi seorang lelaki mewarisi perempuan dengan cara paksa, dan larangan bagi seorang lelaki menyusahkan seorang perempuan karena ingin mengambil kembali sebagian dari apa yang telah diberikan kepadanya, kecuali dia melakukan sebuah perbuatan yang keji nan nyata.

 

QS At-Taubah (9):67

 

اَلْمُنٰفِقُوْنَ وَالْمُنٰفِقٰتُ بَعْضُهُمْ مِّنْۢ بَعْضٍۘ يَأْمُرُوْنَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوْفِ وَيَقْبِضُوْنَ اَيْدِيَهُمْۗ نَسُوا اللّٰهَ فَنَسِيَهُمْ ۗ اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ

 

Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, satu dengan yang lain adalah (sama), mereka menyuruh (berbuat) yang mungkar dan mencegah (perbuatan) yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya (kikir). Mereka telah melupakan kepada Allah, maka Allah melupakan mereka (pula). Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik.

 

Jadi, indikatorالْمَعْرُوْفِ   ayat diatas bisa menjawab siapa yang dimaksud الْمَعْرُوْفِ  . Disini  kita dapat memberikan penafsiran sebagai berikut : siapakah yang di maksud  الْمَعْرُوْفِ  ? yang dimaksud  الْمَعْرُوْفِ   dalam ayat ini ialah perbuatan atau kebiasaan yang baik. Jadi di dalam ayat ini menjelaskan bahwasanya orang-orang yang munafik antara laki-laki dan perempuan satu dengan yang lainnya itu sama, mereka menyuruh berbuat yang keji dan mencegah perbuatan yang baik, dan mereka telah melupakan Allah, maka Allah melupakan mereka juga. Karena sesungguhnya orang-orang munafik ialah orang-orang yang fasik.



·         Analisis Munasabah

 

Al-Baqarah (2): 230

فَاِنْ طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهٗ مِنْۢ بَعْدُ حَتّٰى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهٗ ۗ فَاِنْ طَلَّقَهَا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَآ اَنْ يَّتَرَاجَعَآ اِنْ ظَنَّآ اَنْ يُّقِيْمَا حُدُوْدَ اللّٰهِ ۗ وَتِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَ

Al-Baqarah (2):231

وَاِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاۤءَ فَبَلَغْنَ اَجَلَهُنَّ فَاَمْسِكُوْهُنَّ بِمَعْرُوْفٍ اَوْ سَرِّحُوْهُنَّ بِمَعْرُوْفٍۗ وَلَا تُمْسِكُوْهُنَّ ضِرَارًا لِّتَعْتَدُوْا ۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهٗ ۗ وَلَا تَتَّخِذُوْٓا اٰيٰتِ اللّٰهِ هُزُوًا وَّاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَمَآ اَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِّنَ الْكِتٰبِ وَالْحِكْمَةِ يَعِظُكُمْ بِهٖ ۗوَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

Al-Baqarah (2):232

وَاِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاۤءَ فَبَلَغْنَ اَجَلَهُنَّ فَلَا تَعْضُلُوْهُنَّ اَنْ يَّنْكِحْنَ اَزْوَاجَهُنَّ اِذَا تَرَاضَوْا بَيْنَهُمْ بِالْمَعْرُوْفِ ۗ ذٰلِكَ يُوْعَظُ بِهٖ مَنْ كَانَ مِنْكُمْ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ ۗ ذٰلِكُمْ اَزْكٰى لَكُمْ وَاَطْهَرُ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

 

Dari tiga ayat diatas dapat dianalisis bahwa masih terdapat التناسب atau korelasi antara ketiga ayat tersebut jika ditinjau lebih lanjut ayat 231 masih dalam satu pembahasan yang sama dengan ayat sebelumnya dan sesudahnya yaitu mengenai masa iddah istri/perempuan.

Pada surat Al- Baqarah ayat 230 menjelaskan mengenai suami yang memilih untuk menceraikan istrinya setelah talaq kedua, yakni pada talak ketiga yang tidak lagi memberinya kesempatan untuk rujuk, maka perempuan itu tidak halal lagi baginya sebelum dia menikah dan melakukan hubungan suami-istri dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa dan halangan bagi keduanya, yakni suami pertama dan mantan istrinya, untuk menikah kembali dengan akad yang baru, setelah ia selesai menjalani masa idahnya dari suami kedua.

Pada surat Al- Baqarah ayat 231 menjelaskan Mengenai batas akhir iddah dan rujuk. Yaitu apabila telah mendekati akhir iddahnya, maka boleh jadi sang suami merujuk istrinya dengan niat untuk mengadakan perdamaian “ishlah” dan bergaul dengan cara yang makruf. Inilah yang dimaksud dengan al-imsak bil-ma’ruf menahan dengan cara yang makruf. Atau, membiarkan iddahnya habis sehingga status istri menjadi tertalak ba’in. ini yang dimaksud dengan tasrih bi-ihsan melepaskan dengan cara yang baik. Tidak menyakitinya dan tidak meminta tebusan dari istri, serta tidak menghalanginya untuk kawin dengan lelaki lain yang disukainya.

“janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudharatan, karena yang demikian kamu menganiaya mereka.”

Menurutnya redaksi yang digunakan ayat ini balaghna ajalahunna, yang secara harfiyah berarti telah sampai masa akhir waktunya (iddahnya), yang dimaksud adalah mendekati batas akhir iddahnya. Karena jika telah sampai pada waktu selesai iddahnya, suami tidak lagi memiliki hak untuk memaksa istrinya rujuk. Oleh karena itu, Allah memilih redaksi demikian dalam hal perceraian ini untuk memberi kesempatan kepada suami untuk memikirkan lagi agar beri‟tikad melakukan perbaikan dengan cara rujuk.

Pada surat Al- Baqarah ayat 232 ini berbeda dengan ayat sebelumnya, walau redaksinya sama. Ayat ini sebagai aturan yang membahas tentang wanita-wanita yang ditalak dan telah habis masa iddahnya. Sedang ayat yang lalu berbicara menyangkut wanita yang ditalak namun belum sampai batas akhir iddahnya. Ini karena adanya larangan adhl, yakni larangan menghalangi wanita yang telah dicerai untuk kawain lagi. Karena, jika masa iddahnya belum habis, tentu larangan tersebut tidak diperlukan suaminya berhak merujuki istrinya.

Kata adhl yang di atas diterjemahkan dengan menghalangi pada awalnya berarti menahan. Ini mengandung kesan bahwa memberi saran agar jangan menikah tanpa memaksakan kehendak tidaklah terlarang. Tapi yang terlarang adalah mempersempi dan menghalangi dengan cara-cara yang menyulitkan. Ayat di atas memberi isyarat bahwa kerelaan para wanita yang telah dicerai itu adalah hak mutlak dan bahwa orang lain tidak memiliki hak sedikitpun. Ini berbeda dengan gadis. Kerelaan mutlak itu diperkuat lagi dengan penegasan lanjutan ayat tersebut, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan kerelaan yang bersifat ma’ruf.

Itulah yang dinasehatkan kepada orang – orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. Kata dzalika/itulah, yang digunakan di sini adalah kata tunjuk tunggal yang ditujukan kepada suami atau pria, orang per orang, yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Sedangkan yang ditunjuk oleh kata itu adalah pembelaan kepada wanita, larangan menghalanginya kawin dengan orang lain.

 

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar