Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Hayati



Oleh Ahmad Jaelani Yusri

Perjuangan hidup Hayati memang patut diacungi jempol. Bagaimana tidak? Disaat keluarganya tak berasal dari basis pendidikan ditambah lingkungan kampung yang marjinal. Nyatanya Hayati keluar dari lingkar kebiasaan masyarakat pinggiran. Hidup Hayati tak seperti tetangganya kebanyakan yang memutuskan jalan hidup untuk menjadi pemulung, buruh kasar, pedagang asongan dan pekerja serabutan. Ia berani menempuh pendidikan tinggi. Pendidikan yang katanya dapat mengubah nasib.

Tentu Hayati tak langsung simsalabim kuliah. Ujug-ujug cengar-cengir di bangku kuliah. Asal tau saja, Hayati telah menempuh derita selama hidupnya. Selain sokongan ibunya yang semata wayang. Ia juga termotivasi dari ayahnya yang telah meninggal. Beliau meninggal karena membetulkan kulkas tetangga yang rusak. Karena asal reparasi tanpa ilmu elektronika yang mumpuni, Beliau terkena sengatan tinggi hingga jantungan. Dari situ Hayati bercita-cita menjadi teknisi agar tak mengulangi kesalahan ayahnya. Terdengar aneh memang. Seorang perempuan bercita-cita menjadi teknisi tapi itulah Hayati.

Ketertarikan ia pada elektronika tumbuh sejak kecil dimana ia sering melihat barang-barang elektronik bekas yang di jajar depan rumah bos rongsokan. Ia penasaran sekali, kenapa gulungan kabel kuning mengkilat atau yang bisa kita sebut tembaga bisa membuat keajaiban listrik. Dari mana keajaiban itu berasal ? pungkasnya.

Balik lagi soal deritanya di pendidikan. Sedari kecil ia tertarik dengan ilmu eksak tapi bukan matematika . Ia lemah dalam hitungan tapi kuat dalam penerapan. Berbekal tekadnya itu beberapa kali ia sempat mengikuti lomba MIPA meskipun berujung kalah. Lulus dari SD, Ia melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi . Sadar akan biaya pendidikan yang tak sedikit . Ia sekolah sambil berjualan . Tepatnya berjualan peyek kacang buatan ibunya. Saban hari ia tak bosan-bosan dalam menjajakan jualannya. Meskipun itu terasa berat baginya. 

Hingga suatu hari hari kelulusan itu tiba. Kini saatnya ia menentukan takdir hidup. Memilih untuk bekerja atau melanjutkan studi ke bangku perkuliahan. 

“Mak, kalo aku mau kuliah , kira kira gimana?”

Mak Yaya (ibunya Hayati) hanya tertegun , tak tau harus bilang apa. Ia seperti memberi isyarat bahwasanya ia tak mampu. 

“ Jujur, keinginan hayati sangat mulia. Tapi sepertinya ibu tak sanggup kalau kamu lanjut studi. Uang yang ibu kumpulkan mungkin hanya cukup membiayai pendaftaran tapi tidak dengan uang semester dan lain-lain, maafkan mamak ya!” 

Hayati tak tinggal diam merana, ia pandangi foto ayahnya mengingatkan dia ke memori masa kecil . Ayahnya yang meskipun lulusan SD tapi terkenal sangat gigih dalam mengerjakan sesuatu. Apapun ia kerjakan asal menghasilkan uang dan manfaat bagi sekitar. Hayati waktu itu sedang berumur tujuh tahun ingat betul saat ayahnya ngobrol dengan emaknya tentang masalah jasa reparasi elektronik “Jika saya gak bisa maka saya akan lebih berusaha agar bisa dengan usaha yang lebih saat saya bisa, dengan begitu Allah akan kasihan sama saya karena kesungguhan bukan karena kepintaran saya”  

Hayati kembali tertegun diam, begitulah kisah hidupnya yang ia sampaikan pada Ulina , sahabat kuliahnya. Ia menjadi teman kamar di kontrakan mahasiswa Jabodetabek. Kini mereka menempuh pendidikan teknik elektro di Universitas Brawijaya. Ulina sangat takjub pada Hayati, dibalik sifatnya yang riang dan rajin ternyata ada misteri dibaliknya. Ulina makin bersyukur bisa berkenalan dengan Hayati.

“Hayati, kamu tau arti dari namamu? “ Ucap Ulina mendadak

“Gak tau , emang kenapa lin? “ Jawabnya bingung

“Hayati itu bahasa Arab yang artinya hidup, pantes kau bisa menghidupkan semangat sekitarmu” Jelas Ulina yang lulusan pondok pesantren”

“Owh begitu, makasih Ulina mau jadi temanku” 









Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar