Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Al-Qaradhawi, Islamis Moderat

Sumber : spesial


Oleh: Dihyat Haniful Fawad


Yusuf Al-Qaradhawi adalah Ulama Islam Mesir yang dikenal sebagai Islamis Moderat. Beberapa pandangannya, seperti memaafkan pemboman bunuh diri Palestina terhadap Israel, telah menimbulkan reaksi dari pemerintah di Barat. Sehingga Qaradhawi ditolak visa masuk ke Inggris pada tahun 2008 dan dilarang masuk ke Prancis pada tahun 2012.

Yusuf Abdullah Al-Qaradhawi dilahirkan pada tanggal 9 September 1926 di desa Shafth Turab, daerah Al-Mahallat Al-Kubra yang termasuk ke dalam provinsi al-Gharbiyah, Mesir. Yusuf kecil lahir dari keluarga yang sangat sederhana. Ayahnya seorang petani, dan ibunya seorang pedagang. Yusuf kecil yang belum mengerti apa-apa, begitu cepat ditinggal ayanya pada umur 2 tahun. Ayah Yusuf meninggal karena menderita penyakit bilharsia yang berupa sakit pada saluran air kecil. Sepeninggal ayahnya, Yusuf kecil hidup berdua bersama ibundanya. Akan tetapi, tepat di tahun keempat Yusuf belajar Ibtida’iyah, sang ibunda menyusul sang ayah menghadap Yang Maha Kuasa. Yusuf hidup sebatang kara, hingga pamannya memutuskan untuk mengasuh Yusuf layaknya orang tua sendiri. Yusuf dididik dan dibekali dengan berbagai ilmu pengetahuan agama dan syariat agama Islam dari pamannya.

Pendidikan dan Karyanya

Di umur 5 tahun, Yusuf kecil dimasukkan ke lembaga pendidikan al-Qur’an “al-Kuttab”, sebuah tempat untuk menghafal al-Qur’an. Dengan kecerdasan yang dimiliki Yusuf, ia mampu menghafal al-Qur’an dan menguasai hukum-hukum tajwid dengan sangat baik. Sehingga pada umur 10 tahun, Yusuf remaja mampu menyempurnakan hafalan Qur’annya dengan bacaan tajwid yang sangat baik. Karena kemahirannya dalam bidang al-Qur’an pada masa remaja, Yusuf dipanggil dengan nama “Syaikh Qaradhawi” oleh orang sekitar kediamannya, bahkan seringkali Yusuf ditunjuk sebagai imam shalat lima waktu.

Tak usai sampai di umur 10 tahun saja, Yusuf remaja berkeinginan kuat untuk melanjutkan sekolahnya di Al-Azhar, Thantha. Setelah lulus, Yusuf al-Qaradhawi melanjutkan studinya di Fakultas Ushuluddinm Universitas Al-Azhar, Kairo. Yusuf lulus pada tahun 1953 dengan mendapatkan predikat Summa Cumlaude yang berarti peringkat pertama Yudisium fakultas Ushuluddin. Yusuf yang telah beranjak dewasa, melanjutkan studinya pada tahun 1954 di spesialisasi Bahasa Arab, Fakultas Bahasa Arab, Universitas Al-Azhar selama 2 tahun dan berhasil mendapatkan ijazah Pengajaran Bahasa Arab pada peringkat terbaik pertama dari 500 mahasiswa Al-Azhar yang lulus saat itu. Tahun 1957, Yusuf melanjutkan studi S2 di Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar dengan program studi Ilmu Tafsir dan Hadits. Kemudian, Yusuf melanjutkan studi doktoralnya pada tahun 1960 pada fakultas dan program studi yang sama. Beliau berhasil mendapat gelar doktor pada tahun 1973.

Di dunia Islam, Yusuf al-Qaradhawi lebih di kenal sebagai Ulama dan Mufti kaliber dunia yang mendalami permasalahan hukum Islam, menguasai ilmu Fiqh dan Ushul Fiqh. Beliaupun konsisten menulis mengenai hal-hal yang berhubungan dengan pemikiran filsafat, seperti bukunya tentang Imam Al-Ghazali antara yang memuji dan mengkritiknya, “Al-Imam Al-Ghazali Baina Madihihi wa Naqidihi”.

Tak hanya di dunia kepenulisan saja, Yusuf Al-Qaradhawi memiliki aktivitas di media informatika, baik cetak maupun elektronik. Selain itu, beliau juga mempunyai andil yang sangat besar dalam beberapa acara televisi. Acara tersebut beliau manfaatkan untuk menyebarluaskan pemikiran dan fatwanya. Aktivitas terakhir Yusuf adalah aktif di dunia internet dengan menyebarkan tulisan yang diberi nama “Lembaran Dr. Yusuf Al-Qaradhawi”. Hingga pada tahun 2022 ini, Yusuf Al-Qaradhawi menjadi Ketua Persatuan Ulama Internasional yang berpusat di Qatar. Selain itu, pada tahun 2008, Al-Qaradhawi menduduki peringkat ketiga di antara tokoh dalam daftar pemikir paling berpengaruh di dunia.

Buku-buku karya Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi tidak kurang dari 170 judul buku, diantaranya membahas permasalahan syariat seperti bukunya yang berjudul ‘Awamil al-Si’ah wa al-Murunah fi al-Syari’ah al-Islamiyah, tafsir yang berjudul Al-‘aqlu wal ‘Ilmu fi Qur’an al-Karim, hadits yang berjudul Al-Madkhal li Dirasat as-Sunnah an-Nabawiyyah, tauhid atau akidah yang berjudul Al-Haqiqah at-Tauhid, pemikiran politik, pemikiran kontemporer dan gerakan dakwah.

Sang Islamis Moderat

Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi dikenal sebagai Islamis Moderat karena pola pemikirannya dalam bidang keagamaan dan politik banyak diwarnai oleh pemikiran Syaikh Hasan Al-Banna. Syaikh Yusuf sangat mengagumi Syaikh Hasan Al-Banna dan menyerap banyak pemikirannya. Bagi Syaikh Yusuf, al-Banna merupakan ulama yang konsisten mempertahankan kemurnian nilai-nilai agama Islam, tanpa terpengaruh oleh paham Nasionalisme dan Sekularisme yang diimpor dari Barat atau penjajah ke Mesir dan dunia Islam.

Tak hanya Al-Banna, Al-Qaradhawi juga mengagumi Syaikh al-Battah, orang yang pertama kali mengenalkannya pada dunia fiqh terutama Madzhab Maliki, sekaligus membawanya ke Al-Azhar, dan tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin, seperti Ustadz al-Maky al-Khuli dan Muhammad Ghazali. Hal ini menunjukkan bahwa beliau lebih tertarik dan simpatik dengan organisasi Ikhwanul Muslimin yang sangat berpengaruh di Mesir khususnya dan dunia Arab umumnya, baik sebelum maupun sesudah revolusi Mesir tahun 1952.

Mengenai wawasan ilmiahnya, Al-Qaradhawi banyak dipengaruhi oleh pemikiran ulama-ulama Al-Azhar, akan tetapi beliau tidak pernah bertaklid begitu saja kepada mereka. Hal tersebut karena beliau adalah ulama yang bebas dari fanatisme madzhab yakni tidak bertaqlid buta kepada seorang imam atau ulama dari orang-orang masa dahulu maupun masa berikutnya. Tetapi tetap hormat dan menghargai sepenuhnya para imam dan ulama terdahulu. Tidak bertaqlid bukan berarti menyalahi madzhab yang dirintis, bahkan mengikuti jalan yang pernah ditempuh dan melaksanakan pesan jangan bertaqlid, tetapi agar menggali sumber-sumber yang pernah mereka ambil. Hal tersebut dapat dilihat dari beberapa karyanya mengenai masalah hukum Islam yang tidak dijumpai dalam kitab-kitab fiqih klasik dan pemikiran ulama lainnya.

Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi terkenal sebagai salah satu ulama yang sangat berpegang teguh pada sikap moderasi, baik dalam bidang pemikiran, fiqh, ataupun dakwah. Pengakuan ini bukan saja datang dari kalangan umat Islam, namun juga dari kalangan non-Muslim. Sikap moderat yang diterapkan oleh Syaikh Yusuf AL-Qaradhawi bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah. Islam adalah agama moderat, dan karakter umat Islam adalah umat moderat. Hal ini sesuai pada beberapa ayat al-Qur’an, diantaranya surat ar-Rahman: 7-9, Al-Baqarah: 143, dan al-A’raf: 31, dimana beberapa ayat tersebut memerintahkan kita agar bersikap moderat. Selain dari beberapa ayat al-Qur’an, pada kehidupan Rasulullah pun dipenuhi dengan sikap moderat.

Adapun faktor-faktor besar penunjang moderasi al-Qardhawi adalah 1) penggabungan antara Fiqh dan Hadits, 2) mengambil pendapat dari generasi awal Islam, 3) menggabungkan antara Salafiyah dan Tajdid, 4) mengedepankan yang Kulli atas yang Juz’i, 5) penggabungan antara mengikuti nash dan memperhatikan syari’at, dan 6) pembedaan antara perubahan zaman dan prinsip-prinsip Islam.

Diantara faktor-faktor besar penunjang moderasi di atas, terdapat faktor-faktor lain yang membawa pengaruh besar dalam membentuk kepribadian moderat Yusuf Al-Qaradhawi, diantaranya adalah 1) faktor agama, 2) faktor pribadi, 3) faktor Hasan Al-Banna dan gerakannya, 4) pengaruh al-Mannar dan pengarangnya (Rasyid Ridha), 5) Ulama Al-Azhar yang moderat dan muslihin, 6) pemikiran Ibnu Taimiyah, dan 7) pendalamannya tentang madzhab-madzhab fiqh.

Ijtihad Al-Qaradhawi

Al-Qaradhawi memberikan tawaran tiga alternatif dalam berijtihadm yaitu ijtihad intiqa’i, ijtihad insya’i, dan ijtihad integrasi antara keduanya.

  1. Ijtihad intiqa’i atau tarjih

Yaitu memilih satu pendapat dari beberapa pendapat terkuat yang terdapat pada khazanah fiqh Islam yang penuh dengan fatwa dan keputusan hukum. Ijtihad ini meliputi pengadaan studi komparatif terhadap pendapat-pendapat ulama, meneliti kembali dalil-dalil yang dijadikan sandaran, agar dapat dipilih pendapat yang terkuat dari segi dalil dan alasannya sesuai dengan kaidah tarjih.

  1. Ijtihad insya’i

Yaitu mengambil pendapat hukum baru dari sebuah permasalahan yang belum pernah dikemukakan oleh ulama terdahulu, atau cara seorang mujtahid kontemporer untuk memiliki pendapat baru dalam sebuah masalah yang belum ada pendapat ulama Salaf. Atau ketika para faqih terdahulu berselisih sehingga termaktub pada dua pendapat, maka seorang mujtahid kontemporer memberikan pendapat ketiga.

  1. Integrasi antara ijtihad intiqa’i dan insya’i

Diantara bentuk ijtihad kontemporer yaitu memilih pendapat para ulama terdahulu yang dipadang lebih relevan dan kuat, kemudian dalam pendapat tersebut ditambah unsur-unsur ijtihad baru.

Wafatnya Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi

Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi merupakan sosok ulama cendikiawan muslim dunia yang pernah menjadi ketua persatuan cendikiawan muslim internasional dikabarkan pada akun resminya telah meninggal dunia pada Senin, 26 September 2022. Kabar duka tersebut tersebar sangat pesat sehingga umat Islam di dunia kembali berduka atas wafatnya tokoh ulama dunia ini. Semoga Allah mengangkat derajatnya di surga-Nya kelak dan ditempatkan di tempat yang terbaik. Lahu al-Fatihah.

Wallahu a’lam.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang

27 September 2022


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar