Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Sinopsis Novel Guru Aini ; Idealisme Guru Matematika dan Tekad Api Seorang Murid Miskin


 oleh Ahmad Jaelani Yusri

 

“dalam kesepian yang getir dan menyesakkan , tersemat sesuatu yang paling didamba

manusia.... kemerdekaan “
Andrea Hirata

Siapa yang tak tau dengan pelajaran matematika. Pelajaran paling tidak disukai
sebagian besar pelajar bahkan menjadi momok menakutkan bagi mereka. Dalam novel
tersebut, dikisahkan seorang tokoh sentral yakni Guru Desi yang turut membangun alur
cerita.


Guru Desi digambarkan sebagai seorang sarjana matematika yang idealis dan juga
perfeksionis. Cantik, jenius dan sangat berpendirian. Terlahir sebagai keluarga yang
berkecukupan tidak membuatnya tutup mata pada kekayaan orangtuanya namun ia memilih
jalan hidupnya sendiri sebagai pengabdi ilmu yakni menjadi seorang guru matematika tak
peduli tempat bernaung asalkan dapat mengamalkan ilmunya. Lantas bagaimana
kehidupannya kelak?


Guru Desi ternyata mendapatkan tempat pelosok untuk mengabdi. Bertekad teguh, ia
tampak membara mengajar disana. Tujuannya hanya satu yakni ingin mencerdaskan
kehidupan anak-anak dengan ilmu matematika.
Harapan hanyalah sebatas angan, malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih.
Fakta menunjukan ilmu matematika masih menjadi tragedi, ia belum merasa puas mengajar
karena rata-rata penduduk kurang menaruh suka dengan ilmu ini. Namun Bu Desi tetap
istiqomah mengajar sebagaimana namanya Desi Istiqomah. Hingga suatu peristiwa terjadi
yang mengubah sikap dan perangainya. Bu Desi bertemu murid bernama Debut Awaluddin
yang berhasil ia didik menjadi penerus matematikawan. Debut sangat cerdas dan tanggap
akan pengajaran Bu Desi. Hingga tanpa sebab yang jelas. Debut justru mengecewakan Bu
Desi. Dia bergabung dengan anak-anak berandal di bangku belakang dan nilai matematikanya
menurun drastis. Semenjak itulah Bu Desi menjadi pribadi yang emosional, galak dan sering
membentak.
Diketahui sebelumnya, terdapat murid Bu Desi seangkatan dengan Debut yakni
Dinah. Ia terkenal sebagai murid paling bodoh dan terbelakang. Tak dapat menghitung dan
sangat takut dengan angka. Maka setelah zaman melewati zaman, Dinah pun menikah dan
mempunyai anak bernama Aini. Dan tak diduga Aini mewarisi bakat dari ibunya yaitu
keterbelakangan akan matematika.
Bu Desi yang tau kalau Aini adalah anak Dinah, merasa skeptis dan putus asa untuk
mengajarnya. Hingga suatu hari timbullah perubahan drastis dalam diri Aini yang ingin
mengubah alur hidupnya. Hal itu disebabkan karena ayahnya tang tetiba jatuh sakit dan tak

bisa didiagnosis dokter biasa, itulah yang membuat Aini ingin menjadi dokter spesialis bagi
ayahnya kelak. Dan kunci menjadi dokter adalah menguasai ilmu matematika.
Sejak saat itu, tekadnya menjadi membara dalam belajar, Bu Desi bahkan kewalahan
dengan niat batu Aini tang tetap ingin belajar matematika yang meskipun tak pernah paham.
Bentakan dan cacian Bu Desi pun tak membuat tekad Aini padam.


Sebulan berlalu, Aini masih saja tak berkembang. Bu Desi pun hampir putus asa
dengannya. Hingga ia mendapat solusi untuk masalah Aini. “mengubah metode belajar”. Ia
memutuskan untuk mengajar Aini dengan buku kalkulus. Tak diduga dan tak dinyana,
metode itu berhasil diterapkan pada Aini. Dari situ ia menanjak drastis dalam
perkembanganya belajar matematika. Bahkan menjadi yang terbaik di sekolahnya.
Waktu kian berlalu, tibalah masa akhir SMA untuk Aini. Kini ia harus mendaftarkan
diri di Fakultas Kedokteran di Sebrang pulau sana. Berbekal barang seadanya dan uang saku
dari Bu Desi, ia berangkat dengan kapal. Sampailah ia di sana mendaftar diri. Ujian masuk ia
laksanakan dengan segala khidmat dan harap. Nampak secercah harapan karena mudahnya ia
menjawab.


Sebulan sudah setelah masa ujian seleksi fakultas kedokteran. Aini mengisi waktu
kosongnya dengan menjadi pelayan di warung kopi sembari mengisi pundi-pundi uang.
Sampai tiba waktunya, pengumuman seleksi akhirnya muncul. Banyak yang mengucapkan
selamat kepadanya. Dan juga sontak membuat ia senang. Begitupun Bu Desi yang sangat
bahagia mendengarnya. Oleh sebab itu, Bu Desi memutuskan untuk purna tugas karena telah
menyelasaikan misinya di pulau itu.


Euphoria kemenangan Aini ternyata tak sebanding akibat berikutnya. Meskipun ia
diterima dan dinyatakan lulus. Ada satu hal yang belum ia penuhi yaitu masalah biaya.
Puluhan juta harus ia gelontorkan untuk proses pendaftaran selanjutnya. Aini bingung, ia
hanya orang miskin penjual mainan pinggir jalan. Ibunya, tak sanggup dan tak ada yang
menyanggupi. Kini dalam warung kopi, seorang Aini meratapi nasib yang tak bisa diraih.
“Merdeka belajar hanyalah angan!!”


Pesan Moral dalam Novel Guru Aini :
Jika ingin jadi guru, jadilah tangguh, bermanfaatlah untuk murid-muridmu, idealislah, ajak
murid-muridmu bermimpi!
Jika jadi murid, pantang menyerahlah. Jangan mentalm lembek. Kuatlah, hadapi tantangan.
Pasang cita-citamu di tembok kamarmu, di menara, di jalan, di semua perlintasanmu, agar

kau ingat, mimpi yang hendak kau raih!

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar