Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Hari Sial Terbesarku

Hari Sial Terbesarku

Oleh : Meisya Eva Natasya

“Kring….kriinggg!!”

Ishh…suara apasih itu? Ganggu banget! Nggak tau apa kalau aku sedang tidur?!

“Krriingg… krriinngg!!!”

Suara itu pun semakin kencang dan hampir membuat gendang  telingaku pecah. Akhirnya perlahan aku menyoba membuka mata. Ternyata asal suara itu dari jam bekerku. Pantas saja berbunyi. Jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi  dan sudah saatnya bangun untuk melakukan sholat subuh dan aktifitas pagi. Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari luar dan membuatku kaget.

“Tok tok tok, bangun… bangun…!!! Subuh… subuh… subuhhhhh…!!!

Ternyata suara yang menggangu itu adalah suara mbak-mbak penguruh pondok bagian ubudiyah. Beliau sering berkeliling kamar-kamar untuk membangunkan para santri setiap subuh. Sebenarnya, aku tidak suka dibangunkan dengan cara seperti itu yang membuatku semakin jengkel dan malas untuk bangun pagi. Lagi pula tidak perlu di beri tahu pun, aku juga sudah tau kalau ini sudah pagi! Menyebalkan sekali!! Membuat suasana pagi yang tenang ini menjadi panas aja!

Dengan kesal aku menjawab dengan suara sedikit lantang.

“Iyaaaa…” teriakku dari dalam kamar.

Tiba- tiba ketika aku beranjak dari tidur tangan dan kaki kiriku  mendadak keram akibat tertimpa badan temenku yang gemuk ketika tidur. dan posisi tidurku yang tidak beraturan yang membuat badan pegal dan sakit semua.kemudian aku bergegas pergi ke kamar mandi untuk ambil air wudlu dan akhirnya…..

“GGUUBRAKK!!!”

Aawww…rasanya sakit sekali. Sepertinya kaki kiriku terkilir deh! Huh… Menyebalkan sekali pagi ini! sudah dikejutkan oleh teriakan pengurus dan sekarang terpeleset di depan kamar mandi! Ehh …kok perasaanku nggak enak ya? Seperti ada sesuatu yang akan terjadi lagi setelah ini. Aneh sekali!

Tiba-tiba aku mendengar suara tertawa dari balik badanku. Begitu aku menengok kebelakang ternyata teman-teman kamar yang menertawakanku. Mereka itu memang menyebalkan! Tidak membantuku berdiri malah menertawakanku.Akhirnya dengan sepenuh tenaga aku berdiri dan  melanjutkan untuk masuk ke kamar mandi, kemudian bergegas pergi kemasjid untuk melaksanakan sholat subuh berjama’ah.

Jam menunjukkan pukul 06.30, aku bergegas keluar dari kamar kemudian  pergi ke Madrasah yang jaraknya  tak jauh dari kamar. Dengan jalan yang bertatih-tatih, aku pun mulai keluar dari kamar. Kulihat ketua kamarku melihatku dengn sangat heran.

“Kakimu kenapan Na? kok jalanmu seperti itu?” Tanya ketua kamar.

“Habis keserempet gajah kali mbak” sambung Laila sambil nyengir

Karena sebal aku pun menginjak kakinya. Sepertinya dia merasa kesakitan.

“Aaww..sakit tau!” sahut Laila dengan kesal.

“Bodo amat, wekkk!” Memang siapa yang mulai duluan?!” tanyaku dengan ketus.

Hustt, sudah…sudahh. Jangan bertengkar terus. Cepat berangkat sana, nanti telat masuk kelas  loh.”

“Eh, Na. kenapa itu kakimu?” Tanya Rara sahabatnya.

“Habis kepeleset di depan kamar mandi tadi subuh.” Jawabku.

Aku dan Rara pun bergegas berangkat ke madrasah. Untung belum terlambat. Ternyata terkilir itu tidak enak ya?! Kakiku makis sakit jika di pakai berjalan. Tapi, aku paksain saja. Dari pada nanti terlambat masuk kelas, kan berabe urusannya!

Tiba-tiba aku berjalan melewati got, ada sebuat batu kerikil kecil tepat berada di depanku. Dan…

“Brrukk!!”

Semua anak-anak yang berpapasan denganku pun langsung tertawa. Bagaimana tidak, aku terjatuh dengan badan telungkup menyentuh tanah dan kaki kiriku masuk ke dalam got. Rara pun kaget dan langsung membantuku berdiri.

“Na, kamu nggak apa-apa kan?” Tanyanya

“Enggak apa-apa apanya?! Orang jatuh begini!” Jawabku dengan kesal.

“Ya makanya, jalan tuh hati-hati. Mata jangan di taro dengkul! Jadi begitu kan?” ledeknya sambil nyengir.

Hah! Rara sama aja dengan Laila, suka sekali menertawakan orang yang tertimpa musibah! menyebalkan sekali!!

“Ah, ya sudah lah kita langsung masuk kelas saja. Bentar lagi bel masuk berbunyi!” kataku.

Tak berapa lama, bel masuk pun berbinyi. Semua anak-anak masuk ke kelasnya masing-masing, termasuk aku dan Rara. Ia membantyku berjalan masuk kelas. Hah,hari ini menyebalkan sekali!

Pelajaran pertama pun dimulai. Ustadzah Reni sudah masuk ke kelas. Beliau adalah guru bahasa arab kami. Cocok sekali jika dia mengajar bahasa arab, karena beliau lulusan Universitas Al-Azhar Kairo Mesir.

“shobahul khoir!” sapa ustadzah Reni

“shobahul bahjah wa surur!” jawab anak-anak serempak.

“Baik, hari ini kita akan belajar memperkenalkan diri dalam bahasa arab. Karena minggu lalu ustadzah sudah mencatatnya di papan tulis, sekarang kalian akan ustadzah panggil satu per satu dan mempraktikkannya di depan kelas.

Akhirnya semua murid pun di panggil satu persatu. Beberapa anak sudah di panggil dan berhasil mempraktikkannya dengan lancar. Tak berapa lama kemudian, aku pun di panggil juga. Diluar aku terlihat santai, tapi di dalam hati aku merasa gelisah dan deg-deg an. Takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, pasti ujung-ujungnya akan ditertawakan seperti tadi saat aku jatuh di got samping kelas.

“Nana, silahkan maju ke depan dan perkenalkan dirimu !” seru Ustadzah Reni

Aku pun maju ke depan dan mamulai perkenalan.

“Ismi Nilnal Muna, Ana Qoodimatun min Malang, Wa mutakhorrijatun fii madrasah ibtidaiyah al hukumiyah wahid Malang. Syukron!.”ucapku sambil membungkukkan badan sebagai tanda terima kasih dan kembali ketempat duduk semula. Tiba-tiba hal yang tak terduga datang menimpaku. Ketika aku hendak duduk di kursi, ada seseorang yang usil menarik kursiku kebelakang. Dan …

“Gubbrrakk!!”

Semua mata tertuju kepadaku. Dan terdengar suara menggemparkan membuatku malu setengah mati. Kalau dihitung-hitung, sudah 3 kali aku terjatuh. Menyebalkan sekali! Membuatku kesal saja! Sebelum aku hendak berdiri lagi, suara bel istirahat mengkagetkanku.

“Tinnngg…tinnggg!!”

Semua anak-anak pergi berhamburan keluar kelas. Sedangkan aku dan Rara pergi ke kantin madrasah.sedari tadi Rara melihatku dan sambil terus tertawa. Nggak tau apa kalau aku lagi kesal! Benar-benar menyebalkan! Huh…

“Ha…ha…ha, kasian banget lo Na. dari tadi jatuh mulu. Udah jatuh 2 kali lagi!! Serunya sambil tertawa.

“Bukan 2 kali tapi 3 kali! Kataku membenarkan.

“Hah, 3 kali? Serius? Ya ampun, parah banget sih!” serunya lagi sambil tertawa.

“Bukanya sedih lihat temen kena musihan , malah ketawa mulu! Nggak lucu tau!” kataku dengan ketus.

“Aku ketawa apa adanya Na. siapa juga yang nggak ketawa liat kamu jatuh kayak tadi!” ucapnya.

Ih…sumpah deh! Nyeselin banget si Rara!

Aku dan Rara pun bergegas pergi kekantin dan memesan makan siang yang akan kami santap. Suara bel pun berbunyi, aku dan Rara kembali masuk ke kelas lagi. Seluruh anak-anak yang berada di luar pun ikut masuk menuju kelas masing-masing. Lagi-lagi musibah datang menimpaku. Ketika masuk kelas, ada sebuah plastik bekas minuman es yang di buang sembarangan di situ. Aku tidak menyadarinya, karena aku sedang terburu-buru. Well, aku pun terpeleset ke sekian kalinya.

“Geddebbuukk!!”

Dan lagi-lagi semua anak tertawa melihatku. Di tambah kakiku yang terkilir tadi, membuatku semakin susah berjalan. Rara pun melihatnya dan membantuku berjalan memasuki kelas. Sungguh hari yang hebat bukan!

Akhirnya 2 jam pun berlalu. Bel pulang pun kembali berbunyi. Semua anak berhamburan keluar kelas dengaribut dan berdesak-desakan. aku pun pulang. Di perjalanan aku terus melamun sambil memikirkan kejadian yang meninkaku hari ini. bayangkan saja dari tadi pagi aku terjatuh 4 kali berurut-urut. Baru kali ini sepanjang kesialan yang pernah aku alami, hari inilah yang terparah! Benar-benar hari sial! Mungkin benar yang dikatakan Rara tadi, kalua hari inilah hari kesialan terbesarku. Kenapa harus akau yang mengalami kejadian seperti ini? padahal aku tidak melakukan suatu kesalahan apa pun!

Setelah sampai di pondok aku langsung masuk ke kamarku. Aku benar-benar capek dan kesal. Hari ini adalah hari yang sangat sial bagiku. Belium pernah seumur hidupku, aku mengalami kesialan separah ini. sebenarnya, apa sih salahku? Tiba-tiba ketua kamarku mbak Salsa menghampiriku sambil membawakan segelas air putih untukku. Sepertinya dia tau kalua aku sedang kesal hari ini.

“Kamu kenapa, Na? pulang-pulang kok wajahmu kesal? Memangnya apa yang terjadi di Madrasah tadi?” Tanya mbak Salsa dengan lembut.

Akhirnya aku pun menceritakan semua kejadian yang ku alami hari ini kepada mbak Salsa. Setelah ku ceritakan semuanya, mbak Salsa pun tersenyum kepadaku. Aku tidak mengerti apa maksud dari senyuman itu.

“Kau tau tidak? Kalau sekarang ini kamu baru saja diberi cobaan ringan!” kata mbak Salsa

“Cobaan ? Maksudnya apa mbak? Aku sama sekali tidak mengerti!” jawabku dengan bingung.

“Kau tau Na, banyak orang di dunia ini juga mengalami hal yang sama sepertimu. Bahkan ada yang lebih parah. Semua itu Dia lakukan semata-mata untuk menguji hambanya untuk berbuat sabar dan tawakal. Bukan sebaliknya. Dari pengalaman ini, kau harus mengambil satu hikmah. Kau harus bisa berubahagar busa menjadi lebih baik nanti” kata mbak Salsa menjelaskan dengan sabar.

Aku pun terdiam dan mulai memikirkan semua yang dikatakan mbak Salsa padaku. Jadi… semua ini… semua kejadian yang ku alami ini adalah ujian dari Tuhan padaku untuk menguji kesabaranku, apakah aku bisa menghadapinya atau tidak. Dan ternyata, aku tidak bisa! Selama ini aku selalu marah dan terus menyalahkan keadaan. Padahal itu semua telah di atur oleh-Nya.

Dari dalam hati, aku bersyukur. Aku telah diberi ujian ini dari oleh-Nya. Bukan karena Tuhan benci padaku, melainkan karena sayang padaku. Aku tau itu bukan hanya dari ibu, tetapi aku pun juga merasakannya.

Oke, sekarang aku coba belajar bersabar dan selalu Positif Thinking pada apa pun yang akan terjadi nanti. Ini bisa menjadi bekal buatku untuk menjalani kehidupan yang nanti akan ku tempuh. Ya… kali aja, aku berhasil mengahadapi ujian lain yang diberi oleh-Nya!

Perasaanku sekarang jauh lebih tenang. Rasa sakitku pun jauh lebih baik (ya sebenarnya masih sakit dikit). Ternyata rasa sakit akibat luka jatuh itu bisa hilang jika kita bisa berbagi penderitaan kita pada teman atau siapa pun itu yang membuat kita merasa baik jika berada didekatnya. Untung saja dari 4 jatuh kali itu, terdapat hikmah yang sangat berharga untuk merubah sikapku ke depan.

Keesokan harinya, aku bangun dengan penuh semangat. Tidak ada lagi perasaan kesal dalam hatiku. Kini aku akan selalu bersabar dan yang penting positif thinking!

Aku pun keluar dari kamar. Tiba-tiba aku melihat tangan kiri laila diperban menggunakan kapas dan kain kasa. Sepertinya itu luka karena terjatuh.

“Tanganmu kenapa, lail?” tanyaku.

“Gak tau!” jawab Laila ketus.

“Kemarin dia terpeleset saat ujian praktek membuat pisang cokelat di Madrasahh. Kulit pisangnya sengaja di buang sembarangan. Gara-gara tidak hati-hati, yah… jadi begitu akhirnya!” sambung mbk Salsa.

Ternyata di dunia ini masih adil ya! Dan sekarang kena batunya dia! Hahahaha, aku puas sekali!

“Nah, sekarang siapa yang ceroboh?” tanyaku dengan senyum penuh kemenangan.

Sedangkan Laila hanya diam dan menahan rasa sakit di tangannya akibat kecerobohannya.

 


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar