Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

TOLERANSI BERAGAMA DALAM BINGKAI KEBHINNEKAAN DI PULAU DEWATA


Oleh:
Siti Laila ‘Ainur Rohmah

Sikap toleransi sangat penting ditanamkan pada individu masyarakat yang beraneka
ragam utamanya seperti Indonesia. Dalam hal ini lebih menekankan pada toleransi beragama di
Pulau Dewata. Pulau Dewata (Bali) yang terkenal dengan julukan pulau seribu pura menjadi
tempat tinggal mayoritas pemeluk agama Hindu. Namun, tidak membatasi pula didalamnya
dihuni penganut agama lain misalnya Islam. Islam merupakan agama yang yang telah lama hidup
dan berkembang di tengah-tengah mereka. Secara historis, perjumpaan antara Islam dan Hindu di
Bali telah berlangsung lama. Beberapa studi yang telah dilakukan misalnya oleh Kartini (2011),
Masyad (2014), dan Diana (2016) menyebutkan bahwa Islam masuk ke Bali sejak zaman
kerajaan Majapahit saat kerajaan tersebut diperintah oleh Raja Hayam Wuruk (1350- 1389 M)
dan terus berkembang sampai sekarang.

Dilansir dari berita Pontas.ID, Ketua MPR Bambang Soesatyo menilai Bali menjadi
contoh nyata bahwa dengan mengedepankan toleransi, kesetaraan dan kerjasama antar umat
beragama bisa diwujudkan. Sehingga para pemeluk agama bisa hidup dengan damai. Salah satu
bukti toleransi beragama di Bali yaitu adanya Pusat Peribadatan Puja Mandala, di mana kawasan
ini terdapat 5 tempat ibadah dalam satu tempat (Masjid Agung Ibnu Batutah, Gereja Katolik
Maria Bunda Segala Bangsa, Wihara Budhida Guna, Gereja Kristen Protestan Bukit Doa dan
Pura Jagatnatha). Bahkan tidak ada pembatas antar satu bangunan dengan yang lain. Memiliki 1
halaman dengan pintu masuk yang sama, mereka bisa saling berbaur walaupun menuju tempat
yang berbeda untuk beribadah.

Bangunan peribadatan satu dengan yang lain tidak saling berebut. Berjalan beriringan dan
saling menghormati. Ketika sebelum memasuki adzan sholat dzuhur, maka akan terdengar lebih
dulu bunyi lonceng dari gereja. Setelah lonceng benar-benar berhenti, barulah muadzin akan
segera mengumandangkan adzan. Tidak hanya itu, wujud kerukunan masyarakat di Bali juga
terlihat dari kegiatan sosial kemsyarakatan sehari-hari. Misalnya ketika ada yang meninggal
dunia dari agama apapun tetap dibantu. Termasuk dalam hal menjaga keamanan dan
kenyamanan lingkungan, masyarakat saling bekerja sama tanpa memandang latar belakang
agama yang dianut. Karena di Bali mayoritas penduduknya Hindu, ketika perayaan nyepi pun
warga yang lain ikut menghargai dan membantu menjaga situasi dan kondisi sekitar agar tetap
aman dan terjaga.

Berdasarkan contoh-contoh di atas membuktikan bahwa betapa besar kesadaran akan
toleransi beragama bagi masyarakat di Pulau Bali. Dari kesadaran itu dapat menumbuhkan
kerukunan dalam hidup beragama. Kerukunan beragama sendiri tidak spontan muncul sebagai
sesuatu yang diberikan, melainkan harus dibangun dan diwujudkan melalui kesadaran serta
komitmen bersama seluruh elemen bangsa. Maka, dalam urusan toleransi beragama ini menjadi
tanggung jawab bersama agar mewujudkan bangsa Indonesia aman dan damai. Wa allahu a’lam
bisshowab…


Referensi :
A. Muchaddam Fahham. DINAMIKA HUBUNGAN ANTARUMAT BERAGAMA: POLA
HUBUNGAN MUSLIM DAN HINDU DI BALI. Aspirasi: Jurnal Masalah-Masalah Sosial
| Volume 9, No. 1 Juni 2018
https://stiki-indonesia.ac.id/2021/03/20/belajar-toleransi-dari-bali/
https://pontas.id/2020/12/23/bali-jadi-contoh-nyata-untuk-kedepankan-toleransi-antar-umat-
beragama/




Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar