Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Isu-isu Nyata Dibalik Peristiwa Yang Menggantung Di Kepala Pada Hari Rabu Wekasan

Sumber : pinterest.id

Oleh: Ahmad Nasrul Maulana


Namanya Adawiyah, dia adalah gadis elok yang lahir di tanah Jawa. Parasnya yang tinggi dan putih bersih mampu memikat banyak mata kala memandangnya. Dialah Adawiyah, gadis bermata sipit tapi bukan berdarah Cina. Tindak tuturnya juga sangat sopan dengan warga desanya. Sayangnya, di hari istimewa Adawiyah, cemooh dan gunjingan berembus kencang untuk menerpa pesta perkawinannya. Sungguh malang kisah Adawiyah.

“Bapak yakin ingin menggelar pernikahan Adawi di hari Rabu Wekasan?” tanyanya pelan

“Lalu kenapa? Kamu takut? Semuanya sudah Bapak pesan, besok akan dibawa kesini” sebuah nafas pendek menyelingi “Sudahlah nduk, kamu jangan termakan oleh omongan ibumu juga masyarakat desa ini. Sekarang kamu hubungi si Firman, calon suamimu itu”

Adawiyah memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Dia sangat tidak tenang dengan keputusan Bapaknya. Bagaimana tidak, bahkan Ibunya sendiri juga meragukan keputusan Bapaknya yang akan menggelar pesta pernikahan di hari Rabu Wekasan. Hari  diyakini akan banyak kesialan jatuh berdatangan.

“Tok...tok...tok”

Ibunya masuk ke kamar Adawiyah. Tanpa berpanjang kata, dia menggenggam tangan anak gadisnya seraya berkata bahwa pesta pernikahannya sangat tidak diterima oleh masyarakat jika benar akan diadakan di hari yang dikehendaki Bapaknya. Adawiyah menangis, lalu isaknya terdengar oleh Bapaknya. Terjadilah percekcokan antara keduanya di luar kamar Adawiyah. 

“Kamu jangan menangis cantik, kamu juga tidak perlu takut untuk melewati hari bahagiamu” Adawiyah mengangkat kepalanya yang tenggelam saat mendengar sebuah suara. Ternyata itu adalah suara tukang solek yang akan mempercantik dirinya. 

“Duduklah di hadapan meja solekmu, perkenankan aku memasang rangkaian melati ini di atas kepalamu, karena besok kau akan mengenakannya” malam sangat dingin, tiupan anginnya sangat terasa menyentuh di kulit Adawiyah. Ditambah tukang solek yang terus melantunkan tembang-tembang Jawa yang semakin mencekam suasana.

“Mbak jangan bernyanyi seperti itu, Adawiyah takut”

Gadis berjarik licin itu tersenyum, saat melihat wajah Adawiyah yang tertekuk ketakutan. Ia lalu menuruti permintaan Adawiyah untuk menghentikan tembang Jawanya. Suasana hening kembali. Satu demi satu rangkaian melati telah terpasang di atas kepala Adawiyah. Hingga akhir, tersisa satu rangkaian melati. Tukang solek itu mengira bahwa akan terpasang sepuluh rangkai melati di sanggul Adawiyah. Namun karena kepalanya yang kecil, membuat hanya sembilan melati saja yang terpasang. 

“Sisa satu, kau mau?”

“Maksudnya, Mbak?”

“Kau mau menyantapnya?”

“Apa Mbak?” ketakutan menggelayuti pikiran Adawiyah. Ia mulai curiga dengan gadis tukang solek yang berdiri di belakangnya. Bukan hanya itu, dari awal Adawiyah mengamati tukang solek tersebut bertingkah tak sewajarnya. Bajunya juga sedikit anyir darah.

“Ini sangat enak, nduk” ujar tukang solek tersebut seraya jari-jarinya memetik melati dari tubuh rangkaiannya. 

“Mbak, kok dimakan?” ujarnya sambil membalikkan badan

Adawiyah terperanjat saat menyaksikan apa yang ada di hadapan matanya. Bukan tukang solek yang didapatinya saat melihat cermin, melainkan sosok berbaju merah besar dengan wajah yang teramat mengerikkan. “Bapakkkkkkk” teriak Adawiyah.

“Nduk, bangun nduk, kamu kenapa?”

“Bapak kemana, buk? Dadanya naik turun. Ibunya menyodorkan segelas air namun tidak dihiraukannya.

“Bapakmu di luar sedang mengobrol dengan tukang sound system”

Dari atas ranjangnya, Adawiyah berlari untuk menemui Bapaknya. Sembari memeluk tubuh bapaknya Adawiyah menangis, meratap di pangkuan Bapaknya.

“Bapak, tolong batalkan perayaan pesta perkawinan Adawiyah, Adawiyah mohon, pak!” Adawiyah teisak.

“Iya nduk pesta perkawinanmu batal, ini karena mobil dari tukang sound system mengalami kecelakaan” 

“Kecelakaan, pak?”

“Iya nduk, mobil itu menabrak seorang tukang solek yang hendak merias pengantin” keringat dingin perlahan mengucur, hidungnya kembang kempis dan tubuhnya bergemetar. 

“Kau jangan berfikir aneh-aneh, nduk. Ini bukan masalah hari Rabu Wekasan. Tapi ini adalah takdir” Bapaknya berdiri meninggalkan ruang tamu dengan melempar lirikan sinis ke arah Ibunya. 

“Kamu yang tenang yaa sayang. Yang batal hanya pestanya, bukan perkawinan kita” ucap Firman melalui pesan singkat untuk calon istrinya. Adawiyah.






Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar