Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

THE ZOMBIE OF SALT



Oleh: Ahmad Nasrul Maulana

       Malam ini aku berencana lelap sedikit larut. Besok pagi ayah akan terbang menuju kepulaun Virginia, Paman Sam yang akan menjemputnya pukul tiga dini hari dengan jeep andalannya.
       “Masukan berkas-berkas di atas rak itu, susun yang rapi, setelah itu tidurlah! kau masih punya janji dengan Nyonya Bill untuk menyirami bunganya dan memberi makan kura- kuranya pagi ini.” Pinta ayah. Aku tak tahu urusan ayah disana, tetapi ini bukan kali pertama ia pergi ke tempat-tempat jauh bahkan ke luar negeri sekalipun. Tak jarang pula ia menghabiskan harinya tanpaku. Terhitung selama sebulan, ayah hanya punya waktu dua minggu saja untuk menemaniku.
***
       Gema alarm memecah telingaku, bergegas kubuang selimutku untuk menemui ayah sebelum Paman Sam membawanya. Namun, astaga, ayah telah berangkat, aku kesiangan. Ternyata rasa lelah semalam benar-benar mengutukku untuk terus terlelap. Sudahlah, yang terpenting ayah meninggalkan tiga kartu tabungan dan sekantong lego kesukaanku di atas shofa.

       “Kringggg ...” bunyi telepon rumah. Ahh, pasti panggilan dari Nyonya Bill yang telah menungguku untuk menagih janjinya.
       “Iya, ini Kevin. Lima menit lagi aku akan sampai di rumahmu. Mohon tunggu sebentar dan jangan lupa segelas susu vanila plus semangkuk sereal di pagi hari untuk tetanggamu yang manis ini.”
       “Baiklah.”
       “Sampai jumpa di kebunmu Nyonya Bill yang baik hati.”

       Kebun Nyonya Bill amatlah luas, ada banyak jenis bunga tumbuh subur memenuhi kebun ini. Semuanya tersusun rapi sesuai dengan jenisnya masing-masing. Mulai dari aster di sektor paling kiri, tulip di antara bunga matahari dan flamboyan, sedap malam yang tumbuh di samping sungai kecil dan masih banyak lagi. Pepohonan juga rindang, dengan buah-buahan yang mulai masak bergelantungan. Ini merupakan aktivitasku saat hari libur datang. Ya, Ayah selalu memarahiku jika mendapatiku bermalas-malasan di atas ranjang atau menghabiskannya dengan bermain ludo maupun video-game hingga lupa waktu. Sangat tidak bermanfaat ujarnya. Oleh sebab itu aku acap kali datang ke rumah Nyonya Bill untuk menemaninya.

       “Aku akan pergi ke rumah Tuan Adrea, ada urusan yang harus kuselesaikan. Sereal dan vanila sudah tersuguh di meja taman. Kau boleh menyantapnya jika kau merasa lelah.” Perintah Nyonya Bill sembari merapikan rambutnya di depan cermin kecil kesayangannya.
       “Baik Nyonya.”
       “Bagus anak pintar.”

       Matahari mulai terik. Mungkin hari ini adalah hari terpanas sepanjang musim semi semenjak aku berpindah dari Alaska ke Montana. Alasan ayah mengajak pindah kemari tak lain untuk urusan bisnisnya.
       Pekerjaanku hampir selesai, tinggal satu sektor bunga lagi yang belum kubasahi. Namun, tiba-tiba aku mendengar suara mungil yang berteriak minta bantuan.

       “Siapapun itu, tolong aku! keluarkan aku dari sini!” Suara lirih itu terdengar sangat jelas. Kulangkahkan kakiku untuk menyusuri sumber suara itu, hingga akhirnya terhenti oleh sebuah buku yang tergeletak diantara kumpulan tulip. Sampulnya kotor, berdebu dan terbalut tanah yang telah mengering. Aku berpikir dua kali sebelum membukanya, halusinasiku benar-benar menderaku, aku takut jika dari dalam buku itu tiba-tiba muncul monster besar mengerikkan yang akan memakanku atau mungkin kawanan perompak arogan yang mengulitiku hidup-hidup. Menyeramkan bukan? Namun, mana ada monster bersuara lirih seperti ini, apalagi perompak, sangat tak masuk akal. Lagipula sejak kapan aku sepenakut ini. Kupejamkan mataku lantas  memberanikan diri untuk membuka buku itu meski tanganku gemetar. Saat terbuka, gumpalan asap putih keluar dari dalam buku. Angin kencang berembus menerpaku. Perlahan asap itu membentuk bayangan manusia. Benar. Sosok gadis jelita berdiri tepat di hadapanku. Senyumnya mengembang. Rambut hitam panjangnya terurai elok dengan mahkota putih yang bertengger menghiasinya. Gaun malam bermotif klasik mewah menambah keanggunan paras gadis itu.

       “Hai namaku Lisa.” Katanya sembari mengulurkan tangannya ke arahku.
       "Tidak, siapa kau? aku tidak mengenalmu, kau bukan manusia kan?!” Aku membalasnya dengan jeritan lalu menepis tangannya. Aku ketakutan.
       “Tenanglah! Kau tidak perlu tahu siapa diriku, sekarang pulanglah! Keselamatan ayahmu lebih penting dariku.”
       “Apa maksudmu? Aku tak mengerti?!”
       “Pulanglah, lalu nyalakan televisimu untuk memahami kalimatku! Jika kau butuh bantuanku kau bisa memanggil namaku dengan memejamkan matamu.”
       Aku masih tak mengerti maksud dari gadis misterius itu, yang pasti aku bergegas meninggalkan kebun Nyonya Bill dan membawa buku aneh itu untuk pulang lalu menyalakan televisi demi menguak rasa penasaranku.

       “Seperti yang anda saksikan di layar kaca pemirsa, bahwa beginilah kondisi terkini penduduk Virginia yang telah terjangkit penyakit cacing gila, mereka menggeliat seperti zombi mencari mangsa lantas saling menggigit sesama.” Penyiar berambut semampai memaparkan berita yang terjadi siang tadi di Kepulauan Virginia. Astaga, Ayah, ia berada disana sekarang. Apa yang harus aku lakukan. Tuhan, apakah ia benar-benar telah menjadi zombi dan tak akan pulang untuk selama-lamanya. Sontak aku teringat gadis itu, ya, aku butuh bantuannya sekarang.

       “Lisa ... Lisa ... Lisa ...” Gumamku dengan memejamkan mata. Seperti biasa, kedatangan Lisa ditandai dengan hembusan angin kencang diikuti asap tebal yang membentuk wujudnya.
       “Kehormatan bagimu pemuda yang bijak, ada apa gerangan kau memanggilku?” Tanyanya.
Rupanya dia sungguh menyanjungku bagai tuannya, karena memang akulah yang telah menolongnya tadi, sekarang dia merasa bebalas budi kepadaku. “Ayahku sedang ada di Virginia, dia terbang kesana dini hari tadi. Lalu sekarang di sana terjadi sengketa yang besar. Penduduknya terjangkit virus berbahaya yang merubahnya menjadi zombi. Bantu aku Lisa! Apa yang harus aku lakukan? Aku harus menyelamatkan ayahku.” Ucapku penuh kekhawatiran, namun Lisa hanya membalasnya dengan senyum manisnya.
       “Kau harus kesana Kevin jika kau ingin menyelamatkan penduduk Virginia dan ayahmu.”
       “Kesana? Virginia teramat jauh Lisa. Butuh waktu lama untuk sampai kesana. Sekali lagi bantu aku Lisa, gunakan sihirmu!” Ratapku dengan wajah memelas iba.
       “Baiklah, sekarang ambillah sekantong garam di dapur, kau bisa menggunakan itu untuk melawan zombi-zombi itu.”
       “Garam? apa maksudmu Lisa,”
       “Zombi itu terlahir dari virus yang terdapat dari garam dapur yang diproduksi oleh pabrik di pesisir perairan Nebula Kepulauan Virginia. Mereka mencampurkan virus itu pada garam yang kemudian dikonsumsi oleh masyarakat luas. Setelah virus itu berhasil menguasai tubuh manusia akibat penggunaan jangka panjang. Maka virus itu akan menjadi kuat dan merubah sikap manusia menjadi seperti zombi, jadi virus itu akan hancur jika bereaksi dengan air, karena sejatinya garam akan larut dengan air”
       “Bagaimana aku bisa mendatangkan air sebanyak itu Lisa?”
       “Kau ingat tentang kebakaran besar di hutan pegunungan Rocky dulu? Masyarakat membuat hujan buatan dengan garam yang mereka taburkan di angkasa untuk memadamkan api. Kau bisa melakukannya pula dengan garam dapurmu ditambah sedikit bantuan sihirku. Kau mengerti Kevin?”
        “Iya Lisa, aku mengerti.”
        “Sekarang pejamkan matamu, aku akan membawamu kesana!”

        Kubuka mataku, kupandangi sekelilingku dengan penuh keheranan. Dimana aku? Aku berpindah ke sebuah tempat seperti kantor ruang kerja yang sudah tak berpenghuni. Kertas-kertas bertebaran. Komputer kerja pun banyak yang putus kabelnya. Sepi. Tak ada pintu. Hanya jendela yang mengarah ke luar. Saat kubuka jendela itu, aku hampir terjatuh. Ternyata aku di gedung tinggi yang memiliki banyak lantai dan di bawah sana jutaan orang yang telah berubah menjadi zombi bersiap menangkapku. Aku panik. Apa yang harus ku lakukan?

        “Tenangkan dirimu Kevin! Santai, tenang, kuasai.” Itu suara Lisa. Namun, aku tak melihatnya. Dimana ia? Perlahan aku mencoba mengingat perintah Lisa tadi bahwa aku harus menebar garam di atas zombi-zombi itu. Kuambil ancang-ancang yang tepat agar garam yang kulempar merata dan dengan bantuan Lisa akan berubah jadi hujan. “Satu ... Dua ... Tiga ...” Garam keluar dari jendela gedung, sontak ada cahaya putih menabraknya. Mungkin itu bantuan Lisa dan air berjatuhan melimpah. Hujan turun. Zombi itu berteriak lantas terjatuh. Wajah mereka yang semula penuh darah dan cakaran seakan luntur dengan aliran tetesan hujan yang mengenainya. Dari kejauhan tampak asap hitam mengepul dan disusul oleh ledakan berkali-kali. Sepertinya itu adalah pabrik tempat garam berbahaya diproduksi. Sungguh menakjubkan.
       Lega. Akhirnya akar masalah ini telah musnah. Aku terkejut, ternyata gedung yang ku singgahi ini adalah ilusi Lisa semata,. Tiba-tiba aku terduduk di shofa rumahku kembali. Bergegas kuhubungi ayah untuk menanyakan keadaanya. Syukurlah dia baik-baik saja dan akan segera kembali malam ini juga.
        Aku membuka buku misterius yang kutemukan tadi, ku baca setiap halamannya. Aku kembali terkejut, ternyata Lisa adalah gadis dari pengusaha garam sukses di kepulauan Virginia. Namun, ia dibunuh oleh ayahnya sendiri sebab membocorkan kebengisannya dalam memproduksi garam. Ayahnya mencampurkan bahan berbahaya yang dapat memicu virus yang akan tumbuh di tubuh manusia dan merubahnya menjadi zombie.
        Sekarang aku mengerti. Meski Lisa telah tiada sekalipun, ia tetap masih tidak terima jika garam itu dikonsumsi manusia. Oleh karena itu, ia membantuku untuk menyelamatkan kehidupan manusia dari garam produksi keluarganya yang serakah.



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar