Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

PEMIKIRAN 3 TOKOH WANITA YANG DIANGGAP RADIKAL MENGENAI FEMINISME

source image: roomme.id

Oleh: Syahrul Alfitrah Miolo

Nawal El-Saadawi memandang bahwa permasalahan diskriminasi terhadap wanita sebagai masalah dengan struktur yang sama beratnya dengan masalah negara. Dalam bukunya yang berjudul Al-Mar’ah wa Al-Jins, Saadawi mendeskripsikan masyarakat yang kacau-balau serta pola pikir laki-laki tentang perempuan dan seks. Dalam buku yang lain Woman at Point Zero, ia memberikan pendapatnya menggunakan bahasa novel tentang wanita Arab yang mendapatkan berbagai macam tekanan. Ia menyamakan status para istri di dunia Arab dengan seorang pelacur, bahkan lebih buruk lagi dikarenakan pelacur masih memiliki kebebasan dalam memilih suami. Menurutnya, permasalahan diskriminasi wanita tidak dapat diselesaikan hanya dengan penyetaraan seks, apalagi agama. Permasalahan diskriminasi wanita merupakan masalah yang sangat kompleks yang mana sangat berkaitan dengan masalah ekonomi dan politik suatu negara. Permasalahan penindasan terhadap wanita adalah struktur patriarkal sosial Arab yang secara turun-temurun terus terwarisi. Dalam agama wanita tidak sepenuhnya dihargai, karena dalam hal lain seperti berperan dalam masyarakat wanita sering kali dihalang-halangi. Dalam salah satu artikel yang pernah ia tulis yang berjudul Women and Islam yang mana artikel tersebut ditujukan kepada pembaca berbahasa Inggris, Saadawi menganalogikan permasalahan wanita dengan masalah yang terbelakang. Menurutnya, keduanya bukan permasalahan agama sebagaimana yang selalu digencar-gencarkan oleh kaum fundamentalis, akan tetapi sangat berkaitan erat dengan masalah ekonomi dan politik sebuah negara.

Fatima Mernissi tidak meniadakan pentingnya faktor ekonomi dan politik pada suatu negara dalam menentukan nasib para wanita. Namun, terdapat masalah yang lebih penting lagi, yakni wacana tentang wanita yang diciptakan oleh sosiobudaya Arab. Menurutnya, wacana wanita yang berlaku dalam dunia Arab telah diciptakan oleh budaya dominasi laki-laki. Dari wacana tersebut, wanita selalu ditempatkan dan dianggap negatif dari berbagai perspektif. Fatima tidak sepenuhnya menyalahkan pemerintah yang telah mendiskriminasi wanita, akan tetapi ia lebih menyalahkan struktur sosial. Struktur sosial yang dimaksud ialah ajaran agama yang menjadi salah satu pokok penting suatu masyarakat. Fatima juga sudah tidak percaya dengan sekelompok kaum konservatif yang sering membicarakan permasalahan wanita, karena ia percaya bahwa model dari masa lalu sudah tidak cocok lagi dengan masa sekarang. Ia meyakini permasalahan yang saat ini dihadapi oleh dunia Arab sangatlah kompleks. Namun, bukan berarti Fatima sepenuhnya bersandar pada modernitas. Dalam tulisan-tulisannya ia sangat keras dalam mengecam Barat dikarenakan feminisme yang dikemas oleh Barat hanya menimbulkan diskriminasi wanita yang lainnya. Adapun Nawal El-Saadawi lebih menekankan peran dan faktor ekonomi dan politik, sedangkan Fatima lebih menekankan pada permasalahan jenjang ideologi sosial.

Khalida Said menekankan komitmen terhadap kebersamaan mutlak (total societal commitment) yang mana hal ini ialah pembebasan atas diskriminasi wanita melalui kebersamaan sosial, termasuk melalui radikal revolusi atau oposisi. Menurutnya, premis fenomenologis dunia Arab sedang terpecah menjadi dua bagian, yakni bagian yang berpihak kepada kelas sosial dan bagian yang berpihak kepada keluarga. Fatima mengenali hal ini bersumber dari warisan sosial yang sudah ada sejak berabad-abad lalu lamanya. Ia mempunyai solusi, yakni dengan melawan secara bersamaan sistem kuno yang masih berlaku.

Referensi

Nurdiansyah, Fandi Akhmad. (2008). Menyingkap Pemikiran Feminis dalam Novel Zuqaq Al-Midaq Karya Naguib Mahfouz, Skripsi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar