Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Ringkasan Biografi dan Pemikiran Khaled Abou Al-Fadhl : Hermeneutika Negosiatif

 

Sumber gambar: Tirto.id

oleh Erwin

    Khaled Medhat Abou El Fadl atau yang biasa dikenal dengan nama Khaled
Abou El Fadl merupakan salah satu tokoh Islam pada abad 21 yang aktif dalam
menyuarakan Islam moderat dan sangat menentang terhadap paham-paham yang
ekstrim dan fundamentalis. Khaled Abou El Fadl (selanjutnya disebut dengan
Khaled) lahir di Kuwait pada tahun 1963. Ayahnya bernama Medhat Abou al-Fadl
dan Ibunya bernama Afaf el-Nimr. Sejak masih kecil saat sekolah di pendidikan
dasar Khaled sudah diajarkan dan dididik dengan ilmu-ilmu keislaman seperti Al-
Qur’an, Hadits, Bahasa Arab, Tafsir, dan Tasawuf. Sehingga, ketika masih muda
ia sudah dikenal sebagai anak yang cerdas. Pada usia 12 tahun, Khaled telah
menghafal Al-Qur’an serta aktif mengikuti kelas Al-Qur’an dan Syari’ah di
masjid lokal di daerahnya. Selain itu, Khaled juga mempelajari semua koleksi
buku orang tuanya yang berprofesi sebagai pengacara.

    Khaled Abou EL-Fadl merupakan seorang penulis yang produktif, tulisan-
tulisan yang ia buat bertema universal moralitas dan kemanusiaan. Karya-
karyanya dalam bentuk buku yang pernah ditulisnya antara lain: Speaking in
God’s Name: Islamic Law, Authority and Women (Oneworld Press Oxford,
2011), Rabellion and Violence in Islamic Law (Cambridge University Press,
2001), And God Knows the Soldiers: The Authoritative and Aunthoritarian in
islamic Discoursees (UPA/Rowman and Littlefield, 2001), Islam and the
Challenge of Democracy (Princeton University Press, 2004), The Place of
Tolerance in Islam (Beacon Press, 2002), Conference of the Books:The Search for
Beauty in Islam (University Press of Amerika/Rowman and Littlefield, 2001).


Hermeneutika Khaled Abou Al-Fadhl
Istilah Hermeneutika berasal dari bahasa Yunani, dari kata kerja hermeneuein
yang berarti menginterpretasi. Istilah ini memiliki asosiasi etimologis dengan
dewa Hermes dalam mitologi Yunani, yang mempunyai tugas menyampaikan dan menjelaskan pesan-pesan Tuhan kepada manusia. Sehingga dari asosiasi ini tugas
hermeneutika adalah membuat pesan supaya dapat dipahami secara baik oleh
audiens.

    Hermeneutika yang ditawarkan oleh Khaled, sebenarnya adalah dalam rangka
untuk mengkritik perlakuan secara otoriter yang dilakukan oleh komisi fatwa
hukum Islam di Timur Tengah, bagi Khaled fatwa tersebut sangat mengebiri
otoritas Tuhan, membatasi peran Tuhan dan teks, mengunci rapat-rapat teks
sehingga sama sekali tidak adanya ruang gerak yang dialogis antara teks, Tuhan
dan para pembaca. Ruang yang belum disentuh para pemikir ini dapat ditemukan
pada hermeneutika negosiatif yang digagas Khaled Abou el-Fadl. Penyimpulan
demikian didasarkan asumsi, bahwa hemeneutika yang ditawarkan Abou el Fadl
tidakhanya bertujuan menemukan makna teks sebagaimana hermeneutika pada
umumnya, tetapi juga bertujuan untuk mengungkap kepentingan penggagas atau
pembaca yang tersimpan dibalik teks dan menawarkan strategi pengendalian
tindakan sewenang-wenang penggagas dan pembaca terhadap teks, pembaca lain
dan audiens.


    Menurut Khaled, pendekatan hermeneutika dalam menganalisis dan melakukan
suatu pengkajian teks-teks sangat penting dilakukan, yang dalam hermeneutika
melibatkan tiga variabel, yaitu pengarang/tuhan (author), teks (text), dan pembaca
(reader).
1. Pengarang/tuhan (author)
Abu El-Fadl menjelaskan, pengarang al-Qur`an adalah abadi, hidup terus menerus
mengurusi makhluknya, pengarang al-Qur`an tersebut tentu saja tidak rela jika
karya magnum opus-nya diselewengkan dan dijadikan legitimasi “atas Nama
Tuhan”. Rujukan atas nama Tuhan menurut Abou El-Fadl sudah bermula dari pra-
andaian hermenutika ketika sang penafsir atau pembaca berjumpa dengan teks-
teks yang akan ditafsirkannya, khususnya teks-teks keagamaan, inilah yang
merupakan sumbangan genial-nya. Tentu saja sang pengarang tidak akan hadir
untuk meluruskan makna teks tersebut, akan tetapi sang pengarang akan

menentukan keterlibatannya yaitu terdapat pada penafsir atau pembaca yang
mempunyai komitmen khusus.


2. Teks (text)
Teks didefinisikan sebagai sekelompok entitas yang digunakan sebagai tanda,
yang dipilih, disusun, dan dimaksudkan oleh pengarang dalam suatu konteks
tertentu untuk mengantar beberapa makna tertentu kepada pembaca. Biasanya teks
tersebut tersusun dari berbagai simbol, dan simbol terbentuk dari berbagai entitas.
Dalam hubungannya dengan hermeneutika Khaled, yang dimaksudkan dengan
teks di sini adalah Alquran dan Hadis. Khaled menginginkan bahwa Alquran dan
Hadis (text) dipandang sebagai “karya yang secara terus menerus berubah”, yakni
membiarkan diri mereka terbuka bagi berbagai jenis interpretasi. Teks terbuka
tidak hanya mendukung interpretasi yang majemuk, akan tetapi juga mendorong
proses suatu penelitian yang menundukkan teks dalam suatu posisi sentral, apalagi
kehendak Tuhan dapat ditemukan melalui pendekatan kumulatif dan terus
menerus. Makna daripada teks tidaklah permanen dan tentunya akan berkembang
secara aktif, karena teks berbicara dengan makna yang diperbaharui kepada
masing-masing generasi pembaca. Teks akan tetap relevan dan menduduki posisi
sentral karena keterbukaannya memungkinkan dirinya untuk terus mengeluarkan
makna.


3. Pembaca (reader)
Khaled memberi perhatian lebih pada peran reader karena hermeneutika yang
diusung adalah “hermeneutika negosiasi”, dimana dalam memaknai sebuah teks
dan menafsirkan suatu fenomena, terjadi dialog dan dialektika yang kontinum
antara teks, pembaca, dan realitas. Sepanjang yang berkaitan dengan triadic
hermeneutika text-author-reader, titik tekan Khaled lebih pada reader atau intentio
lectoris tanpa menganulir dua anasir lainnya. Sebab bagi Khaled pembacalah yang
senantiasa mengalami perubahan dan dinamika di sepanjang hidupnya. Selain itu,
pembaca juga yang memiliki kepentingan terhadap teks. Hal ini disebabkan teks
pada dasarnya diam dan manusia sebagai pembacalah yang memberinya suara dan

makna. Reader di sini dipahami tidak sebatas pembaca dalam kategori person,
mazhab, atau komunitas tertentu yang membaca dan menafsirkan text. Reader
dapat juga dimaknai berupa temuan ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi,
perkembangan peradaban, dan lain sebagainya.


    Dalam penafsiran teks, problem yang sangat dominan adalah pada tingkat
pembaca. Ketika seorang pembaca bergelut dengan teks dan kemudian menarik
sebuah kesimpulan hukum dari teks tersebut, resiko yang dihadapi adalah bahwa
pembaca menyatu dengan teks, atau pembaca akan menjadi perwujudan eksklusif
teks tersebut. Dalam proses ini, teks tunduk kepada pembaca dan secara efektif
pembaca menjadi pengganti teks. Jika pembaca memilih sebuah cara tertentu atas
teks dan mengklaim bahwa tidak ada lagi pembacaan lain, teks tersebut larut ke
dalam karakter pembaca. Maka jika seandainya pembaca melampaui dan
menyelewengkan teks, bahaya yang akan dihadapi adalah bahwa pembaca akan
menjadi tidak efektif, tidak tersentuh, melangit, dan otoriter.

Jika memang teks memegang peranan penting dalam menggapai kehendak Tuhan,
maka harus dipelihara adanya dinamika proses penentuan makna secara
‘demokratis’. 

    Dengan demikian, makna tidak boleh digenggam, dicengkram, dan
ditentukan terlebih dahulu secara sepihak oleh salah satu atau beberapa actor yang
membelakanginya. Perimbangan kekuasaan dalam penentuan makna perlu terus
menerus dijaga dan dipelihara antara pengarang (author), pembaca (reader), dan
teks (text). Dominasi atau kekuasaan yang berlebihan pada salah satu pihak akan
menyebabkan kebuntuan intelektual. Menurut Khaled, agar dapat menentukan
makna atau petunjuk-petunjuk Tuhan, maka antara teks dan pembaca harus ada
negosiasi dan konstruksi. Proses negosiasi inilah yang akhirnya menjadi penentu
makna. Lebih jauh lagi dikatakan bahwa makna merupakan hasil sebuah interaksi
antara pengarang, teks, dan pembaca, artinya harus ada sebuah negosiasi antara
ketiga belah pihak dan bahwa salah satu pihak tidak boleh mendominasi yang lain
dalam proses penetapan makna.

ringkasan dari tulisan Rosyd afif Makarim dan Annidya Khoridatur Rizqi yang berjudul Khaled Abou Al-Fadhl:Hermeneutika Negosiatif

 

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar