Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Tinjauan Ulang tentang Pembagian Harta Waris sebagai Kritik terhadap Kaum Feminisme




Ahmad Maulana S

Kaum feminisme kerap menuduh agama melakukan ketidakadilan dalam membagi jumlah warisan antara laki-laki dan perempuan. Dalam QS. an-Nisa’: 11-12 dijelaskan tentang pembagian warisan yang disebabkan oleh tindakan masyarakat arab yang tidak memberikan warisan kepada wanita, sehingga Sa’ad bin ar-Rabi’ mengadu kepada Rasulullah bahwa kedua anaknya tidak mendapatkan warisan dari harta bapaknya karena diambil oleh saudara laki-lakinya dengan alasan ia tidak pernah menunggang kuda, memanggul senjata dan memerangi musuh. Yang menjadi persoalan kaum feminisme adalah ketentuan li adz-dzakari mitslu hazhzhi al-untsayain (anak laki-laki mendapatkan dua bagian anak perempuan) dalam ayat tersebut. Pernyataan ini dianggap tindakan diskriminatif terhadap kaum perempuan oleh kaum feminisme. Namun, sebagian feminisme muslim seperti, Asghar Ali Engineer dan Amina Wadud Muhsin justru menilai ayat tersebut bukan merupakan tindakan diskriminatif bagi kaum perempuan dengan asumsi bahwa perempuan akan mendapatkan tambahan harta berupa mas kawin dari suaminya dan mendapatkan nafkah dari suaminya. 

Menurut penulis, pendapat Engineer dan Muhsin di atas tidak berlaku secara global, karena ada tradisi tertentu yang justru mengharuskan pihak perempuan memberikan mas kawin kepada pihak laki-laki, seperti kebudayaan suku Minang misalnya. Di samping itu, dewasa ini banyak perempuan justru menjadi tulang punggung keluarga atau dikenal dengan istilah “wanita karir”. Tetapi yang menjadi fokus kritik Engineer adalah penafsiran yang menjadikan ketentuan warisan sebagai alasan untuk menilai perempuan menjadi lebih rendah dibandingkan laki-laki. Menurutnya, kesetaraan laki-laki dan perempuan termasuk kategori moral, sedangkan warisan termasuk dalam kategori ekonomi. 

Sedangkan Amina Wadud Muhsin secara implisit menyebut tidak setuju dengan pembagian warisan seperti itu. Menurutnya pembagian warisan harus memperhatikan beberapa faktor seperti, keadaan orang meninggal dan orang-orang yang ditinggal. Sebelum warisan dibagikan hendaknya memperhatikan anggota keluarga yang berhak menerimanya, misalnya jika dalam keluarga terdapat seorang laki-laki, dua orang anak perempuan, seorang ibu yang harus dirawat dan disokong kehidupannya oleh salah seorang anak perempuan, maka apakah anak laki-laki harus menerima bagian yang lebih besar? sehingga menurutnya, pembagian warisan bersifat fleksibel dan harus memenuhi asas manfaat dan keadilan. 

ar-Razi menjelaskan hikmah laki-laki mendapatkan warisan yang lebih dibandingkan perempuan karena perempuan lebih lemah dibandingkan laki-laki. Laki-laki mempunyai kelebihan intelektual dan perempuan dinilai kekurangan akal sehingga jika diberikan harta yang banyak justru menimbulkan kerusakan. Penulis merasa kurang setuju dengan pendapat ar-Razi tersebut yang semata-mata kelebihan warisan laki-laki didasarkan atas kekurangan yang dimiliki perempuan. Padahal, dewasa ini intelektual perempuan bisa melebihi intelektual lakilaki, sebagai contoh perempuan di Indonesia ada yang bisa menjadi presiden, seperti Megawati. Kemudian Aisyah sendiri pernah memimpin perang melawan khalifah Ali bin Abi Thalib. 

Sementara itu, Ridha dan Abduh secara detail menjelaskan bahwa ayat tersebut merupakan pembatalan terhadap hukum yang belaku pada masa jahiliyah tentang perempuan tidak berhak mendapatkan warisan. Kemudian alasan mengapa laki-laki mendapat kelebihan harta warisan disebabkan karena laki-laki menafkahi perempuan. Dengan demikian, bisa jadi harta perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki karena diasumsikan mereka mendapatkan harta warisan dan nafkah dari suami. 

Sehingga dari beberapa penjelasan mufassir tersebut dapat disimpulkan bahwa perbedaan pembagian harta warisan dalam Islam bukan semata-semata untuk menindas dan menjadikan perempuan tersubordinasi dari laki-laki, tetapi ada konteks dan persoalan yang perlu dilihat tentang peran laki-laki dalam pemenuhan kebutuhan perempuan (istri). Di samping itu, kehadiran Islam melalui QS. an-Nisa: 11-12 justru menaikkan derajat perempuan dari yang sebelumnya tidak mendapatkan warisan menjadi mendapatkan warisan, walaupun jumlahnya tidak sebanding dengan laki-laki. 



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar