Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

GALAKSI: BINTANG PERTAMA


Puan Nadir

(pesan penulis kepada pembaca yang membuka tulisan ini karena berpikir jika ini adalah tulisan ilmiah, sebaiknya tekan tombol 
kembali saja agar tidak menyesal)

 ***

Kurebahkan tubuh di kasur tipis yang semakin tipis. Hampir tak beda rasanya dengan tidur di 
lantai tanpa alas. Meski begitu, kasur tipis ini masih terasa nyaman walau sudah ditindih beribu kali oleh raga yang makin hari makin berat, juga jiwa yang makin lama makin sekarat.

Tubuhku berbalik, kutenggelamkan wajah ke bantal empuk yang kubeli di Pasar Minggu. 
Seketika galaksi hadir dalam benakku, begitu indah dan agung. Aku berlarian dari bintang satu ke bintang lain dalam galaksiku sendiri. Dari ribuan bintang yang ada, Bintang Sendu selalu menjadi bintang kesukaanku. Di sana aku berkenalan dengan banyak makhluk, beberapa makhluk yang berhasil menjadi temanku adalah Sedih, Tangis, dan yang paling dekat denganku, Kecewa.

Kecewa adalah makhluk berwarna abu, wujudnya hampir menyerupai salah satu kartun di masa kecil yang aku sendiri sudah lupa judulnya. Dia selalu menyambutku tiap kali aku berkunjung ke Bintang Sendu. Dan dia satu-satunya makhluk di Bintang Sendu yang menanti kehadiranku tanpa ragu. Katanya, 
"aku tau kamu pasti akan selalu kembali padaku". Benar saja, hampir setiap hari aku berkunjung ke Bintang Sendu karena merindukannya.

Aku pernah bertanya padanya "kenapa setiap kali aku menghampirimu, aku selalu merasa sesak di dada. Padahal kamu adalah temanku dan setiap hari kita bertemu". Kecewa tak menghiraukan pertanyaanku dan malah sibuk membenarkan alat terbangnya yang sedikit rusak karena menabrak lempengan emas di bintang itu.

Kecewa mengajakku berkeliling, menjumpai beberapa makhluk lain yang ada di bintang itu. 
Tentunya menggunakan alat terbang milik Kecewa. Alat yang begitu canggih dan mewah, di dalamnya terdapat perpustakaan besar berisi luka yang kurasa selama ini, dia menyimpannya begitu rapi dan tersusun sesuai kadar sakit yang kurasakan.

Makhluk pertama yang kami jumpai adalah Sedih. Saat bersamanya, dadaku semakin sesak tak karuan. Rasanya begitu sakit saat berjumpa Sedih, hingga aku bilang pada Kecewa, "ayo kita pergi dari sini, aku sudah tak kuasa menahan rasa sakitnya".

Kami kembali ke alat terbang dan menuju tempat tinggal makhluk lainnya. Kami sudah jauh dari tempat tinggal Sedih, namun rasa sakit di dada tak kunjung hilang, justru semakin menjadi. Tubuhku semakin lemas, wajahku memucat. Sakit yang luar biasa.

Kami sampai di rumah Tangis, namun dia sedang tak berada di sana. Ada pesan yang tertulis di papan depan rumahnya, isinya: "jika kau mencariku, aku sedang berada di Dermaga Luka".

Kecewa mengajakku ke Dermaga Luka, dan benar saja Tangis sedang duduk di tepiannya. 
Semakin dekat aku dengan Tangis, dadaku semakin tak karuan, rasanya seperti ada yang hidup dan berontak di dalamnya. Kami tiba di bibir dermaga, air keluar deras dari sela mataku. Air mata jatuh tak sabaran, berbaur dengan air dermaga.

"Ini Dermaga Luka, tempat semua rasa sakit diluapkan penderitanya. Keluarkan saja semuanya, hingga sakitnya tak lagi tersisa". Jelas Tangis dengan nada rendahnya.

Air mata terus bercucuran tanpa henti, membuatku lelah dan tersedu-sedu. Semakin banyak air mata yang dikeluarkan, ternyata rasanya sakit di dadaku semakin berkurang. Sampai akhirnya air mata berhenti keluar saat aku merasa lebih baik dan tenang. Aku menghela napas panjang dan berpamitan pada 
Tangis.

Aku sudah selesai, perjalananku hari ini telah usai. Kecewa mengantarku kembali ke dunia nyata, pesannya "jika kau menemukan rasa semacam itu lagi, itulah aku. Aku tak akan selalu bersamamu, tapi aku juga tak akan benar-benar jauh darimu". 

Aku membalikkan badan, menatap langit-langit ruangan. Dan ceritanya selesai.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar