Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Mimbar Tua dan Aku






By Ahmad Zahrowii Danyal Abu Barzah


Malam semakin gelap. Suara alam membuat sekujur tubuhku merasakan hawa dingin. Sembari duduk di kursi panjang taman, Aku mencoba mengalihkan perhatianku dengan scroll apapun di teleponku, berusaha menyibukkan diri agar rasa dingin itu tak menyerangku. Padahal siang tadi aku masih mengingat persis ekspresi senangnya ketika berpapasan denganku. Senyumnya yang manis pun sampai tidak bisa disembunyikan ketika matanya saling bertatapan denganku meski hanya sekilas hembusan angin malam ini. Kemudian ia menyapaku dan tanpa ragu berkata akan mengajakku bertemu di taman kota pada malam nanti. Sebenarnya aku bingung, agak gimana saja mendengar seorang wanita mengajak pria bertemu apalagi hanya kita berdua yang datang. Seharusnya akulah sebagai pria yang mengajaknya terlebih dahulu bukan dirinya. Betapa bodohnya aku ini, bisa-bisanya nggak peka.

Malam semakin larut. Perasaanku semakin berdebar-debar dan tak sabar ingin bersamanya kembali, karena tahu kita dahulu telah lama tidak saling bertukar kabar sejak berbeda sekolah apalagi nomerku yang ia simpan telah hangus. Sudah jam segini, dia belum nampak batang hidungnya. semakin cemas pula aku kepadanya. Apa boleh buat aku harus menelponnya, tapi aku takut malah akan melanggar janjinya. Apa ditunda dulu mungkin gitu besok. Tapi kalo besok aku harus pergi untuk membereskan masalah administrasi sekolah SMA-ku yang masih nunggak. 

“Astaga..sudah mau gerimis!” (secepatnya berlari menuju tempat yang teduh).

“Tak apalah..ku pending aja dulu, udah hujan juga, kasihan juga dia nanti kesini kehujanan”.

Setelah mengirim pesan whatsApp kepadanya, aku pun beranjak untuk menemukan tempat teduh yang paling dekat di daerah tersebut agar lebih leluasa beristirahat dan mendapati masjid tua tua di samping kedai makanan yang sudah tutup. Setelah bergegas ke masjid tua serta melepas outfit yang setengah basah, sehingga menyisakan kaos oblong dan celana, aku berbicara pada diriku sendiri sambil memandang gerimis yang mengguyur manja sejauh pandangan mataku. Setiap tetes yang jatuh, setiap percikan yang mengenaiku seolah membuatku ingin mengenang. Aku ingin gerimis ini mengingatkanku kepada memori indah yang kulalui di masa lalu. Tentangnya, tentang kita berdua saat sebelum mengenalnya. Aku ingin gerimis ini mendeskripsikan tentang suka, duka, dan tawa yang telah kutempuh di masa lalu. Tentangku, tentang kita saat tahu aku berpisah dengannya karena aku pindah sekolah hingga kemudian bertemu kembali pada waktu dan tempat yang tidak terduga dalam kampus yang sama.  Kemudian....

Krieet..Krieet..Krieet. Aku segera tersentak mendengar suara yang baru saja kudengar. Aku sedikit menoleh dan tidak ada apa-apa di sekitarku. Namun suara itu terus kembali terdengar. 

“Tidak...Tidak...Tidak ada apa-apa mungkin ada yang menggodaku dengan memainkan kayu-kayu itu”. 

Aku berusaha untuk tidak berpikir yang aneh-aneh untuk menghilangkan rasa takut yang tiba-tiba ingin mendatangiku.

“Siapa disitu?....Siapa disitu?...Krieet..Krieet..”. Suara itu mulai bertanya yang sebenarnya tertuju padaku. 

“Oh My God, kok merinding yaaa...Brrr.” 

“Siapa disitu?....Siapa disitu?...Krieet..Krieet..” 

“Diulang dong! Astaga!!..”. “Eeee..saya mbah..ssss..saya..dddd...Dani”.Aku menelan ludah. Takut setelahnya akan terjadi sesuatu jika tidak tidak kujawab.

“Berbaliklah! Nak.. Berbaliklah!..Tolong lihatlah Aku..” (Suara mbah itu memanggilku dengan penuh bijak).

Aku sedikit demi sedikit menoleh kemudian sepenuhnya berbalik dan tidak mendapati siapa-siapa di sekitarku. Aku mulai merinding lagi. 

“Kesinilah!..Sini Nak..Kakek adalah mimbar di depan matamu”. Sontak Aku kaget dan melepaskan tanganku dari mimbar tua itu.

“Maafkan Kakek telah membuatmu takut, Nak!”. Suara itu kemudian terdengar lembut dan membuatku tak lagi merasakan takut.

“Tak apa-apa kek. Aku sudah tenang kok berkat Kakek”. Aku mulai nyaman di dekat mimbar tua itu dan mulai bersandar padanya.

“Kakek sebenarnya adalah pemilik masjid tua ini”.

“Lo kenapa bisa demikian kek, padahal kan kakek adalah mimbar”. Aku mulai heran dengan pernyataan kakek mimbar tua itu. 

“Begini ceritanya. Dahulu pada masa perang, Kakek adalah pejuang perang yang melawan penjajah di daerah seberang. Namun pada saat itu rombongan kami dipaksa mundur dan banyak dari teman-teman kakek yang gugur di medan perang itu. Hanya kakek seorang yang selamat dan berhasil melarikan diri karena bersembunyi di tempat yang saat ini kau singgahi. Ya dulu tempat ini memiliki kenangan yang indah. Masa itu kakek merenovasi tempat ini sedemikian bagus untuk bersyukur atas keselamatan kakek pada waktu itu. Akhirnya hak milik tempat ini kemudian diserahkan sepenuhnya ke Kakek sebagai pemilik sekaligus imam disini. Namun itu tidak berjalan lama, Nak!”. Kakek mimbar tua itu mulai terlihat bersedih sehingga mengeluarkan bunyi yang kudengar pertama kali.

“Memang kenapa kek? Bagaimana bisa? Boleh tahu ceritanya, kek?”. Aku mulai penasaran dengan cerita kakek mimbar tua itu.

“Lima puluh tahun lalu. Ada sekelompok pemfitnah yang mendatangi tempat ini dan kebetulan kakek berada didalamnya. Mereka memfitnah bahwa kakek bukan dari daerah sini melainkan mata-mata yang berusaha untuk mengumpulkan informasi dari penjajah. Kakek menangis dan berusaha meyakinkan mereka bahwa kakek bukan bagian dari para penjajah itu. Namun itu tidak berjalan sehingga kelompok itu serta masyarakat yang termakan omongan mereka mulai berbondong-bondong merusak tempat ini dan membakarnya bersama kakek di dalam tempat ini yang berakhir pada nyawa kakek itu sendiri, Nak!”. Suara ringkikan mimbar tua itu semakin keras karena meluapnya kepedihan yang selama ini kakek mimbar tua alami.

“Sudahlah kek. Kakek sudah berusaha semaksimal mungkin agar mereka mempercayai kakek. Ya mau bagaimana lagi kek. Kita juga serba salah jika kita melawannya..”. Kataku dengan membuang napas pendek.

“Benar apa yang dikatakan olehmu, Nak!. Siapapun tidak lepas dari kesalahan. Dan kita hanya bisa memaafkan mereka. Namun siapapun juga tidak bisa kita percayai sepenuhnya karena mungkin mereka memendam perasaan buruk terhadap kita. Kita hanya harus percaya kepada siapa yang kita sembah dan dari-Nya lah kita bisa berlapang dada dari semua kesalahan mereka sekecil apapun. Ingat ini, Nak!”.

“Akan kuingat pesanmu, kek.”. Mataku mulai berkaca-kaca dan Nyesss...Nyesss...Astaga aku ternyata mimpi. Seakan nyata kejadian itu. Aku masih mengingatnya bahwa aku berbincang-bincang dengan seorang kakek mimbar tua di sebelahku. Namun aaahh celanaku ternyata basah akibat rembesan air dari lantai sampingku. Setelah bangkit dan kemudian menggebrak-gebrakkan celana agar setengah kering. Hujan yang tadinya deras sekarang pun telah reda dan kulihat sebuah mobil Inova berhenti tepat di depan masjid tua.

Sembari mendekat dan memicingkan mataku, sosok yang keluar dari dalam mobil itu terasa tidak asing bagiku. Dari yang kulihat, sosok itu tingginya seperti seorang pria rata-rata, memakai seragam sebagai isyarat bahwa ia adalah seorang sopir pribadi. Aku berhenti dan menunggu sosok tersebut membalikkan badan dan ternyata memang benar, sosok itu adalah Pak Kardi, sopir pamanku. Sontak Aku segera mendekatinya dan menanyakan perihal mengapa Pak Kardi mengetahui kalau Aku ada di Masjid tua ini. Pak Kardi akhirnya menjelaskan bagaimana dirinya bisa mengetahui dan segera menjemputku disini. Pak Kardi sebenarnya hanya lewat taman ini setelah mengantarkan paman ke bandara untuk dinas di luar kota. Tidak diduga lalu Pak Kardi mendapati motor yang terparkir tanpa ada seseorang di sekitarnya apalagi sedang hujan. Tidak jauh dari sini juga, Ia pun turun lalu menanyakan siapakah pemilik motor yang terparkir itu kepada siapapun yang ada di sisi taman. Hingga kemudian kebetulan saja Bapak Tukang Bakso itu melihat motorku terparkir tak jauh dari teman. Setelah kembali ke rumah, aku segera menghempaskan tubuhku ke dalam kasur terbaikku. Kemudian termenung dan dengan sadar mengangguk iyakan perkataan kakek mimbar tua malam itu. Mungkin apa yang terjadi padaku saat ini menjadi pelajaran berharga bagiku. Entah apa dan bagaimana ini bisa terjadi. Apakah pertemuan ini memang tidak disetujui ataukah memang dari dirinya tidak berkenan menemuiku di saat seperti itu. Sebenarnya aku butuh penjelasan tentangnya mengapa ia tidak datang-datang sampai aku menunggunya lama sekali. Namun disisi lain, aku memiliki perasaan terhadapnya dan aku ingin selalu bersama dengannya meskipun itu sulit. “Sabar Dani..Sabar... Mungkin ini belum jalanmu untuk bersamanya. Atau mungkin ia tidak ditakdirkan denganmu”. Lalu bagaimana aku menemukan cintaku kembali?. Apa aku harus mencintai semua perempuan di dunia ini?. itu tidak mungkin kan?. Aaaahhhh... Pikiranku tak karuan.   




Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar