Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

SYEKH JANGKUNG


C:\Users\User\Downloads\WhatsApp Image 2022-03-19 at 09.06.45.jpeg

Oleh : Daiyatul Choirot

Syekh Jangkung seorang penyebar agama islam di daerah Pati Jawa Tengah, bukan hanya di sekitar Pati dan sekitarnya saja nama beliau melegendaris akan tetapi sampai merambah ke nusantara bahkan sampai ke Turki. Beliau merupakan putra dari Sunan Muria dan murid dari Sunan Kalijaga, konon Syekh Jangkung saat itu diutus oleh gurunya yaitu Sunan Kalijaga untuk menyebarkan islam di daerah Miyono. 

Adapun asal usul nama beliau “Jangkung” merupakan gelar yang diberikan oleh gurunya yaitu Sunan Kalijaga yang merupakan kakek beliau sendiri. Makna kata Jangkung sendiri kalau menurut bahasa Indonesia artinya yaitu dilindungi, diayomi, dididik, dipelihara, dan semoga selalu dalam naungan-Nya. Untuk nama asli beliau sendiri yaitu Syarifuddin akan tetapi bagi orang Jawa untuk mengucapkan Syarifuddin agak kesulitan sehingga Syarifuddin berubah menjadi Saridin agar memudahkan logat lidah Jawa. Dan untuk gelar beliau “Syekh” beliau dapatkan saat berada di Negara Ngerum (Andalusia) saat itu sebagai pusat perawi Hadits dan pusat kerajaan Islam terbesar didunia.

Kemampuan Syekh Saridin  saat diperguruan Kudus tidak hanya menjengkelkan para santri yang sedang berguru disana akan tetapi juga merepotkan Sunan Kudus, entah dalam soal ilmu kasepuhan bahkan ketika beradu argumentasi dengan Sunan Kudus masalah air dan ikan. Saat itu Syekh Saridin dipanggil Sunan Kudus untuk diuji kesaktiannya, Sunan Kudus bertanya, “Apakah setiap air pasti ada ikannya?”, Syekh Saridin menjawab, “ada kanjeng”. Mendengar itu maka Sunan Kudus meminta salah seorang murid untuk memetik buah kelapa dari halaman , ketika buah kelapa tersebut dipecah dan atas izin Allah ternyata didalam kelapa tersebut ada beberapa ekor ikan, dan saat itulah Sunan Kudus atau kanjeng Djafar Shoidiq tersenyum simpul karena mengetahui kelebihan sang murid, akan tetapi teman-teman Syekh Saridin atau santri yang lain menganggap bahwa Saridin malah ajang kepameran atas ilmu yang dimilikinya kepada gurunya sendiri. Kemudian di lain hari saat piket atau sering kita menyebutnya dengan roan akbar saat itu si Saridin kebagian mengisi bak mandi dan tempat wudhu, kesempatan bagi para santri lain untuk mengerjain si Saridin, para santri mengambil semua ember yang digunakan untuk mengisi air tanpa menyisakannya satupun kepada Saridin, dan Saridin pun merasa tidak enak hati karena disaat semua santri lagi sibuk piket roan sedangkan dia nganggur, kemudia si Saridin pergi untuk meminjam salah satu ember air yang ada di temannya. Akan tetapi jawaban santri tersebut malah “kalau mau roan ya ambil saja keranjang bolong-bolong yang ada di pojok sana, dasar din saridin”. Lalu diambilnya keranjang bolong-bolong tersebut dan diisniya air lalu pergi ke tempat wudhu dan bak mandi untuk mengisinya, dan atas izin Allah dalam sekejap bak mandi dan tempat wudhu tersebut sudah penuh sedangkan teman-teman lainnya belum pada selesai, padahal kalau dibayangkan ember yang tanpa lobang sedikitpun dengan keranjang yang bolong-bolong malah lebih cepat keranjang yang dipakai Saridin, dan santri lain pun hanya  bisa bengong ketika melihat si Saridin sudah selesai mengisi bak mandi nya.




Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar