Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Basori


  

Sumber image : Dailymail.co.uk

Hidayatun Na

Kematian Basori masih menyisakan duka di hati kami. Sebenarnya, tak ada yang begitu rela menerima kenyataan bahwa ia sudah dipanggil Yang Mahakuasa. Sebab kehadiran Basori merupakan rahmat. Dimanapun ia berada, pasti menimbulkan gelak tawa. Cara berbicaranya yang persis seperti Ayahnya adalah hiburan bagi para tetangga. Terutama ketika bekumpul bersama dalam acara desa, atau ketika menuai padi bersama.

Basori merupakan anak ke 2 dari 4 bersaudara yang semuanya laki-laki. Sebulan yang lalu, ia meninggal akibat terkena sengatan arus listrik ketika sedang melapisi bata rumah barunya dengan semen. Ia masih sangat muda, 23 tahun kira-kira.

Kisah detik-detik kematiannya diceritakan oleh saksi mata, Pamanku yang saat itu membantu pengerjaan rumah Basori. Waktu itu, dia memplester dinding rumah sambil menonton berita pagi di TV. Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba TV yang ia tonton mati. Sudah menjadi hal umum bagi kita jika TV eror untuk mengecek saluran listrik dan saluran parabola dan membetulkannya. Maka itulah yang sebenarnya ingin dilakukan Basori. Nahas, ketika ia mencoba melepas colokan listrik dari sumbernya, ia tersetrum, lalu terjatuh dan tergeletak sekarat. Pamanku yang mengetahui suara gedebuk tubuh Basori segera mengeceknya dan menghentikan aliran listrik menggunakan sapu bergagang kayu.

Suasana menjadi panik, para tetangga dipanggil, termasuk Ayahku. Segera, Ayah dan Pamanku membawa Basori ke rumah sakit terdekat yang jaraknya 7 kilometer dari rumah. Tetapi, Ayahku sejatinya tahu, bahwa di perjalanan, Basori sudah menghembuskan nafas terakhir. Ayahku menangis tertahan. Namun beliau tetap berbaik sangka kepada Allah dan tetap bersikeras membawanya ke RS. 

Benar saja, sesampainya di sana, nyawa Basori sudah tidak tertolong. Mobil pun kembali pulang ke kediaman. Ibu Basori, Wak Imah diberitahu pelan-pelan oleh Pamanku agar tidak panik. Tetapi, mungkin karena shock berat, Wak Imah seketika menjadi linglung. Ia merasa Basori masih ada dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa pada anak laki-lakinya. 

Baru setelah dikuburkan, Wak Imah menangis histeris sampai pingsan. Teringat semua kenangan dengan anak kesayangannya. Dalam tangisnya yang histeris, Wak Imah berkata menyesal karena tidak memberi restu ketika Basori meminta izin untuk menikahi wanita pujaannya yang seorang janda. Ia juga menyesal karena tidak bisa menyaksikan putranya lebih lama. 

Yang melayat banyak sekali, bahkan Kiyai dari Pondok Pesantren tempat Basori mengaji pun merasa kehilangan. Tidak ada yang tidak menangis hari itu, termasuk Mamakku yang teringat bahwa minggu lalu, ketika acara Tahlilan di rumah, Basori masih bercanda ria dengan para sepupunya yang lain. Tak ada yang tidak sakit perut setelah tertawa dengan Basori. Ada saja lelucon yang ia buat. Ya, orangnya memang selucu itu.

Seminggu kemudian, orang-orang masih merasa berduka dan kehilangan. Yang paling terpukul adalah Wak Imah. Wak Imah masih linglung dan setiap hari ia memandang kosong pada kamar Basori. Bahkan, beliau sampai menyimpan rapi sepiring tempe yang digoreng oleh Basori di pagi hari sebelum kecelakaan itu terjadi. Kehilangan yang begitu cepat. 

Semua orang kehilangan Basori. Pemuda periang, baik, dan agak gagap yang selalu dikenal sebagai pencair suasana. Semuanya masih membicarakan Basori, termasuk salah satu Ustadz, sebut saja namanya Pak Mud yang menjadi guru Basori sewaktu di Pondok. Mereka cukup dekat, Basori bahkan menjadi tenaga pengajar untuk TPA Pak Mud. 

Pak Mud begitu menyesalkan kepergian murid yang paling disayanginya. 

"Meskipun muridnya yang datang mengaji cuman satu, Basori tetap datang untuk  mengajar, saking istiqomhanya." Kata Pak Mud kepada orang-orang di setiap malam tahlilan.

Beliau sangat kehilangan sosok periang itu. Sampai-sampai beliau merasa  tidak rela dengan takdir yang telah ditetapkan oleh Allah. Beliau kemudian bercerita bahwa ada kasus orang tersetrum di Jawa sana yang berhasil hidup kembali karena setelah tersetrum, orang tersebut langsung diceburkan ke Jeding atau bak mandi besar. Ada juga kasus tersetrum lain sampai sekarat, kemudian diceburkan ke blumbang (Kolam/Empang) dan sadar kembali. Menurut logika beliau, orang-orang sekarat karena tersetrum perlu dilemparkan ke tempat dengan volume air yang banyak secara mendadak agar jantungnya dapat tersadar dan hidup kembali. 

Orang-orang yang mendengarkan teori beliau diam saja, mengangguk-angguk. 

"Coba saja waktu itu kamu langsung lempar dia ke kolam, Lek" Kata Pak Mud kepada Ayahku yang saat itu duduk tak jauh darinya. 

Ayahku terdiam, dan sedikit merasa bersalah. Tapi kemudian membela diri dengan mengatakan bahwa suasana sudah panik.

"Kami tidak memikirkan yang lain selain membawanya ke Rumah Sakit" Kata Ayahku.

Lama kelamaan, berita tentang “Seharusnya Basori dilempar ke kolam”  semakin marak terdengar ke seluruh penjuru desa. Ayahku dan pamanku merasa terpojok dengan desas-desus itu. Meskipun tidak semua orang setuju. Banyak juga yang membantah termasuk seorang pemuka agama di desa kami yang juga pemilik Pondok Pesantren tempat Basori pernah menimba ilmu bernama Kiyai Hadi.

Dalam Khutbah Jum'at yang dihadiri oleh semua warga desa, Kyai Hadi berkata: 

"Jauh sebelum kita dilahirkan, Allah sudah menentukan 3 hal yang menjadi takdir kita kelak. Jodoh, rezeki, dan kematian. Sudah diatur kapan, dimana, dan bagaimana kita mendapatkan jodoh, rezeki ataupun kematian. Namun sungguh, tidak ada yang tahu kapan persisnya kita akan mati. Jika ada yang berkata  'Seandainya begini begitu, maka dia tidak akan mati' itu berarti dia tidak percaya dan mengingkari takdir Allah! Jika seseroang telah meninggal, berarti ia sudah menemui takdirnya. Tidak ada yang dapat mempercepat atau memperlambat." 

Panjang lebar Kyai Hadi menjelaskan tentang takdir dan kematian dengan tegas. Beliau pun sama kehilangannya dengan kami semua.

Mendengar hal itu, Pak Mud tertunduk. Jelas sekali kalimat itu menusuknya. Diam-diam, ayahku melihat Pak Mud mengusap air mata yang membanjiri pipinya. Terdengar suara sesenggukan yang menyesakkan. 

Mungkin, kehilangan yang amat sangat dalam telah membuat Pak Mud lupa bahwa semua itu terjadi atas kehendak Allah Subhanahu wata'ala.


Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar