Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

PERKARA SYA’BAN


Oleh : Hany
        Rajab sudah berlalu, selamat datang sya’ban, semoga dipertemukan dengan bulan yang paling dimuliakan, bulan penuh rahmat dan ampunan yaitu bulan ramadhan. Secercah harapan menunggu tanpa kepastian. sugesti yang terus menerus diberikan ke diri sendiri akan terserap dengan baik ke pikiran bawah sadar dan berusaha untuk mewujudkannya. Menjadi lebih baik dari hari kemarin adalah keinginan semua orang terutama Ujang, salah seorang remaja masjid rawa kalong yang sudah mulai sibuk menyambut kedatangan seorang Gus A dari pelosok  untuk mengisi kajian di masjid. 
“Ekhm… tes tesss.....”
Pegih ngapel naik kapal selem,
Pulangnye naik kereta uab,
Kalo nanti aye ngucap salam,
Jangan lupa ye dijawab.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi Wabarakatuh”
Sontak deretan calon makmum pun menjawab dengan kompak. Jamaah yang tadinya mengantuk, auto seger ketika melihat calon imam (katanya). Sorotan mata tajam kaum hawa hingga tak ada satu mata pun berkedip ketika menatap sosok tampan di depan sana, siapa lagi kalau bukan Gus A. Aura yang dipancarkan seolah menghipnotis jama’ah, suasana hening hingga suara jangkrik pun terdengar jelas. Semua fokus mendengarkan ceramahnya. Sosok sya’ban sahabat Rasulullah yang menjadi tema pembahasan kali ini agak spesial karena bertepatan dengan bulan sya’ban.

*tutttttttttttttttttt
Bunyi kentut yang merusak keheningan kala itu, membuat jamaah hilang fokus. Ramai berbagai macam respon. Mereka pun sulit dikondisikan. Suara tawa, dan ejekan yang tak kunjung reda. Pada akhirnya, Gus A mengalihkan fokus mereka dengan melontarkan pertanyaan yang membuat keadaan kembali hening. 
“Siapa yang tau kisah Sya’ban? Sahabat nabi yang menyesal pada saat sakaratul maut”.
Ternyata, hanya gelengan kepala yang mendominasi di ruangan itu. Tanpa basa-basi, Gus A langsung menjelaskan siapa itu sosok sya’ban yang sangat spesial. dalam ceramahnya Ia menjelaskan bahwa Sya’ban adalah sahabat Nabi Muhammad sang ahlul ibadah. Tidak pernah meninggalkan sholat berjamaah, meskipun badai menghadang. Dan konon tempat favoritnya ada di shaf pertama paling pojok. Pagi ini agak berbeda dari biasanya, Sya’ban yang tak pernah absen, justru tak nampak batang hidungnya. Merasa ada yang janggal dengan kejadian ini, Rasulullah menyempatkan berkunjung kerumahnya. Jarak yang cukup jauh, sekitar 3 jam dari masjid Nabawi tempat Ia sholat berjamaah. Setibanya di rumah Sya’ban Rasulullah bertemu dengan istri beliau yang sedang sedih karena suami yang dicintainya telah meninggal. 

“Innalillahi wa inna ilaihi raajiun”

Pada saat sakaratul maut, Sya’ban menyebutkan 3 hal yang membuat istrinya bingung. Dan diceritakanlah kepada Rasulullah tentang kejadian sakaratul maut Sya’ban. Pada setiap teriakannya, ia mengucapkan “Aduh, kenapa tidak lebih jauh, aduh kenapa tidak yang baru, aduh kenapa tidak semua”. Rasulullah hanya tersenyum mendengar perkataan tersebut, ia mengatakan bahwa “saat Sya’ban berada pada kondisi sakaratul maut, Allah singkapkan dan Allah perlihatkan semuanya, apa apa saja yang telah diperbuat yang tidak dilihat orang lain selain Sya’ban sendiri”. Jamaah pun terhanyut dalam ceramah Gus A. Hingga akhirnya...

*kkkhhhhhhhh

Dengkuran keras terdengar tak sengaja menyelinap di telinga. Ujang yang ikut menyimak kajian Gus A, turut diam dan merenung. Betapa nyatanya kehidupan akhirat setelah ini. Dunia bukanlah akhir dari kehidupan, akan tetapi awal untuk menentukan tempat apa yang layak, entah surga atau neraka. Belajar dari kisah Sya’ban, dimana Allah membukakan hijab sehingga Ia bisa melihat bentuk surga sebagai ganjarannya. Perkara Sya’ban mengajarkan kita untuk belajar mengevaluasi diri menjadi lebih baik dari hari kemarin.




Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar