Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MISTERI SELENDANG ABAH

Oleh: Syifaul Fajriyah

 

Bagaimana jika kamu tinggal dalam sebuah desa atau perkampungan yang terkutuk? Atau tinggal dalam sebuah tempat yang malamnya hanya ditemani lentera dan api? Mungkin kakimu terasa gatal ingin beranjak dari tempat tersebut. Mungkin kamu berpikir, di zaman yang maju sekarang mana mungkin ada tempat yang seperti ini. Tetapi, kenyataannya memang ada. Tempat itu adalah Desa Nagari.

Desa Nagari adalah sebuah pedesaan yang berada dibawah kaki gunung. Desa ini memiliki sejuta misteri dan masih kental hingga saat ini. Aku, dewi akan menceritakan kepada kalian mengenai desa Nagari yang terkutuk, cerita tentang kisah mistis yang pernah aku alami maupun yang sering ku dengar dari mulut ke mulut.

Awal mula Desa Nagari menjadi desa terkutuk ialah sejak seorang lelaki paruh baya bernama Abah Slamet menduduki jabatan sebagai kepala desa. Beliau telah menduduki jabatan ini semenjak aku berumur 12 tahun hingga saat ini. Usianya saat ini telah menginjak kepala lima. 50 tahun, kakek yang selalu memakai topi koboy itu menduduki jabatan kepala desa. Konon katanya, kesetiaan singgasana itu dikarenakan selendang yang selalu ia ikat bak sabuk di pinggangnya.

Awal mula kakek yang hidup sebatangkara ini menjabat, suasana Desa Nagari berjalan sebagaimana mestinya. Namun, selang 40 hari menjabat sebagai kepala desa, berbagai peraturan aneh ia tegakkan. Lelaki yang dijuluki Abah tersebut memberi peraturan bahwa setiap malam tidak diperbolehkan untuk menggunakan lampu listrik, sebagai penggantinya hanya lentera api saja. Ia juga menambahkan bahwa setiap malam siapaun dilarang keluar dari rumah. Jika ada yang melanggar maka ia harus ikhlas mengabdikan dirinya kepada “Candiolo”. Orang yang mendengarnya hanya menganggap itu sebuah gurauan belaka, apalagi dulunya Abah Slamet berprofesi dagelan keliling sebagai penghibur dalam suatu acara.

Sehari setelah peraturan itu ditetapkan, terjadi hujan lebat sore itu yang menyebabkan aliran listrik terputus. Semua orang hanya menggunakan lentera api sebagai cahaya, dan memilih untuk berdiam diri di rumah. Biasanya pada saat malam tiba, banyak orang yang masih bergerombol di warung kopi atau pos ronda. Tetapi malam itu sepi tak ada siapapun ku liat di luar. Pagi pun tiba, dan kabar duka pun ikut menyertai pagi itu. Sarmi, seorang ibu yang hidup sebatang kara ditemukan tak bernyawa di teras rumahnya dengan mulut menganga. Tetangga yang tinggal di depannya mengatakan bahwa semalam ia sempat melihat Bu Sarmi keluar rumah untuk menadah air hujan, dan bergegas masuk rumah. Dan tetangganya yang lain ikut menyahut.

Pas mari muni gledek bareng petir, aku kerungu suara koyok muni jaranan. Suarae iku koyok mlaku nek arah omah e Lek Sarmi (Setelah bunyi guntur dan petir, aku mendengar suara seperti kuda lumping. Suaranya seperti berjalan menuju rumah Bi Sarmi)”

Suara ini tidak hanya terdengar dari satu orang, hampir seluruh tetangga Bi Sarmi mendengarnya. Warga pun berbondong-bondong menggotong jenazah Bi Sarmi ke kediaman kepala desa. Dan Abah Slamet hanya mengatakan

Sarmi ora gubris tatananku. Yo ikhlasno yen candiolo wes teko (Sarmi tidak menggubris perintahku. Ya ikhlaskan kalau Candiolo sudah datang)”

Semenjak kejadian itu, warga mulai mengindahkan peraturan Abah Slamet. Tetapi, ada juga yang masih enggan mempercayai, dan ujung-ujungnya bernasib sama seperti Bu Sarmi, seakan sebuah hukuman mati bagi yang melanggar. Dan memang benar apa kata tetangga Bu Sarmi, malam hukuman itu pasti akan terdengar suara gemrincing lonceng seperti suara kereta kencana, namun tak ada yang tahu menahu mengenai wujudnya.

            Peraturan yang aneh dan hukuman yang diluar nalar itu mulai meresahkan warga. Warga berasumsi Abah Slamet bermain ilmu hitam, mereka berkumpul didepan rumah kepala desa untuk menurunkan tahtanya. Abah Slamet berasumsi bahwa peraturan itu ditujukan untuk sebuah kebaikan. Berbagai perdebatan terjadi, Abah Slamet lengser dari jabatan dan digantikan oleh Pak Amien.

Suasana kembali seperti dulu damai dan tentram. Namun, suasana ini hanya berjalan singkat, 3 tahun Pak Amien menjabat wabah mematikan menghantui desa kami secara tiba-tiba. Setiap harinya akan terdengar kabar duka. Tidak ada yang tau dari mana munculnya dan apa penawarnya. Keadaan semakin kacau saat kepala desa kami menjadi korban dari wabah ini. Di masa pemakamannya tiba-tiba Abah Slamet datang, dengan membawa sebuah selendang. Kakek yang telah diasingkan itu kembali dengan menggadang-gadang bahwa ia membawa penawarnya. Benar saja, dengan kibasan selendang itu badan seseorang yang sakit akan sehat seperti semula. Kekuatannya yang datang tiba-tiba menjadikan ia sebagai kepala desa kembali.

Jabatannya yang baru tak merubah peraturannya yang dulu, dan tiada lagi yang bisa menyuarakan pendapatnya ataupun berkomentar mengenai kebijakan Abah Slamet

Bersambung….



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar