Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Pawang Hujan dan Toleransi Netizen Kita



Oleh : Ahmad Jaelani Yusri

Lagi-lagi jagad di dunia maya kembali ramai dengan adanya peristiwa unik dan menarik pada perhelatan MotoGP di Sirkuit Mandalika Lombok. Ada pemandangan yang tak biasa saat event sedang berlangsung. Sesosok perempuan memegang cawan berwarna kuning tembaga, dupa  dan juga pemukul tersorot kamera. Perempuan itu bernama Rara Istiati Wulandari atau yang biasa dipanggil dengan Mbak Rara. Ia adalah pawang hujan yang sudah malang melintang dalam berbagai acara  besar bahkan acara kenegaraan. Ia berjalan disamping tribun sambil merapal mantra-mantra, sesekali mengetuk cawan yang ia pegang. Di tengah hujan gerimis, ia nampak syahdu dengan ritualnya.

Aksi Mbak Rara di sirkuit Mandalika ini ternyata menimbulkan berbagai respon dari nerizen. Ada yang memuji, mengapresiasi dan bahkan sebaliknya. Ada yang menghujat dan bahkan mencaci maki. Lalu bagaimana dengan sejarah pawang hujan itu sendiri?

Dikutip dari tulisan berjudul Tradisi Nyarang Hujan Masyarakat Muslim Banten (Studi di Kecamatan Cimanuk Kabupaten Pandeglang), ritual terkait hujan ini sudah berlaku turun temurun. Saking lamanya, tidak diketahui sejarah awal tradisi yang terus berakar hingga sekarang. "Masyarakat tidak mudah meninggalkan kebiasaan nenek moyang mereka. Tingkah laku atau tradisi seperti itu terjadi dari generasi dahulu ke generasi berikutnya," tulis Eneng Purwanti Dosen di Fakultas Ushuluddin, Dakwah, dan Adab IAIN yang kini menjadi UIN Sultan Maulana Hasanuddin, Banten.

Dalam tulisan yang terbit di jurnal Al-Qalam tersebut dijelaskan, masyarakat sebetulnya percaya pada kuasa Tuhan Yang Maha Esa. Namun, ikhtiar atau usaha tetap diperlukan untuk mewujudkan keinginan. Usaha diwujudkan dalam bentuk pelaksanaan nyare'at dan doa yang dipanjatkan pawang.

Tradisi Nyarang Hujan dilaksanakan saat masyarakat memiliki hajatan atau agenda lain yang mengundang banyak orang. Agenda tersebut diharapkan bisa berlangsung dengan baik dan lancar, tanpa ada gangguan termasuk turunnya hujan. Dalam tradisi ini, peran pawang hujan bukanlah menolak hujan. "Pawang hanya memindahkan hujan dari satu tempat ke tempat lain. Terkait keberhasilannya, rata-rata responden menyatakan ini adalah bagian dari usaha manusia. Berhasil atau tidak dikembalikan lagi pada yang memiliki kuasa," tulis jurnal tersebut.

Indonesia  memanglah  sangatlah beragam tradisinya. Sampai-sampai kita sendiri sebagai orang Indonesia tak tahu banyak mengenai tradisi di daerah lain. Disamping benar atau tidaknya aksi dari pawang hujan di sirkuit Mandalika . Hendaknya kita lebih bisa bersikap dewasa dan terbuka dengan hal tersebut. Maraknya komen netizen yang seakan-akan maha benar dan menghujat si pawang agar bertobat tidak bisa dibenarkan dalam etika bermasyarakat. Hujatan dan cacian Netizen yang menyakitkan hati dan ke arah kebencian sejatinya bukanlah ajaran dari agama manapun. Toh, aksi yang dilakukan si Pawang tidak merugikan siapapun. Lagi-lagi kembali lagi ke diri kita. Bersikap legowo atau menerima dengan keberagaman tradisi di Indonesia atau bersikap skeptis dan condong ke pola pikir kebarat-baratan yang serba rasional tanpa memikirkan kearifan tradisi.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar